Bab 5: Awal Obsesi

3 tahun yang lalu ....

Tristan tengah menikmati waktu makan malamnya bersama kedua orang tua. Aturan di rumah, sesibuk apapun urusan pekerjaan, setidaknya harus meluangkan waktu makan bersama di akhir pekan. Kalau tidak dituruti, Emili akan marah. Baik Tristan maupum ayahnya tak bisa membantah.

Rumah sebesar itu memang terasa sepi. Untunglah ada belasan pelayan yang bekerja di sana dan mampu menghidupkan suasana. Begitulah kesepiannya orang tua yang hanya memiliki satu anak, apalagi sudah bekerja.

"Daddy dengar kamu menambah kepemilikan saham di hotel dan restoran milik Tuan John Arthur."

Leon membuka pembicaraan di sela-sela makan malam. Tristan tampak enggan untuk menanggapi ucapan ayahnya. Ia tahu meskipun tidak mengatakannya, ayahnya akan tahu apa yang ia lakukan.

"Ya, Benar," jawabnya singkat.

Leon menggeleng-gelengkan kepala. Ia tidak pernah bisa menebak isi pikiran putranya. Salah satu lulusan terbaik dari universitas di Australia itu bisa membuat keputusan yang membuat banyak orang tercengang. Ia sendiri tahu dari para rekan bisnisnya. Tristan tak pernah bercerita atau meminta pendapat tentang pekerjaannya.

"Apa yang kamu mau sebenarnya, Tristan?" tanya Leon.

"Daddy tahu, tidak seharusnya ikut campur dengan urusanmu. Tapi ... Masih tidak bisa masuk nalar keputusanmu untuk yang satu itu."

"Kamu ini anak yang pintar, sudah merintis bisnis sejak kuliah, bahkan tanpa sepeserpun uang dari daddy."

"Kamu ini sedang jadi pusat perhatian orang-orang sejak wajahmu muncul di halaman majalah bisnis."

"Coba pikirkan lagi kalau mau memutuskan sesuatu," tutur Leon.

Semua orang tahu, bisnis milik Keluarga Arthur selalu berada di ambang kehancuran. Dari segi manajemen dan masalah internal yang buruk, rasanya sangat mustahil untuk diselamatkan. Para investor satu persatu melepaskan sahamnya. Tapi putranya justru terus-menerus membakar uangnya untuk mempertahankan perusahaan itu.

"Biar aku yang menanggungnya, Dad. Ini tidak akan berpengaruh apa-apa pada bisnis Daddy," jawab Tristan dengan enteng.

"Ayolah, Sayang ... Kami juga memikirkan bagaimana ke depannya untuk karirmu. Lebih baik kamu melepaskannya dan membangun hotel serta restoranmu sendiri kalau memang kamu menginginkan bisnis seperti itu. Kami akan membantu. Jangan lagi berurusan dengan bisnis mereka," bujuk Emili.

Tristan bukannya tidak tahu kalau keputusannya sangat bodoh. Menggunakan semua keuntungan yang dihasilkan perusahaannya untuk menutupi kerugian yang dialami oleh bisnis keluarga Ralina hari demi hari.

Ia hanya belum menemukan cara untuk menyelamatkan Ralina dari keluarga bodoh itu. Ia juga tidak tahu mengapa harus terlibat sejauh itu hanya karena pesan terakhir adiknya.

"Mom ... Dad ... Aku bisa mengatasinya," ucap Tristan dengan seulas senyum.

Nada bicaranya yang sangat tenang terkesan sangat meyakinkan.

Tiba-tiba ponselnya bergetar. Ia mengambilnya dari saku, ada panggilan masuk dari seorang bernama Hamin.

"Halo?" sapanya saat menerima panggilan itu.

Raut wajahnya berubah tegang ketika berbicara dengan orang yang menelepon. Leon dan Emili saling berpandangan, seperti ada hal penting yang terjadi.

"Siapa yang menelepon?" tanya Emili usai Tristan menutup teleponnya.

