Bab 13: Langkah Pertama Menuju Mimpi - Bagian Pertama

Bab 13: Langkah Pertama Menuju Mimpi - Bagian Pertama

Minggu, 29 Januari 1984

Matahari bersinar cerah di atas rumah keluarga Arya, menandakan awal hari yang penuh antusiasme. Sudah beberapa hari berlalu sejak prototipe pertama mereka selesai, dan hari ini adalah waktu untuk melangkah lebih jauh dalam membangun mimpi mereka: DreamWorks.

Setelah makan siang yang sederhana namun menyenangkan bersama teman-temannya, Arya dengan semangat mengambil kardus-kardus berisi prototipe game mereka dari ruang belajar. Di meja, prototipe tic-tac-toe dan Simon Says berdiri sebagai bukti kerja keras tim kecil mereka. Amanda, yang seperti biasa menjadi "maskot" tim, mengamati dengan penuh rasa ingin tahu.

“Ayo kita evaluasi dulu prototipe ini,” kata Arya sambil melihat ke arah Saka.

Saka mengangguk sambil membawa papan sirkuit tambahan dan kabel. “Kita pastikan semuanya bekerja sempurna sebelum mulai menyewakannya.”

Abdi yang duduk di kursi goyang dengan sebuah apel di tangan menyela, “Tunggu, kenapa harus disewa dulu? Kenapa tidak langsung dijual saja? Kalau kita punya pembeli yang kaya, kita bisa dapat uang lebih banyak.”

Arya menjelaskan dengan sabar, “Karena kita baru memulai, Abdi. Menyewakan game ini akan membantu kita memahami pasar. Kita juga bisa melihat apa yang disukai oleh orang-orang. Kalau game ini populer, kita bisa mempertimbangkan menjualnya atau bahkan memproduksi massal.”

“Aku paham sekarang,” jawab Abdi dengan seringai. “Kalau begitu, aku jadi kepala divisi penyewaan. Aku yang urus semua.”

Mereka semua tertawa. Amanda ikut tertawa kecil, meskipun tidak sepenuhnya memahami apa yang mereka bicarakan.

***

Ketika mereka sedang sibuk berdiskusi, bel rumah berbunyi. Arya bergegas membuka pintu dan menemukan seorang wanita muda yang berdiri dengan anggun di depan pintu. Dengan pakaian rapi dan ekspresi yang ramah, wanita itu memperkenalkan dirinya.

“Selamat siang, Dek Arya. Saya Nadya, sekretaris ibu Sulastri. Saya ditugaskan untuk membantu Dek Arya selama ibu di Jakarta.”

Arya mengangguk pelan, lalu mempersilakan Nadya masuk. Amanda yang melihat Nadya langsung berlari menghampirinya dan memeluk erat.

“Mbak Nadya! Akhirnya datang! Amanda kangen banget!” seru Amanda dengan senyum lebar.

Ternyata Amanda dan Nadya sudah lama kenal, karena Amanda sering ikut Sulastri ke perusahaan jadi banyak karyawan kantor pusat mengenal Amanda termasuk Nadya sekretaris kepercayaan Sulastri. Dia sering merawat Amanda di perusahaan ketika Sulastri sibuk rapat.

Nadya tersenyum hangat. “Amanda, kamu semakin besar ya. Apa kamu baik-baik saja di sini tanpa ibumu?”ucap Nadya sambil memeluk Amanda.

“Baik kok! Aku main sama Kak Arya terus,” jawab Amanda dengan ceria.

Arya memimpin Nadya ke ruang belajar, tempat Saka, Abdi, dan Mitha sedang sibuk dengan prototipe game. Begitu Nadya masuk, dia tertegun melihat apa yang sedang mereka kerjakan.

“Apa ini?” tanya Nadya dengan nada penuh rasa ingin tahu.

“Ini prototipe game yang kami buat. Ada dua, tic-tac-toe dan Simon Says,” jawab Arya.

