Ban 18 Haura Pulang Terlambat

    "Bisma besok kamu mulai masuk kerja bukan? Apakah kakimu sudah mulai sembuh?" Pak Saka bertanya dengan nada khawatir.

    "Sudah mendingan, Pa, tidak terlalu sakit dan jalanpun tidak pincang lagi," jawab Bisma sedikit lega.

    "Syukurlah. Papa mohon, kamu tetap bisa mengontrol diri kamu saat di kantor. Biarkan orang yang sudah merebut kebahagiaan kamu menari-nari di atas luka hatimu. Papa yakin orang itu akan malu jika bertemu kamu, itupun kalau dia masih punya hati dan perasaan," singgung Pak Saka perihal Danki yang sudah berkhianat terhadap Bisma.

    "Papa jangan khawatir, dan lagi Papa atau Mama jangan menyinggung lagi dua orang itu ataupun keluarganya. Saat ini Bisma sudah ingin melupakan mereka, Bisma lagi membenahi hati Bisma. Biarkan Bisma tenang tanpa mendengar orang-orang itu disebut," protes Bisma tidak suka.

    "Baiklah, maafkan papa. Tadi papa hanya mengingatkan kamu saja. Kalau kamu sudah mulai berusaha melupakan mereka, papa dan mama sungguh sangat bersyukur. Memang orang-orang seperti itu harusnya kita hempas dalam kehidupan kita, supaya tidak merusak mood kita."

***

    Sore semakin menjelang, Pak Saka dan Bu Sindi merasa khawatir sebab Haura masih juga belum pulang dari kampus. Sementara hari sepertinya akan turun hujan, semakin dilanda khawatir kedua orang tua itu. Langitpun mulai menggelap, padahal jam di dinding baru menunjukkan ke angka empat sore.

    "Haura belum juga kembali, mama sangat khawatir. Tadi siang, Haura memang sempat menghubungi mama dan memberitahukan kalau pulangnya akan sedikit sore. Tapi, jam berapa dia akan pulang? Ini saja sudah jam empat sore." Bu Sindi nampak gelisah menanti kepulangan Haura yang entah jam berapa. Di luar awan semakin mendung, disusul kilat yang tiba-tiba menyambar.

    Bisma yang saat ini juga ikut berkumpul di ruang tamu, di dalam hatinya terselip rasa was-was, kenapa Haura masih belum pulang di jam empat sore ini.

    Mereka bertiga sengaja berkumpul di ruang tamu sembari menunggu kepulangan Haura, tidak lupa pintu rumah juga dibukanya, supaya bisa mengawasi keluar.

    "Paling pacaran dengan pemuda tadi yang menjemputnya. Mojok di mana saja, mama jangan heran dengan anak muda jaman sekarang," tuding Bisma masih saja negatif thinking terhadap Haura.

    "Belum tentu sepeti itu, Bisma. Hari ini Haura ada lomba mode busana, sepertinya acara itu membuat kepulangan Haura terlambat," respon Bu Sindi masih terdengar membela Haura.

    "Ma, bikinkan papa kopi panas yang enak itu. Papa ingin ngopi sembari menunggu Haura." Pak Saka meminta dibuatkan kopi oleh Bu Sindi.

    "Bisma, kamu mau mama buatkan juga kopi?" Bu Sindi menatap Bisma. Bisma menggeleng, meskipun kopi buatan sang mama merupakan kopi pertama yang enak di mulutnya, tapi Bisma menolak tawaran Bu Sindi. Bisma justru terbayang-bayang kopi buatan Haura yang baginya enak juga.

    "Baiklah, berarti hanya Papa saja yang bikin kopi," ujar Bu sindi seraya berlalu menuju dapur. Bu Sindi tidak mengoper alih tugas membuat kopi untuk suaminya pada Bi Mimin, sebab Pak Saka hanya cocok meminum kopi buatan sang istri.

