Bab 16: Menelepon Ibu di Jakarta dan Dongeng Finding Nemo

Bab 16: Menelepon Ibu di Jakarta dan Dongeng Finding Nemo

Minggu, 5 Februari 1984

Matahari sore mulai meredup, memberi warna jingga di langit Sekayu. Setelah seharian sibuk di bengkel kecil DreamWorks, Arya dan kawan-kawan akhirnya pulang untuk istirahat. Di rumah, Amanda, seperti biasa, penuh semangat. Dia berlari ke ruang keluarga sambil menggenggam secarik kertas kecil yang ia ambil dari meja.

"Kakak, ini nomor ibu yang dikasih Mbak Nadya! Ayo kita telepon ibu di Jakarta!" seru Amanda dengan mata berbinar.

Arya tersenyum kecil melihat semangat Amanda. “Oke, ayo kita telepon ibu,” jawabnya sambil mengacak rambut Amanda.

Arya mengangkat gagang telepon rumah yang berada di ruang keluarga, kemudian mulai memutar nomor yang tertera di kertas kecil itu. Tidak lama kemudian, suara hangat dari seberang terdengar.

"Ibu... Ibu! Kapan ibu pulang ke Sekayu? Amanda kangen ibu!" Amanda langsung merebut gagang telepon dari Arya dengan antusias.

Sulastri tertawa kecil mendengar suara putrinya. "Ini Amanda, ya? Ibu pulang nanti lusa, sayang. Amanda di rumah tidak nakal kan?" tanya Sulastri dengan lembut.

"Ibu! Amanda baik-baik aja kok. Amanda rajin makan, bantu mbok Siti di dapur, dan nggak lupa sholat juga," jawab Amanda cepat, penuh kebanggaan.

"Anak ibu pintar sekali," puji Sulastri. "Apa Amanda sudah menyelesaikan PR dari bu guru di TK?"

"Sudah, Bu! Kak Arya juga bantuin Amanda belajar mewarnai. Lihat, nanti ibu pulang, Amanda tunjukkan gambarnya," kata Amanda penuh semangat.

***

Percakapan antara Sulastri dan Amanda berlanjut lebih dari setengah jam. Amanda terus berbicara, menceritakan tentang aktivitas sehari-harinya, mainan baru yang ia dapatkan, dan bagaimana kakaknya, Arya, selalu menjaganya. Amanda juga sempat bercerita tentang Mitha, Saka, dan Abdi yang sering bermain di rumah.

"Ibu, Amanda tadi makan duren di pondok belakang sama teman-teman kak Arya. Rasanya enak sekali! Kak Saka sampai nambah dua kali," cerita Amanda polos.

Sulastri tertawa kecil. "Wah, anak ibu memang pandai berbagi. Nanti kalau ibu pulang, ibu juga mau makan duren bareng Amanda."

"Ayo, Bu! Nanti Amanda kupasin durennya buat ibu," jawab Amanda dengan antusias.

Arya yang duduk di samping hanya tersenyum melihat betapa akrabnya Amanda berbicara dengan Sulastri. Meskipun ia tahu Amanda merindukan ibunya, percakapan panjang itu cukup menghibur adiknya.

Setelah hampir satu jam, Amanda akhirnya menyerahkan telepon kepada Arya. "Kakak, giliran kakak ngomong sama ibu," katanya sambil memberikan gagang telepon.

***

"Ibu, bagaimana keadaan di Jakarta? Apa semua berjalan lancar?" tanya Arya memulai pembicaraan.

"Alhamdulillah, Arya. Semua lancar. Ibu sudah bertemu dengan beberapa pejabat terkait program Inti-plasma kita. Rencananya akan ada penambahan lahan baru hingga 50.000 hektar. Pemerintah sangat puas dengan laporan kita sebelumnya," jawab Sulastri dengan nada puas.

Arya mengangguk meskipun Sulastri tidak bisa melihat. "Bagus sekali, Bu. Kalau terus seperti ini, mungkin dalam beberapa tahun perusahaan kita bisa mengelola lebih dari 500.000 hektar."

"Insya Allah. Oh iya, bagaimana dengan Nadya? Apa dia sudah membantu kalian dengan rencana perusahaan game itu?" tanya Sulastri.

Arya menjelaskan, "Sudah, Bu. Nadya sangat membantu. Dia juga sudah menyelesaikan semua dokumen legalitas DreamWorks. Kami sudah memiliki bengkel kecil di pasar untuk merakit game elektronik. Minggu depan, kami mulai menjual game kami."

Sulastri terdengar sangat terkesan. "Kalian luar biasa. Ibu penasaran dengan rencana jangka panjang Arya untuk DreamWorks."

Arya menjelaskan dengan detail: “Bu, rencanaku adalah mendirikan perusahaan cangkang di Singapura yang akan menjadi distributor video game kami di pasar Asia Tenggara. Perusahaan ini juga akan membeli lisensi game dari DreamWorks dan menjualnya ke pasar global, termasuk Amerika dan Eropa.”

