Chapter 18

Adam dan Aulia duduk di sisi ranjang, “cklek,” “klap,” terdengar suara pintu di buka dan di tutup kembali di sebelah.

“Mas Budi sama mba Hani sudah pergi,” ujar Adam.

“Iya, ternyata bener ya, tembok nya tipis jadi kedengaran jelas, kita mau jalan jalan ?” tanya Aulia.

“Kamu kan baru sembuh, ga usah deh, di rumah aja sekalian istirahat, lagian besok aku ada wawancara kan,” jawab Adam.

“Iya sih, ya udah kita di rumah aja,” balas Aulia.

Keduanya kembali terdiam, mereka saling menoleh ke arah lain namun tangan mereka masih saling menggenggam di atas ranjang.

“Tapi ngapain juga ya di kamar hahaha,” ujar Adam.

“Yee tadi katanya istirahat, ya udah istirahat aja,” balas Aulia.

Aulia langsung naik ke ranjang kemudian berbaring, “tap..tap,” tangannya menepuk sisi sebelahnya memberi isyarat agar Adam juga berbaring di sebelahnya. Adam menurutinya, dia naik dan berbaring, keduanya saling menatap di atas ranjang, wajah mereka kembali berdekatan dan bibir mereka kembali menempel. Setelah lepas, Adam berbalik dan mengambil smartphone nya, tapi smartphone nya langsung di ambil oleh Aulia.

“Ngobrol dulu ya, aku mau tahu makanan kesukaan kamu apa, hobi kamu apa, kalau jalan suka nya kemana dan masih banyak lagi,” ujar Aulia.

“Hmm bener juga, waktu di rumah sana kita ga pernah bicara apa apa karena fokus mencari kerja dan uang, di sini kita lebih rileks sedikit walau hanya di kamar kos kosan,” ujar Adam.

“Iya, waktu itu masih tegang, namanya juga masih kaget tiba tiba di nikahkan dan bingung harus bicara apa karena ga kenal,” balas Aulia.

“Hehe kayaknya udah lama ya, padahal baru dua hari lalu kita dateng kesini,” ujar Adam sambil merangkul Aulia yang berbaring di pelukannya.

“Iya, minta peluk aja ijin dulu hehe,” ujar Aulia.

“Haha bener, kalau di pikir pikir kita lucu ya (terdiam sebentar) tapi aku bersyukur, sekarang aku punya keluarga lagi,” ujar Adam sambil menatap Aulia.

“Sama, aku juga, sejak umur 15 tahun, aku sendirian di rumah, sekarang aku sama kamu,” ujar Aulia yang menatap Adam di depannya.

Keduanya kembali diam, mereka hanya merasakan kehangatan tubuh satu sama lain karena saling berpelukan.

“Kalau...kita punya anak, bakal lebih rame ya,” ujar Aulia.

“Hah,”

Adam langsung kaget karena dia sama sekali tidak terpikir kesana, tangannya reflek melepaskan rangkulannya,

“Kenapa ? kamu ga mau punya anak ?” tanya Aulia bingung.

“Bukan ga mau, belum kepikir karena kita belum mampu, lagipula kita baru 18 tahun, rasanya kecepetan kalau mau punya anak,” jawab Adam.

“Oh...maksud ku juga bukan sekarang,” ujar Aulia.

“Gitu, syukur deh kalo gitu, waktu kita di paksa menikah, dalam seminggu aku belajar tentang pernikahan dan baca baca testimoni orang orang yang sudah menikah, jujur aja, banyak curhat yang membuat ku sedikit takut berkeluarga, makanya aku punya planning kita punya anak nya nanti saja, tunggu mapan dulu, punya rumah dulu dan punya tabungan yang cukup,” ujar Adam.

“Wow...aku ga berpikir sampai kesana, tapi kamu bener, aku setuju,” balas Aulia.

“Maaf, kalau ada sesuatu yang mengganjal, aku pasti cari tahu sampai detail, aku kayak gitu soalnya dari kecil,” balas Adam.

“Hehe sama kok, tapi kalau aku sih karena biasanya aku ga ada kerjaan, jadi apa juga ku baca,” balas Aulia.

Tangan Adam kembali turun merangkul Aulia yang juga langsung berbaring lagi, tangan Adam langsung naik mengelus rambut Aulia,

“Sori ya kalau aku rada kaku, aku ga pernah pacaran soalnya,” ujar Adam.

