Bab 11: Awal Baru dan Pertemanan yang Kuat

Bab 11: Awal Baru dan Pertemanan yang Kuat

Rabu, 25 Januari 1984

Pagi yang cerah menyambut Arya di halaman rumahnya. Seperti biasa, setelah melaksanakan salat subuh di masjid, ia memulai rutinitas olahraganya. Udara segar pagi itu memberikan ketenangan tersendiri, apalagi ketika ia memandang luasnya halaman rumah yang dipenuhi bunga dan pohon buah. Meskipun sederhana, rumah yang dirancang dengan kombinasi gaya limas modern dan joglo tradisional itu memiliki aura yang berbeda—terasa hangat dan penuh kenangan.

Arya masih terkesima dengan kenyataan bahwa keluarganya memiliki rumah dengan halaman seluas satu hektar di kota kecil seperti Sekayu. Rumah-rumah di kota ini biasanya hanya memiliki pekarangan kecil, tetapi milik keluarganya berdiri megah dengan taman luas yang tampak seperti oase di tengah kota. Kehidupan barunya ini benar-benar berbeda dari masa lalu.

Setelah selesai olahraga, Arya beranjak masuk ke rumah untuk bersiap-siap ke sekolah. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat ibunya, Sulastri, sedang sibuk memasukkan pakaian ke dalam koper besar.

“Ibu, mau pergi ke mana? Kok bawa banyak koper?” tanya Arya penasaran.

Sulastri tersenyum. “Ibu harus ke Jakarta. Ada banyak yang harus diurus, mulai dari izin HGU untuk perkebunan kita sampai mencari asisten yang bisa dipercaya. Oh iya, Ibu juga mau menjemput Nenek Isat.”

Arya mengerutkan kening. “Nenek Isat? Itu adiknya kakek kan? Dia kan orang Belanda. Jadi dia bisa bahasa Indonesia juga?”

“Iya, nak. Nenek buyutmu dulu orang Indonesia yang ikut suaminya ke Belanda saat deportasi tahun 1950-an. Jadi, meskipun sudah lama tinggal di sana, mereka masih fasih berbahasa Indonesia,” jelas Sulastri.

Arya mengangguk, sedikit terkejut mendengar cerita itu. “Berarti Ibu ada tiga misi di Jakarta ya? Berapa lama di sana?”

“Paling cepat dua minggu, paling lama satu bulan. Amanda tidak mau ikut, jadi Ibu titip Amanda di rumah ya,” ujar Sulastri sambil menatap Arya penuh harap.

Arya tersenyum. “Tenang saja, Bu. Amanda akan kuperlakukan seperti seorang putri kecil.”

Sulastri tertawa kecil mendengar ucapan Arya. Walaupun Arya masih anak-anak, sikap dewasanya selalu memberikan rasa tenang pada Sulastri.

***

Berangkat Sekolah

Setelah sarapan, Arya seperti biasa mengantar Amanda ke taman kanak-kanak. Saat keluar dari halaman rumah, Arya melihat Salamitha Nisrina baru saja keluar dari rumahnya dengan sepeda.

“Kak Mitha, yuk ke sekolah bareng!” seru Amanda ceria.

“Boleh!” jawab Mitha sambil tersenyum.

Mereka bertiga pun bersepeda bersama. Sesampainya di TK Amanda, Arya menasihati adiknya untuk tidak pulang sendiri. “Pulang sekolah nanti tunggu Mbok Siti atau aku jemput. Jangan ikut orang asing ya.”

“Siap, Pak Arya!” Amanda menjawab sambil memberi hormat ala polisi, membuat Mitha tertawa kecil.

Melihat senyum Mitha, Arya merasa damai. Ia tahu bahwa Salamitha akan tumbuh menjadi wanita yang luar biasa di masa depan, dan interaksi kecil ini membuatnya lebih menghargai kehadirannya. Arya kemudian melanjutkan perjalanan ke sekolah bersama Mitha.

Di tengah jalan, mereka bertemu Abdi yang langsung bergabung. Perjalanan menjadi lebih ramai dengan candaan khas anak-anak. Arya mulai merasa lebih nyaman dengan kehidupannya saat ini.

***

Di sekolah, hari Arya berjalan seperti biasa hingga bel istirahat berbunyi. Arya berencana keluar sebentar untuk menjemput Amanda, tetapi langkahnya terhenti ketika Dika dan gengnya menghadangnya di halaman sekolah.

“Hey, anak culun! Kenapa kamu masih ke sekolah?” ejek Dika dengan nada tinggi, menarik perhatian siswa lain.

Arya hanya tersenyum sinis. “Ya jelas untuk belajar. Kalau kamu ke sekolah untuk apa?”

Ejekan itu memancing tawa dari beberapa siswa. Abdi dan Saka, yang melihat kejadian itu, langsung mendekat untuk mendukung Arya.

“Arya murid yang rajin, berprestasi. Tidak seperti kamu, Dika, cuma datang untuk pamer sepatu baru,” ujar Abdi dengan mulut pedasnya.