"Orang kantor, Mom. Ada sedikit urusan penting di kantor," jawab Tristan.

"Malam-malam begini? Di akhir pekan?" guman Emili heran.

"Ya, Mom. Sepertinya aku tidak bisa menyelesaikan makan malam ini. Aku harus ke kantor sekarang," pamit Tristan seraya beranjak dari tempatnya.

Emili tercengang. "Apa tidak bisa besok?"

"Tidak bisa, Mom. Aku pergi dulu!"

Tristan langsung berjalan dengan langkah cepat ke arah depan.

Di halaman ada Hansan yang tampak sedang bermain catur denngan dua orang satpam rumah. Hansan langsung berdiri tegap saat melihat Tristan datang.

"Kita pergi sekarang!" perintah Tristan.

Tanpa bertanya sedikitpun, Hansan langsung berlari ke arah mobil. Ia membukakan pintu untuk atasannya dan langsung melajukan mobilnya.

"Anda ingin saya antar kemana?" tanya Hansan saa mobil baru keluar dari gerbang mansion.

"Klab malam Sky Night!"

Trian menyandarkan tubuh pada jok mobil. Ia menghela napas panjang. Kabar dari Hamim membuatnya panik.

Hamin ia tugaskan mengawasi Ralina. Katanya, Karina membawa Ralina ke klab malam itu. Kepalanya jadi pening. Ada saja kelakuan Karina yang membuatnya sibuk.

"Hansan ...," panggilnya.

"Iya, pak?" Hansan menoleh ke belakang lewat spion.

"Berapa usia minimal untuk masuk klab malam?" tanyanya.

"Saya kurang paham, Pak ... Tapi sepertinya asalkan sudah punya KTP bisa masuk."

Tristan tidak pernah berpikir sampai ke sana. Ia lupa jika sekarang Ralina sudah berusia 17 tahun. Anak yang ia jaga selama ini ternyata sudah semakin dewasa.

Setibanya di depan klab malam, Hamin datang menghampiri mereka di area parkiran.

"Apa Ralina sudah masuk?" tanya Tristan.

Hamin mengangguk. Ia menyerahkan sebuah topi dan masker kepada Tristan untuk dikenakan. Tidak mungkin Tristan secara terang-terangan terlihat di klab malam. Akan ada rumor yang beredar. Ia harus tetap menjaga imej-nya sebagai seorang pengusaha yang baik dan tenang.

Ketiganya langsung masuk dan berbaur dengan pengunjung lain yang penuh sesak memenuhi tempat tersebut. Suara bising musik seakan mampu memecahkan gendang telinga. Mereka mengarahkan pandangan ke setiap sudut untuk mencari keberadaan Ralina.

Merasa sulit melakukannya bersama-sama, ketiganya memutuskan untuk berpencar. Tristan mencarinya ke bagian lantai atas.

Saat baru beberapa langkah menginjakkan kaki di lantai dua, ia melihat keberadaan Karina yang tengah berbicara dengan seorang lelaki.

"Aku sudah membawa adikku, sekarang penuhi janjimu! Seratus juta!" kata Karina sembari menghisap rokoknya.

"Hahaha ... Mahal sekali bayaran yang harus aku keluarkan demi untuk bertemu adikmu." Lelaki itu tertawa.

Tristan berhenti di tempatnya, menyandarkan punggung pada dinding sembari pura-pura memainkan ponselnya.

"Terserah kamu mau bilang apa! Transfer sekarang juga! 100 juta!" desak Karina.

"Ya, ya ... Baiklah!"

"Baru kali ini aku bertemu kakak yang jahat sepertimu. Rela menjual adiknya demi pria penasaran seperti aku. Hahaha ...."

Tristan mengepalkan tangannya. Ingin sekali ia langsung mendatangi mereka dan menghajarnya. Kali ini perbuatan Karina sudah sangat keterlaluan pada Ralina.