“Sama, cowo yang aku kenal baru kamu, jangan kan cowo, temen cewe aja aku ga punya,” balas Aulia.

“Yah aku juga sih, temen ku dulu paling cuman Farrel sama Dina, tapi sekarang mereka bukan temen ku lagi,” ujar Adam.

“Kenapa ?” tanya Aulia.

“Alasan kita kesini ya mereka,” jawab Adam.

Aulia langsung bangun dan menatap Adam di depannya, dia kaget mendengar ucapan Adam barusan,

“Maksudnya ? bisa jelasin sama aku ?” tanya Aulia.

“Sebenarnya waktu itu,”

Adam menceritakan penglihatan nya kepada Aulia, tentu saja Aulia langsung kaget, kedua tangannya langsung menutup mulutnya. Dia kembali berbaring di pelukan Adam dan kali ini dia memeluk erat Adam,

“Makasih ya sayang, kamu sudah melindungi aku, aku tidak kenal siapa orang itu dan aku tidak menyangka dua teman kamu berbuat seperti itu,” ujar Aulia.

“Aku sendiri tidak menyangka, tapi aku bersyukur aku memiliki penglihatan ini, aku jadi bisa mengambil keputusan untuk pergi ke sini,” ujar Adam.

“Iya, aku percaya kamu, kamu sudah buktikan tiga kali, pertama waktu menolong ku di lampu merah, kedua waktu kita menolong anak kecil itu dan ketiga sekarang, aku sama sekali tidak meragukan kamu,” ujar Aulia.

Keduanya terdiam lagi dan kali ini cukup lama. Tiba tiba Aulia bangun, dia berbalik dan langsung merangkul leher Adam, dia mencium Adam di depannya,

“Kenapa ?” tanya Adam.

Aulia membuka kancing piyamanya dan melepaskan bajunya, dia menutupi dua gunung kembarnya dengan lengan, kemudian dia maju merangkul Adam,

“L..Lia, kamu ngapain ?” tanya Adam.

“Kamu suami ku, hanya kamu yang boleh menyentuh ku, aku tidak mau ada orang lain menyentuh ku, apalagi orang yang tidak aku kenal membawa ku pergi seperti yang kamu ceritakan tadi, jadi saat ini aku menyerahkan semuanya sama kamu,” jawab Aulia.

“T..tapi...apa ti..tidak terlalu cepa....”

Aulia mencium mulut Adam, kedua tangannya membuka kaus singlet Adam yang mau tidak mau mengangkat kedua tangannya, Adam langsung memeluk Aulia dan membaringkannya di ranjang, sekarang posisi Adam berada di atas Aulia yang masih menutupi dua gunungnya dengan lengan. Tapi Aulia merentangkan tangannya ke atas, dia memegang kepala Adam dan menurunkan wajah Adam ke bibirnya. Setelah itu,

“Um...tapi pelan pelan ya, aku baru pertama hehe,” ujar Aulia.

“Sa..sama, aku juga, aku mencintai mu Lia,” ujar Adam.

“Aku juga mencintai mu Dam,” balas Aulia.

Langsung saja Adam menindih tubuh Aulia yang merangkulnya, mereka berciuman dengan panas. Dari bibir, Adam mulai turun ke leher, Aulia terlihat sangat menikmatinya setelah itu tangan nya mulai menjelajahi tubuh Adam, begitu juga Adam yang mulai menjelajahi seluruh tubuh Aulia sampai pada akhirnya bibirnya mencapai puncak gunung di dada Aulia,

“Hgggh,” Aulia sedikit mengerang.

“Kamu ga apa apa ?” tanya Adam.

“Enggak apa apa, terusin aja,” jawab Aulia.

Setelah itu, Adam mulai menelusuri jengkal demi jengkal menuju ke bagian bawah, dia membuka celana piyama Aulia sekaligus segitiga pengamannya. Begitu juga Aulia yang menarik turun penutup bagian bawah Adam sehingga senjatanya langsung keluar. Aulia sedikit kaget ketika melihat senjata milik Adam,

“Um...ke..kenapa Lia ?” tanya Adam.

“E..enggak....um....pelan pelan ya, jangan langsung,” jawab Aulia sedikit ketakutan melihat rudal Adam yang mengarah pada dirinya.

“I...iya,” balas Adam.

Setelah pemanasan, rudal siap meluncur masuk ke dalam celah sempit yang masih ranum dan belum terjamah siapapun. Ketika rudal mencapai sasaran dan masuk sedikit,

“Uhhh...hmmmm,” Aulia mengerang.