Nadya semakin kagum setelah mendengar penjelasan singkat dari Arya. Dia melihat betapa seriusnya mereka bekerja, meskipun usia mereka masih sangat muda.

“Boleh aku mencoba gamenya?” tanya Nadya.

“Tentu saja, Mbak Nadya. Abdi, ajarkan Mbak Nadya cara bermainnya,” ucap Arya.

Abdi dengan bangga menjelaskan cara bermain kedua game tersebut. Nadya mencoba Simon Says dan langsung tersenyum puas.

“Ini sangat menarik. Game ini sederhana tapi punya daya tarik yang kuat. Kalau dijual atau disewakan di pasar malam atau sekolah, pasti banyak yang suka,” komentar Nadya.

Nadya terus memainkan gamenya selama beberapa menit lagi, dia sangat tertarik dengan game elektronik ini.

Mitha menambahkan, “Kami sudah berpikir untuk menyewakannya dulu, Mbak Nadya. Tapi kalau kami kehabisan stok, bagaimana?”

Arya menanggapi, “Itulah mengapa kita butuh pabrik. Aku dan Saka tidak mungkin membuat semuanya sendiri.”

***

Nadya duduk di kursi di tengah ruangan, lalu menatap mereka dengan serius. “Kalau kalian benar-benar ingin membuat pabrik, aku bisa membantu. Tapi kalian perlu mendirikan perusahaan dulu.”

Abdi, yang tampak paling antusias, langsung berkata, “Mbak Nadya, tolong buatkan pabrik dan perusahaan untuk kami!”

Nadya tertawa kecil. “Tenang, Abdi. Sebelum itu, kalian harus memutuskan nama perusahaan dan pembagian sahamnya.”

Arya langsung menjawab, “Nama perusahaannya sudah kami putuskan, Mbak. DreamWorks.”

Nadya tersenyum. “Nama yang bagus. Sekarang, bagaimana dengan pembagian sahamnya?”

Diskusi pun dimulai. Arya menawarkan pembagian saham yang sama rata untuk semua anggota tim, tetapi usul itu ditolak oleh teman-temannya. Mitha menyarankan agar Arya, sebagai pemodal utama, mendapatkan porsi saham terbesar, sedangkan yang lain mendapatkan bagian lebih kecil. Namun, Saka dan Abdi juga memberikan pendapat berbeda, sehingga diskusi menjadi semakin panjang.

Akhirnya, Nadya mengambil alih pembicaraan. “Bagaimana kalau seperti ini: Arya mendapatkan 80% saham sebagai pemodal dan kontributor utama. Saka, Abdi, Mitha, dan Amanda masing-masing mendapatkan 5%. Sisanya 10% akan menjadi saham opsi untuk diberikan kepada karyawan atau mitra penting di masa depan. Bagaimana?”

Semua setuju dengan usulan tersebut. Arya merasa ini adalah solusi yang adil dan juga memikirkan masa depan perusahaan.

“Baiklah, kalau begitu aku akan urus semua dokumen legalnya. Kalian hanya perlu menandatangani surat kuasa ini,” ucap Nadya sambil mengeluarkan beberapa lembar dokumen dari tasnya.

***

Setelah semua dokumen ditandatangani, Nadya tersenyum puas. “Dalam beberapa hari, kalian akan menerima kabar baik. Perusahaan DreamWorks akan resmi berdiri.”

Arya mengangguk. “Terima kasih, Mbak Nadya. Kami benar-benar menghargai bantuanmu.”

“Tidak masalah, Arya. Aku hanya kagum dengan kalian semua. Anak-anak seusia kalian sudah memikirkan hal sebesar ini. Aku yakin DreamWorks akan menjadi sesuatu yang besar di masa depan,” ucap Nadya dengan penuh keyakinan.

