Episode 07: Aku adalah kinara wijaya, istri sah mu!

Perasaan panik seketika merambat ke seluruh tubuh kinara. Ia tidak menyangka bahwa Kenantra akan menyadarinya secepat itu. Dia berusaha menenangkan diri meski kini jantung nya berdegup kencang. Di hadapannya sekarang berdiri pria dengan aura dingin itu, pria yang tak pernah melihat kehadirannya sama sekali ini harus tahu jika sekarang dia sudah berubah, bukan lagi seorang istri yang teraniaya.

"Aku adalah kinara wijaya. Apa maksud mu?" katanya, berusaha menjaga suaranya agar tetap tenang.

Bukannya membalas lagi ucapannya, Kenantra justru berbalik menatap ke arah kerumunan para pelayan. "Kalian bubar lah! "

Pak dandi yang cepat peka langsung mengkawal para pelayan itu untuk pergi dan menyisakan pasangan suami- istri itu berdua.

Kinara merasakan atmosfer yang berada di sekitar nya begitu mencekik hingga ia kehabisan nafas. Kenantra melangkahkan kaki ke arahnya.

"Sekarang katakanlah apa yang ingin kau katakan, " ucap pria itu. Sekarang kinara mengerti, kenantra mengusir para pelayan tadi agar mereka tidak mendengar keburukan pria itu yang akan ia ucapkan, mau bagaimanapun kenantra hanya memperdulikan dirinya sendiri dan nama baiknya, tak ada empati secuilpun untuk wanita yang sekarang menjadi istrinya.

"Aku adalah kinara wijaya, istri sah mu! " seru kinara dengan suara tegas dan percaya diri. "aku berhak mendapatkan perlakuan yang layak bukan hanya makanan sisa dan pakaian bekas! " ujarnya lagi dengan berani.

"Lalu sekarang apa yang kau inginkan? " tanya Kenantra, to the point.

"Tentu saja keadilan! aku menginginkan hakku sebagai nyonya rumah ini. " tukas kinara.

Sebenarnya kenantra sudah tak terkejut lagi atas perubahan sikap kinara ini tapi yang membuat nya cukup tercengang adalah raut wajah kinara yang selalu menunjukkan kebencian padanya.

Kenantra terkekeh sinis yang membuat kinara mengernyitkan dahi. "Aku tidak menyangka orang seperti mu yang selalu bersembunyi dalam bayang- bayang, sekarang sudah bisa menuntut dan meminta keadilan. "

Lalu kedua mata kenantra menatap tajam kinara, seolah mencari tahu sesuatu di dalam dirinya. "dan apa yang kau lakukan untuk mendapatkan semua itu? apakah hanya berteriak dan mengancam pelayan? atau merasa teraniaya dengan baju dan makanan yang kau terima? " nada suara kenantra semakin dalam dan kinara merasakan tantangan tersimpan di dalamnya.

Kinara tercekat, ia membuang tatapannya ke sembarang arah, enggan untuk menatap pria itu. Dia mencoba untuk mengumpulkan keberaniannya lagi di dalam meski aura intimidasi yang di keluarkan cukup membuatnya merasa tercekik.

"Tenang kinara, lo harus tenang. Lo gak boleh merasa terprovokasi karena ucapan si patung perunggu ini! " Batinnya berusaha meyakinkan diri.

Kinara menghela nafas lalu menatap kenantra kembali. "Apakah salah jika aku meminta keadilan? selama ini keluarga mu sudah berlaku tidak adil padaku dan kau hanya diam saja, apakah pantas aku mendapatkannya? aku kesini untuk menjadi menantu keluarga ini bukan menjadi seorang budak! "

Deg!

Perkataan kinara sukses membuat kenantra tercekat. Si Pria kini nampak tertegun dengan tatapan yang entah, kinara juga tidak bisa mendeskripsikannya.

"Ada apa ini? apa dia marah padaku? " kinara bertanya- tanya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

"Si kinara sekarang sudah benar- benar berubah, kita tidak bisa lagi berani kurang ajar padanya. "

"Sssttt pelankan suaramu, bagaimana jika ada yang mendengar dan melaporkan padanya, bisa- bisa kita di pecat juga kaya si sely!"

"Iya, iya. Sekarang kita tidak boleh lagi memanggil asal namanya, kita harus memanggilnya nyonya. "

Maya melirik ke arah tiga pelayan yang berlalu dan saling berbisik- bisik itu, lantas ia menghela nafas nya. Sekarang nama sang nyonya sedang senter di bicarakan seisi mansion karena gebrakan yang dia buat. Tapi sampai kini maya belum melihat batang hidungnya lagi. Jujur ia khawatir pada sang nyonya, meski tahu sekarang dia sudah bisa melindungi dirinya sendiri.

Lalu maya mendengar suara langkah kaki di balik tembok, saat ia menoleh kembali yang muncul ternyata adalah kinara, pucuk di cinta ulam pun tiba, yang sedang ia khawatirkan kini datang dengan sendirinya.

"Nyonya anda dari mana saja? " maya segera menghampiri wanita itu.