Tawa semakin keras terdengar. Wajah Dika memerah karena malu dan marah. Ia menatap Arya dengan penuh kebencian. “Kamu harusnya sudah mati di rumah sakit, tapi kenapa masih sehat-sehat saja?”

Mendengar itu, Arya hanya tersenyum tipis. “Oh, jadi kamu kecewa aku masih hidup? Jangan-jangan itu karena rencana licikmu gagal, ya?”

Perkataan Arya membuat Dika semakin panas. “Kamu jangan bicara sembarangan! Aku tidak ada hubungannya dengan kecelakaanmu!”

Arya mendekat dengan tenang. “Benarkah? Lalu kenapa kamu terlihat sangat kesal melihat aku baik-baik saja?”

Dika tidak bisa lagi menahan emosinya. Ia melayangkan pukulan ke arah Arya sambil berteriak, “Kamu jangan banyak omong! Terima ini!”

***

Arya yang sudah mengantisipasi serangan itu dengan mudah menghindar. Wajah Dika semakin memerah karena malu, apalagi saat tawa siswa lain terdengar.

Melihat Dika gagal, gengnya ikut menyerang Arya. Namun, Arya tetap tenang. Dengan gerakan lincah, ia menghindari setiap pukulan dan membalas dengan cepat. Dalam waktu singkat, Dika dan antek-anteknya sudah terkapar di tanah, meringis kesakitan.

“Kenapa, Dika? Mau mengadu ke ibumu seperti anak kecil?” ejek Saka sambil tertawa.

Tawa siswa semakin riuh. Dika hanya bisa menahan malu sambil menggertak, “Tunggu saja, Arya! Aku akan membalas ini!”

Abdi yang tidak bisa menahan diri ikut meledek. “Silakan, Dika. Tapi jangan lupa bawa surat izin dari ibumu dulu!”

Arya tidak memedulikan ancaman Dika. Ia menepuk bahu Abdi dan Saka sambil berkata, “Aku harus menjemput Amanda. Kalian hati-hati, ya.”

***

Sesampainya di TK, Arya melihat Amanda sudah bersama Mbok Siti. Ia sempat berbincang sebentar dengan Amanda, memastikan adiknya tidak bermain terlalu jauh. Ketika Arya hendak kembali ke sekolah, Mbok Siti menyampaikan kabar yang membuatnya bersemangat.

“Den Arya, ada kiriman untuk Den tadi pagi. Katanya isinya komputer Apple dan IBM.”

Mendengar itu, Arya tersenyum lebar. Komputer yang ia pesan akhirnya tiba. “Letakkan saja dulu di ruang kerja Ibu, Mbok. Nanti sepulang sekolah aku cek.”

Arya tahu siapa yang harus diajak untuk merakit komputer itu. Ia segera kembali ke sekolah dengan rencana untuk mengajak Saka dan Abdi ke rumahnya setelah jam pelajaran selesai.

***

Di kelas, banyak siswa yang masih membicarakan pertengkaran Arya dan Dika tadi. Namun, Arya tetap tenang dan fokus pada pelajaran. Setelah bel pulang berbunyi, ia langsung menghampiri Saka dan Abdi.

“Saka, pulang sekolah mau main ke rumahku? Ada barang elektronik baru yang perlu dirakit,” ujar Arya.

Mata Saka berbinar. “Apa itu? Aku pasti mau! Barang elektronik baru selalu menarik!”

Abdi yang mendengar itu merasa iri. “Kenapa cuma Saka yang diajak? Aku juga mau ikut!”

Arya tertawa kecil. “Kamu boleh ikut, Abdi. Tapi jangan sentuh apa pun kalau kamu tidak mengerti, ya.”

Setelah semuanya sepakat, mereka bertiga pulang ke rumah Arya. Arya sudah tidak sabar menunjukkan komputer barunya dan memulai langkah pertamanya di dunia teknologi. Hari itu menjadi awal dari rencana besar Arya.