Mereka menghabiskan sisa siang itu dengan berdiskusi lebih lanjut tentang rencana mereka. Nadya memberikan beberapa ide tentang cara memasarkan game mereka, sementara Arya dan Saka mencatat semua hal penting untuk diimplementasikan nanti.

Sore harinya, ketika semuanya telah selesai, mereka bersantai di pondok kecil di belakang rumah Arya yang menghadap ke sungai Musi. Dengan buah-buahan segar yang dipetik dari kebun, mereka menikmati momen itu sambil berbicara tentang impian besar mereka.

“Menurut kalian, apa yang akan terjadi dengan DreamWorks lima atau sepuluh tahun lagi?” tanya Saka.

Arya menjawab dengan tenang, “Jika kita tetap bekerja keras, DreamWorks tidak hanya akan menjadi perusahaan game. Kita bisa memperluasnya ke teknologi lain.”

Mitha menambahkan, “Aku hanya ingin melihat banyak orang menikmati game buatan kita. Itu sudah cukup bagiku.”

“Dan aku ingin jadi kaya!” seru Abdi, membuat semua orang tertawa.

Mereka mungkin hanya anak-anak, tapi malam itu mereka sudah mulai membangun pondasi mimpi besar mereka bersama. DreamWorks adalah awal dari perjalanan panjang yang penuh tantangan, tetapi mereka yakin bahwa mereka bisa melakukannya.

Mereka tidak pernah menyangka akan segera memiliki perusahaan, pada awalnya mereka hanya mengikuti arus yang dibawa oleh Arya.

Terpopuler

Comments

RidhoNaruto RidhoNaruto

RidhoNaruto RidhoNaruto

👍

2024-12-16

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Blackhole Misterius dan Kembali ke Masa Lalu
2 Bab 2: Kenangan Kecelakaan
3 Bab 3: Rahasia Keluarga dan Perubahan Fisik
4 Bab 4: Awal Kisah dan Rahasia Sang Ayah
5 Bab 5: Awal Kisah Sang Ibu dan Pertemuan dengan Ayah
6 Bab 6: Mengunjungi Perkebunan dan Pabrik CPO
7 Bab 7: Berkunjung ke Kantor Pusat Perusahaan dan Laporan Keuangan Tahun 1983
8 Bab 8: Strategi Menyembunyikan Kekayaan Keluarga
9 Bab 9: Peristiwa Masa Depan dan Strategi 10 Tahun
10 Bab 10: Kembali ke Sekolah dan Awal yang Baru
11 Bab 11: Awal Baru dan Pertemanan yang Kuat
12 Bab 12: Awal Mimpi Bersama - DreamWorks
13 Bab 13: Langkah Pertama Menuju Mimpi - Bagian Pertama
14 Bab 14: Langkah Pertama Menuju Mimpi - Bagian Kedua
15 Bab 15: Langkah Baru DreamWorks
16 Bab 16: Menelepon Ibu di Jakarta dan Dongeng Finding Nemo
17 Bab 17: Menjemput Sulastri Pulang dari Jakarta dan Tamu dari Belanda
18 Bab 18: Persaingan dan Peluang Baru
19 Bab 19: Langkah Baru untuk Masa Depan
20 Bab 20: Menghadapi Tantangan Baru
21 Bab 21: Pengadilan dan Kebenaran yang Terungkap
22 Bab 22: Kembali Menjadi Anak-anak
23 Bab 23: Rencana Westeros Corporation Dimulai
24 Bab 24: Strategi Pelabuhan dan Diplomasi Bisnis
25 Bab 25: Strategi Mendirikan Umbrella Future Holding
26 Bab 26: Material Tercanggih Abad 21
27 Bab 27: Pertandingan Tenis di Hari Minggu
28 Bab 28: Bayang-Bayang Masa Lalu dan Rencana Perusahaan Berjalan Lancar
29 Bab 29: Fondasi Masa Depan
30 Bab 30: Curiga dan Antusiasme
31 Bab 31: Kabar Gembira untuk Studio DreamWorks
32 Bab 32: Trauma yang Tak Pernah Luntur
33 Bab 33: Rencana Besar untuk Indonesia
34 Bab 34: Rencana Strategis untuk Masa Depan Indonesia
35 Bab 35: Merancang Strategi Besar
36 Bab 36: Menata Masa Depan di Karang Agung dan Batam
37 Bab 37: Misi Strategis di Jakarta
38 Bab 38: Persaingan Dimulai
39 Bab 39: Semangat Baru di Sungai Musi
40 Bab 40: Game Corner Dika dan Titan Claw Studio
41 Bab 41: Inspirasi Permainan Baru, Board Game
42 Bab 42: Merancang Board Game Legendaris
Episodes

