Bab 17 Haura Mengikuti Lomba

    "Haura, tumben kamu pagi banget pergi kampus, biasanya jam delapan?" heran Bu Sindi seraya menatap sang anak yang sudah rapi.

    "Iya, Ma, Haura hari ini harus datang lebih pagi, sebab pagi ini harus prepare semua bahan untuk diikut sertakan dalam mode busana," jawab Haura.

    "Oh, ya? Semoga kamu sukses dalam lomba kali ini, ya. Lalu, apakah kamu tidak sarapan dulu sebelum pergi?" Bu Sindi terlihat sangat khawatir dengan anak angkatnya yang sepagi ini sudah pergi tanpa sarapan.

    "Tidak, apa-apa, Ma. Haura bisa sarapan di kantin kampus. Lagipula kalau Hauuuuur tidak pergi sekarang, Haura takut kesiangan untuk prepare," alasan Haura sembari memasukkan botol minuman air bening yang sudah ia siapkan semalam.

    "Baiklah. Tapi kamu hati-hati berangkatnya, ya. Lalu kamu mau naik apa ke kampus. Bukankah motornya sedang diperbaiki di bengkel karena masuk parit oleh kakakmu?"

    "Mama tidak usah khawatir, hari ini kebetulan teman satu kelas Haura akan sekalian menjemput Haura," sahut Haura seraya membetulkan dandanannya. Rambutnya yang panjang hitam sepinggang, ia ikat cepol setinggi telinga. Menambah kesan cantik dan semakin terlihat seperti anak masih belasan tahun, wajar saja Haura memang masih muda, usianya saja baru 20 tahun. Jadi, wajar saja jika Haura terlihat nampak lebih muda dari usianya sekarang.

    "Begitu, ya? Baiklah, kalau begitu segeralah keluar dan bersiap. Ini uang jajan buatmu," ujar Bu Sindi seraya memberikan beberapa lembar uang merah untuk bekal Haura.

    "Tidak usah, Ma. Haura masih ada uang kok. Haura, kan kerja. Uang itu disimpan saja. Mungkin lain kali jika Haura membutuhkan, Haura akan ambil," tolak Haura halus sembari memberikan kembali uang itu ke tangan Bu Sindi.

    "Kamu memang selalu begitu, menolak uang jajan dari mama. Ya, sudah, biar uangnya mama simpan untuk tabungan kamu."

    "Kalau begitu, Haura berangkat, ya, Ma. Sepertinya teman Haura sudah ada di depan," ujar Haura seraya meraih tangan Bu Sindi dan menciumnya.

    "Assalamualaikum."

    "Waalaikumsalam. Hati-hati, Sayang," balas Bu Sindi seraya menatap kepergian Haura dengan tatapan haru.

    "Haura memang anak yang baik. Sikapnya selalu membuat aku tersentuh dan bangga terhadapnya. Itu mengapa aku menjodohkan Haura dengan Bisma. Bisma tidak akan menyesal jika menikah dengan Haura." Bu Sindi membatin seraya mengantar kepergian Haura sampai pintu depan.

    Haura sudah berada di pintu gerbang, seorang anak muda masih seumuran dengan Haura menuruni mobil, lalu membukakan pintu mobil untuk Haura. Pemuda itu nampak begitu senang melayani Haura dengan senyum yang terlihat di wajahnya.

    "Temannya Haura ternyata laki-laki. Pemuda itu terlihat baik dan menyukai Haura, terlebih dia juga tampan. Jangan-jangan teman cowok yang dikatakan Bisma tempo hari itu adalah laki-laki itu. Apakah Haura pacaran dengan pemuda itu? Jangan sampai Haura pacaran dengan pemuda lain, aku sungguh tidak terima," gumam Bu Sindi seraya mengamati Haura yang kini sudah memasuki mobil pemuda itu.

