Bab 2: Kenangan Kecelakaan

Bab 2: Kenangan Kecelakaan

Pagi itu, sinar matahari yang masuk melalui jendela perlahan membangunkan Arya. Ia masih merasa lelah, seolah tidur tidak cukup untuk menghapus rasa sakit di tubuhnya. Namun, rasa lelah itu bukan sekadar fisik. Jiwanya terasa terbebani oleh banyak pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Arya duduk di ranjang dengan perlahan, merasakan dinginnya lantai yang bersentuhan dengan kakinya. Pandangannya tertuju ke luar jendela, di mana burung-burung berkicau dan angin pagi meniup dedaunan pohon mangga di halaman rumah.

“Kenapa semuanya terasa berbeda?” gumam Arya pelan. Ia mencoba mengingat kehidupannya sebelum peristiwa misterius itu. Dan tanpa peringatan, ingatan itu kembali seperti badai yang menghantam pikirannya.

***

Arya teringat dengan jelas. Kecelakaan itu terjadi pada awal Januari, tepat setelah liburan tahun baru ketika ia masih duduk di bangku kelas lima sekolah dasar. Hari itu cerah, dan Arya mengenakan seragam putih merah yang baru disetrika oleh ibunya. Sepulang sekolah, ia berjalan santai bersama teman-temannya, menuju gerbang sekolah yang menghadap ke jalan raya kecil di kota Sekayu. Namun, kebahagiaan itu berubah menjadi mimpi buruk dalam sekejap.

Ketika Arya hendak menyeberang jalan, ia merasa dorongan keras dari belakang. Tubuh kecilnya terpental ke tengah jalan, tepat di jalur sebuah bus yang sedang melaju. Wajahnya sempat menoleh, dan ia melihat bayangan seseorang di pinggir jalan. Itu Dika—teman sekelasnya yang dikenal nakal dan iri dengan kepintaran Arya di kelas.

Waktu seolah melambat ketika bus itu menghantam tubuh Arya. Ia terlempar beberapa meter sebelum akhirnya jatuh di atas aspal. Dunia menjadi gelap dalam sekejap. Rasa sakit yang tak tertahankan menghantam seluruh tubuhnya—tangan kirinya patah, tulang rusuknya retak, dan wajahnya terluka parah akibat terseret di jalan.

Kecelakaan itu meninggalkan bekas yang mendalam, bukan hanya di tubuhnya, tetapi juga di hatinya. Dika tidak pernah dihukum atas perbuatannya. Orang tuanya yang kaya dan berpengaruh dengan mudah menyuap pihak sekolah dan polisi setempat untuk menganggap insiden itu sebagai "kecelakaan biasa."

“Dika…” gumam Arya, tinjunya mengepal. Nama itu terasa pahit di lidahnya, meski tahun-tahun telah berlalu. Ia masih bisa merasakan dendam itu, meski kini ia telah diberi kesempatan kedua.

***

Namun, ada sesuatu yang berbeda. Arya mencoba meraba tubuhnya. Tidak ada bekas luka di tangan kirinya, yang sebelumnya patah. Dadanya terasa normal, tidak ada tanda-tanda retakan tulang yang pernah ia alami. Bahkan, tubuh kecilnya terasa lebih kuat dan sehat dibandingkan apa yang ia ingat dari masa kecilnya dulu.

Arya mengangkat tangannya, menatap telapak tangannya yang kecil tapi kokoh. “Ini… berbeda,” pikirnya. Ia mencoba menekuk-nekuk jari tangannya, merasakan kekuatan yang baru. Rasanya seperti tubuh ini adalah versi sempurna dari dirinya yang dulu.

“Apakah karena dunia ini berbeda?” pikir Arya. Kesadarannya mulai menghubungkan titik-titik kecil. Tidak hanya tubuhnya yang berbeda, tetapi juga keluarganya. Rumah ini lebih besar dari yang ia ingat. Orang tuanya tampak lebih sehat dan bahagia. Dan, tentu saja, adik perempuan bernama Amanda—yang tidak pernah ada dalam kehidupan sebelumnya.