Updated 42 Episodes

1
Bab 1: Blackhole Misterius dan Kembali ke Masa Lalu
2
Bab 2: Kenangan Kecelakaan
3
Bab 3: Rahasia Keluarga dan Perubahan Fisik
4
Bab 4: Awal Kisah dan Rahasia Sang Ayah
5
Bab 5: Awal Kisah Sang Ibu dan Pertemuan dengan Ayah
6
Bab 6: Mengunjungi Perkebunan dan Pabrik CPO
7
Bab 7: Berkunjung ke Kantor Pusat Perusahaan dan Laporan Keuangan Tahun 1983
8
Bab 8: Strategi Menyembunyikan Kekayaan Keluarga
9
Bab 9: Peristiwa Masa Depan dan Strategi 10 Tahun
10
Bab 10: Kembali ke Sekolah dan Awal yang Baru
11
Bab 11: Awal Baru dan Pertemanan yang Kuat
12
Bab 12: Awal Mimpi Bersama - DreamWorks
13
Bab 13: Langkah Pertama Menuju Mimpi - Bagian Pertama
14
Bab 14: Langkah Pertama Menuju Mimpi - Bagian Kedua
15
Bab 15: Langkah Baru DreamWorks
16
Bab 16: Menelepon Ibu di Jakarta dan Dongeng Finding Nemo
17
Bab 17: Menjemput Sulastri Pulang dari Jakarta dan Tamu dari Belanda
18
Bab 18: Persaingan dan Peluang Baru
19
Bab 19: Langkah Baru untuk Masa Depan
20
Bab 20: Menghadapi Tantangan Baru
21
Bab 21: Pengadilan dan Kebenaran yang Terungkap
22
Bab 22: Kembali Menjadi Anak-anak
23
Bab 23: Rencana Westeros Corporation Dimulai
24
Bab 24: Strategi Pelabuhan dan Diplomasi Bisnis
25
Bab 25: Strategi Mendirikan Umbrella Future Holding
26
Bab 26: Material Tercanggih Abad 21
27
Bab 27: Pertandingan Tenis di Hari Minggu
28
Bab 28: Bayang-Bayang Masa Lalu dan Rencana Perusahaan Berjalan Lancar
29
Bab 29: Fondasi Masa Depan
30
Bab 30: Curiga dan Antusiasme
31
Bab 31: Kabar Gembira untuk Studio DreamWorks
32
Bab 32: Trauma yang Tak Pernah Luntur
33
Bab 33: Rencana Besar untuk Indonesia
34
Bab 34: Rencana Strategis untuk Masa Depan Indonesia
35
Bab 35: Merancang Strategi Besar
36
Bab 36: Menata Masa Depan di Karang Agung dan Batam
37
Bab 37: Misi Strategis di Jakarta
38
Bab 38: Persaingan Dimulai
39
Bab 39: Semangat Baru di Sungai Musi
40
Bab 40: Game Corner Dika dan Titan Claw Studio
41
Bab 41: Inspirasi Permainan Baru, Board Game
42
Bab 42: Merancang Board Game Legendaris

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!