    Mobil pemuda itu pergi dengan membunyikan klakson satu kali. Bu Sindi menatap kepergian mobil itu dengan sedikit gundah, pikirannya tiba-tiba digelayuti ketakutan jika Haura menjalin hubungan pacaran dengan pemuda lain.

    "Aku harus segera sampaikan hal ini pada Bisma, aku harus berusaha memprovokasi Bisma, bahwa Haura naksir pemuda lain. Supaya Bisma berubah pikiran dan mulai merasa membutuhkan Haura," gumam Bu Sindi lagi seraya berlalu menuju tangga untuk ke kamar Bisma.

    Tiba di kamar Bisma, Bu Sindi melihat Bisma sedang berusaha bangkit dari ranjang. Sepertinya Bisma akan duduk di bibir ranjang.

    "Bisma, kamu mau duduk?" sapa Bu Sindi seraya menghampiri sang anak lalu meraih tangan Bisma, kemudian mengangkatnya.

    Bisma kini sudah di bibir ranjang. "Ke mana Haura, Ma? Bisma harus dibuka perban," tanya Bisma, justru yang ia cari adalah Haura.

    "Haura sudah pergi kuliah, dia ada lomba untuk mode busana pagi ini," jawab Bu Sindi.

    "Sepagi ini, biasanya dia berangkat jam 08.00 pagi, kenapa sudah berangkat padahal belum jam tujuh pagi," ujar Bisma terdengar protes di telinga Bu Sindi.

    Bu Sindi sedikit tergelitik mendengar ucapan Bisma barusan yang terdengar seperti sebuah protes, Bu Sindi senang dengan nada bicara Bisma yang sepertinya membutuhkan Haura. Ini merupakan langkah awal untuk membuat Bisma merasa butuh Haura.

    "Sudah mama katakan Haura ada lomba mode busana pagi ini, jadi dia harus prepare terlebih dahulu untuk lomba kali ini. Kamu doakan saja adikmu bisa memenangkan lomba kali ini, dengan begitu perlahan-lahan Haura bisa meraih karier yang bagus setelah lulus kuliah nanti," terang Bu Sindi terdengar membanggakan Haura.

    "Akhhhh."

    Bisma meringis menahan sakit di sikunya, sepertinya luka di siku yang sedikit dalam itu terkena gesekan sehingga Bisma kesakitan.

    "Karena motor dia rusak oleh kecelakaan kamu kemarin, Haura pagi ini rupanya dijemput salah satu teman cowoknya dengan menggunakan mobil. Pemuda itu sangat tampan dan begitu senang saat membukakan pintu mobil untuk Haura. Sepertinya pemuda itu menyukai Haura kalau mama lihat," tutur Bu Sindi lagi sengaja, berharap Bisma kepancing omongannya.

    Bisma diam, jujur saja ketika sang mama menyebutkan kalau Haura pagi ini dijemput seorang pemuda tampan kata mamanya barusan, Bisma sedikit menciut dan sedikit ada perasaan kecewa di dalam hatinya.

    "Itu pasti teman dekatnya Haura. Ya sudah, Ma, tidak apa-apa terserah dia. Mau pacaran atau bagaimanapun terserah dia, tidak pengaruh buat Bisma," respon Bisma terdengar tidak peduli.

    "Kamu tidak cemburu melihat Haura diperhatikan pemuda lain. Pemuda tadi sangat antusias saat membukakan pintu untu Haura. Mama yakin pemuda itu menyukai Haura. Tapi mama sepertinya tidak rela jika Haura harus jatuh ke tangan pemuda lain. Mama lebih tenang jika Haura jatuh ke tanganmu," ungkap Bu Sindi dengan mata menerawang jauh.

    "Sudah, Ma, jangan lagi-lagi Mama arahkan pembicaraan Mama pada perjodohan kami. Lagian kami ini satu rumah, Mama juga Papa sudah menganggap Haura anak sendiri. Biarkan kami tetap menjadi adik kakak," balas Bisma datar.

