Bab 17 : Zhang Liao dan Chen Gong.

Langit malam dihiasi oleh api yang menjulang tinggi, menjilati langit dengan rakus, menciptakan pemandangan apokaliptik yang mengerikan. Asap hitam membubung tinggi, menghalangi bintang-bintang, dan menyelimuti medan perang dengan aroma jelaga dan kematian. Di bawah cahaya api yang mengerikan, bayangan prajurit berkejaran, saling beradu pedang, tombak, dan panah. Bunyi dentuman, teriakan, dan desingan senjata beradu menciptakan simfoni kematian yang mengerikan. Di tengah kekacauan itu, Kei dan Reina, dengan tekad bulat, bersiap menghadapi Zhang Liao dan Chen Gong.

Kei, tubuhnya dibalut baju besi hitam yang berkilauan, berdiri tegak di atas kuda hitam besar dan kekar yang dihiasi baja emas hitam, memiliki tanduk iblis yang tampak mengerikan. Kuda itu tampak kuat dan perkasa, mencerminkan kekuatan dan keganasan Kei. Dua pedang kegelapan, yang diukir dengan rune-rune kuno, terhunus di tangannya, memancarkan aura dingin dan mematikan. Matanya, yang tersembunyi di balik helmnya yang menutupi sebagian besar wajahnya, berbinar dengan tekad yang tak tergoyahkan.

Reina, dengan keceriaannya yang tak pernah padam, menaiki kuda putih bidadari yang anggun, dengan pelana putih yang besar dan berkilauan. Kuda itu tampak lembut dan anggun, mencerminkan kecantikan dan kelincahan Reina. Rambutnya yang hitam panjang terurai, berkibar-kibar ditiup angin, seakan menari diiringi simfoni kematian yang dimainkan oleh benturan baja. Katananya yang berkilauan, yang memancarkan cahaya emas yang menyilaukan, terhunus di tangannya, siap untuk melepaskan kekuatannya yang mematikan.

"Reina, kau siap?" tanya Kei, suaranya datar dan tanpa emosi, namun penuh otoritas.

"Tentu saja, Kei. Aku akan mengalahkan si penyihir itu," jawab Reina dengan senyum percaya diri, cahaya emas dari katananya berkilauan di tengah kegelapan. "Aku akan membuat pertunjukan yang menarik."

Pertempuran pun dimulai. Zhang Liao, dengan dua kapak besarnya yang berkilauan, menerjang Kei dengan kekuatan penuh. Serangannya dahsyat, menggetarkan tanah, membuat batu-batu di sekitar mereka berhamburan. Wussh! Suara angin berdesir saat kapak Zhang Liao menebas udara. Boom! Suara dentuman keras menggema saat kapak itu mengenai tanah. Thud! Suara tubuh prajurit yang terjatuh ke tanah. Kei, dengan lincahnya, menghindar dan membalas dengan serangan gelombang kejut yang mengguncang udara, membuat tanah bergetar dan menjatuhkan beberapa prajurit yang berdiri di dekatnya. Wussh! Suara angin berdesir saat Kei melepaskan serangan gelombang kejut. Boom! Suara dentuman keras menggema saat serangan itu mengenai tanah. Thud! Suara tubuh prajurit yang terjatuh ke tanah.

"Kau memang kuat, bocah" teriak Zhang Liao, menahan serangan Kei dengan kapaknya, tubuhnya bergetar karena kekuatan serangan Kei. "Tapi kau tak akan bisa mengalahkan kekuatan kapakku"

Kei tak gentar. Ia terus menyerang dengan gelombang kejut yang bertubi-tubi, mencoba mencari celah dalam pertahanan Zhang Liao. Pertempuran sengit itu berlangsung lama, keduanya saling bertukar serangan dengan kekuatan penuh. Setiap kali serangan Kei mengenai kapak Zhang Liao, percikan api beterbangan, Clang! Clang! Clang! dan udara bergemuruh. Wussh! Suara angin berdesir saat Kei melepaskan serangan gelombang kejut. Boom! Suara dentuman keras menggema saat serangan itu mengenai tanah. Thud! Suara tubuh prajurit yang terjatuh ke tanah. Beberapa prajurit yang berada di dekatnya terhempas, terjatuh ke tanah dengan tubuh gemetar.

