CHAPTER 17

Khusus sore ini, Amara pulang lebih cepat dari biasanya dan sama sekali tidak mengabari Damien. Ketika Damien sampai di kantornya, sekertaris Amara mengatakan kalau dirinya sudah pulang lebih duluan.

Saat Damien bertanya kenapa, sekertarisnya mengatakan kalau dirinya juga tidak tahu. Beberapa kali Damien menghubunginya, tetapi Amara sengaja tidak mengangkatnya.

Damien bertanya-tanya dalam hati, apakah wanita itu sedang tidak enak badan? Memikirkan berbagai spekulasi yang terus bermunculan dalam pikirannya membuat Damien segera menancap gas mobilnya dan membelah jalan raya dengan kecepatan tinggi. Yang ia lakukan hanyalah ingin cepat sampai di apartemen dan bertemu dengan Amara.

Amara menatap dirinya di depan cermin, terbesit keraguan dalam dirinya kala ia menutup matanya rapat untuk beberapa detik sebelum membukanya kembali kemudian kembali menatap pantulan dirinya dalam kaca.

Amara menarik napas sekali, kemudian tangannya terangkat ke atas untuk menepuk pipinya pelan guna menyadarkan dirinya sendiri.

“Tenanglah Amara, kau bisa melakukannya,” ujarnya berusaha menenangkan dirinya sendiri kemudian ia kembali menatap ke depan.

Melalui pantulan kaca itu terlihat Amara yang tengah memakai sebuah dress berbahan dasar katun, semacam baju tidur tetapi dalam desain yang lebih seksi. Berwarna merah menyala dengan motif renda bunga-bunga di area dadanya, kemudian dress baju tidur itu di desain dengan dua tali yang bertengger pada bahu mulus Amara.

Amara meraih bagian luaran dari baju tidur itu kemudian memakainya, menutup bahu polosnya yang tadi terekspos bebas, namun samar-samar masih terlihat melalui celah transparan kain sutra tersebut.

Amara kemudian mengangkat tangannya ke atas dan dengan sekali gerakan ia mencepol asal rambutnya ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya yang bersih dan halus.

Amara kemudian meraih lipstik yang ada di meja riasnya kemudian memolesnya pada bibirnya, hanya tipis namun Amara pastikan warna itu melekat pas pada bibir kecilnya.

Terdengar suara pintu apartemen yang dibuka pelan menandakan kepulangan Damien. Amara segera meletakkan lipstiknya kembali ke atas meja, untuk terakhir kalinya ia menatap dirinya di depan kaca kemudian tersenyum puas dengan hasilnya.

“Amara?” panggil Damien, pria itu melepas sepatunya dengan cepat kemudian berjalan ke area ruang tamu.

Menjejalkan pandangannya sembari melepas jas kantornya, Damien tidak menemukan tanda-tanda kehadiran Amara di sana. Damien kemudian berbalik dan berjalan ke arah dapur, tetapi lagi-lagi tidak menemukan keberadaan Amara disana.

Kepanikan segera menyergap Damien, pikiran-pikiran negatif mulai menyerang pikirannya. Damien kemudian menatap pintu kamar Amara untuk sejenak sebelum melangkah lebar dan membuka pintu itu dengan sekali hentakan.

“Amara?”

Panggil Damien yang berhasil menyentak fokus wanita itu.

Amara ternyata berada di dalam kamarnya.

Damien berdiri mematung, lebih tepatnya tertegun.

Amara yang tadinya berdiri membelakangi Damien dan tengah berkaca di depan kaca pada meja riasnya sontak berbalik saat menyadari kehadiran Damien disana.

Tidak, semuanya terlalu tiba-tiba. Amara bahkan belum mempersiapkan diri untuk bertemu Damien dalam kondisi seperti itu. Tetapi di luar dugaan, pria itu menemukannya lebih cepat.

Damien berdiri di ambang pintu kamar Amara sembari manik birunya memaku tepat pada Amara yang berdiri di depan sana. Napas Damien tertahan untuk sesaat, sebelum kesadaran kembali mengambil ahli dirinya seolah mendobrak pertahanannya dan memperingatkan Damien untuk tidak mengulang kesalahan yang sama lagi seperti kemarin.

Damien tidak boleh lepas kendali lagi seperti kemarin. Jujur, Damien benar-benar terpesona dengan pemandangan didepannya ini.