Arya menatap ke luar jendela lagi. Di luar sana, dunia tampak seperti yang ia ingat, tetapi dengan sentuhan keanehan yang halus. Ia tahu bahwa kehidupannya di dunia ini telah berubah secara mendasar.

“Ini bukan hanya kesempatan kedua… ini adalah dunia yang sama sekali berbeda,” pikir Arya, perasaan penasaran mulai menguasainya. Tapi pertanyaan yang lebih besar terus menghantuinya: seberapa besar dunia ini telah berubah?

Suara langkah kaki kecil mendekat. Sebelum Arya sempat bangkit dari ranjang, pintu kamar terbuka perlahan, dan wajah ceria Amanda muncul dari balik pintu. Gadis kecil itu membawa nampan berisi segelas susu dan sepotong roti panggang dengan selai kacang. Matanya yang besar berbinar melihat Arya yang sudah bangun.

“Kakak, sarapan dulu, ya! Kata Ibu, Kakak harus makan supaya cepat sembuh,” ucap Amanda dengan suara riang, meletakkan nampan di meja kecil di samping ranjang. Gadis itu kemudian duduk di tepi ranjang, memandang Arya dengan penuh perhatian.

Arya tersenyum canggung. Kehadiran Amanda masih terasa aneh baginya. Dalam kehidupan sebelumnya, ia tidak pernah memiliki adik. Namun, gadis kecil ini tampak begitu tulus dan penuh kasih sayang, membuat Arya tidak bisa mengabaikannya.

“Terima kasih, Amanda,” kata Arya sambil mengambil gelas susu. Ia menyesapnya perlahan, membiarkan kehangatan cairan itu mengisi tubuhnya.

Amanda tersenyum lebar. “Kakak janji, ya, jangan sakit lagi. Amanda takut Kakak enggak bisa main di sungai lagi,” ucapnya polos.

Arya mengangguk pelan, meski hatinya masih diliputi kebingungan. Gadis kecil ini begitu perhatian, seolah-olah mereka telah berbagi banyak kenangan bersama. Namun, bagi Arya, Amanda adalah sosok yang baru dalam hidupnya.

***

Tak lama kemudian, suara pintu terbuka lagi. Sulastri, ibunya, masuk ke kamar sambil membawa beberapa pakaian bersih. Ia tersenyum lembut melihat Arya yang sudah duduk tegak di ranjang.

“Arya, bagaimana perasaanmu? Masih sakit?” tanya Sulastri dengan nada penuh kasih. Ia menaruh pakaian di lemari kecil di sudut ruangan, lalu mendekati Arya untuk memeriksa dahinya.

“Sudah jauh lebih baik, Bu,” jawab Arya singkat. Meski ingin bertanya banyak hal, ia menahan diri untuk sementara. Ia memilih untuk mengamati terlebih dahulu.

“Baguslah. Nanti setelah sarapan, Ayahmu ingin bicara denganmu. Katanya ada sesuatu yang penting,” ujar Sulastri, menepuk bahu Arya dengan lembut sebelum keluar dari kamar.

Arya mengangguk, tetapi hatinya semakin penuh dengan pertanyaan. Ia menghabiskan sarapannya dalam diam, sementara Amanda terus mengoceh tentang kegiatan sehari-hari mereka. Gadis kecil itu bercerita tentang ayam-ayam di halaman, taman bunga milik Ibu, dan mainannya yang baru.

***

Setelah selesai makan, Arya berdiri dan berjalan ke arah cermin besar yang tergantung di dinding kamar. Ia menatap pantulan dirinya—anak kecil berusia sepuluh tahun dengan mata yang tajam dan tubuh yang sehat. Ia mendekatkan wajahnya ke cermin, mencoba mencari tanda-tanda dari kehidupan sebelumnya. Tapi semuanya terasa baru. Bahkan ekspresinya pun berbeda—lebih penuh energi, lebih optimis.

Arya menarik napas dalam. “Dunia ini bukan dunia yang aku tinggalkan,” pikirnya. Ingatannya tentang kehidupan sebelumnya begitu jelas—sebuah rumah kecil di kompleks asrama polisi yang sempit, ibunya yang lemah, dan ayahnya yang bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Tapi dunia ini… berbeda. Rumah mereka luas, dengan perabotan yang elegan. Bahkan, mereka memiliki seorang pembantu yang membantu pekerjaan rumah tangga.