    Bu Sindi sudah kembali dari dapur lalu meletakkan kopi itu di depan suaminya. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba hujan turun sangat lebat. Awan hitam yang bergelayut itu sudah tidak tahan lagi menahan bebannya, sehingga ia mencurahkan semua endapan air dari gumpalan awan hitam itu.

    Petir saling bersahutan, menyambar gundahnya alam yang sedang dicucuri sang hujan, kadang angin kencang menyertai gemuruhnya.

    Bu Sindi semakin khawatir dengan keadaan Haura yang belum pulang. Hatinya berdoa sejak tadi supaya Haura selamat.

    "Sudah setengah lima, tapi Haura belum kembali," desah Pak Saka was-was.

    "Sepertinya huja di dekat kampusnya juga lebat, Pa. Haura pasti sedang berteduh dulu. Daripada melanjutkan pulang dengan keadaan hujan lebat seperti ini, justru membahayakan. Semoga saja hujan ini segera reda supaya Haura bisa segera pulang.

    Kini ketiganya hanya menunggu pasrah kedatangan Haura di ruang tamu sembari berharap Haura dalam keadaan baik-baik saja.

    Hujan masih belum reda, sementara jam di dinding sudah menuju angka lima. Bu Sindi dan Pak Saka semakin gelisah.

    "Coba Mama hubungi nomer Hp nya, Ma," suruh Pak Saka tidak sabar.

    Bu Sindi tidak menunda lagi, ia segera meraih Hp nya dan menghubungi nomer Haura. Sayang sekali nomer Haura sedang tidak aktif.

    "Tidak aktif, Pa," lapor Bu Sindi gelisah.

    "Ya sudah, tidak usah dihubungi lagi. Sepertinya nomer Hp Haura habis batre," saran Pak Saka. Bisma yang sejak tadi ikut gelisah, tiba-tiba bangkit. Ia pun sama menunggu kedatangan Haura karena ingin dibuka perban.

    Saat Bisma akan melangkah meninggalkan ruang tamu, sebuah mobil berwarna biru metalik berhenti di depan pintu gerbang, tepat jam dinding menunjukkan ke angka 17.15 menit.

    Bu Sindi merasa lega saat melihat Haura keluar, disusul seorang pemuda yang tadi pagi menjemput Haura. Pemuda itu sengaja turun untuk memayungi Haura dan mengantar Haura ke dalam gerbang rumah.

    Semua mata tertuju pada Haura yang berjalan berpayung berdua dengan pemuda yang mengantarnya itu. Bisma menatap dengan desiran di dalam dadanya. Ada perasaan cemburu ketika pemuda itu lebih merelakan payungnya menaungi sekujur tubuh Haura, sementara tubuh pemuda itu masih ditetesi hujan di bahunya. Sungguh pemandangan yang membuat mata Bisma tiba-tiba sepet.

    "Terimakasih banyak Adi, kamu mau masuk dulu? Kebetulan Mama dan Papaku ada, sepertinya mereka sengaja menunggu kepulanganku," ucap Haura sembari sedikit berbasa-basi kepada Adi.

    "Tidak Haura, terimakasih. Aku sampai teras rumahmu saja." Adi menolak ajakan Haura. Ia mengantar Haura sampai teras rumah saja.

    "Haura, kamu sudah pulang? Alhamdulillah, kamu pulang dengan selamat. Ayo, ajak sekalian temanmu itu Haura," sapa Bu Sindi seraya melemparkan tatap kepada Haura dan Adi. Bisma pun sejak kemunculan Haura, tatapnya tidak lepas dari Haura dan pemuda yang mengantarnya. Tatapnya begitu sinis, karena Bisma mendadak tidak suka melihat Haura diantar teman laki-lakinya.

    "Tidak, terimakasih Tante, Om. Sepertinya saya harus segera kembali, sebab waktu sudah semakin sore. Kalau begitu, saya pamit dulu,Om, Tante," ucap Adi langsung berpamitan.