Amara terlihat sangat mempesona dan sempurna dibalik balutan gaun tidur berbahan dasar katun yang membungkus tubuhnya, tidak secara ketat dan hanya sebatas lututnya, tapi entah kenapa hanya dengan melihatnya sekilas, pikiran Damien mulai menerawang kemana-mana. Bahkan dengan brengseknya, Damien sudah mulai membayangkan apa yang berada di balik balutan gaun tidur milik Amara itu.

Bahannya yang tipis itu terlihat menerawang, menyelimuti lekuk tubuhnya dengan anggun, menciptakan kesan keindahan yang polos namun memabukkan. Pandangan Damien naik pada rambut Amara yang dicepol berantakan, beberapa anak rambutnya jatuh dan menjelajah bebas leher wanita itu. Damien iri.

Kemudian pandangan Damien beralih pada bibir wanita itu yang melengkung lembut dalam senyuman tipisnya, mengisyaratkan kehangatan dan keindahan yang sederhana namun tidak tertandingi dampaknya bagi pertahanan Damien.

Nalurinya tak dapat merespon dengan baik saat tanpa sadar Damien mengambil satu langkah untuk mendekati Amara lagi.

“Apa yang kau lakukan?”

Hanya itu yang keluar dari mulut Damien, dia masih benar-benar dalam keadaan shock-nya.

Amara dapat menyadari suara Damien berubah serak saat manik mereka kembali bertemu dan saat itu juga jantung Amara berpacu dengan sangat cepat.

Tangan Amara tanpa sadar meremas ujung bajunya, berusaha mencari pegangan di tengah gelombang perasaan yang menggelitik aneh. Tubuhnya tidak tahu bagaimana merespon akan situasi ini.

Tetapi bagaimanapun juga Amara yang memulainya duluan, jadi harus Amara juga yang menyelesaikannya.

Amara mengeluarkan senyum miringnya kemudian mengedipkan matanya sekali saat Damien masih menatapnya dengan raut serius pria itu.

“Kenapa? Kau hampir hilang kendali?” ujar Amara kemudian menaikkan alis kanannya, menatap menggoda ke arah Damien.

Hanya butuh beberapa detik bagi Damien untuk mengetahui maksud dibalik perilaku Amara yang berubah drastis seperti ini. Sepertinya wanita itu benar-benar bertekad untuk bercerai dari Damien hingga ide seperti ini terlintas dalam benaknya.

Fakta itu entah kenapa membuat Damien geram. Damien tidak suka akan realita tentang Amara yang rela melakukan segala cara hanya untuk bercerai dengannya.

“Aku tidak nafsu denganmu,” balas Damien singkat, kalimat yang dilontarkan sangat tajam dan menusuk.

Tetapi Amara sudah mempersiapkan diri untuk menghadapinya, jadi kalimat dingin Damien tidak akan begitu mempengaruhinya. Amara masih akan mencoba keberuntungannya malam ini.

“Benarkah? Kalau kau pria normal, seharusnya kau merasa tidak nyaman sekarang Damien,” ujar Amara sembari melipat tangannya dan menatap menantang ke arah Damien.

Damien benar-benar menahan napasnya, bagaimana Amara bisa seberani ini dengannya. Darimana wanita itu mengumpulkan keberanian untuk berbuat seperti ini kepadanya. Damien masih berusaha untuk menahan diri, telebih lagi saat cardigan yang berfungsi sebagai pakaian luaran gaun itu merosot tanpa Amara sadari. Membuat Damien secara leluasa dapat melihat bahu Amara yang putih dan bersih itu.

Damien menggeram rendah sebelum kembali menjawab, “Aku sering ke club.”

Bohong, Damien sangat tidak suka keributan dan club adalah tempat paling ramai dan bising.

Dan jawaban yang diberikan Damien itu tampaknya berdampak bagi Amara. Terlihat dari bagaimana senyum wanita itu luntur berganti dengan senyum kakunya yang tidak nyaman.

Sepertinya Damien melakukan kesalahan dalam memberikan jawaban, tetapi Damien harus tetap berbohong demi menjaga pertahanan dirinya agar tetap bisa waras dan tidak hilang kendali.

Damien tahu betul Amara tengah berniat untuk menggodanya dan memenangkan taruhan itu.