Wajahnya terlihat sedikit menahan kesakitan, Adam langsung buru buru mencabut kembali rudalnya namun Aulia menahan nya, Adam menoleh menatap Aulia,

“Ma..maaf,” ujar Adam.

“Ja..jangan berhenti...a..aku ga apa apa,” ujar Aulia menahan sakit.

Ketika di lanjutkan dan mulai masuk sedikit, Aulia menggigit selimut sampai pada akhirnya, “bress,” sesuatu robek dan muncul cairan merah menetes dari mulut gua. Namun ketika Adam ingin mencabut kembali, Aulia menahan nya, akhirnya rasa sakit dan perihnya mulai mengurang, barulah proses maju mundur di lakukan. Keduanya mulai kehilangan akal sehat mereka, gerakan mereka otomatis saling menyesuaikan satu sama lain.

"Aaah...Adam, aku mencintai mu," erang Aulia.

"Aku juga mencintai mu, Lia," balas Adam meringis.

Keduanya sudah benar benar menayatu, bibir mereka saling melumat dengan beringas, tangan mereka juga saling menjelajahi tubuh satu sama lain dengan leluasa tanpa jeda. 45 menit pun berlalu, “hosh....hosh,” Adam dan Aulia yang masih tampil polos di atas ranjang saling merangkul dengan nafas terengah, tubuh keduanya penuh peluh hasil pertempuran barusan, keduanya menoleh melihat sprei ber noktah merah dan basah,

“Um...kira kira kita di marahi ga ya ?” tanya Adam.

“Ng...mudah mudahan sih enggak ya, di lemari sih ada sprei pengganti, udah di sediakan, tapi....” jawab Aulia.

“Tapi ?” tanya Adam.

“Aku malu hehe,” jawab Aulia.

“Sama, kita cuci sendiri aja apa ?” tanya Adam.

“Iya deh, bawa deh sekalian mandi,” jawab Aulia.

“Iya, yuk mandi,” balas Adam.

Keduanya berdiri dan melepas seprei, kemudian mereka masuk ke dalam kamar mandi bersama sama untuk mandi dan mencuci sprei.

******

Sementara itu, di kontrakan Dina, “plaak,” Farrel dengan penuh emosi menampar Dina, dia memperlihatkan smartphone nya kepada Dina. Ternyata Riko mengirimkan video ketika dirinya menyetubuhi Dina kepada Farrel. Dina hanya bisa menunduk dan memegang pipinya yang merah,

“Lo ternyata tega ya sama gue, main belakang sama si Riko, hampir aja gue mengkhianati sahabat gue demi perempuan kayak lo,” ujar Farrel emosi.

“Aku tidak ada pilihan lain, pemilik rumah sakit tempat mama di rawat adalah keluarga Riko, tapi aku yakin kamu tidak percaya, tidak apa apa sayang, aku mau kita putus saja, aku juga menyesal mengkhianati Adam,” ujar Dina.

“Ya, kita putus, seharusnya lo bicarakan sama gue, gue bisa bantu biaya kan, gue udah bilang ke lo sejak awal, ternyata lo malah ambil jalan pintas seperti ini (diam sejenak) lagipula lo sebenarnya lebih mencintai Adam kan daripada gue ? sudah keliatan sejak kecil, sudahlah, gue sudah tidak mau tahu lagi, selamat tinggal, jangan pernah cari gue lagi,” ujar Farrel berbalik dan berjalan ke pintu keluar.

“Braaak,” Farrel keluar dari dalam rumah dan membanting pintu, Dina jatuh berlutut dan menangis tersedu sedu dengan kepala tertunduk.

“Maafkan aku....maafkan aku...dia mengancam ku dan kamu benar tentang satu hal Rel, aku memang mencintai Adam sampai sekarang, maaf selama ini aku berbohong sama kamu, tapi belakangan rasa sayang ku ke kamu benar, maafkan aku,” ujar Dina sambil terisak.

“Dling,” sebuah pesan masuk ke dalam smartphone Dina, langsung saja Dina membukanya, isinya adalah foto Riko sedang berada di dalam kamar tempat ibunya yang koma di rawat dan memegang sebuah kabel yang tertanam di mesin besar tepat di sebelah ranjang ibu nya. Di bawahnya ada tulisan,

“Lo sekarang sudah sepenuhnya menjadi budak gue, jangan macem macem lagi dengan memberitahu monyet itu supaya pergi bersama Aulia, sekali lagi lo macem macem kabel ini gue cabut,”

“Aaaaaah,” Dina melempar smartphone nya dan bersujud di tanah sambil menangis tersedu sedu.

