Bab 19 Perjuangan ditengah Bayangan

Raka dan Nadia berjalan perlahan di tengah hutan yang semakin sunyi. Mereka tahu bahwa pengejaran belum selesai. Suara serangga malam mulai terdengar di antara pepohonan yang rapat, tetapi suasana itu justru menambah rasa waspada.

“Kita harus temuin Pak Hasan secepatnya,” kata Raka dengan nada tegas. “Dia nggak mungkin jauh dari sini.”

Nadia, yang masih memegangi luka di lengannya, mencoba mengikuti langkah Raka yang lebih cepat. “Lo yakin dia aman? Tadi dia melawan mereka sendirian.”

Raka berhenti sejenak, menoleh ke Nadia. “Pak Hasan itu tangguh. Dia nggak akan menyerah begitu saja. Tapi kita tetap harus cepat. Kalau dia tertangkap…” Suaranya terhenti, membayangkan kemungkinan terburuk.

Nadia mengangguk tanpa bicara lagi. Mereka berdua melanjutkan perjalanan dengan penuh kehati-hatian, mata mereka terus mengawasi setiap sudut gelap di sekitar.

**Jejak yang Ditinggalkan**

Tidak lama kemudian, Raka melihat sesuatu di tanah—sebuah jejak kaki yang menuju ke arah barat laut. Ia berjongkok, memperhatikan jejak itu dengan saksama. “Ini jejak sepatu Pak Hasan,” katanya yakin.

“Lo yakin?” tanya Nadia, mendekat untuk melihat.

“Gue inget bentuk sol sepatunya. Dia menuju ke arah sana.”

Mereka segera mengikuti jejak itu, bergerak lebih cepat meskipun tubuh mereka sudah kelelahan. Setelah beberapa menit, mereka mendengar suara samar dari kejauhan. Suara itu seperti seseorang yang sedang berbicara—atau mungkin berdebat.

Raka memberi isyarat kepada Nadia untuk berhenti. Ia memajukan tubuhnya perlahan, berusaha mendekati sumber suara tanpa menimbulkan kebisingan. Dari balik semak, mereka melihat dua pria bersenjata berdiri di dekat Pak Hasan, yang kini duduk bersandar di batang pohon dengan tangan terikat.

“Kalian nggak bakal dapet apa-apa dari gue,” kata Pak Hasan dengan suara lantang, meskipun wajahnya terlihat lelah.

Salah satu pria bersenjata itu menendang kakinya. “Lo pikir lo bisa melawan kami? Kami cuma perlu waktu sampai semuanya selesai. Nggak ada yang bisa nolong lo sekarang.”

Raka mengepalkan tinjunya, matanya penuh dengan kemarahan. “Mereka udah keterlaluan,” bisiknya kepada Nadia.

“Kita harus bantu dia, tapi gimana? Mereka bersenjata,” Nadia berbisik balik, mencoba berpikir cepat.

Raka menatap sekitar, mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menyerang secara tiba-tiba. Matanya tertuju pada batu besar di dekatnya, lalu sebuah ranting panjang yang cukup tebal. “Gue punya ide. Lo ambil posisi di sana,” katanya sambil menunjuk semak di sisi lain.

Nadia mengangguk, segera bergerak ke tempat yang ditunjuk. Raka mengambil batu besar itu, lalu melemparkannya sejauh mungkin ke arah lain untuk menciptakan gangguan.

“Brukkk!”

Kedua pria itu langsung menoleh ke arah suara. “Apa itu?!” salah satu dari mereka berteriak.

“Cek ke sana!”

Saat salah satu dari mereka bergerak ke arah suara, Raka keluar dari persembunyian dengan ranting di tangannya. Ia menghantam pria yang masih berdiri di dekat Pak Hasan tepat di kepalanya, membuat pria itu tersungkur ke tanah. Nadia langsung muncul dari balik semak dan merebut senjata pria yang jatuh, sementara Raka bergulat dengan pria lainnya yang baru saja kembali setelah mendengar keributan.