Melihat maya membuat senyum kinara semakin merekah, di tangannya terdapat sebuah kartu kredit berwarna hitam.

"Kebetulan kau ada di sini maya. Cepatlah bersiap, ayo kita pergi berbelanja. "

"Tapi nyonya kita bahkan tidak punya mobil untuk keluar. " tutur maya.

"hah kok bisa? "

Maya mengangguk. "sejak dulu, jika ingin menggunakan fasilitas di mansion ini, anda harus ijin dulu pada nyonya Marisa, termasuk mobil. Sedangkan untuk menggunakan taksi, anda harus meminta ongkos dulu padanya, karena beliau yang mengelola keuangan nya."

" Hadeuh, pantas kehidupan kinara wijaya sungguh sangat miskin di rumah gede ini. Ternyata yang mengelola keuangan nya si nenek lampir itu. " batinnya, dongkol.

"Sekarang tidak ada lagi peraturan seperti itu, aku akan merubah nya. "

Maya tidak mengerti atas apa yang di ucapkan nyonyanya itu, sedangkan kinara kini memanggil pak dandi.

"Ada apa nyonya? "

"Siapkan saya mobil. Saya ingin keluar. "

"Baiklah tapi apa anda sudah meminta ijin pada nyonya besar? "

"Itu tidak perlu. Saya juga nyonya di rumah ini, jadi kenapa kalian hanya mematuhi ucapannya saja? "

"Tapi nyonya--"

Manik kinara mendelik tajam. "Pak dandi, ingat apa yang saya katakan sebelum nya. "

Pak dandi tertegun lantas mengangguk. "Baiklah saya akan menuruti perintah anda. "

Kinara tersenyum lalu pria tua itu berlalu untuk menyiapkan mobilnya, maya sampai terperangah di buatnya.

"Nyonya apa anda benar-benar akan pergi berbelanja? "

"Tentu saja maya, kau temani aku ya. "

"Tapi dari mana uangnya?"

Mendengar pertanyaan polos maya sontak membuat kinara tertawa. "Astaga kau tenang saja maya. Lihat ini, suami ku baru saja memberikan black card padaku. "

Maya tercengang melihat kartu yang di tunjukkan kinara. "Benarkah nyonya? apa sekarang tuan sudah berubah dan mulai memperdulikan anda. "

Sejujurnya kinara juga tidak tahu apa yang ada di pikiran pria itu. Setelah mendengar keluh kesahnya, ia melihat kenantra seperti orang tertegun dan merasa bersalah lalu dia memanggil asisten nya, Austin dan memberikan kartu ini pada kinara.

" Ini adalah black card. Kau bisa membeli apa pun dengan kartu ini. Tapi ingat lah untuk mempergunakannya sebaik mungkin. "

Hanya itu yang di katakan kenantra saat memberikan kartu ini pada kinara. meski banyak pertanyaan di kepalanya tentu saja kinara menerima kartu itu dengan senang hati.

"Sepertinya aku sudah berhasil merubah sebagian cerita ini hahaha. " gumamnya tanpa sadar lalu terkekeh.

"Cerita apa yang nyonya maksud?" tanya maya yang seketika membuat kinara gelagapan, dia lupa masih ada orang lain di sini.

"Oh bukan apa- apa. " kilahnya, "sekarang bersiap- siap lah maya. Aku menunggu di luar. "

"Baik nyonya! " maya segera pergi untuk bersiap.

Kinara tersenyum, ia menatap kartu di tangannya kembali. Tidak menyangka tindakannya akan sejauh ini. Jika di pikir- pikir lagi semuanya terasa tidak masuk akal, jiwanya masuk ke dalam sebuah novel, alih- alih panik dan takut, dia malah menikmati perannya ini.

"Baiklah, sepertinya perjalanan ku di sini masih panjang. Aku harus bersiap! " gumamnya dengan tekad yang membara.

*

*

*

Bersambung

Terpopuler

Comments

Jamayah Tambi

Jamayah Tambi

Kok ini haya berlakubdalam novel.Ini adalak khayalan bijak sang penulis.