“Maksud Arya, kamu ingin mendapatkan keuntungan dari dua sisi, ya?” tanya Sulastri sambil tertawa kecil.

“Betul, Bu. Dengan cara ini, DreamWorks akan terlihat sebagai produsen lokal yang sukses di Indonesia, sementara perusahaan cangkang akan menjadi saluran kami untuk pasar internasional. Selain itu, di masa depan aku ingin masuk ke industri hiburan, seperti membuat komik mingguan dan novel berseri. Jika memungkinkan, aku ingin membuat studio animasi dan menjadi pelopor animasi di Indonesia.”

Sulastri terdiam sejenak, lalu berkata, “Itu adalah rencana jangka panjang yang sangat brilian. Ibu akan menunggu cerita lengkapmu nanti di rumah.”

***

Di akhir pembicaraan, Arya memberikan saran kepada ibunya terkait program Inti-plasma yang sedang dikembangkan.

“Bu, aku punya saran. Bagaimana kalau ibu mencari bibit pohon gaharu untuk ditanam di lahan agroforestri kita? Pohon ini bisa menghasilkan resin gaharu yang sangat bernilai tinggi. Harga per kilonya bisa mencapai 10 juta rupiah,” jelas Arya.

"Gaharu? Itu bahan untuk wangi-wangian dan dupa, ya?" tanya Sulastri.

"Betul, Bu. Selain itu, resin gaharu juga digunakan untuk obat-obatan. Jenis yang paling banyak dicari di pasaran adalah Aquilaria malaccensis atau Aquilaria crassna," tambah Arya.

Sulastri mengangguk di seberang telepon. "Baiklah, nanti ibu akan cari informasi lebih lanjut tentang bibit gaharu di Jakarta."

"Terima kasih, Bu. Jangan lupa juga jaga kesehatan ibu di sana," kata Arya dengan nada penuh perhatian.

“Terima kasih, Arya. Jangan lupa makan malam dan belajar. Ibu akan pulang lusa membawa nenek Isat dan kabar baik lainnya.”

"Siap, Bu. Assalamualaikum," tutup Arya sebelum menutup telepon.

***

Setelah percakapan panjang itu, malam hari tiba. Amanda yang sudah selesai mandi datang ke kamar Arya sambil membawa bantal kecilnya.

“Kakak, Amanda nggak bisa tidur. Tolong ceritain dongeng kayak ibu biasa lakukan,” pintanya dengan nada manja.

Arya tersenyum, mengingat betapa polosnya adiknya ini. “Baiklah, ayo kita pindah ke kamar Amanda,” ajaknya.

Di kamar Amanda, Arya mulai menceritakan kisah tentang Finding Nemo. “Di dasar laut yang tenang, hidup dua ekor ikan badut, ayah dan anak. Si anak bernama Nemo. Suatu hari, Nemo ikut karya wisata ke laut dalam bersama teman-temannya…”

Amanda mendengarkan dengan penuh perhatian, membayangkan setiap detail cerita yang diceritakan Arya. Ketika Arya sampai pada bagian Nemo diculik oleh penyelam, Amanda berteriak kecil. "Kasihan Nemo! Bagaimana ayahnya menemukannya, Kak?"

Arya melanjutkan cerita dengan sabar, menggambarkan bagaimana sang ayah, Marlin, berusaha keras mencari anaknya. Pada akhirnya, Amanda tertidur dengan senyum di wajahnya. Arya mengecup keningnya lembut sebelum kembali ke kamarnya sendiri.

***

Malam itu, sebelum tidur, Arya merenungkan percakapan dengan ibunya. Ia tahu bahwa langkah-langkah besar akan dimulai dalam waktu dekat. Dengan pabrik yang sedang dibangun, perusahaan cangkang yang direncanakan, dan ambisinya untuk masuk ke industri hiburan, Arya merasa ini adalah awal dari sesuatu yang luar biasa.

Arya berencana membuat film-film itu menjadi novel yang akan Arya publish di masa depan. Copywriting seperti ini juga sebuah kesempatan yang bisa Arya manfaatkan, walaupun terkesan sedikit curang.

