Episode 11 : Gengsi bilang pak

Brak!

Brak!

Brak!

"Tuan kenantra yang terhormat, buka pintunya! kau pikir aku burung apa yang di kurung seperti ini?! "Kinara sejak tadi sudah berteriak, mengumpat bahkan menendang pintu, namun tak ada sahutan apapun di luar membuat ia menahan kesal setengah matti.

" Dasar pria patung perunggu yang kaku! lihat saja aku akan memberikan pelajaran padanya! " umpat kinara jengkel.

Di luar, sebenarnya kenantra masih berdiri di depan pintu, ia masih bersikap tenang meski hatinya kini bergolak rasa bersalah karena ia mengambil langkah ekstrem yang sedemikian rupa. "Bukankah tadi kau terlihat sangat nyaman saat berbincang dengan teman pria mu itu. Apa kau tidak ingin meluangkan sedikit waktu untuk dirimu sendiri? " balasnya dengan nada yang datar, namun terselip rasa tidak suka di sana.

"Apasih kok jadi bawa- bawa Farel, gak jelas! " sungut kinara dari dalam yang sukses membuat kenantra terdiam.

"Benar.Kenapa juga aku jadi mengaitkannya dengan pria itu? ada apa dengan ku? " monolog kenantra pelan, bingung dengan dirinya sendiri. Ia mengapit batang hidungnya, merasa ada yang tidak beres dengan perasannya sekarang.

"Kenantra, ayolah ku mohon buka pintunya sekarang! " ucap kinara kembali, kali ini dengan nada memelas berharap pria itu akan luluh.

Tetapi pria dingin itu tetap pada pendiriannya. "Ku bilang ini hukuman untuk mu dan kau harus menjalaninya."

"Ck, lalu kapan aku akan keluar dari sini?! " tukas kinara merasa kekesalannya sudah sampai ke ubun- ubun.

Kenantra geleng-geleng kepala. "Aku tidak mengunci mu untuk selamanya. Setelah ku rasa hukumnya selesai aku akan membukanya. "

Kinara melotot tajam, sebelum ia bisa protes bisa ia dengar suara langkah kaki yang meninggalkan pintu, membuat nya jadi mencak- mencak sendiri.

"Dasar pria kaku, kejam, jelek, tidak berperasaan, akan ku pastikan aku akan membalasnya! " segala bentuk umpatan ia layangkan untuk suaminya itu, meski orang nya sudah tidak ada di tempat, kinara tetap berteriak meluapkan kekesalannya.

Sementara itu Austin dan maya baru tiba di mansion. Saat mereka melihat kenantra lewat, Austin hendak menghampiri namun pak dandi dengan cepat mencegah.

"Jangan Austin! "

"Ada apa memang nya? "

Pak dandi menggelengkan kepalanya sekilas. "Tuan muda tidak sepertinya tidak bisa di ganggu sekarang. Dia terlihat marah dan bingung. "

"Bingung? " alis Austin mengernyit. "bingung kenapa? "

"Bingung dengan perasaannya sendiri, pasti, " sahut maya yang sepertinya masih menduga-duga, Austin refleks menoleh ke arahnya.

"Lalu kenapa marah? "

Maya balas menatap Austin dengan jengkel lalu berdecak. "Kau tidak melihat kalau tuan sedang cemburu? memangnya apalagi selain itu yang menjadi penyebab kemarahannya. "

*Waw, wanita memang paling mengerti tentang perasaan. Aku saja tidak tahu itu. " Austin menggeleng salut.

"Ya, itu makannya kebanyakan lekaki terlahir tidak peka! " balas maya begitu telak lalu meninggalkan nya yang begitu saja.

Austin sampai melongo lalu menoleh ke arah pak dandi. "Pak, maya memang seperti itu ya orang nya, galak dan ketus? "

Pak dandi menggidikkan bahu. "Seperti nya hanya kepada mu saja Austin. "

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Di sisi lain, kenantra kini berada di ruang kerjanya, ia menyibukkan isi kepalanya yang runyam dengan membaca dokumen dan memeriksa pekerjaan para karyawan nya kembali.

Sebagai seorang anak yang terlahir dengan sendok emas, sejak kecil kenantra biasa di layani, hidupnya sudah di susun sedemikian rupa, ia juga di keliling oleh orang-orang yang patuh padanya jadi ketika ia di hadapi oleh orang yang berani menentang dan membangkang seperti kinara, jiwa penasaran nya seperti di pancing, seperti kepalanya kini di setting untuk memikirkan gadis itu terus.

"Apakah sejak dulu kinara memang seperti ini? " lirih nya, mengingat kembali kenangan nya bertemu dengan kinara pertama kali di sebuah pesta.

Flashback on:

Kala itu di tengah kemegahan pesta ulang tahun salah satu sepupu kenantra, kinara hadir bersama keluarga nya sebagai tamu undangan. Kinara kecil berdiri di sudut ruangan dengan gaun berwarna merah dan aksesoris pita hitam, kontras sempurna dengan rambutnya yang tergerai. dia menjauhkan dari kerumunan, seolah asing dengan kehidupan glamor yang mengelilingi nya.

