Bab 16 Mengobati Bisma

    "Haura apakah kamu akan membiarkan aku terbaring dengan luka yang masih menganga?" Teguran tanda kesal Bisma tiba-tiba terdengar saat Haura tengah termenung.

    Haura menoleh ke arah Bisma yang wajahnya kini diliputi ringisan tanda merasakan sakit di sekujur tubuhnya.

    Haura tidak menjawab, ia segera meraih kain handuk kecil lalu dicelupkan ke dalam air hangat dari dalam baskom. Kemudian ia mengompres dan membersihkan luka di siku dan kaki Bisma sebelum diberi betadin dan diperban.

    "Pelan-pelan," ringisnya kesakitan dengan mata memejam. Dada Haura berdesir saat tanpa sengaja tadi sekilas melihat mimik wajah Bisma yang meringis. Meskipun sedang meringis, tapi ketampanan Bisma tetap terlihat jelas. Hidungnya yang mancung membuat Haura gemas, dia memang memimpikan hidung mancung seperti itu. Seperti aktor idolanya di drama Korea.

    "Pelan Haura, sumpah ini sakit," protes Bisma lagi. Tanpa menyahut, Haura seakan tidak peduli protesan Bisma. Yang jelas saat ini dia sedang membuang darah di area luka yang diderita Bisma, tidak peduli Bisma kesakitan. Toh itu tidak akan lama.

    "Kamu sengaja membuat sakitku bertambah sakit?" sengor Bisma seraya menarik pergelangan tangan Haura sampai wajah mereka kembali dekat.

    Haura memilih menatap area bibir Bisma daripada matanya, karena ia akan langsung mengalihkan tatap ke arah lain. Haura takut dianggap kalau dia berharap terhadap Bisma, sejak perjodohan itu. Tatap mata Haura disadari Bisma sehingga Bisma mengolok saat itu juga, meskipun masih dalam keadaan sakit.

    "Kenapa, apakah kamu mau bibir aku ini? Kamu pasti membayangkan ciuman aku malam itu, bukan?" todong Bisma membuat Haura terkejut lalu menarik diri.

    Haura bangkit karena ia malu sekaligus kesal. Bisma meradang merasa dipermainkan Haura.

    "Haura, apa-apaan kamu ini? Kenapa kamu justru mendiamkan aku seperti ini. Ini bagaimana luka di siku dan lutut aku, apakah kamu akan membiarkan menganga seperti ini?" protes Bisma kesal.

    Haura membalik lalu menatap Bisma dengan sedikit nyalang. "Haura mohon jangan olok-olok lagi Haura. Kejadian malam itu sungguh memuakkan kalau Kakak ingin tahu. Lebih baik Kakak jangan bicara, kalau masih bicara, Haura tidak mau mengobati Kakak." Haura melayangkan protes sembari kembali menduduki tepi ranjang lalu melanjutkan kembali mengurus Bisma.

    "Ok, baiklah. Lakukan tugasmu," cetus Bisma sembari pasrah tubuhnya kini diobati Haura.

    "Kak, eum bisa Kak Bisma buka kemejanya, karena ini sangat menghalangi jika Haura perban," pinta Haura sedikit ragu.

    "Buka baju? Kamu pasti ingin melihat tubuh aku yang sixpack ini, kan?" tuding Bisma percaya diri.

    Haura menggeleng lalu merah kencing paling atas kemeja Bisma dengan sedikit bergetar. Daripada dibalas kata lebih baik ia segera bekerja dan melakukan tugasnya mengobati Bisma.

    "Maaf, ya, Kak," ucap Haura sebelum ia membuka kancing itu. Perlahan satu per satu biji kancing itu terbuka sampai lima biji ke bawah. Haura lega setelah kancing itu terbuka. Lalu kini giliran ia mengarahkan Bisma untuk memiringkan tubuhnya kiri dan kanan supaya kemeja itu lepas.

    "Ya ampun, sakit." Bisma kembali meringis, tapi tidak direspon Haura. Untung saja Bisma masih menggunakan kaos oblong lagi di dalamnya sehingga Haura tidak perlu melihat langsung perut sixpack yang dikatakan Bisma tadi.