Episodes
1 Bab 1: Blackhole Misterius dan Kembali ke Masa Lalu
2 Bab 2: Kenangan Kecelakaan
3 Bab 3: Rahasia Keluarga dan Perubahan Fisik
4 Bab 4: Awal Kisah dan Rahasia Sang Ayah
5 Bab 5: Awal Kisah Sang Ibu dan Pertemuan dengan Ayah
6 Bab 6: Mengunjungi Perkebunan dan Pabrik CPO
7 Bab 7: Berkunjung ke Kantor Pusat Perusahaan dan Laporan Keuangan Tahun 1983
8 Bab 8: Strategi Menyembunyikan Kekayaan Keluarga
9 Bab 9: Peristiwa Masa Depan dan Strategi 10 Tahun
10 Bab 10: Kembali ke Sekolah dan Awal yang Baru
11 Bab 11: Awal Baru dan Pertemanan yang Kuat
12 Bab 12: Awal Mimpi Bersama - DreamWorks
13 Bab 13: Langkah Pertama Menuju Mimpi - Bagian Pertama
14 Bab 14: Langkah Pertama Menuju Mimpi - Bagian Kedua
15 Bab 15: Langkah Baru DreamWorks
16 Bab 16: Menelepon Ibu di Jakarta dan Dongeng Finding Nemo
17 Bab 17: Menjemput Sulastri Pulang dari Jakarta dan Tamu dari Belanda
18 Bab 18: Persaingan dan Peluang Baru
19 Bab 19: Langkah Baru untuk Masa Depan
20 Bab 20: Menghadapi Tantangan Baru
21 Bab 21: Pengadilan dan Kebenaran yang Terungkap
22 Bab 22: Kembali Menjadi Anak-anak
23 Bab 23: Rencana Westeros Corporation Dimulai
24 Bab 24: Strategi Pelabuhan dan Diplomasi Bisnis
25 Bab 25: Strategi Mendirikan Umbrella Future Holding
26 Bab 26: Material Tercanggih Abad 21
27 Bab 27: Pertandingan Tenis di Hari Minggu
28 Bab 28: Bayang-Bayang Masa Lalu dan Rencana Perusahaan Berjalan Lancar
29 Bab 29: Fondasi Masa Depan
30 Bab 30: Curiga dan Antusiasme
31 Bab 31: Kabar Gembira untuk Studio DreamWorks
32 Bab 32: Trauma yang Tak Pernah Luntur
33 Bab 33: Rencana Besar untuk Indonesia
34 Bab 34: Rencana Strategis untuk Masa Depan Indonesia
35 Bab 35: Merancang Strategi Besar
36 Bab 36: Menata Masa Depan di Karang Agung dan Batam
37 Bab 37: Misi Strategis di Jakarta
38 Bab 38: Persaingan Dimulai
39 Bab 39: Semangat Baru di Sungai Musi
40 Bab 40: Game Corner Dika dan Titan Claw Studio
41 Bab 41: Inspirasi Permainan Baru, Board Game
42 Bab 42: Merancang Board Game Legendaris
Episodes

Updated 42 Episodes

1
Bab 1: Blackhole Misterius dan Kembali ke Masa Lalu
2
Bab 2: Kenangan Kecelakaan
3
Bab 3: Rahasia Keluarga dan Perubahan Fisik
4
Bab 4: Awal Kisah dan Rahasia Sang Ayah
5
Bab 5: Awal Kisah Sang Ibu dan Pertemuan dengan Ayah
6
Bab 6: Mengunjungi Perkebunan dan Pabrik CPO
7
Bab 7: Berkunjung ke Kantor Pusat Perusahaan dan Laporan Keuangan Tahun 1983
8
Bab 8: Strategi Menyembunyikan Kekayaan Keluarga
9
Bab 9: Peristiwa Masa Depan dan Strategi 10 Tahun
10
Bab 10: Kembali ke Sekolah dan Awal yang Baru
11
Bab 11: Awal Baru dan Pertemanan yang Kuat
12
Bab 12: Awal Mimpi Bersama - DreamWorks
13
Bab 13: Langkah Pertama Menuju Mimpi - Bagian Pertama
14
Bab 14: Langkah Pertama Menuju Mimpi - Bagian Kedua
15
Bab 15: Langkah Baru DreamWorks
16
Bab 16: Menelepon Ibu di Jakarta dan Dongeng Finding Nemo
17
Bab 17: Menjemput Sulastri Pulang dari Jakarta dan Tamu dari Belanda
18
Bab 18: Persaingan dan Peluang Baru
19
Bab 19: Langkah Baru untuk Masa Depan
20
Bab 20: Menghadapi Tantangan Baru
21
Bab 21: Pengadilan dan Kebenaran yang Terungkap
22
Bab 22: Kembali Menjadi Anak-anak
23
Bab 23: Rencana Westeros Corporation Dimulai
24
Bab 24: Strategi Pelabuhan dan Diplomasi Bisnis
25
Bab 25: Strategi Mendirikan Umbrella Future Holding
26
Bab 26: Material Tercanggih Abad 21
27
Bab 27: Pertandingan Tenis di Hari Minggu
28
Bab 28: Bayang-Bayang Masa Lalu dan Rencana Perusahaan Berjalan Lancar
29
Bab 29: Fondasi Masa Depan
30
Bab 30: Curiga dan Antusiasme
31
Bab 31: Kabar Gembira untuk Studio DreamWorks
32
Bab 32: Trauma yang Tak Pernah Luntur
33
Bab 33: Rencana Besar untuk Indonesia
34
Bab 34: Rencana Strategis untuk Masa Depan Indonesia
35
Bab 35: Merancang Strategi Besar
36
Bab 36: Menata Masa Depan di Karang Agung dan Batam
37
Bab 37: Misi Strategis di Jakarta
38
Bab 38: Persaingan Dimulai
39
Bab 39: Semangat Baru di Sungai Musi
40
Bab 40: Game Corner Dika dan Titan Claw Studio
41
Bab 41: Inspirasi Permainan Baru, Board Game
42
Bab 42: Merancang Board Game Legendaris

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!