"Kau hanya akan lelah dengan seranganmu yang sia-sia itu" teriak Zhang Liao, kapaknya berputar dengan cepat, menahan serangan Kei.

"Kau salah, Zhang Liao" Kei berteriak, matanya menyala dengan tekad. "Aku akan mengalahkanmu"

Kei menarik napas dalam-dalam, berkonsentrasi pada kekuatan kegelapan yang mengalir di dalam dirinya. Ia merasakan kekuatan itu mengalir ke kedua pedang kegelapannya, membuat mereka bergetar dengan energi yang mengerikan. Dengan gerakan tiba-tiba, Kei melepaskan serangan gelombang kejut yang lebih kuat dari sebelumnya. Wussh! Suara angin berdesir dengan kekuatan yang luar biasa. Boom! Suara dentuman keras menggema, membuat tanah bergetar hebat. Gelombang kejut yang dilepaskan Kei melesat ke arah Zhang Liao dengan kecepatan yang luar biasa. Gelombang kejut itu berwarna hitam pekat, dihiasi dengan kilatan-kilatan energi kegelapan yang mengerikan. Crackle! Suara energi kegelapan yang berdesis. Zhang Liao, yang tak sempat menghindar, terhempas ke belakang, kapaknya terlepas dari genggamannya, Clang! dan terjatuh ke tanah dengan dentuman keras. Thud! Gelombang kejut itu terus melaju, menghancurkan segalanya yang dilaluinya. Beberapa prajurit yang berada di dekatnya terhempas, terjatuh ke tanah dengan tubuh gemetar. Beberapa dari mereka bahkan terbakar karena kekuatan gelombang kejut itu.

Zhang Liao terjatuh, tak berdaya, tubuhnya gemetar karena kekuatan serangan Kei. Ia menatap Kei dengan tak percaya, matanya terbelalak karena rasa takut.

"K-kau..." Zhang Liao terengah-engah, matanya terbelalak tak percaya.

"Maaf, Zhang Liao," ucap Kei dengan nada menyesal. "Tapi ini adalah pertempuran, dan aku harus menang."

Sementara itu, Reina, dengan keceriaannya yang tak pernah padam, menghadapi Chen Gong yang panik. Chen Gong, dengan magisnya, memanggil prajurit bayangan yang menyerbu Reina dengan ganas. Bayangan-bayangan itu, dengan mata merah menyala, bergerak dengan kecepatan yang luar biasa, menebas dengan pedang-pedang mereka yang tajam. Swish! Swish! Swish! Suara pedang bayangan yang menebas udara. Namun, Reina dengan kecepatannya yang luar biasa, berkelit dengan mudah dari serangan prajurit bayangan itu. Tubuhnya bergerak dengan cepat dan lincah, seperti angin yang berputar-putar. Swish! Suara katana Reina yang membelah udara.

"Kau tak akan bisa menangkapku, penyihir" Reina mengejek, tubuhnya bergerak dengan cepat, mendekati Chen Gong.

"B-berhenti" teriak Chen Gong ketakutan, tubuhnya gemetar. "Aku tak ingin bertarung"

"Terlambat," jawab Reina dingin, pedangnya terhunus. "Kau telah memilih jalan ini."

Reina melancarkan serangan cepat, menebas prajurit bayangan yang mengepung Chen Gong. Setiap tebasan katananya melepaskan cahaya emas yang menyilaukan, membakar tubuh prajurit bayangan itu hingga menjadi abu. Sizzle! Suara daging yang terbakar. Chen Gong, terpojok dan ketakutan, tak berdaya menghadapi serangan Reina. Ia mencoba memanggil lebih banyak prajurit bayangan, namun Reina terlalu cepat. Ia bergerak dengan kecepatan yang luar biasa, menghindar dari serangan prajurit bayangan dan mendekati Chen Gong dengan cepat. Swish! Swish! Swish! Suara katana Reina yang membelah udara.