Damien tidak boleh kalah.

Damien harus bertahan, walau sangat sulit.

Amara mengerjapkan matanya beberapa kali, tampak menarik napas sebelum kembali berujar, “Duduklah,” ujar Amara kemudian menunjuk pada sisi kasurnya menggunakan dagunya.

Alis Damien naik seolah bingung dengan apa yang akan dilakukan wanita itu selanjutnya, Damien akhirnya hanya menurut saja. Damien melangkah dan mendudukkan dirinya pada sisi kasur Amara.

Amara kemudian berjalan ke arah Damien dan dengan sekali gerakan yang tidak bisa diprediksi oleh Damien, Amara melepas cepolan pada rambutnya membuat seluruh rambutnya tergerai bebas sebelum wanita itu melompat ke dalam pangkuannya. Tubuh wanita itu mendarat sempurna pada tubuh Damien, kedua tangannya ia lingkarkan pada leher Damien dengan tangan kiri Damien yang terselip dibawah lutut wanita itu dan tangan kanannya yang meraih pinggang Amara posesif.

“Amara…”desis Damien rendah.

Menghiraukan tatapan penuh peringatan milik Damien, Amara kembali berujar, “Bagaimana jika aku melarangmu pergi?” tanya Amara sembari menatap lurus kedua manik Damien.

Damien menunduk untuk dapat menatap wajah wanita itu dengan lebih jelas. Jika wanita itu berniat untuk mempermainkannya dengan cara menggodanya seperti ini, maka jangan salahkan Damien jika Damien juga melakukan hal yang sama kepadanya.

“Jadi, siapa lagi yang akan memuaskanku sekarang?” ujar Damien dengan nada rendahnya sembari mendekatkan wajahnya ke bawah, membuat Amara dapat merasakan deru napas pria itu yang mulai tak beraturan.

Amara langsung terdiam saat Damien tersenyum penuh kemenangan.

Amara benar-benar terjebak dalam permainannya sendiri sekarang.

Episodes
1 CHAPTER 1
2 CHAPTER 2
3 CHAPTER 3
4 CHAPTER 4
5 CHAPTER 5
6 CHAPTER 6
7 CHAPTER 7
8 CHAPTER 8
9 CHAPTER 9
10 CHAPTER 10
11 CHAPTER 11
12 CHAPTER 12
13 CHAPTER 13
14 CHAPTER 14
15 CHAPTER 15
16 CHAPTER 16
17 CHAPTER 17
18 CHAPTER 18
19 CHAPTER 19
20 CHAPTER 20
21 CHAPTER 21
22 CHAPTER 22
23 CHAPTER 23
24 CHAPTER 24
25 CHAPTER 25
26 CHAPTER 26
27 CHAPTER 27
28 CHAPTER 28
29 CHAPTER 29
30 CHAPTER 30
31 CHAPTER 31
32 CHAPTER 32
33 CHAPTER 33
34 CHAPTER 34
35 CHAPTER 35
36 CHAPTER 36
37 CHAPTER 37
38 CHAPTER 38
39 CHAPTER 39
40 CHAPTER 40
41 CHAPTER 41
42 CHAPTER 42
43 CHAPTER 43
44 CHAPTER 44
45 CHAPTER 45 [WARNING]
46 CHAPTER 46 [WARNING]
47 CHAPTER 47
48 CHAPTER 48
49 CHAPTER 49
50 CHAPTER 50
51 CHAPTER 51
52 CHAPTER 52
53 CHAPTER 53
54 CHAPTER 54
55 CHAPTER 55
56 CHAPTER 56
57 CHAPTER 57
58 CHAPTER 58
59 CHAPTER 59
60 CHAPTER 60
61 CHAPTER 61
62 CHAPTER 62
63 CHAPTER 63
64 CHAPTER 64
65 CHAPTER 65
66 CHAPTER 66
67 CHAPTER 67
68 CHAPTER 68
69 CHAPTER 69
70 CHAPTER 70
71 CHAPTER 71
72 CHAPTER 72
73 CHAPTER 73
74 CHAPTER 74
75 CHAPTER 75
76 CHAPTER 76 [WARNING]
77 CHAPTER 77 [WARNING]
78 CHAPTER 78
79 CHAPTER 79
80 CHAPTER 80
81 CHAPTER 81
82 CHAPTER 82
83 CHAPTER 83
84 CHAPTER 84
85 CHAPTER 85
86 CHAPTER 86
87 CHAPTER 87
88 CHAPTER 88
89 CHAPTER 89
90 CHAPTER 90
91 CHAPTER 91
92 CHAPTER 92 [WARNING]
93 CHAPTER 93
94 CHAPTER 94
95 CHAPTER 95
96 CHAPTER 96
97 CHAPTER 97
98 CHAPTER 98
99 CHAPTER 99
100 CHAPTER 100
101 CHAPTER 101
102 CHAPTER 102
103 CHAPTER 103
104 CHAPTER 104
105 CHAPTER 105
106 CHAPTER 106
107 CHAPTER 107
108 CHAPTER 108
109 CHAPTER 109 [WARNING]
110 CHAPTER 110 [WARNING]
111 CHAPTER 111
112 CHAPTER 112
113 CHAPTER 113
114 EPILOG
Episodes