"Yah, mau bagaimana lagi? Aku tidak punya penghasilan sekarang. Papa memecatku dari perusahaan."

"Itu karena kamu semena-mena melakukan korupsi dengan uang perusahaan!"

"Itu kan perusahaan ayahku. Wajar kan kalau aku memakai uangnya?"

"Wajar ... Tapi di pikiran orang gila! Dasar aneh!"

"Ah, terserah! Pokoknya aku butuh uang! Cepat kirim!"

"Iya, iya ... Ini sudah aku transfer 100 juta! Setelah tidur dengan adikmu, nanti aku tranfer lagi 200 juta!"

"Jangan kasar-kasar dengan adikku. Dia masih kecil."

"Hahaha ... Apa sekarang kamu mengkhawatirkannya?"

"Tidak, tidak ... Pokoknya kamu hanya punya waktu semalaman untuk tidur dengan adikku. Jam delapan pagi aku akan menjemputnya."

"Iya, iya ... Aku tahu!"

"Adikku ada di dalam! Jangan agresif, nanti dia ketakutan. Tunggu dia agak hilang kesadaran. Aku sudah memberikannya minuman khusus."

"Hahaha ... Kamu memang kakak yang luar biasa jahat. Luar biasa, Karina!"

Terpopuler

Comments

gaby

gaby

Tristan suka hal2 yg ribet. Ada jalan mudah, dia lbh milih muter2 dulu. Kalo Bisnis paman bibinya Ralina hancur harusnya bagus dong, biar jg gelandangan, trus Tristan dtg sbg pahlawan menikahi Ralina. Knp muter2 nyokong Dana Ortu Karina, padahal Ralina aja di jadiin babu. Itu sama aja Tristan nafkahin Karina & ortunya. Ceo kok bodoh

2024-12-23

0

Mommy'ySnowy 💕

Mommy'ySnowy 💕

ouhh,trnyta tristan jdikn karina kekasih cma sbgai trik buat melindungi ralin dn membuat kluarga artur tunduk pda dy dgn cra d sokong trus bisnisnya,, dn sprtinya bisnis itu pninggalan alm ortunya ralin deh,,jd bsa tristan kmbalikn k ralin klo sdh d akuisi

2024-12-13

2

Eka Bundanedinar

Eka Bundanedinar

gila jg karina mntang" bukan adik kandung jngn" harta hotel dan restoran jg pnya ayah ralina

2024-12-30

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Terjebak Pernikahan
2 Bab 2: Desakan Menikah
3 Bab 3: Mengantar ke Kampus
4 Bab 4: Malangnya Ralina
5 Bab 5: Awal Obsesi
6 Bab 6: Jebakan Karina
7 Bab 7: Hasrat Terlarang
8 Bab 8: Pelindung Rahasia
9 Bab 9: Saling Menguatkan
10 Bab 10: Si Tuan Arogan
11 Bab 11: Diam-Diam Mencium
12 Bab 12: Tersulut Emosi
13 Bab 13: Dating
14 Bab 14: Pertemuan Keluarga
15 Bab 15: Keluarga Sampah
16 Bab 16: Akting
17 Bab 17: Dunia yang Berbeda
18 Bab 18: Mencari Ares
19 Bab 19: Mungkinkah Kita Bisa Bersama?
20 Bab 20: Hari Pernikahan
21 Bab 21: Ancaman
22 Bab 22: Tiba-Tiba Harus Menikah
23 Bab 23: Hati yang Terluka
24 Bab 24: Gagal Malam Pertama
25 Bab 25: Dikira Menyimpang
26 Bab 26: Interogasi
27 Bab 27: Musuh Bebuyutan
28 Bab 28: Putus
29 Bab 29: Kasus Suap Sang Ayah
30 Bab 30: Benih Kebencian
31 Bab 31: Digigit Kucing
32 Bab 32: Otak Sebenarnya
33 Bab 33: Kemalangan Bertubi-Tubi
34 Bab 34: Tolong Aku
35 Bab 35: Menantu Yang Baik
36 Bab 36: Tarif Sekali Bercinta
37 Bab 37: Malam Pertama yang Tertunda
38 Bab 38: Belum Selesai, Sayang
39 Bab 39: Kegemparan
40 Bab 40: Demam
41 Bab 41: Dokter Ansel
42 Bab 42: Persembunyian Karina
43 Bab 43: Anak Sang Mantan
44 Bab 44: Serpihan Masa Lalu
45 Bab 45: Jangan Ganas-Ganas
46 Bab 46: Kangen atau Pengen?
47 Bab 47: Selamat Pagi, Sayang!
48 Bab 48: Belum Bisa Menerima
49 Bab 49: Masih Ada Perhatian
50 Bab 50: Ada yang Marah
51 Bab 51: Haruskah Aku Sopan?
52 Bab 52: Mantan Kekasih Suami
53 Bab 53: Intimidasi
54 Bab 54: Keributan
55 Bab 55: Permintaan Gila
56 Bab 56: Peringatan
57 Bab 57: Aku Tidak Khawatir
58 Bab 58: Ucapan Sampah Bobby
59 Bab 59: Panas
Episodes