    "Benar kamu hanya ingin sebatas adik kakak saja dengan Haura? Baiklah, kalau nanti Haura sudah memiliki kekasih, maka kamu jangan cemburu melihat Haura bahagia bersama kekasihnya," ucap Bu Sindi seraya keluar dari kamar anak keduanya.

    Bisma termenung mendengar perkataan mamanya tadi, sedikitnya apa yang dikatakan mamanya mempengaruhi pikirannya. Ia menjadi ingat akan Haura yang sudah ia renggut kesucian bibirnya di malam itu ketika dirinya pulang dari danau.

    "Haura, kenapa dia selalu menjadi topik utama pembahasan dalam keluarga akhir-akhir ini?" pikir Bisma pusing. Ia pun bingung, kenapa tiba-tiba tidak bisa mengendalikan pikirannya dari Haura.

Terpopuler

Comments

Murni Zain

Murni Zain

𝚜𝚎𝚖𝚘𝚐𝚊 𝚖𝚊𝚖𝚊 𝙱𝚒𝚜𝚖𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚑𝚊𝚜𝚒𝚕 𝚖𝚎𝚛𝚊𝚌𝚞𝚗𝚒 𝚑𝚊𝚝𝚒 𝚍𝚗 𝚙𝚒𝚔𝚒𝚛𝚊𝚗 𝙱𝚒𝚜𝚖𝚊

2025-01-01

1

Lita Pujiastuti

Lita Pujiastuti

mulai ada benih² cinta di hati Bisma ..tp blm ngeh ...

