Keesokan harinya.
"Bu, aku mau pergi ke restoran 'Sayang Jando' buat pesan makanan untuk acara pertunanganku dengan Alden," pamit Yumna pada ibunya dan Salwa yang saat ini tengah asyik menonton acara televisi di ruang tamu.
"Apa perlu ibu temani?" tawar Bu Ratih.
"Enggak perlu, Bu. Yumna bisa sendiri kok. Lagi pula kan dari rumah ke restoran enggak jauh juga. Lebih baik ibu di rumah saja," jawab Yumna.
"Kok pesen makanannya di sana sih, Kak!" Salwa melayangkan sedikit protes.
"Memangnya kenapa?"
"Makanan di situ kan kurang ke_elitan gitu loh," ujar Salwa.
"Yang penting kan rasanya enak, cocok di lidah banyak orang, bersih dan ramah di kantong. Gak perlu mahal-mahal kan ini cuma acara tunangan. Lebih baik uangnya ditabung buat nikah atau urusan lainnya," tutur Yumna.
"Loh kok jadi berhemat? Memangnya modal acara tunangan, dari Kak Yumna apa bulemu itu?"
"Alden namanya. Dia punya nama. Panggil dia Kak Alden. Yang sopan kamu sama calon kakak iparmu!" tegur Yumna.
"Halah, calon kakak ipar keeeree ngapain disayang, dielu-elukan. Dia bisa besar kepala!" sungut Salwa.
Yumna hanya bisa menghela napas beratnya. Entah kenapa Salwa mengukur semuanya dari harta dan materi semata. Padahal di dunia ini porosnya tidak melulu menilai seseorang dari segi harta atau materi yang dipunya.
Yumna mencari calon suami yang bisa setia dan mencintainya apa adanya. Sebab, sebagai manusia kita tidak sempurna. Ada kelebihan dan kekurangan, begitu pun dirinya.
"Kamu tenang saja. Walaupun Mas Alden yang katamu kerrree itu, dia juga ikut kasih uang ke Mbak buat acara pertunangan kok." Yumna memilih untuk mengalah dan menahan emosinya pada Salwa. Bagaimana pun juga ia menyayangi adiknya itu.
"Kasih modal berapa dia?"
"Tak perlu Mbak sebutin nominalnya. Enggak etis. Yang pasti biaya katering sama cincin tunangan, itu dari uang Mas Alden."
Yumna sengaja tak membuka fakta sebenarnya perihal uang modal tunangan dari Alden seberapa banyak pada keluarganya terutama Salwa. Ia khawatir jika Salwa meminta uang pada Alden secara sembunyi-sembunyi di belakangnya. Istilah kasarnya calon kakak ipar dipor0tin alias dipa_lak oleh calon adik ipar agar restu turun dan lancar ke depannya.
"Eaaaaa, aku pikir semua biaya pertunangan, dia yang bayarin. Ternyata enggak. Dasar barangnya aja yang jumbo tapi modal mepet dan pelit! Jangan-jangan itu pun modalnya pinjem alias utang," sindir Salwa.
"Astaghfirullah hal adzim," ucap Yumna.
Akhirnya Yumna pun bergegas pergi dari rumah karena ia tak mau terus berdebat tidak jelas dengan Salwa. Jujur, ia malu didengar tetangga. Setiap ia pulang ke Bandung, selalu saja bertengkar dan dicecar pertanyaan kapan nikah oleh Salwa dan ibunya.
Ketika ia berencana menikah dengan Alden, ada saja yang masih kurang dan dica_cat oleh Salwa. Yumna tak habis pikir kenapa hidupnya seakan penuh menyesakkan.
Namun, ia sangat bersyukur masih diberi kewarasan mental. Tak main aksi bunnn_ dir alias buuu_nuh diri seperti yang banyak terjadi di luar sana.
Seharusnya rumah adalah tempat ternyaman untuk berpulang selepas penat dan lelah bekerja maupun beraktivitas dari luar sana. Akan tetapi yang terjadi pada kehidupan Yumna selepas ayahnya meninggal dunia, rumah orang tuanya justru bukan lagi menjadi tempat yang nyaman untuknya.
Dipaksa keadaaan menjadi generasi sandwich, dituntut segera menikah karena usianya sudah sangat matang, dan masih banyak hal lain dalam hidupnya yang selalu dica_cat dan dicari kekurangannya oleh keluarganya sendiri. Sungguh perih dan miris.
☘️☘️
Faktanya, Alden telah mentransfer uang senilai seratus juta rupiah pada rekening Yumna untuk acara pertunangan. Yumna begitu terkejut melihat notifikasi dari mo_bile ban_king miliknya bahwa ada saldo masuk dengan jumlah yang cukup besar.
Yumna segera menghubungi calon tunangannya itu.
"Halo," sapa Yumna saat Alden mengangkat panggilan teleponnya.
"Halo juga, My Sweetheart. Aku kangen kamu dan pastinya kamu lebih kangen aku ya," balas Alden seperti biasanya yang selalu romantis dan penuh gombalan receh.
"Kenapa sebanyak itu uang yang kamu transfer buat acara pertunangan kita?" tanya Yumna secara to the point.