Updated 59 Episodes

1
Bab 1: Terjebak Pernikahan
2
Bab 2: Desakan Menikah
3
Bab 3: Mengantar ke Kampus
4
Bab 4: Malangnya Ralina
5
Bab 5: Awal Obsesi
6
Bab 6: Jebakan Karina
7
Bab 7: Hasrat Terlarang
8
Bab 8: Pelindung Rahasia
9
Bab 9: Saling Menguatkan
10
Bab 10: Si Tuan Arogan
11
Bab 11: Diam-Diam Mencium
12
Bab 12: Tersulut Emosi
13
Bab 13: Dating
14
Bab 14: Pertemuan Keluarga
15
Bab 15: Keluarga Sampah
16
Bab 16: Akting
17
Bab 17: Dunia yang Berbeda
18
Bab 18: Mencari Ares
19
Bab 19: Mungkinkah Kita Bisa Bersama?
20
Bab 20: Hari Pernikahan
21
Bab 21: Ancaman
22
Bab 22: Tiba-Tiba Harus Menikah
23
Bab 23: Hati yang Terluka
24
Bab 24: Gagal Malam Pertama
25
Bab 25: Dikira Menyimpang
26
Bab 26: Interogasi
27
Bab 27: Musuh Bebuyutan
28
Bab 28: Putus
29
Bab 29: Kasus Suap Sang Ayah
30
Bab 30: Benih Kebencian
31
Bab 31: Digigit Kucing
32
Bab 32: Otak Sebenarnya
33
Bab 33: Kemalangan Bertubi-Tubi
34
Bab 34: Tolong Aku
35
Bab 35: Menantu Yang Baik
36
Bab 36: Tarif Sekali Bercinta
37
Bab 37: Malam Pertama yang Tertunda
38
Bab 38: Belum Selesai, Sayang
39
Bab 39: Kegemparan
40
Bab 40: Demam
41
Bab 41: Dokter Ansel
42
Bab 42: Persembunyian Karina
43
Bab 43: Anak Sang Mantan
44
Bab 44: Serpihan Masa Lalu
45
Bab 45: Jangan Ganas-Ganas
46
Bab 46: Kangen atau Pengen?
47
Bab 47: Selamat Pagi, Sayang!
48
Bab 48: Belum Bisa Menerima
49
Bab 49: Masih Ada Perhatian
50
Bab 50: Ada yang Marah
51
Bab 51: Haruskah Aku Sopan?
52
Bab 52: Mantan Kekasih Suami
53
Bab 53: Intimidasi
54
Bab 54: Keributan
55
Bab 55: Permintaan Gila
56
Bab 56: Peringatan
57
Bab 57: Aku Tidak Khawatir
58
Bab 58: Ucapan Sampah Bobby
59
Bab 59: Panas

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!