    Haura mulai melakukan tugasnya demi kemanusian, ia membuang jauh-jauh perasaan lain di dalam dirinya yang tiba-tiba saja muncul ketika otaknya dipaksa harus mengingat kembali kejadian panas malam itu. Desiran di dalam dadanya tiba-tiba muncul seiring sentuhan tangannya menyentuh kulit tangan Bisma.

    "Aissshhh," desisnya merasakan sakit saat cairan alkohol menyentuh kulit sikunya yang kasar. Luka di sana sedikit dalam sehingga Haura harus lebih hati-hati supaya tidak terlalu menyakiti Bisma.

    Siku kanannya sudah Haura perban, kini giliran luka di lutut. Kembali Haura melakukan tugasnya seperti tadi, membersihkan luka dengan alkohol, terakhir diberi betadin lalu diperban.

    Bisma seakan betah diobati Haura, sejak perban pertama nempel di sikunya, dia tidak lagi bersuara. Namun, tatap matanya justru mengamati gerakan Haura ketika mengobatinya. Untungnya Haura sama sekali tidak menyadarinya, mungkin karena Haura terlalu fokus mengobati Bisma.

    "Kenapa mama dan papa justru ingin menjodohkan aku dengan Haura, apa istimewanya dia? Tapi, kenapa cara dia mengobatiku begitu luwes dan rapi, seperti seorang tenaga medis saja." Bisma berbicara di dalam hatinya setelah puas mengamati gerak-gerik Haura.

    Kaki Bisma yang terkilir tidak lupa digarapnya, Haura cukup mengurut pelan dengan dibaluri krim pereda nyeri. Saat kakinya diurut, Bisma begitu menikmati, sebab pijatan Haura terasa enak.

    "Kak Bisma istirahat saja dulu, semua luka ini akan mengering beberapa hari lagi. Usahakan jangan dulu terkena air," peringat Haura sembari keluar dari kamar Bisma tanpa berbicara apa-apa lagi.

    Jam 20.00 Wib, Pak Saka dan Bu Sindi baru pulang. Mereka langsung menuju kamar Bisma saat tahu kabar Bisma telah mengalami kecelakaan.

    "Kenapa bisa seperti ini Bisma? Kamu ini jangan terlalu memikirkan perempuan pengkhianat itu, dia itu tidak baik untukmu. Buktinya gara-gara mengingat perlakuan dia, kamu jadi celaka," dumel Bu Sindi begitu mengkhawatirkan Bisma.

    "Sudah, Ma, Bisma mohon jangan sebut nama perempuan itu lagi. Saat ini Bisma justru sedang berusaha melupakan dia."

    "Baguslah, Bisma. Kamu jangan keterusan kecewanya. Papa tidak mau melihat kamu murung dan terpuruk. Siapa yang mengobati luka di tangan dan lututmu itu?" ujar Pak Saka menyela sembari mengamati sekujur tubuh Bisma, dan rupanya di siku kanan dan lututnya sudah menempel perban.

    "Non Haura yang mengobati Den Bisma. Dia begitu telaten dan pintar banget mengurus orang kecelakaan, padahal Non Haura bukan tenaga medis," seloroh Bi Mimin yang tiba-tiba masuk kamar seraya menenteng baki yang isinya makan malam untuk Bisma.

    "Oh ya? Lalu di mana sekarang Haura?" tanya Bu Sindi seraya melihat keluar kamar.

    "Non Haura katanya sedang mengerjakan tugas dari kampusnya. Mendesain gaun kalau tidak salah, untuk dimasukan ke dalam sebuah lomba mode busana katanya," jawab Bi Mimin sesuai apa yang dikatakan Haura tadi.

    "Oh, ya? Sibuk banget anak itu. Padahal tadi sudah mengobati Bisma. Sekarang mengerjakan tugas desain mode. Pasti dia sangat lelah hari ini," ujar Pak Saka mengkhawatirkan Haura.