Pertarungan itu berlangsung cepat tetapi brutal. Dengan tubuh yang penuh luka, Raka tetap bertahan, menahan serangan dari pria yang lebih besar darinya. Namun, ia berhasil memanfaatkan kelincahannya untuk menghindar dan melawan balik. Dengan satu pukulan kuat ke arah dagu, pria itu akhirnya jatuh pingsan.

**Penyelamatan Pak Hasan**

“Pak, lo nggak apa-apa?” tanya Raka sambil melepaskan ikatan di tangan Pak Hasan.

Pak Hasan mengangguk, meskipun wajahnya masih terlihat tegang. “Gue baik-baik aja, tapi mereka nggak akan berhenti. Mereka udah tahu kita ada di sini. Kita harus keluar secepatnya.”

Raka membantu Pak Hasan berdiri, sementara Nadia menjaga senjata yang baru saja mereka ambil. “Lo bisa jalan, Pak?” tanya Nadia.

“Gue nggak punya pilihan lain, kan?” jawab Pak Hasan sambil tersenyum kecil, meskipun jelas ia kesakitan.

“Kalau gitu, kita harus cari jalan keluar dari hutan ini sebelum bala bantuan mereka datang,” kata Raka.

**Pengejaran yang Terus Berlanjut**

Mereka bertiga mulai bergerak kembali, kini lebih berhati-hati. Suara angin malam yang berdesir di antara dedaunan membuat suasana semakin mencekam. Namun, mereka tahu bahwa mereka harus terus maju, karena berhenti berarti menyerah.

“Gue masih punya dokumen ini,” kata Nadia sambil menepuk tasnya. “Kita nggak boleh kehilangan ini apa pun yang terjadi.”

“Dan kita nggak akan kehilangan itu,” jawab Raka dengan nada tegas. “Mereka pikir mereka bisa menang, tapi kita akan tunjukin bahwa mereka salah.”

Dengan langkah yang semakin mantap, mereka bertiga melanjutkan perjalanan. Bahaya mungkin masih menanti di depan, tetapi tekad mereka lebih kuat dari rasa takut. Perjuangan ini belum selesai—dan mereka siap untuk menghadapi apa pun yang datang.

Malam semakin larut, tetapi cahaya harapan tetap menyala dalam hati mereka. Perjuangan Raka, Nadia, dan Pak Hasan kini tidak hanya soal bertahan hidup, tetapi juga soal menyelamatkan kebenaran yang mereka bawa. Di tengah gelapnya malam, mereka tahu bahwa cahaya itu masih ada di ujung jalan—dan mereka akan terus melangkah hingga sampai ke sana.

Di setiap langkah yang mereka ambil, hutan terasa semakin sunyi, seperti menyimpan rahasia gelap yang siap meledak kapan saja. Namun, mereka tak lagi gentar. Setiap luka yang mereka alami menjadi pengingat bahwa perjuangan ini jauh lebih besar dari sekadar diri mereka sendiri.

Raka memimpin dengan pandangan teguh ke depan, sementara Nadia dan Pak Hasan mengikuti, membawa sisa-sisa tenaga mereka untuk melawan segala rintangan yang menghadang. Jauh di lubuk hati, mereka tahu bahwa malam ini adalah malam penentu. Entah mereka berhasil melewati semua ini, atau mereka jatuh di tengah jalan.

Angin malam berhembus dingin, membawa suara samar yang entah nyata atau sekadar ilusi. Mereka tak menoleh ke belakang, karena masa lalu tak lagi penting. Semua tergantung pada langkah berikutnya, pada keberanian mereka menghadapi apa yang menanti di depan.

Dan di ujung hutan yang gelap, bayangan lampu kota Jakarta mulai terlihat. Sebuah pengingat bahwa di luar sana, dunia masih berputar, tak tahu bahwa di dalam bayang-bayang ini, kebenaran sedang dipertaruhkan. Dengan hati penuh tekad, mereka terus melangkah, karena berhenti bukanlah pilihan. Pertarungan baru saja dimulai.