2024-12-28

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Patah Hati
2 Bab 2 Kopi Buatan Haura
3 Bab 3 Pertemuan Yang Membuat Bisma Hancur Sehancur-Hancurnya
4 Bab 4 Bisma Frustasi
5 Bab 5 Gara-gara Satu Sloki
6 Bab 6 Kabar dr. Jelita
7 Bab 7 Kekecewaan Bisma
8 Bab 8 Ancaman Bisma
9 Bab 9 Mendatangi Bekas Calon Besan
10 Bab 10 Menjodohkan Haura Dengan Bisma
11 Bab 11 Menikahlah Dengan Haura!
12 Bab 12 Bagai Dihantam Gada
13 Bab 13 Pengajuan Bisma Ditolak
14 Bab 14 Pertemuan Di Luar Kesepakatan
15 Bab 15 Bisma Kecelakaan
16 Bab 16 Mengobati Bisma
17 Bab 17 Haura Mengikuti Lomba
18 Ban 18 Haura Pulang Terlambat
19 Bab 19 Adegan Alami dan Live
20 Bab 20 Haura Tidak Sepadan
21 Bab 21 Ada Yang Bingung
22 Bab 22 Bisma Tidur di Kamar Haura
23 Bab 23 Gaun Rancangan Haura dikontrak
24 Bab 24 Kejutan Untuk Bisma
25 Bab 25 Penantian Bisma
26 Bab 26 Harus Menikah
27 Bab 27 Menemui Ayah
28 Bab 28 Kesedihan Haura
29 Bab 29 Misi Perjodohan Digelar Lagi
30 Bab 30 Misi Berhasil
31 Bab 31 Bisma Bingung
32 Bab 32 Salah Paham
33 Bab 33 KTP Untuk Pengajuan Nikah
34 Bab 34 Mengajukan Nikah
35 Bab 35 Haura Linglung
36 Bab 36 Harus Menghadap Komandan
37 Bab 37 Adiknya Danton?
38 Bab 38 Haura Siap Mencintai Kak Bisma
39 Bab 39 Jawaban Cerdas Haura
40 Bab 40 Godaan Teman Kantor
41 Bab 41 Jangan Jadikan Haura Pelarian
42 Bab 42 Permintaan Bu Sindi Pada Haura
43 Bab 43 Bisma Ke Kampus Haura
44 Bab 44 Nomer Bisma Belum Disimpan
45 Bab 45 Udang Di Balik Batu
46 Bab 46 Perjumpaan Bisma dan Jelita
47 Bab 47 Dokter Jelita Menemui Haura
48 Bab 48 Hinaan Dokter Jelita
49 Bab 49 Kita Akan Menikah
50 Bab 50 Makan Malam Bersama
51 Bab 51 Bertemu Jelita
52 Bab 52 Penyesalan Dokter Jelita
53 Bab 53 Bara Rindu Ketika Hujan Lebat
54 Bab 54 Petir
55 Bab 55 Perintah Komandan
56 Bab 56 Pernikahan
57 Bab 57 Pedang Pora dan Pesona Haura
58 Bab 58 Masih Sibuk Menjelang Keberangkatan
59 Bab 59 Halangan
60 Bab 60 Kamu Bisa Pijat?
61 Bab 61 Jaga Hati
62 Bab 62 Keberangkatan Bisma
63 Bab 63 Gundah
64 Bab 64 Ada Apa Dengan Ayah Haura?
65 Bab 65 Meninggal
66 Bab 66 Provokasi dokter Jelita
67 Bab 67 Salah Sangka Bisma
68 Bab 68 Perkembangan Bagus Devaryo
69 Bab 69 Membujuk Devaryo
70 Bab 70 Menjelang Kepulangan Bisma
71 Bab 71 Akhirnya Kembali Dengan Selamat
72 Bab 72 Jamu Stamina
73 Bab 73 Malam Pertama
74 Bab 74 Sudah Sebulan Menikah Malah Lupa
75 Bab 75 Bisma Kembali Cemburu
76 Bab 76 Kejutan
77 Bab 77 Ucapan Ulang Tahun Dari Keluarga Mertua
78 Bab 78 Pesan WA dari dokter Jelita
79 Bab 79 I Love You Kak Bisma
80 Bab 80 Ada Yang Retak
81 Bab 81 Ijin Bisma
82 Bab 82 Kontrak Kerja Enam Bulan
83 Bab 83 Gaun Rancangan Haura
84 Bab 84 Berita Haura di Media Online
85 Bab 85 Peresmian Rumah Mode Haura
86 Bab 86 Setelah Lulus, Ditodong Punya Anak
87 Bab 87 Kedatangan Tamu Kenamaan
88 Bab 88 Haura Merindukan Bisma
89 Bab 89 Bulan Madu di Rumah Orang Tua
90 Bab 90 Garis Dua
91 Bab 91 Kado Untuk Bisma
92 Bab 92 Akhir Yang Bahagia (END)
93 Karya Baru Bab 1 Melepas Kepergian Satgas
94 Bab 94 Penyesalan, Pernikahan(Kisah Jelita dan Danki Erwan) End
Episodes