    Sementara itu, Haura yang saat ini masih berkutat dengan desain salah gaun yang akan dilombakan di salah satu mode busana yang diikuti kampusnya. Mulutnya mulai menguap karena lelah dan ngantuk, padahal waktu masih dibawah jam sembilan malam.

    "Ya ampun sedikit lagi, semangat," gumamnya menyemangati diri sendiri.

    "Ting."

    Sebuah pesan WA masuk ke dalam WA Haura. Haura segera meraih Hp itu dan membacanya.

    "Haura, besok pagi pergi kampus bareng aku saja. Aku jemput setengah tujuh, ya. Kebetulan aku bawa mobil." Adi mengirimkan pesan. Haura mau membalas, tapi Adi sudah lebih dulu mengirimkan pesan.

    "Please, kali ini jangan tolak. Aku hanya khawatir kertas kita yang ada gambar desain untuk lomba justru rusak kena angin kalau naik motor," pesan Adi untuk yang kedua kalinya begitu perhatian.

    Haura tersenyum manis saat membaca pesan yang kedua. Kebetulan sekali motor miliknya rusak oleh Bisma karena kecelakaan tadi. Adi memang teman paling the best baginya.

Terpopuler

Comments

Eti Alifa

Eti Alifa

bisma entar cemburu nih😁

2025-02-03

1

Murni Zain

Murni Zain

𝙰𝚍𝚒 𝚔𝚊𝚢𝚊𝚔𝚗𝚢𝚊 𝚊𝚍𝚊 𝚛𝚊𝚜𝚊 𝚌𝚒𝚗𝚝𝚊 𝚜𝚖 𝙷𝚊𝚞𝚛𝚊

2025-01-01

1

Mrs.Riozelino Fernandez

Mrs.Riozelino Fernandez

obati sendiri...
ini blom seberapa dari luka perang pak Bisma...