"Apa? Masih kurang ya segitu. Oke, Sayang. Kakanda akan transfer lagi dengan jumlah yang sama jadi double ya. Tunggu beberapa menit lagi akan masuk ke rekeningmu,"
Yumna memutar bola matanya jengah dengan tingkah Alden ketika mode seperti ini. Kang bucin.
"Aku serius, Al."
"Aku juga serius, Yank. Udah bener kok nominalnya. Apa banknya kebanyakan kasih angka nol nya?" goda Alden.
"Kamu transfer berapa?"
"Sepuluh juta," jawab Alden sengaja berbohong. Ia sangat suka menggoda kekasih hatinya itu. Tapi, niat dan hatinya sangat serius pada Yumna.
"Bohong! Sepuluh juta apaan?! Bank enggak bod0h. Kamu transfer seratus juta, kok bilang sepuluh juta!" protes Yumna.
"Berarti pas aku transfer, jariku yang oleng. Bukan aku, Yank. Mungkin jariku perlu disekolahkan lagi," jawab Alden dengan santai.
"Huft !!" gerutu Yumna.
"Sudahlah, Yank. Anggap itu bonus buat calon istri salehah," ucap Alden.
"Kalau aku bukan wanita baik-baik, apa kamu tetap sayang?" tanya Yumna secara spontan.
"Maksud Ayank apa?"
Deg...
"Ah, bukan apa-apa. Ya sudah aku tutup dulu teleponnya,"
"Iya, Sayang. Dibawa santai saja urusan pertunangan kita. Nanti urusan nikah sesuai kesepakatan kita kemarin ikut caraku. Pakai W O titik enggak pakai koma. No debat!" tegas Alden.
"Iya," jawab Yumna.
"Gitu dong nurut sama calon suami. Aku enggak mau kamu kecapekan urus sendiri ini itu. Kalau ada yang bisa bantu seperti W O mengapa tidak. Toh uangku, uangmu juga. Nikah kan sekali seumur hidup. Buat kenang-kenangan ke anak cucu kita nantinya tentang perjalanan momen pernikahan kita dibuat sedemikian rupa, cakep dan cantik kayak aku dan kamu" tutur Alden panjang lebar.
"Iya," jawab Yumna singkat.
"Sun dulu dong sebelum tutup telepon," pinta Alden manja.
"Gak enak sun di telepon. Gak seru," ledek Yumna.
"Wohoo, Ayank mau sun langsung nih. Aku tunggu loh, Yank. Mumpung aku belum berangkat ke bandara nih," ucap Alden yang terdengar begitu semangat 45 seakan bersiap mau berangkat perang bercinta.
"Nanti saat kita sudah halal," jawab Yumna.
"Yah, masih lama dong Yank. Udah enggak tahan nih," goda Alden.
"Ya ditahan dong. Katanya dua tahun lebih tahan enggak begituan. Masa nunggu sebentar lagi, enggak tahan."
"Aku bakalan tahan kok demi Yumna Salsabila, calon ibu dari anak-anakku."
"Bye, Al. Aku mau ke restoran pesan makanan buat acara pertunangan kita," ucap Yumna seraya berpamitan.
"Oke, Sayangku. Hati-hati di jalan. Selesai dari sana langsung pulang ke rumah terus istirahat saja. Jangan lupa yang paling penting inget sama aku terus. Hehe..."
"Hem,"
Bip...
Akhirnya telepon mereka pun selesai. Yumna bernapas lega karena tak jadi menceritakan hal penting di masa lalunya pada Alden. Entah mengapa bibirnya masih terasa kelu untuk jujur pada Alden terkait apa yang pernah terjadi di masa lalunya, tepatnya saat ia masih SMA.
Sejujurnya hati Yumna mulai mencintai Alden sebelum dirinya pulang kampung ke Bandung. Bahkan kadar cintanya pada lelaki itu semakin naik usai Alden datang ke Bandung secara tiba-tiba untuk melamarnya secara kejutan di depan ibunya dan Salwa. Alhasil dirinya dilanda rasa takut kehilangan Alden dari hidupnya.
"Maafkan aku jika belum bisa jujur sama kamu. Aku masih takut. Semoga suatu saat aku bisa mengatakannya sendiri padamu dan kamu tetap bisa menerimaku," batin Yumna.
Bersambung...
🍁🍁🍁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Nena Anwar
duh greget bingit dah pen nyumpel cocote si Salwa biar gk makin kurang ajar tuh ngomongnya, pasti sifat si Salwa turun dari Emaknya soalnya kalo diperhatiin Salwa terus debat dan ngehujat Yumna kok Emaknya cicing wae gk ada sedikitpun ngebelain Yumna,,,wah kalo si Salwa tau Alden transfer seratus jeti bisa jantungan dia
2024-12-04
3
Teh Euis Tea
ya ampun tuh mulut si salwa pedes bener pengen tak ulekin cape biar tambah pedes
2024-12-04
5
💗 AR Althafunisa 💗
Jadi makin penasaran sama sesuatu itu, soal mantankah? 🤔
2024-12-04
3