Updated 94 Episodes

1
Bab 1 Patah Hati
2
Bab 2 Kopi Buatan Haura
3
Bab 3 Pertemuan Yang Membuat Bisma Hancur Sehancur-Hancurnya
4
Bab 4 Bisma Frustasi
5
Bab 5 Gara-gara Satu Sloki
6
Bab 6 Kabar dr. Jelita
7
Bab 7 Kekecewaan Bisma
8
Bab 8 Ancaman Bisma
9
Bab 9 Mendatangi Bekas Calon Besan
10
Bab 10 Menjodohkan Haura Dengan Bisma
11
Bab 11 Menikahlah Dengan Haura!
12
Bab 12 Bagai Dihantam Gada
13
Bab 13 Pengajuan Bisma Ditolak
14
Bab 14 Pertemuan Di Luar Kesepakatan
15
Bab 15 Bisma Kecelakaan
16
Bab 16 Mengobati Bisma
17
Bab 17 Haura Mengikuti Lomba
18
Ban 18 Haura Pulang Terlambat
19
Bab 19 Adegan Alami dan Live
20
Bab 20 Haura Tidak Sepadan
21
Bab 21 Ada Yang Bingung
22
Bab 22 Bisma Tidur di Kamar Haura
23
Bab 23 Gaun Rancangan Haura dikontrak
24
Bab 24 Kejutan Untuk Bisma
25
Bab 25 Penantian Bisma
26
Bab 26 Harus Menikah
27
Bab 27 Menemui Ayah
28
Bab 28 Kesedihan Haura
29
Bab 29 Misi Perjodohan Digelar Lagi
30
Bab 30 Misi Berhasil
31
Bab 31 Bisma Bingung
32
Bab 32 Salah Paham
33
Bab 33 KTP Untuk Pengajuan Nikah
34
Bab 34 Mengajukan Nikah
35
Bab 35 Haura Linglung
36
Bab 36 Harus Menghadap Komandan
37
Bab 37 Adiknya Danton?
38
Bab 38 Haura Siap Mencintai Kak Bisma
39
Bab 39 Jawaban Cerdas Haura
40
Bab 40 Godaan Teman Kantor
41
Bab 41 Jangan Jadikan Haura Pelarian
42
Bab 42 Permintaan Bu Sindi Pada Haura
43
Bab 43 Bisma Ke Kampus Haura
44
Bab 44 Nomer Bisma Belum Disimpan
45
Bab 45 Udang Di Balik Batu
46
Bab 46 Perjumpaan Bisma dan Jelita
47
Bab 47 Dokter Jelita Menemui Haura
48
Bab 48 Hinaan Dokter Jelita
49
Bab 49 Kita Akan Menikah
50
Bab 50 Makan Malam Bersama
51
Bab 51 Bertemu Jelita
52
Bab 52 Penyesalan Dokter Jelita
53
Bab 53 Bara Rindu Ketika Hujan Lebat
54
Bab 54 Petir
55
Bab 55 Perintah Komandan
56
Bab 56 Pernikahan
57
Bab 57 Pedang Pora dan Pesona Haura
58
Bab 58 Masih Sibuk Menjelang Keberangkatan
59
Bab 59 Halangan
60
Bab 60 Kamu Bisa Pijat?
61
Bab 61 Jaga Hati
62
Bab 62 Keberangkatan Bisma
63
Bab 63 Gundah
64
Bab 64 Ada Apa Dengan Ayah Haura?
65
Bab 65 Meninggal
66
Bab 66 Provokasi dokter Jelita
67
Bab 67 Salah Sangka Bisma
68
Bab 68 Perkembangan Bagus Devaryo
69
Bab 69 Membujuk Devaryo
70
Bab 70 Menjelang Kepulangan Bisma
71
Bab 71 Akhirnya Kembali Dengan Selamat
72
Bab 72 Jamu Stamina
73
Bab 73 Malam Pertama
74
Bab 74 Sudah Sebulan Menikah Malah Lupa
75
Bab 75 Bisma Kembali Cemburu
76
Bab 76 Kejutan
77
Bab 77 Ucapan Ulang Tahun Dari Keluarga Mertua
78
Bab 78 Pesan WA dari dokter Jelita
79
Bab 79 I Love You Kak Bisma
80
Bab 80 Ada Yang Retak
81
Bab 81 Ijin Bisma
82
Bab 82 Kontrak Kerja Enam Bulan
83
Bab 83 Gaun Rancangan Haura
84
Bab 84 Berita Haura di Media Online
85
Bab 85 Peresmian Rumah Mode Haura
86
Bab 86 Setelah Lulus, Ditodong Punya Anak
87
Bab 87 Kedatangan Tamu Kenamaan
88
Bab 88 Haura Merindukan Bisma
89
Bab 89 Bulan Madu di Rumah Orang Tua
90
Bab 90 Garis Dua
91
Bab 91 Kado Untuk Bisma
92
Bab 92 Akhir Yang Bahagia (END)
93
Karya Baru Bab 1 Melepas Kepergian Satgas
94
Bab 94 Penyesalan, Pernikahan(Kisah Jelita dan Danki Erwan) End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!