    "Wahhh, padahal berteduh dulu di dalam sambil membuat kopi." Bu Sindi berbasa-basi.

    "Terimakasih Tante, lain hari mungkin. Saya pamit, assalamualaikum." Adi menolak ajakan Bu Sindi, ia segera berpamitan dan membalikkan badan menuju mobilnya. Sejenak Haura menatap dan melambaikan tangan kepada Adi mengantar kepulangan Adi.

    Setelah mobil Adi menjauh, Haura memasuki rumah disambut kedua orang tuanya lega.

    "Haura, tolong ganti perban luka aku, dong. Aku sudah tidak enak dengan perban ini," celetuk Bisma tanpa membiarkan Haura mengistirahatkan dulu tubuhnya di atas sofa.

Terpopuler

Comments

Mrs.Riozelino Fernandez

Mrs.Riozelino Fernandez

cemburu menguras emosi jiwa pak boss...🤣🤣🤣🤣

2024-12-01

1

Mrs.Riozelino Fernandez

Mrs.Riozelino Fernandez

langsung ya pengen di perhatikan...
belagu banget...

2024-12-01

1

Murni Zain

Murni Zain

😂😂😂 𝚖𝚘𝚍𝚞𝚜 𝚢𝚊 𝙱𝚒𝚜𝚖𝚊 𝚖𝚗𝚝 𝚐𝚊𝚗𝚝𝚒 𝚙𝚎𝚛𝚋𝚊𝚗.