“Ayah dan Ibu pasti tahu sesuatu,” pikir Arya. Ia mulai menyusun rencana untuk mencari jawaban. Tidak mungkin semua perubahan ini terjadi secara kebetulan.

***

Setelah sarapan, Arya akhirnya duduk bersama ayahnya di ruang keluarga. Brata, yang mengenakan pakaian santai, terlihat lebih gagah dibandingkan apa yang Arya ingat. Ia menatap putranya dengan senyuman penuh kebanggaan.

“Arya, Ayah senang kamu sudah merasa lebih baik,” kata Brata, duduk di kursi rotan di dekat Arya. “Ada beberapa hal yang ingin Ayah bicarakan denganmu, tapi kita akan pelan-pelan saja. Yang penting sekarang, kamu fokus untuk pulih.”

Arya mengangguk, mencoba menahan rasa ingin tahunya. “Terima kasih, Yah. Tapi… bolehkah aku bertanya sesuatu?”

Brata mengangkat alisnya. “Tentu saja, Nak. Apa yang ingin kamu ketahui?”

Arya ragu sejenak sebelum berkata, “Kenapa kita tinggal di rumah ini? Dan… kenapa semuanya terasa berbeda?”

Brata terdiam sejenak, senyum kecil bermain di bibirnya. “Itu pertanyaan yang bagus, Arya. Mungkin jawaban lengkapnya akan terlalu rumit untuk sekarang. Tapi satu hal yang bisa Ayah katakan, kita semua diberi kesempatan untuk menjalani hidup ini dengan lebih baik.”

Kata-kata Brata membuat hati Arya bergetar. Ia tahu bahwa ayahnya menyembunyikan sesuatu, tetapi ia memilih untuk menunggu. Jawaban itu hanya memperkuat keyakinannya bahwa dunia ini berbeda dari yang ia kenal.

Episodes
1 Bab 1: Blackhole Misterius dan Kembali ke Masa Lalu
2 Bab 2: Kenangan Kecelakaan
3 Bab 3: Rahasia Keluarga dan Perubahan Fisik
4 Bab 4: Awal Kisah dan Rahasia Sang Ayah
5 Bab 5: Awal Kisah Sang Ibu dan Pertemuan dengan Ayah
6 Bab 6: Mengunjungi Perkebunan dan Pabrik CPO
7 Bab 7: Berkunjung ke Kantor Pusat Perusahaan dan Laporan Keuangan Tahun 1983
8 Bab 8: Strategi Menyembunyikan Kekayaan Keluarga
9 Bab 9: Peristiwa Masa Depan dan Strategi 10 Tahun
10 Bab 10: Kembali ke Sekolah dan Awal yang Baru
11 Bab 11: Awal Baru dan Pertemanan yang Kuat
12 Bab 12: Awal Mimpi Bersama - DreamWorks
13 Bab 13: Langkah Pertama Menuju Mimpi - Bagian Pertama
14 Bab 14: Langkah Pertama Menuju Mimpi - Bagian Kedua
15 Bab 15: Langkah Baru DreamWorks
16 Bab 16: Menelepon Ibu di Jakarta dan Dongeng Finding Nemo
17 Bab 17: Menjemput Sulastri Pulang dari Jakarta dan Tamu dari Belanda
18 Bab 18: Persaingan dan Peluang Baru
19 Bab 19: Langkah Baru untuk Masa Depan
20 Bab 20: Menghadapi Tantangan Baru
21 Bab 21: Pengadilan dan Kebenaran yang Terungkap
22 Bab 22: Kembali Menjadi Anak-anak
23 Bab 23: Rencana Westeros Corporation Dimulai
24 Bab 24: Strategi Pelabuhan dan Diplomasi Bisnis
25 Bab 25: Strategi Mendirikan Umbrella Future Holding
26 Bab 26: Material Tercanggih Abad 21
27 Bab 27: Pertandingan Tenis di Hari Minggu
28 Bab 28: Bayang-Bayang Masa Lalu dan Rencana Perusahaan Berjalan Lancar
29 Bab 29: Fondasi Masa Depan
30 Bab 30: Curiga dan Antusiasme
31 Bab 31: Kabar Gembira untuk Studio DreamWorks
32 Bab 32: Trauma yang Tak Pernah Luntur
33 Bab 33: Rencana Besar untuk Indonesia
34 Bab 34: Rencana Strategis untuk Masa Depan Indonesia
35 Bab 35: Merancang Strategi Besar
36 Bab 36: Menata Masa Depan di Karang Agung dan Batam
37 Bab 37: Misi Strategis di Jakarta
38 Bab 38: Persaingan Dimulai
39 Bab 39: Semangat Baru di Sungai Musi
40 Bab 40: Game Corner Dika dan Titan Claw Studio
41 Bab 41: Inspirasi Permainan Baru, Board Game
42 Bab 42: Merancang Board Game Legendaris
Episodes