2024-12-01

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Patah Hati
2 Bab 2 Kopi Buatan Haura
3 Bab 3 Pertemuan Yang Membuat Bisma Hancur Sehancur-Hancurnya
4 Bab 4 Bisma Frustasi
5 Bab 5 Gara-gara Satu Sloki
6 Bab 6 Kabar dr. Jelita
7 Bab 7 Kekecewaan Bisma
8 Bab 8 Ancaman Bisma
9 Bab 9 Mendatangi Bekas Calon Besan
10 Bab 10 Menjodohkan Haura Dengan Bisma
11 Bab 11 Menikahlah Dengan Haura!
12 Bab 12 Bagai Dihantam Gada
13 Bab 13 Pengajuan Bisma Ditolak
14 Bab 14 Pertemuan Di Luar Kesepakatan
15 Bab 15 Bisma Kecelakaan
16 Bab 16 Mengobati Bisma
17 Bab 17 Haura Mengikuti Lomba
18 Ban 18 Haura Pulang Terlambat
19 Bab 19 Adegan Alami dan Live
20 Bab 20 Haura Tidak Sepadan
21 Bab 21 Ada Yang Bingung
22 Bab 22 Bisma Tidur di Kamar Haura
23 Bab 23 Gaun Rancangan Haura dikontrak
24 Bab 24 Kejutan Untuk Bisma
25 Bab 25 Penantian Bisma
26 Bab 26 Harus Menikah
27 Bab 27 Menemui Ayah
28 Bab 28 Kesedihan Haura
29 Bab 29 Misi Perjodohan Digelar Lagi
30 Bab 30 Misi Berhasil
31 Bab 31 Bisma Bingung
32 Bab 32 Salah Paham
33 Bab 33 KTP Untuk Pengajuan Nikah
34 Bab 34 Mengajukan Nikah
35 Bab 35 Haura Linglung
36 Bab 36 Harus Menghadap Komandan
37 Bab 37 Adiknya Danton?
38 Bab 38 Haura Siap Mencintai Kak Bisma
39 Bab 39 Jawaban Cerdas Haura
40 Bab 40 Godaan Teman Kantor
41 Bab 41 Jangan Jadikan Haura Pelarian
42 Bab 42 Permintaan Bu Sindi Pada Haura
43 Bab 43 Bisma Ke Kampus Haura
44 Bab 44 Nomer Bisma Belum Disimpan
45 Bab 45 Udang Di Balik Batu
46 Bab 46 Perjumpaan Bisma dan Jelita
47 Bab 47 Dokter Jelita Menemui Haura
48 Bab 48 Hinaan Dokter Jelita
49 Bab 49 Kita Akan Menikah
50 Bab 50 Makan Malam Bersama
51 Bab 51 Bertemu Jelita
52 Bab 52 Penyesalan Dokter Jelita
53 Bab 53 Bara Rindu Ketika Hujan Lebat
54 Bab 54 Petir
55 Bab 55 Perintah Komandan
56 Bab 56 Pernikahan
57 Bab 57 Pedang Pora dan Pesona Haura
58 Bab 58 Masih Sibuk Menjelang Keberangkatan
59 Bab 59 Halangan
60 Bab 60 Kamu Bisa Pijat?
61 Bab 61 Jaga Hati
62 Bab 62 Keberangkatan Bisma
63 Bab 63 Gundah
64 Bab 64 Ada Apa Dengan Ayah Haura?
65 Bab 65 Meninggal
66 Bab 66 Provokasi dokter Jelita
67 Bab 67 Salah Sangka Bisma
68 Bab 68 Perkembangan Bagus Devaryo
69 Bab 69 Membujuk Devaryo
70 Bab 70 Menjelang Kepulangan Bisma
71 Bab 71 Akhirnya Kembali Dengan Selamat
72 Bab 72 Jamu Stamina
73 Bab 73 Malam Pertama
74 Bab 74 Sudah Sebulan Menikah Malah Lupa
75 Bab 75 Bisma Kembali Cemburu
76 Bab 76 Kejutan
77 Bab 77 Ucapan Ulang Tahun Dari Keluarga Mertua
78 Bab 78 Pesan WA dari dokter Jelita
79 Bab 79 I Love You Kak Bisma
80 Bab 80 Ada Yang Retak
81 Bab 81 Ijin Bisma
82 Bab 82 Kontrak Kerja Enam Bulan
83 Bab 83 Gaun Rancangan Haura
84 Bab 84 Berita Haura di Media Online
85 Bab 85 Peresmian Rumah Mode Haura
86 Bab 86 Setelah Lulus, Ditodong Punya Anak
87 Bab 87 Kedatangan Tamu Kenamaan
88 Bab 88 Haura Merindukan Bisma
89 Bab 89 Bulan Madu di Rumah Orang Tua
90 Bab 90 Garis Dua
91 Bab 91 Kado Untuk Bisma
92 Bab 92 Akhir Yang Bahagia (END)
93 Karya Baru Bab 1 Melepas Kepergian Satgas
94 Bab 94 Penyesalan, Pernikahan(Kisah Jelita dan Danki Erwan) End
Episodes