2025-01-01

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Patah Hati
2 Bab 2 Kopi Buatan Haura
3 Bab 3 Pertemuan Yang Membuat Bisma Hancur Sehancur-Hancurnya
4 Bab 4 Bisma Frustasi
5 Bab 5 Gara-gara Satu Sloki
6 Bab 6 Kabar dr. Jelita
7 Bab 7 Kekecewaan Bisma
8 Bab 8 Ancaman Bisma
9 Bab 9 Mendatangi Bekas Calon Besan
10 Bab 10 Menjodohkan Haura Dengan Bisma
11 Bab 11 Menikahlah Dengan Haura!
12 Bab 12 Bagai Dihantam Gada
13 Bab 13 Pengajuan Bisma Ditolak
14 Bab 14 Pertemuan Di Luar Kesepakatan
15 Bab 15 Bisma Kecelakaan
16 Bab 16 Mengobati Bisma
17 Bab 17 Haura Mengikuti Lomba
18 Ban 18 Haura Pulang Terlambat
19 Bab 19 Adegan Alami dan Live
20 Bab 20 Haura Tidak Sepadan
21 Bab 21 Ada Yang Bingung
22 Bab 22 Bisma Tidur di Kamar Haura
23 Bab 23 Gaun Rancangan Haura dikontrak
24 Bab 24 Kejutan Untuk Bisma
25 Bab 25 Penantian Bisma
26 Bab 26 Harus Menikah
27 Bab 27 Menemui Ayah
28 Bab 28 Kesedihan Haura
29 Bab 29 Misi Perjodohan Digelar Lagi
30 Bab 30 Misi Berhasil
31 Bab 31 Bisma Bingung
32 Bab 32 Salah Paham
33 Bab 33 KTP Untuk Pengajuan Nikah
34 Bab 34 Mengajukan Nikah
35 Bab 35 Haura Linglung
36 Bab 36 Harus Menghadap Komandan
37 Bab 37 Adiknya Danton?
38 Bab 38 Haura Siap Mencintai Kak Bisma
39 Bab 39 Jawaban Cerdas Haura
40 Bab 40 Godaan Teman Kantor
41 Bab 41 Jangan Jadikan Haura Pelarian
42 Bab 42 Permintaan Bu Sindi Pada Haura
43 Bab 43 Bisma Ke Kampus Haura
44 Bab 44 Nomer Bisma Belum Disimpan
45 Bab 45 Udang Di Balik Batu
46 Bab 46 Perjumpaan Bisma dan Jelita
47 Bab 47 Dokter Jelita Menemui Haura
48 Bab 48 Hinaan Dokter Jelita
49 Bab 49 Kita Akan Menikah
50 Bab 50 Makan Malam Bersama
51 Bab 51 Bertemu Jelita
52 Bab 52 Penyesalan Dokter Jelita
53 Bab 53 Bara Rindu Ketika Hujan Lebat
54 Bab 54 Petir
55 Bab 55 Perintah Komandan
56 Bab 56 Pernikahan
57 Bab 57 Pedang Pora dan Pesona Haura
58 Bab 58 Masih Sibuk Menjelang Keberangkatan
59 Bab 59 Halangan
60 Bab 60 Kamu Bisa Pijat?
61 Bab 61 Jaga Hati
62 Bab 62 Keberangkatan Bisma
63 Bab 63 Gundah
64 Bab 64 Ada Apa Dengan Ayah Haura?
65 Bab 65 Meninggal
66 Bab 66 Provokasi dokter Jelita
67 Bab 67 Salah Sangka Bisma
68 Bab 68 Perkembangan Bagus Devaryo
69 Bab 69 Membujuk Devaryo
70 Bab 70 Menjelang Kepulangan Bisma
71 Bab 71 Akhirnya Kembali Dengan Selamat
72 Bab 72 Jamu Stamina
73 Bab 73 Malam Pertama
74 Bab 74 Sudah Sebulan Menikah Malah Lupa
75 Bab 75 Bisma Kembali Cemburu
76 Bab 76 Kejutan
77 Bab 77 Ucapan Ulang Tahun Dari Keluarga Mertua
78 Bab 78 Pesan WA dari dokter Jelita
79 Bab 79 I Love You Kak Bisma
80 Bab 80 Ada Yang Retak
81 Bab 81 Ijin Bisma
82 Bab 82 Kontrak Kerja Enam Bulan
83 Bab 83 Gaun Rancangan Haura
84 Bab 84 Berita Haura di Media Online
85 Bab 85 Peresmian Rumah Mode Haura
86 Bab 86 Setelah Lulus, Ditodong Punya Anak
87 Bab 87 Kedatangan Tamu Kenamaan
88 Bab 88 Haura Merindukan Bisma
89 Bab 89 Bulan Madu di Rumah Orang Tua
90 Bab 90 Garis Dua
91 Bab 91 Kado Untuk Bisma
92 Bab 92 Akhir Yang Bahagia (END)
93 Karya Baru Bab 1 Melepas Kepergian Satgas
94 Bab 94 Penyesalan, Pernikahan(Kisah Jelita dan Danki Erwan) End
Episodes