Bayangan lampu kota Jakarta yang mulai terlihat seperti pengingat bahwa perjuangan mereka belum selesai. Namun, di balik terang itu, ada bahaya lain yang menunggu, musuh-musuh yang tak akan berhenti sampai semuanya hancur.

Raka berhenti sejenak, memandangi cahaya itu. “Jakarta ada di depan kita, tapi ini belum berakhir. Mereka akan menunggu kita di sana.”

Nadia mengangguk, menggenggam tasnya lebih erat. “Gue nggak peduli seberapa besar resikonya. Selama kita bawa ini sampai tempat yang aman, semuanya akan sepadan.”

Pak Hasan menarik napas panjang, tubuhnya gemetar karena kelelahan, tetapi semangatnya tetap menyala. “Kita bertahan sejauh ini bukan buat menyerah sekarang. Jakarta mungkin penuh bahaya, tapi juga tempat di mana kita bisa buktikan semuanya.”

Mereka melangkah kembali, kali ini dengan langkah yang lebih mantap meskipun tubuh mereka lelah. Mereka tahu, perjalanan ini lebih dari sekadar soal bertahan hidup—ini adalah perjuangan untuk sebuah kebenaran yang bisa mengubah segalanya.

Di belakang mereka, suara langkah samar terdengar di hutan. Musuh belum jauh, terus memburu tanpa henti. Tapi bagi Raka, Nadia, dan Pak Hasan, tidak ada waktu untuk takut. Mereka hanya punya satu pilihan: maju, sampai kemenangan ada di tangan mereka.

Episodes
1 Chapter 1 Bab 1 Selamat Datang di Jakarta
2 Bab 2 Kos Kosan di Gang Sempit
3 Bab 3 Jalan yang Berbeda
4 Bab 4 Titik Balik
5 Bab 5 Mencari Jalan Baru
6 Bab 6 Keringan dan Keberanian
7 Bab 7 Menghadapi Badai
8 Bab 8 Jalan Baru yang Berliku
9 Bab 9 Pilihan yang Tak Terduga
10 Bab 10 langkah Awal di Jalur Baru
11 Bab 11 Kejutan di Tengah Kesibukan
12 Bab 12 Kebenaran yang Terkuak
13 Bab 13 Konspirasi di Balik Pintu Tertutup
14 Bab 14 Langkah ditengah Ancaman
15 Bab 15 Persengkongkolan yang Terkuak
16 Bab 16 Kejaran Tanpa Henti
17 bab 17 Kejaran Berlanjut
18 Bab 18 Perpecahan dan Perlawanan
19 Bab 19 Perjuangan ditengah Bayangan
20 Bab 20 Pengejaran Terakhir
21 Bab 21 Pintu Gerbang Jakarta
22 Bab 22 Langkah Pertama
23 Bab 23 Labirin Jakarta
24 Bab 24 Jaringan Tak Terlihat
25 Bab 25 di Balik Bayang-Bayang
26 Bab 26 Langkah di Ujung Keputusan
27 Bab 27 Jaring yang Mengencang
28 Bab 28 Jejak di Tengah Kota
29 Bab 29 Langka Menuju Sarang
30 Bab 30 Titik Balik
31 Bab 31 Jalan Gelap Terbuka
32 Bab 32 Api Dalam Gelap
33 Bab 33 Perang Bayangan
34 Bab 34 Kepungan Tak Terduga
35 Bab 35 Jalan Tak Terlihat
36 Bab 36 Antara Dua Dunia
37 Bab 37 Titik Terendah
38 Bab 38 Dibalik Bayang-Bayang
39 Bab 39 Jejak di Tengah Gelap
40 Bab 40 Api di Tengah Hujan
41 Bab 41 Jejak Kegelapan
42 Bab 42 di Balik Bayang Jakarta
43 Bab 43 Pertempuran dalam Bayang-Bayang
44 Bab 44 Awal dari Akhir
45 Bab 45 Berlanjut
46 Bab 46 Perangkap Tak Terduga
47 Bab 47 Akhir dan Awal Baru
48 Chapter 2 Bab 48 Awal Baru
49 Bab 49 Hari Pertama Kerja Bengkel
50 Bab 50 Membantu Rina
51 Bab 51 Kehadiran Bayu
52 Bab 52 Bertemu Nadia
53 Bab 53 Pertarungan Bebas
54 Bab 54 Awal Hari yang Biasa
55 Bab 55 Melawan Ical
56 Bab 56 Dunia yang Lebih Gelap
57 Bab 57 Raka Memutuskan untuk Menerima Tawaran Arman
58 bab 58 Ikut Nadia
59 Bab 59 Adegan awal
60 Bab 60 Tatap Muka
61 Bab 61 Hari Pertandingan
62 Bab 62 Informasi dari Bayu
63 Bab 63 Pembicaraan Kecil
Episodes