Kenantra remaja yang saat itu sedang berbincang dengan teman- temannya, melirik gadis kecil itu dari jauh, di situlah rasa penasaran nya pada kinara di mulai.

Namun gengsinya yang setinggi gunung Everest membuat kenantra hanya mengawasi dari jauh. sesekali matanya akan tertangkap basah oleh kinara saat sedang mengamati gadis itu dan yang masih dia ingat sampai sekarang adalah senyum kinara yang dia tunjukkan saat mereka tak sengaja bersi tatap.

"Aduh! "

Saat berjalan habis dari toilet, kenantra melihat kinara yang terjatuh, insting melindungi nya seketika hadir membuat ia dengan sigap mendekat.

"Kau tidak apa- apa? "

Kinara kecil mendongak, matanya nampak berbinar saat melihat kenantra meski wajahnya meringis kesakitan.

Kenantra melihat luka kecil di lutut nya. Tanpa ragu ia mengenggam tangan kinara dan membantu nya berdiri.

"Ayo aku akan menggendong mu hingga ke dalam. "

"...,.. "

Kenantra menghela nafas saat melihat kinara yang diam saja. "Lutut mu terluka jadi pasti tidak bisa berjalan." sedikit gemas, dia pun menarik tangan kinara dan membawa gadis kecil itu ke dalam gendongan punggung nya.

Flashback off.

Kenangan dari pertemuan pertama yang tak mungkin kenantra lupakan. Ia kemudian mengambil sebuah file dokumen di meja kerjanya, di sana terselip sebuah foto yang sudah usang, ia menatap gadis kecil yang berpose di samping nya, senyum merekah tampak terlihat dari gadis kecil itu, foto mereka yang tak sengaja bersebelahan kenantra simpan sampai sekarang dan kini sudah tujuh belas tahun lebih semenjak foto itu di ambil.

Kenantra mengusap wajah kinara kecil dalam foto itu lalu mendengkus geli. "Sejak kapan gadis yang polos dan lugu, berubah menjadi wanita yang tangguh dan pemberani seperti sekarang? "

Sementara Kinara yang masih terkurung di dalam kamarnya tidak membuat nya diam begitu saja. Dia berusaha kabur melalui balkon kamarnya dengan menggunakan bedcover yang ia jadikan satu sebagai tali.

Saat turun kinara langsung menuju dapur, menemui maya di sana.

"Nyonya anda dari mana saja? "

"Haish, aku berada di kamarku. Ceritanya panjang, di mana tasku? "

"Ini nyonya. " Maya memberikan tas sang nyonya pada pemiliknya.

"Maya jujur aku lupa di mana menaruh black card nya, apa kau menyimpan nya? "

"Tentu nyonya, ada di dalam tastas nyonya. "

Kinara mengubek- ngubek isi tasnya dan menemukan kartu itu. "Huftt syukur lah masih ada. "

"Apa sejak tadi nyonya mengkhawatirkan kartu ini? "

"Tentu saja maya. Jika kartu ini hilang, hilang juga kehidupan ku. Terimakasih ya sudah merawat nya dengan baik. "

Maya mengangguk. "Sama-sama nyonya. Sekarang anda akan kemana? "

"Aku akan kembali ke kamar ku. Oh ya jangan bilang pada kenantra jika aku kesini untuk menemui mu. "

"Baik nyonya. "

Kinara segera berlari untuk kembali ke kamarnya sebelum ada yang melihat dia ada di sini.

Sebenarnya dia juga bodoamat jika ketahuan kabur dari kamarnya tapi malas saja jika harus berurusan dengan kenantra lagi, sekalian dia ingin membuat pelajaran untuk pria itu nanti.

"Kau lihat saja kenantra! akan ku buat kau panik setengah matti lagi! "

*

*

*

Bersambung

Terpopuler

Comments

MashMellow🍭

MashMellow🍭

tapi mengapa menjadi isteri yang diabaikan

2025-02-12

0

Wanita Aries

Wanita Aries

Suka ceritanya.. kinara konyol

2025-01-26

0

Konny Rianty

Konny Rianty

😁😁😁""' Seruuuuuui"" cerita nya Thorrrr.....