Updated 114 Episodes

1
CHAPTER 1
2
CHAPTER 2
3
CHAPTER 3
4
CHAPTER 4
5
CHAPTER 5
6
CHAPTER 6
7
CHAPTER 7
8
CHAPTER 8
9
CHAPTER 9
10
CHAPTER 10
11
CHAPTER 11
12
CHAPTER 12
13
CHAPTER 13
14
CHAPTER 14
15
CHAPTER 15
16
CHAPTER 16
17
CHAPTER 17
18
CHAPTER 18
19
CHAPTER 19
20
CHAPTER 20
21
CHAPTER 21
22
CHAPTER 22
23
CHAPTER 23
24
CHAPTER 24
25
CHAPTER 25
26
CHAPTER 26
27
CHAPTER 27
28
CHAPTER 28
29
CHAPTER 29
30
CHAPTER 30
31
CHAPTER 31
32
CHAPTER 32
33
CHAPTER 33
34
CHAPTER 34
35
CHAPTER 35
36
CHAPTER 36
37
CHAPTER 37
38
CHAPTER 38
39
CHAPTER 39
40
CHAPTER 40
41
CHAPTER 41
42
CHAPTER 42
43
CHAPTER 43
44
CHAPTER 44
45
CHAPTER 45 [WARNING]
46
CHAPTER 46 [WARNING]
47
CHAPTER 47
48
CHAPTER 48
49
CHAPTER 49
50
CHAPTER 50
51
CHAPTER 51
52
CHAPTER 52
53
CHAPTER 53
54
CHAPTER 54
55
CHAPTER 55
56
CHAPTER 56
57
CHAPTER 57
58
CHAPTER 58
59
CHAPTER 59
60
CHAPTER 60
61
CHAPTER 61
62
CHAPTER 62
63
CHAPTER 63
64
CHAPTER 64
65
CHAPTER 65
66
CHAPTER 66
67
CHAPTER 67
68
CHAPTER 68
69
CHAPTER 69
70
CHAPTER 70
71
CHAPTER 71
72
CHAPTER 72
73
CHAPTER 73
74
CHAPTER 74
75
CHAPTER 75
76
CHAPTER 76 [WARNING]
77
CHAPTER 77 [WARNING]
78
CHAPTER 78
79
CHAPTER 79
80
CHAPTER 80
81
CHAPTER 81
82
CHAPTER 82
83
CHAPTER 83
84
CHAPTER 84
85
CHAPTER 85
86
CHAPTER 86
87
CHAPTER 87
88
CHAPTER 88
89
CHAPTER 89
90
CHAPTER 90
91
CHAPTER 91
92
CHAPTER 92 [WARNING]
93
CHAPTER 93
94
CHAPTER 94
95
CHAPTER 95
96
CHAPTER 96
97
CHAPTER 97
98
CHAPTER 98
99
CHAPTER 99
100
CHAPTER 100
101
CHAPTER 101
102
CHAPTER 102
103
CHAPTER 103
104
CHAPTER 104
105
CHAPTER 105
106
CHAPTER 106
107
CHAPTER 107
108
CHAPTER 108
109
CHAPTER 109 [WARNING]
110
CHAPTER 110 [WARNING]
111
CHAPTER 111
112
CHAPTER 112
113
CHAPTER 113
114
EPILOG

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!