Updated 94 Episodes

1
Bab 1 Patah Hati
2
Bab 2 Kopi Buatan Haura
3
Bab 3 Pertemuan Yang Membuat Bisma Hancur Sehancur-Hancurnya
4
Bab 4 Bisma Frustasi
5
Bab 5 Gara-gara Satu Sloki
6
Bab 6 Kabar dr. Jelita
7
Bab 7 Kekecewaan Bisma
8
Bab 8 Ancaman Bisma
9
Bab 9 Mendatangi Bekas Calon Besan
10
Bab 10 Menjodohkan Haura Dengan Bisma
11
Bab 11 Menikahlah Dengan Haura!
12
Bab 12 Bagai Dihantam Gada
13
Bab 13 Pengajuan Bisma Ditolak
14
Bab 14 Pertemuan Di Luar Kesepakatan
15
Bab 15 Bisma Kecelakaan
16
Bab 16 Mengobati Bisma
17
Bab 17 Haura Mengikuti Lomba
18
Ban 18 Haura Pulang Terlambat
19
Bab 19 Adegan Alami dan Live
20
Bab 20 Haura Tidak Sepadan
21
Bab 21 Ada Yang Bingung
22
Bab 22 Bisma Tidur di Kamar Haura
23
Bab 23 Gaun Rancangan Haura dikontrak
24
Bab 24 Kejutan Untuk Bisma
25
Bab 25 Penantian Bisma
26
Bab 26 Harus Menikah
27
Bab 27 Menemui Ayah
28
Bab 28 Kesedihan Haura
29
Bab 29 Misi Perjodohan Digelar Lagi
30
Bab 30 Misi Berhasil
31
Bab 31 Bisma Bingung
32
Bab 32 Salah Paham
33
Bab 33 KTP Untuk Pengajuan Nikah
34
Bab 34 Mengajukan Nikah
35
Bab 35 Haura Linglung
36
Bab 36 Harus Menghadap Komandan
37
Bab 37 Adiknya Danton?
38
Bab 38 Haura Siap Mencintai Kak Bisma
39
Bab 39 Jawaban Cerdas Haura
40
Bab 40 Godaan Teman Kantor
41
Bab 41 Jangan Jadikan Haura Pelarian
42
Bab 42 Permintaan Bu Sindi Pada Haura
43
Bab 43 Bisma Ke Kampus Haura
44
Bab 44 Nomer Bisma Belum Disimpan
45
Bab 45 Udang Di Balik Batu
46
Bab 46 Perjumpaan Bisma dan Jelita
47
Bab 47 Dokter Jelita Menemui Haura
48
Bab 48 Hinaan Dokter Jelita
49
Bab 49 Kita Akan Menikah
50
Bab 50 Makan Malam Bersama
51
Bab 51 Bertemu Jelita
52
Bab 52 Penyesalan Dokter Jelita
53
Bab 53 Bara Rindu Ketika Hujan Lebat
54
Bab 54 Petir
55
Bab 55 Perintah Komandan
56
Bab 56 Pernikahan
57
Bab 57 Pedang Pora dan Pesona Haura
58
Bab 58 Masih Sibuk Menjelang Keberangkatan
59
Bab 59 Halangan
60
Bab 60 Kamu Bisa Pijat?
61
Bab 61 Jaga Hati
62
Bab 62 Keberangkatan Bisma
63
Bab 63 Gundah
64
Bab 64 Ada Apa Dengan Ayah Haura?
65
Bab 65 Meninggal
66
Bab 66 Provokasi dokter Jelita
67
Bab 67 Salah Sangka Bisma
68
Bab 68 Perkembangan Bagus Devaryo
69
Bab 69 Membujuk Devaryo
70
Bab 70 Menjelang Kepulangan Bisma
71
Bab 71 Akhirnya Kembali Dengan Selamat
72
Bab 72 Jamu Stamina
73
Bab 73 Malam Pertama
74
Bab 74 Sudah Sebulan Menikah Malah Lupa
75
Bab 75 Bisma Kembali Cemburu
76
Bab 76 Kejutan
77
Bab 77 Ucapan Ulang Tahun Dari Keluarga Mertua
78
Bab 78 Pesan WA dari dokter Jelita
79
Bab 79 I Love You Kak Bisma
80
Bab 80 Ada Yang Retak
81
Bab 81 Ijin Bisma
82
Bab 82 Kontrak Kerja Enam Bulan
83
Bab 83 Gaun Rancangan Haura
84
Bab 84 Berita Haura di Media Online
85
Bab 85 Peresmian Rumah Mode Haura
86
Bab 86 Setelah Lulus, Ditodong Punya Anak
87
Bab 87 Kedatangan Tamu Kenamaan
88
Bab 88 Haura Merindukan Bisma
89
Bab 89 Bulan Madu di Rumah Orang Tua
90
Bab 90 Garis Dua
91
Bab 91 Kado Untuk Bisma
92
Bab 92 Akhir Yang Bahagia (END)
93
Karya Baru Bab 1 Melepas Kepergian Satgas
94
Bab 94 Penyesalan, Pernikahan(Kisah Jelita dan Danki Erwan) End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!