Episodes
1 Bab 1: Blackhole Misterius dan Kembali ke Masa Lalu
2 Bab 2: Kenangan Kecelakaan
3 Bab 3: Rahasia Keluarga dan Perubahan Fisik
4 Bab 4: Awal Kisah dan Rahasia Sang Ayah
5 Bab 5: Awal Kisah Sang Ibu dan Pertemuan dengan Ayah
6 Bab 6: Mengunjungi Perkebunan dan Pabrik CPO
7 Bab 7: Berkunjung ke Kantor Pusat Perusahaan dan Laporan Keuangan Tahun 1983
8 Bab 8: Strategi Menyembunyikan Kekayaan Keluarga
9 Bab 9: Peristiwa Masa Depan dan Strategi 10 Tahun
10 Bab 10: Kembali ke Sekolah dan Awal yang Baru
11 Bab 11: Awal Baru dan Pertemanan yang Kuat
12 Bab 12: Awal Mimpi Bersama - DreamWorks
13 Bab 13: Langkah Pertama Menuju Mimpi - Bagian Pertama
14 Bab 14: Langkah Pertama Menuju Mimpi - Bagian Kedua
15 Bab 15: Langkah Baru DreamWorks
16 Bab 16: Menelepon Ibu di Jakarta dan Dongeng Finding Nemo
17 Bab 17: Menjemput Sulastri Pulang dari Jakarta dan Tamu dari Belanda
18 Bab 18: Persaingan dan Peluang Baru
19 Bab 19: Langkah Baru untuk Masa Depan
20 Bab 20: Menghadapi Tantangan Baru
21 Bab 21: Pengadilan dan Kebenaran yang Terungkap
22 Bab 22: Kembali Menjadi Anak-anak
23 Bab 23: Rencana Westeros Corporation Dimulai
24 Bab 24: Strategi Pelabuhan dan Diplomasi Bisnis
25 Bab 25: Strategi Mendirikan Umbrella Future Holding
26 Bab 26: Material Tercanggih Abad 21
27 Bab 27: Pertandingan Tenis di Hari Minggu
28 Bab 28: Bayang-Bayang Masa Lalu dan Rencana Perusahaan Berjalan Lancar
29 Bab 29: Fondasi Masa Depan
30 Bab 30: Curiga dan Antusiasme
31 Bab 31: Kabar Gembira untuk Studio DreamWorks
32 Bab 32: Trauma yang Tak Pernah Luntur
33 Bab 33: Rencana Besar untuk Indonesia
34 Bab 34: Rencana Strategis untuk Masa Depan Indonesia
35 Bab 35: Merancang Strategi Besar
36 Bab 36: Menata Masa Depan di Karang Agung dan Batam
37 Bab 37: Misi Strategis di Jakarta
38 Bab 38: Persaingan Dimulai
39 Bab 39: Semangat Baru di Sungai Musi
40 Bab 40: Game Corner Dika dan Titan Claw Studio
41 Bab 41: Inspirasi Permainan Baru, Board Game
42 Bab 42: Merancang Board Game Legendaris
Episodes

Updated 42 Episodes

1
Bab 1: Blackhole Misterius dan Kembali ke Masa Lalu
2
Bab 2: Kenangan Kecelakaan
3
Bab 3: Rahasia Keluarga dan Perubahan Fisik
4
Bab 4: Awal Kisah dan Rahasia Sang Ayah
5
Bab 5: Awal Kisah Sang Ibu dan Pertemuan dengan Ayah
6
Bab 6: Mengunjungi Perkebunan dan Pabrik CPO
7
Bab 7: Berkunjung ke Kantor Pusat Perusahaan dan Laporan Keuangan Tahun 1983
8
Bab 8: Strategi Menyembunyikan Kekayaan Keluarga
9
Bab 9: Peristiwa Masa Depan dan Strategi 10 Tahun
10
Bab 10: Kembali ke Sekolah dan Awal yang Baru
11
Bab 11: Awal Baru dan Pertemanan yang Kuat
12
Bab 12: Awal Mimpi Bersama - DreamWorks
13
Bab 13: Langkah Pertama Menuju Mimpi - Bagian Pertama
14
Bab 14: Langkah Pertama Menuju Mimpi - Bagian Kedua
15
Bab 15: Langkah Baru DreamWorks
16
Bab 16: Menelepon Ibu di Jakarta dan Dongeng Finding Nemo
17
Bab 17: Menjemput Sulastri Pulang dari Jakarta dan Tamu dari Belanda
18
Bab 18: Persaingan dan Peluang Baru
19
Bab 19: Langkah Baru untuk Masa Depan
20
Bab 20: Menghadapi Tantangan Baru
21
Bab 21: Pengadilan dan Kebenaran yang Terungkap
22
Bab 22: Kembali Menjadi Anak-anak
23
Bab 23: Rencana Westeros Corporation Dimulai
24
Bab 24: Strategi Pelabuhan dan Diplomasi Bisnis
25
Bab 25: Strategi Mendirikan Umbrella Future Holding
26
Bab 26: Material Tercanggih Abad 21
27
Bab 27: Pertandingan Tenis di Hari Minggu
28
Bab 28: Bayang-Bayang Masa Lalu dan Rencana Perusahaan Berjalan Lancar
29
Bab 29: Fondasi Masa Depan
30
Bab 30: Curiga dan Antusiasme
31
Bab 31: Kabar Gembira untuk Studio DreamWorks
32
Bab 32: Trauma yang Tak Pernah Luntur
33
Bab 33: Rencana Besar untuk Indonesia
34
Bab 34: Rencana Strategis untuk Masa Depan Indonesia
35
Bab 35: Merancang Strategi Besar
36
Bab 36: Menata Masa Depan di Karang Agung dan Batam
37
Bab 37: Misi Strategis di Jakarta
38
Bab 38: Persaingan Dimulai
39
Bab 39: Semangat Baru di Sungai Musi
40
Bab 40: Game Corner Dika dan Titan Claw Studio
41
Bab 41: Inspirasi Permainan Baru, Board Game
42
Bab 42: Merancang Board Game Legendaris

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!