2025-01-05

2

lihat semua
Episodes
1 Episode 01: Memasuki tubuh istri yang teraniaya
2 Episode: 02: Berniat mengubah jalan cerita
3 Episode : 03: menantu durhaka or mertua durjana?
4 Episode : 04: Membuat pelayan itu tunduk
5 Episode 05: sekarang aku lah antagonis nya
6 Episode 06: keributan di pagi hari
7 Episode 07: Aku adalah kinara wijaya, istri sah mu!
8 Episode 08: suami dinginnya itu mulai tertarik
9 Episode 09: menjahili suami sok cuek
10 Episode 10: Hukuman
11 Episode 11 : Gengsi bilang pak
12 Episode 12 : Suaminya marah
13 Episode 13 : Naiklah ke punggung ku
14 Episode 14: Kenantra mesum!
15 Episode 15: Ingin melihat sisi lain dari mu
16 Episode 16: hati yang sama-sama patah
17 Episode 17: perkara eskrim dan Choco pie
18 Episode 18: Beraninya main keroyokan.
19 Episode 19 : meminta cerai
20 20 : Undangan pesta ulang tahun nenek
21 Episode 21 : ku bilang hapus, atau aku yang menghapusnya?
22 Episode 22 : Bertemu Claudia
23 23 : Berdansa bersama
24 24: Ada sesuatu yang di sembunyikan
25 Episode 25 : Claudia kena getahnya
26 Episode 26 : kebohongan
27 Episode 27 : Salah paham
28 Episode 28 : Kinara pergi
29 Episode 29 : Kinara tak ada di mansion
30 Episode 30 : memberi pelajaran pada Kenantra
31 Episode 31 : Frustasinya Kenantra
32 Episode 32 : Kenan ke kediaman wijaya
33 Episode 33 : Si cabe datang
34 Episode 34 : Balik atau enggak?
35 Episode 35 : Ketahuan?
36 Episode 36 : Kenantra kenapa?
37 Episode 37 : Kenan masuk rumah sakit
38 Episode 38 : mimpi buruk
39 Bab : 39
40 Bab : 40
41 Bab : 41
42 Bab : 42
43 Bab : 43
44 Bab : 44
45 Bab : 45
46 Bab : 46
47 Bab 47: Alasan Kenantra bersikap dingin
48 Bab 48 : deeptalk
49 Bab : 49
50 Bab : 50
51 Bab : 51
52 Bab : 52
53 Bab : 53
54 Bab : 54
55 Bab : 55
56 Bab : 56
57 Bab : 57
58 Bab : 58
59 Bab : 59
60 Bab : 60
61 Bab : 61
62 Bab : 62
63 Bab : 63
64 Bab : 64
65 Bab : 65
66 Bab : 66
67 Bab : 67
68 Bab : 68
69 Bab : 69
70 Bab : 70
71 Bab : 71
72 Bab : 72
73 Bab : 73
74 Bab : 74
75 Bab : 75
76 Bab : 76
77 Bab : 77
78 Pengumuman : promosi karya baru
Episodes

Updated 78 Episodes

1
Episode 01: Memasuki tubuh istri yang teraniaya
2
Episode: 02: Berniat mengubah jalan cerita
3
Episode : 03: menantu durhaka or mertua durjana?
4
Episode : 04: Membuat pelayan itu tunduk
5
Episode 05: sekarang aku lah antagonis nya
6
Episode 06: keributan di pagi hari
7
Episode 07: Aku adalah kinara wijaya, istri sah mu!
8
Episode 08: suami dinginnya itu mulai tertarik
9
Episode 09: menjahili suami sok cuek
10
Episode 10: Hukuman
11
Episode 11 : Gengsi bilang pak
12
Episode 12 : Suaminya marah
13
Episode 13 : Naiklah ke punggung ku
14
Episode 14: Kenantra mesum!
15
Episode 15: Ingin melihat sisi lain dari mu
16
Episode 16: hati yang sama-sama patah
17
Episode 17: perkara eskrim dan Choco pie
18
Episode 18: Beraninya main keroyokan.
19
Episode 19 : meminta cerai
20
20 : Undangan pesta ulang tahun nenek
21
Episode 21 : ku bilang hapus, atau aku yang menghapusnya?
22
Episode 22 : Bertemu Claudia
23
23 : Berdansa bersama
24
24: Ada sesuatu yang di sembunyikan
25
Episode 25 : Claudia kena getahnya
26
Episode 26 : kebohongan
27
Episode 27 : Salah paham
28
Episode 28 : Kinara pergi
29
Episode 29 : Kinara tak ada di mansion
30
Episode 30 : memberi pelajaran pada Kenantra
31
Episode 31 : Frustasinya Kenantra
32
Episode 32 : Kenan ke kediaman wijaya
33
Episode 33 : Si cabe datang
34
Episode 34 : Balik atau enggak?
35
Episode 35 : Ketahuan?
36
Episode 36 : Kenantra kenapa?
37
Episode 37 : Kenan masuk rumah sakit
38
Episode 38 : mimpi buruk
39
Bab : 39
40
Bab : 40
41
Bab : 41
42
Bab : 42
43
Bab : 43
44
Bab : 44
45
Bab : 45
46
Bab : 46
47
Bab 47: Alasan Kenantra bersikap dingin
48
Bab 48 : deeptalk
49
Bab : 49
50
Bab : 50
51
Bab : 51
52
Bab : 52
53
Bab : 53
54
Bab : 54
55
Bab : 55
56
Bab : 56
57
Bab : 57
58
Bab : 58
59
Bab : 59
60
Bab : 60
61
Bab : 61
62
Bab : 62
63
Bab : 63
64
Bab : 64
65
Bab : 65
66
Bab : 66
67
Bab : 67
68
Bab : 68
69
Bab : 69
70
Bab : 70
71
Bab : 71
72
Bab : 72
73
Bab : 73
74
Bab : 74
75
Bab : 75
76
Bab : 76
77
Bab : 77
78
Pengumuman : promosi karya baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!