“Dam...tolong aku....plis tolong aku,” ujar Dina trenyuh dengan air mata bercucuran.

Episodes
1 Chapter 1
2 Chapter 2
3 Chapter 3
4 Chapter 4
5 Chapter 5
6 Chapter 6
7 Chapter 7
8 Chapter 8
9 Chapter 9
10 Chapter 10
11 Chapter 11
12 Chapter 12
13 Chapter 13
14 Chapter 14
15 Chapter 15
16 Chapter 16
17 Chapter 17
18 Chapter 18
19 Chapter 19
20 Chapter 20
21 Chapter 21
22 Chapter 22
23 Chapter 23
24 Chapter 24
25 Chapter 25
26 Chapter 26
27 Chapter 27
28 Chapter 28
29 Chapter 29
30 Chapter 30
31 Chapter 31
32 Chapter 32
33 Chapter 33
34 Chapter 34
35 Chapter 35
36 Chapter 36
37 Chapter 37
38 Chapter 38
39 Chapter 39
40 Chapter 40
41 Chapter 41
42 Chapter 42
43 Chapter 43
44 Chapter 44
45 Chapter 45
46 Chapter 46
47 Chapter 47
48 Chapter 48
49 Chapter 49
50 Chapter 50
51 Chapter 51
52 Chapter 52
53 Chapter 53
54 Chapter 54
55 Chapter 55
56 Chapter 56
57 Chapter 57
58 Chapter 58
59 Chapter 59
60 Chapter 60
61 Chapter 61
62 Chapter 62
63 Chapter 63
64 Chapter 64
65 Chapter 65
66 Chapter 66
67 Chapter 67
68 Chapter 68
69 Chapter 69
70 Chapter 70
71 Chapter 71
72 Chapter 72
73 Chapter 73
74 Chapter 74
75 Chapter 75
76 Chapter 76
77 Chapter 77
78 Chapter 78
79 Chapter 79
80 Chapter 80
81 Chapter 81
82 Chapter 82
83 Chapter 83
84 Chapter 84
85 Chapter 85
86 Chapter 86
87 Chapter 87
88 Chapter 88
89 Chapter 89
90 Chapter 90
91 Chapter 91
Episodes

Updated 91 Episodes

1
Chapter 1
2
Chapter 2
3
Chapter 3
4
Chapter 4
5
Chapter 5
6
Chapter 6
7
Chapter 7
8
Chapter 8
9
Chapter 9
10
Chapter 10
11
Chapter 11
12
Chapter 12
13
Chapter 13
14
Chapter 14
15
Chapter 15
16
Chapter 16
17
Chapter 17
18
Chapter 18
19
Chapter 19
20
Chapter 20
21
Chapter 21
22
Chapter 22
23
Chapter 23
24
Chapter 24
25
Chapter 25
26
Chapter 26
27
Chapter 27
28
Chapter 28
29
Chapter 29
30
Chapter 30
31
Chapter 31
32
Chapter 32
33
Chapter 33
34
Chapter 34
35
Chapter 35
36
Chapter 36
37
Chapter 37
38
Chapter 38
39
Chapter 39
40
Chapter 40
41
Chapter 41
42
Chapter 42
43
Chapter 43
44
Chapter 44
45
Chapter 45
46
Chapter 46
47
Chapter 47
48
Chapter 48
49
Chapter 49
50
Chapter 50
51
Chapter 51
52
Chapter 52
53
Chapter 53
54
Chapter 54
55
Chapter 55
56
Chapter 56
57
Chapter 57
58
Chapter 58
59
Chapter 59
60
Chapter 60
61
Chapter 61
62
Chapter 62
63
Chapter 63
64
Chapter 64
65
Chapter 65
66
Chapter 66
67
Chapter 67
68
Chapter 68
69
Chapter 69
70
Chapter 70
71
Chapter 71
72
Chapter 72
73
Chapter 73
74
Chapter 74
75
Chapter 75
76
Chapter 76
77
Chapter 77
78
Chapter 78
79
Chapter 79
80
Chapter 80
81
Chapter 81
82
Chapter 82
83
Chapter 83
84
Chapter 84
85
Chapter 85
86
Chapter 86
87
Chapter 87
88
Chapter 88
89
Chapter 89
90
Chapter 90
91
Chapter 91

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!