"T-tolong..." Chen Gong memohon, suaranya bergetar.

"Maaf, Chen Gong," ucap Reina dengan nada datar. "Ini adalah akhirmu."

Reina melancarkan serangan terakhir, menebas Chen Gong hingga tak berdaya. Swish! Chen Gong terjatuh, pingsan, tubuhnya gemetar karena rasa takut.

Zhang Liao dan Chen Gong, kalah dan terluka, mundur dengan tergesa-gesa. Kei dan Reina, berdiri tegak dengan kemenangan, menatap kepergian mereka. Di sekitar mereka, medan perang masih dipenuhi asap dan kobaran api, sisa-sisa pertempuran yang sengit. Wussh! Suara angin yang berdesir membawa aroma jelaga dan kematian. Crackle! Suara api yang berkobar. Thud! Suara tubuh prajurit yang jatuh ke tanah.

"Kita menang, Reina," ucap Kei, tersenyum tipis. "Namun, ini baru permulaan."

"Ya, Kei," jawab Reina, mengangguk. "Kita menang. Dan kita akan terus menang."

Kemenangan ini merupakan bukti kekuatan dan kerja sama antara Kei dan Reina. Mereka telah membuktikan bahwa dengan strategi yang tepat dan tekad yang kuat, mereka mampu mengalahkan musuh yang lebih kuat dari mereka. Namun, mereka tahu bahwa pertempuran ini baru permulaan. Pertempuran yang lebih besar masih menanti mereka di depan. Pertempuran yang akan menentukan nasib dunia.

Episodes
1 Bab 1 : Prolog.
2 Bab 2 : Ashura dan Ashinamaru.
3 Bab 3 : Yellow turban.
4 Bab 4 : Pertemuan dengan tiga saudara.
5 Bab 5 : Kekuatan jati diri Ashura dan Ashinamaru.
6 Bab 6 : Kekalahan Zhang Bao.
7 Bab 7 : Di bawah pohon persik.
8 Bab 8 : Strategi Kei dan Reina.
9 Bab 9 : penghancur barat dan timur.
10 Bab 10 : Aktif nya mode dewa Kei dan Reina.
11 Bab 11 : Zhang Jiao dengan pasukan mayat hidup.
12 Bab 12 : Tangisan Reina.
13 Bab 13 : Diskusi.
14 Bab 14 : Rencana kejut.
15 Bab 15 : Serangan di mulai.
16 Bab 16 : Kepanikan Dong Zhuo.
17 Bab 17 : Zhang Liao dan Chen Gong.
18 Bab 18 : Lu Bu dan Red Hare.
19 Bab 19 : Terbakar nya Louyang
20 Bab 20 : Penyelamatan Lu Lingqi dan dua bawahan Lu Bu.
21 Bab 21 : Penjelasan.
22 Bab 22 : Kenzi dan Hanna.
23 Bab 23 : Kejadian terulang kembali.
24 Bab 24 : Kembali bersama dan pertarungan mematikan telah tiba.
25 Bab 25 : Melawan iblis Kei.
26 Bab 26 : Kei pura-pura tidur.
27 Bab 27 : Chang'an.
28 Bab 28 : Reina kehausan.
29 Bab 29 : Apa maksud nya?
30 Bab 30 : Penjabat yang merah.
31 Bab 31 : Rencana menjatuhkan Dong Zhuo.
32 Bab 32 : Persiapan demi keadilan.
33 Bab 33 : Gelombang kejutan dan kejayaan.
34 Bab 34 : Serangan akan di mulai.
35 Bab 35 : Tarian api dan es.
36 Bab 36 : Kesetiaan kepada Lu Bu.
37 Bab 37 : Kerja sama ayah dan anak.
38 Bab 38 : Amarah Lu Lingqi dan Lu Bu.
39 Bab 39 : Iblis, Bidadari Dan Ahli Strategi mematikan.
40 Bab 40 : Pertemuan pertama dengan calon istri Lu Bu.
41 Bab 41 : Jebakan lemah.
42 Bab 42 : Penghakiman di Puncak – Simfoni Kematian
43 Bab 43 : Makhluk agung di dalam ruangan yang mencekam.
44 Bab 44 : Memukul mundur Jia Xu.
45 Bab 45 : Strategi dalam kesempitan.
46 Bab 46 : Pernikahan Lu Bu.
47 Bab 47 : Surat untuk sahabat lama.
48 Bab 48 : Hari hari bahagia di Chang'an.
49 Bab 49 : Gaun pernikahan yang cocok.
Episodes