Updated 94 Episodes

1
Bab 1 Patah Hati
2
Bab 2 Kopi Buatan Haura
3
Bab 3 Pertemuan Yang Membuat Bisma Hancur Sehancur-Hancurnya
4
Bab 4 Bisma Frustasi
5
Bab 5 Gara-gara Satu Sloki
6
Bab 6 Kabar dr. Jelita
7
Bab 7 Kekecewaan Bisma
8
Bab 8 Ancaman Bisma
9
Bab 9 Mendatangi Bekas Calon Besan
10
Bab 10 Menjodohkan Haura Dengan Bisma
11
Bab 11 Menikahlah Dengan Haura!
12
Bab 12 Bagai Dihantam Gada
13
Bab 13 Pengajuan Bisma Ditolak
14
Bab 14 Pertemuan Di Luar Kesepakatan
15
Bab 15 Bisma Kecelakaan
16
Bab 16 Mengobati Bisma
17
Bab 17 Haura Mengikuti Lomba
18
Ban 18 Haura Pulang Terlambat
19
Bab 19 Adegan Alami dan Live
20
Bab 20 Haura Tidak Sepadan
21
Bab 21 Ada Yang Bingung
22
Bab 22 Bisma Tidur di Kamar Haura
23
Bab 23 Gaun Rancangan Haura dikontrak
24
Bab 24 Kejutan Untuk Bisma
25
Bab 25 Penantian Bisma
26
Bab 26 Harus Menikah
27
Bab 27 Menemui Ayah
28
Bab 28 Kesedihan Haura
29
Bab 29 Misi Perjodohan Digelar Lagi
30
Bab 30 Misi Berhasil
31
Bab 31 Bisma Bingung
32
Bab 32 Salah Paham
33
Bab 33 KTP Untuk Pengajuan Nikah
34
Bab 34 Mengajukan Nikah
35
Bab 35 Haura Linglung
36
Bab 36 Harus Menghadap Komandan
37
Bab 37 Adiknya Danton?
38
Bab 38 Haura Siap Mencintai Kak Bisma
39
Bab 39 Jawaban Cerdas Haura
40
Bab 40 Godaan Teman Kantor
41
Bab 41 Jangan Jadikan Haura Pelarian
42
Bab 42 Permintaan Bu Sindi Pada Haura
43
Bab 43 Bisma Ke Kampus Haura
44
Bab 44 Nomer Bisma Belum Disimpan
45
Bab 45 Udang Di Balik Batu
46
Bab 46 Perjumpaan Bisma dan Jelita
47
Bab 47 Dokter Jelita Menemui Haura
48
Bab 48 Hinaan Dokter Jelita
49
Bab 49 Kita Akan Menikah
50
Bab 50 Makan Malam Bersama
51
Bab 51 Bertemu Jelita
52
Bab 52 Penyesalan Dokter Jelita
53
Bab 53 Bara Rindu Ketika Hujan Lebat
54
Bab 54 Petir
55
Bab 55 Perintah Komandan
56
Bab 56 Pernikahan
57
Bab 57 Pedang Pora dan Pesona Haura
58
Bab 58 Masih Sibuk Menjelang Keberangkatan
59
Bab 59 Halangan
60
Bab 60 Kamu Bisa Pijat?
61
Bab 61 Jaga Hati
62
Bab 62 Keberangkatan Bisma
63
Bab 63 Gundah
64
Bab 64 Ada Apa Dengan Ayah Haura?
65
Bab 65 Meninggal
66
Bab 66 Provokasi dokter Jelita
67
Bab 67 Salah Sangka Bisma
68
Bab 68 Perkembangan Bagus Devaryo
69
Bab 69 Membujuk Devaryo
70
Bab 70 Menjelang Kepulangan Bisma
71
Bab 71 Akhirnya Kembali Dengan Selamat
72
Bab 72 Jamu Stamina
73
Bab 73 Malam Pertama
74
Bab 74 Sudah Sebulan Menikah Malah Lupa
75
Bab 75 Bisma Kembali Cemburu
76
Bab 76 Kejutan
77
Bab 77 Ucapan Ulang Tahun Dari Keluarga Mertua
78
Bab 78 Pesan WA dari dokter Jelita
79
Bab 79 I Love You Kak Bisma
80
Bab 80 Ada Yang Retak
81
Bab 81 Ijin Bisma
82
Bab 82 Kontrak Kerja Enam Bulan
83
Bab 83 Gaun Rancangan Haura
84
Bab 84 Berita Haura di Media Online
85
Bab 85 Peresmian Rumah Mode Haura
86
Bab 86 Setelah Lulus, Ditodong Punya Anak
87
Bab 87 Kedatangan Tamu Kenamaan
88
Bab 88 Haura Merindukan Bisma
89
Bab 89 Bulan Madu di Rumah Orang Tua
90
Bab 90 Garis Dua
91
Bab 91 Kado Untuk Bisma
92
Bab 92 Akhir Yang Bahagia (END)
93
Karya Baru Bab 1 Melepas Kepergian Satgas
94
Bab 94 Penyesalan, Pernikahan(Kisah Jelita dan Danki Erwan) End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!