Updated 42 Episodes

1
Bab 1: Blackhole Misterius dan Kembali ke Masa Lalu
2
Bab 2: Kenangan Kecelakaan
3
Bab 3: Rahasia Keluarga dan Perubahan Fisik
4
Bab 4: Awal Kisah dan Rahasia Sang Ayah
5
Bab 5: Awal Kisah Sang Ibu dan Pertemuan dengan Ayah
6
Bab 6: Mengunjungi Perkebunan dan Pabrik CPO
7
Bab 7: Berkunjung ke Kantor Pusat Perusahaan dan Laporan Keuangan Tahun 1983
8
Bab 8: Strategi Menyembunyikan Kekayaan Keluarga
9
Bab 9: Peristiwa Masa Depan dan Strategi 10 Tahun
10
Bab 10: Kembali ke Sekolah dan Awal yang Baru
11
Bab 11: Awal Baru dan Pertemanan yang Kuat
12
Bab 12: Awal Mimpi Bersama - DreamWorks
13
Bab 13: Langkah Pertama Menuju Mimpi - Bagian Pertama
14
Bab 14: Langkah Pertama Menuju Mimpi - Bagian Kedua
15
Bab 15: Langkah Baru DreamWorks
16
Bab 16: Menelepon Ibu di Jakarta dan Dongeng Finding Nemo
17
Bab 17: Menjemput Sulastri Pulang dari Jakarta dan Tamu dari Belanda
18
Bab 18: Persaingan dan Peluang Baru
19
Bab 19: Langkah Baru untuk Masa Depan
20
Bab 20: Menghadapi Tantangan Baru
21
Bab 21: Pengadilan dan Kebenaran yang Terungkap
22
Bab 22: Kembali Menjadi Anak-anak
23
Bab 23: Rencana Westeros Corporation Dimulai
24
Bab 24: Strategi Pelabuhan dan Diplomasi Bisnis
25
Bab 25: Strategi Mendirikan Umbrella Future Holding
26
Bab 26: Material Tercanggih Abad 21
27
Bab 27: Pertandingan Tenis di Hari Minggu
28
Bab 28: Bayang-Bayang Masa Lalu dan Rencana Perusahaan Berjalan Lancar
29
Bab 29: Fondasi Masa Depan
30
Bab 30: Curiga dan Antusiasme
31
Bab 31: Kabar Gembira untuk Studio DreamWorks
32
Bab 32: Trauma yang Tak Pernah Luntur
33
Bab 33: Rencana Besar untuk Indonesia
34
Bab 34: Rencana Strategis untuk Masa Depan Indonesia
35
Bab 35: Merancang Strategi Besar
36
Bab 36: Menata Masa Depan di Karang Agung dan Batam
37
Bab 37: Misi Strategis di Jakarta
38
Bab 38: Persaingan Dimulai
39
Bab 39: Semangat Baru di Sungai Musi
40
Bab 40: Game Corner Dika dan Titan Claw Studio
41
Bab 41: Inspirasi Permainan Baru, Board Game
42
Bab 42: Merancang Board Game Legendaris

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!