Updated 49 Episodes

1
Bab 1 : Prolog.
2
Bab 2 : Ashura dan Ashinamaru.
3
Bab 3 : Yellow turban.
4
Bab 4 : Pertemuan dengan tiga saudara.
5
Bab 5 : Kekuatan jati diri Ashura dan Ashinamaru.
6
Bab 6 : Kekalahan Zhang Bao.
7
Bab 7 : Di bawah pohon persik.
8
Bab 8 : Strategi Kei dan Reina.
9
Bab 9 : penghancur barat dan timur.
10
Bab 10 : Aktif nya mode dewa Kei dan Reina.
11
Bab 11 : Zhang Jiao dengan pasukan mayat hidup.
12
Bab 12 : Tangisan Reina.
13
Bab 13 : Diskusi.
14
Bab 14 : Rencana kejut.
15
Bab 15 : Serangan di mulai.
16
Bab 16 : Kepanikan Dong Zhuo.
17
Bab 17 : Zhang Liao dan Chen Gong.
18
Bab 18 : Lu Bu dan Red Hare.
19
Bab 19 : Terbakar nya Louyang
20
Bab 20 : Penyelamatan Lu Lingqi dan dua bawahan Lu Bu.
21
Bab 21 : Penjelasan.
22
Bab 22 : Kenzi dan Hanna.
23
Bab 23 : Kejadian terulang kembali.
24
Bab 24 : Kembali bersama dan pertarungan mematikan telah tiba.
25
Bab 25 : Melawan iblis Kei.
26
Bab 26 : Kei pura-pura tidur.
27
Bab 27 : Chang'an.
28
Bab 28 : Reina kehausan.
29
Bab 29 : Apa maksud nya?
30
Bab 30 : Penjabat yang merah.
31
Bab 31 : Rencana menjatuhkan Dong Zhuo.
32
Bab 32 : Persiapan demi keadilan.
33
Bab 33 : Gelombang kejutan dan kejayaan.
34
Bab 34 : Serangan akan di mulai.
35
Bab 35 : Tarian api dan es.
36
Bab 36 : Kesetiaan kepada Lu Bu.
37
Bab 37 : Kerja sama ayah dan anak.
38
Bab 38 : Amarah Lu Lingqi dan Lu Bu.
39
Bab 39 : Iblis, Bidadari Dan Ahli Strategi mematikan.
40
Bab 40 : Pertemuan pertama dengan calon istri Lu Bu.
41
Bab 41 : Jebakan lemah.
42
Bab 42 : Penghakiman di Puncak – Simfoni Kematian
43
Bab 43 : Makhluk agung di dalam ruangan yang mencekam.
44
Bab 44 : Memukul mundur Jia Xu.
45
Bab 45 : Strategi dalam kesempitan.
46
Bab 46 : Pernikahan Lu Bu.
47
Bab 47 : Surat untuk sahabat lama.
48
Bab 48 : Hari hari bahagia di Chang'an.
49
Bab 49 : Gaun pernikahan yang cocok.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!