2025-02-28

0

Uthie

Uthie

seruuuu....
sukkaaa.. Cerita nya...
👍👍👍👍👍🤩🤩🤩🤩

2024-12-18

2

lihat semua
Episodes
1 Episode 01: Memasuki tubuh istri yang teraniaya
2 Episode: 02: Berniat mengubah jalan cerita
3 Episode : 03: menantu durhaka or mertua durjana?
4 Episode : 04: Membuat pelayan itu tunduk
5 Episode 05: sekarang aku lah antagonis nya
6 Episode 06: keributan di pagi hari
7 Episode 07: Aku adalah kinara wijaya, istri sah mu!
8 Episode 08: suami dinginnya itu mulai tertarik
9 Episode 09: menjahili suami sok cuek
10 Episode 10: Hukuman
11 Episode 11 : Gengsi bilang pak
12 Episode 12 : Suaminya marah
13 Episode 13 : Naiklah ke punggung ku
14 Episode 14: Kenantra mesum!
15 Episode 15: Ingin melihat sisi lain dari mu
16 Episode 16: hati yang sama-sama patah
17 Episode 17: perkara eskrim dan Choco pie
18 Episode 18: Beraninya main keroyokan.
19 Episode 19 : meminta cerai
20 20 : Undangan pesta ulang tahun nenek
21 Episode 21 : ku bilang hapus, atau aku yang menghapusnya?
22 Episode 22 : Bertemu Claudia
23 23 : Berdansa bersama
24 24: Ada sesuatu yang di sembunyikan
25 Episode 25 : Claudia kena getahnya
26 Episode 26 : kebohongan
27 Episode 27 : Salah paham
28 Episode 28 : Kinara pergi
29 Episode 29 : Kinara tak ada di mansion
30 Episode 30 : memberi pelajaran pada Kenantra
31 Episode 31 : Frustasinya Kenantra
32 Episode 32 : Kenan ke kediaman wijaya
33 Episode 33 : Si cabe datang
34 Episode 34 : Balik atau enggak?
35 Episode 35 : Ketahuan?
36 Episode 36 : Kenantra kenapa?
37 Episode 37 : Kenan masuk rumah sakit
38 Episode 38 : mimpi buruk
39 Bab : 39
40 Bab : 40
41 Bab : 41
42 Bab : 42
43 Bab : 43
44 Bab : 44
45 Bab : 45
46 Bab : 46
47 Bab 47: Alasan Kenantra bersikap dingin
48 Bab 48 : deeptalk
49 Bab : 49
50 Bab : 50
51 Bab : 51
52 Bab : 52
53 Bab : 53
54 Bab : 54
55 Bab : 55
56 Bab : 56
57 Bab : 57
58 Bab : 58
59 Bab : 59
60 Bab : 60
61 Bab : 61
62 Bab : 62
63 Bab : 63
64 Bab : 64
65 Bab : 65
66 Bab : 66
67 Bab : 67
68 Bab : 68
69 Bab : 69
70 Bab : 70
71 Bab : 71
72 Bab : 72
73 Bab : 73
74 Bab : 74
75 Bab : 75
76 Bab : 76
77 Bab : 77
78 Pengumuman : promosi karya baru
Episodes

Updated 78 Episodes

1
Episode 01: Memasuki tubuh istri yang teraniaya
2
Episode: 02: Berniat mengubah jalan cerita
3
Episode : 03: menantu durhaka or mertua durjana?
4
Episode : 04: Membuat pelayan itu tunduk
5
Episode 05: sekarang aku lah antagonis nya
6
Episode 06: keributan di pagi hari
7
Episode 07: Aku adalah kinara wijaya, istri sah mu!
8
Episode 08: suami dinginnya itu mulai tertarik
9
Episode 09: menjahili suami sok cuek
10
Episode 10: Hukuman
11
Episode 11 : Gengsi bilang pak
12
Episode 12 : Suaminya marah
13
Episode 13 : Naiklah ke punggung ku
14
Episode 14: Kenantra mesum!
15
Episode 15: Ingin melihat sisi lain dari mu
16
Episode 16: hati yang sama-sama patah
17
Episode 17: perkara eskrim dan Choco pie
18
Episode 18: Beraninya main keroyokan.
19
Episode 19 : meminta cerai
20
20 : Undangan pesta ulang tahun nenek
21
Episode 21 : ku bilang hapus, atau aku yang menghapusnya?
22
Episode 22 : Bertemu Claudia
23
23 : Berdansa bersama
24
24: Ada sesuatu yang di sembunyikan
25
Episode 25 : Claudia kena getahnya
26
Episode 26 : kebohongan
27
Episode 27 : Salah paham
28
Episode 28 : Kinara pergi
29
Episode 29 : Kinara tak ada di mansion
30
Episode 30 : memberi pelajaran pada Kenantra
31
Episode 31 : Frustasinya Kenantra
32
Episode 32 : Kenan ke kediaman wijaya
33
Episode 33 : Si cabe datang
34
Episode 34 : Balik atau enggak?
35
Episode 35 : Ketahuan?
36
Episode 36 : Kenantra kenapa?
37
Episode 37 : Kenan masuk rumah sakit
38
Episode 38 : mimpi buruk
39
Bab : 39
40
Bab : 40
41
Bab : 41
42
Bab : 42
43
Bab : 43
44
Bab : 44
45
Bab : 45
46
Bab : 46
47
Bab 47: Alasan Kenantra bersikap dingin
48
Bab 48 : deeptalk
49
Bab : 49
50
Bab : 50
51
Bab : 51
52
Bab : 52
53
Bab : 53
54
Bab : 54
55
Bab : 55
56
Bab : 56
57
Bab : 57
58
Bab : 58
59
Bab : 59
60
Bab : 60
61
Bab : 61
62
Bab : 62
63
Bab : 63
64
Bab : 64
65
Bab : 65
66
Bab : 66
67
Bab : 67
68
Bab : 68
69
Bab : 69
70
Bab : 70
71
Bab : 71
72
Bab : 72
73
Bab : 73
74
Bab : 74
75
Bab : 75
76
Bab : 76
77
Bab : 77
78
Pengumuman : promosi karya baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!