Updated 63 Episodes

1
Chapter 1 Bab 1 Selamat Datang di Jakarta
2
Bab 2 Kos Kosan di Gang Sempit
3
Bab 3 Jalan yang Berbeda
4
Bab 4 Titik Balik
5
Bab 5 Mencari Jalan Baru
6
Bab 6 Keringan dan Keberanian
7
Bab 7 Menghadapi Badai
8
Bab 8 Jalan Baru yang Berliku
9
Bab 9 Pilihan yang Tak Terduga
10
Bab 10 langkah Awal di Jalur Baru
11
Bab 11 Kejutan di Tengah Kesibukan
12
Bab 12 Kebenaran yang Terkuak
13
Bab 13 Konspirasi di Balik Pintu Tertutup
14
Bab 14 Langkah ditengah Ancaman
15
Bab 15 Persengkongkolan yang Terkuak
16
Bab 16 Kejaran Tanpa Henti
17
bab 17 Kejaran Berlanjut
18
Bab 18 Perpecahan dan Perlawanan
19
Bab 19 Perjuangan ditengah Bayangan
20
Bab 20 Pengejaran Terakhir
21
Bab 21 Pintu Gerbang Jakarta
22
Bab 22 Langkah Pertama
23
Bab 23 Labirin Jakarta
24
Bab 24 Jaringan Tak Terlihat
25
Bab 25 di Balik Bayang-Bayang
26
Bab 26 Langkah di Ujung Keputusan
27
Bab 27 Jaring yang Mengencang
28
Bab 28 Jejak di Tengah Kota
29
Bab 29 Langka Menuju Sarang
30
Bab 30 Titik Balik
31
Bab 31 Jalan Gelap Terbuka
32
Bab 32 Api Dalam Gelap
33
Bab 33 Perang Bayangan
34
Bab 34 Kepungan Tak Terduga
35
Bab 35 Jalan Tak Terlihat
36
Bab 36 Antara Dua Dunia
37
Bab 37 Titik Terendah
38
Bab 38 Dibalik Bayang-Bayang
39
Bab 39 Jejak di Tengah Gelap
40
Bab 40 Api di Tengah Hujan
41
Bab 41 Jejak Kegelapan
42
Bab 42 di Balik Bayang Jakarta
43
Bab 43 Pertempuran dalam Bayang-Bayang
44
Bab 44 Awal dari Akhir
45
Bab 45 Berlanjut
46
Bab 46 Perangkap Tak Terduga
47
Bab 47 Akhir dan Awal Baru
48
Chapter 2 Bab 48 Awal Baru
49
Bab 49 Hari Pertama Kerja Bengkel
50
Bab 50 Membantu Rina
51
Bab 51 Kehadiran Bayu
52
Bab 52 Bertemu Nadia
53
Bab 53 Pertarungan Bebas
54
Bab 54 Awal Hari yang Biasa
55
Bab 55 Melawan Ical
56
Bab 56 Dunia yang Lebih Gelap
57
Bab 57 Raka Memutuskan untuk Menerima Tawaran Arman
58
bab 58 Ikut Nadia
59
Bab 59 Adegan awal
60
Bab 60 Tatap Muka
61
Bab 61 Hari Pertandingan
62
Bab 62 Informasi dari Bayu
63
Bab 63 Pembicaraan Kecil

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!