Bab 14 Pertemuan Di Luar Kesepakatan

   Motor yang dijalankan Bisma sudah tiba di Gandola Cafe, tempat yang sudah dijanjikan Bisma dan Mayor Erwan.

    Sebuah mobil dengan nomer polisi yang tidak asing bagi Bisma, sudah ada di parkiran Gandola Cafe. Bisma memasuki Gandola Cafe tanpa rasa takut atau ragu.

    Bisma memasuki kafe itu. Namun beberapa meter lagi sampai di suatu meja yang sudah ditempati sepasang manusia, ia terpaksa menghentikan langkahnya. Bisma menatap ke arah meja itu dengan nyalang. Rupanya Mayor Erwan tidak sendiri, diduga wanita yang duduk berhadapan dengannya merupakan Jelita. Bisma mengenali perawakan dokter satu itu, karena mereka telah hampir lima tahun bersama-sama.

    Hati Bisma memanas, ia sungguh kecewa dengan Mayor Erwan yang ternyata justru melibatkan orang lain, meskipun pada dasarnya dalam pertemuan ini memang ada kaitannya dengan Jelita.

    Apakah Bisma akan mundur? Sama sekali tidak, justru kalau ia mampu menghadapi dua sekaligus itu akan sangat baik untuknya, Bisma mempunyai nyali yang besar ketimbang Danki yang justru melibatkan orang lain diluar kesepakatan, yakni men to men.

    "Selamat sore. Mohon maaf, saya sedikit terlambat. Boleh saya duduk diantara kalian?" Pada akhirnya Bisma menghampiri dan menyapa pasangan baru itu dengan berani. Tidak terlihat sikap gentar sama sekali.

    Danki atau Mayor Erwan dan Jelita bersamaan menoleh ke arah Bisma yang memang sedang ditunggu oleh mereka. Sikap Bisma yang memperlihatkan keberanian, justru membuat mereka berdua terlihat kikuk dan risih.

    "Yunior, silahkan duduk," ujar Erwan seraya memberikan ruang untuk Bisma. Bisma menduduki kursinya diantara Erwan dan Jelita. Ketika Erwan dan Jelita akan menyalaminya, Bisma justru tidak menghiraukan. Baginya pertemuan ini bukan ajang silaturahmi atau acara saling bermaaf-maafan, justru permusuhan itu seakan baru saja dimulai.

    "Terimakasih Bang. Mohon maaf, bukankah pertemuan kita ini harus keluar dari konteks kedinasan maupun kesatuan kita. Seragam dan pangkat kita jangan dilibatkan di sini. Meskipun saya yunior dalam kedinasan, tapi di sini kita sama," protes Bisma.

    Bisma yang dulu begitu dekat dan menyenangkan serta penuh rasa hormat kepada Mayor Erwan yang notabene seorang Danki di kesatuannya, kini berubah kaku dan datar setelah beberapa bukti perselingkuhan Jelita dan Mayor Erwan muncul ke permukaan. Erwan pun merasakan perubahan sikap Bisma itu.

    Bisma yang notabene seorang yunior di kesatuannya, kini di sini melepaskan embel-embel senior yunior atau kakak leting maupun adik leting. Sikap itu beriringan dengan rasa kecewa Bisma, karena kehadiran Erwan diluar kesepakatan. Erwan justru menghadirkan Jelita, yang tentunya Bisma sudah muak apabila melihatnya. Karena baginya seorang pengkhianat adalah sesuatu yang paling memuakkan.

    "Anda justru hadir diluar kesepakatan kita. Padahal sudah saya tekankan kemarin men to men, kenapa kini ada dia diantara kita?" Bisma mempertanyakan kehadiran Jelita, bahkan untuk menyebut namanya saja, Bisma seakan tidak sudi.

    Erwan menatap pada Jelita, lalu pada Bisma yang terlihat sangat marah.

   "Saya minta maaf sebelumnya. Kehadiran Jelita memang sengaja saya hadirkan di sini. Kami berdua ingin menjelaskan duduk perkaranya, kenapa kami bisa bersama dan menjalin suatu hubungan," jelas Erwan mengharapkan pengertian Bisma.

    "Sebegitu penting kalian datang bersama dengan maksud menjelaskan duduk perkaranya. Saya rasa itu sudah tidak penting lagi. Dengan kalian duduk bersama dan datang ke sini berdua, itu sudah cukup menjelaskan jawaban dari pertanyaan saya. Selamat, kalian kini sudah bisa bersama dengan berhasil mengorbankan perasaan seseorang. Mungkin luka hati saya kebahagiaan untuk kalian. Tapi jangan senang dulu, saya meyakini suatu hal dalam hidup, bahwa sesuatu yang didapatkan secara tidak per, maka tidak akan mendapatkan kebahagiaan diujung."

    Setelah menyudahi ucapannya, Bisma berdiri bermaksud menyudahi pertemuannya yang sungguh di luar kesepakatan tadi di kantor. Kehadiran mereka jelas sudah menjawab rasa penasaran di dalam hati Bisma.

    "Mas Bisma dengarkan dulu penjelasan Mas Erwan. Kami terpaksa menerima perjodohan yang sudah dirancang keluarga kami dari sejak kami kecil. Kami dipertemukan kembali disaat kita sudah menjalin kasih. Jadi, ...."

    "Permisi. Saya sudah tidak ada kepentingan lagi dengan urusan kalian berdua. Saya mohon diri." Bisma memotong ucapan Jelita yang tiba-tiba menyela begitu saja.

    "Bisma, tunggu! Kamu sungguh tidak menghargai kehadiran kami di sini, sebelum kami bicara baik-baik kamu sudah berlalu pergi. Apakah itu yang disebut prajurit ksatria?" tahan Erwan meradang.

    Bisma membalikkan badan tidak kalah meradang, maunya saat ini juga tinjunya yang sejak tadi mengepal melayang ke wajah Erwan yang sok berlaga ksatria di depan Jelita.

    "Jadi, seperti kalian ini yang dinamakan ksatria? Datang keroyokan sembari menghadirkan orang lain yang tidak ada dalam kesepakatan awal. Bukankah sudah saya katakan men to men, tentu Anda paham apa itu artinya. Lagipula sudah saya katakan, kehadiran Anda berdua sudah cukup menjawab rasa penasaran saya, jadi saya rasa saya tidak perlu mendengar lagi kalimat basa-basi tidak penting Anda lagi. Permisi,"

    Bisma segera angkat kaki dari kafe itu, meninggalkan Erwan dan Jelita yang terlongo menatap kepergiannya.

    "Mas Bisma," panggil Jelita bermaksud berdiri.

    "Sayang, biarkan saja," tahan Erwan. Jelita sedih sebab kalimat yang dilontarkan Bisma seakan doa yang bisa saja terkabul, secara di sini yang terzolimi adalah Bisma. Biasanya doa orang yang terzolimi selalu diijabah Allah. Dan Jelita kini menjadi takut.

    "Aku takut ucapan Mas Bisma menjadi kenyataan, Mas. Dia telah kita zolimi karena kita berkhianat di belakangnya," ungkap Jelita was-was.

    "Jangan takut, kita semata-mata menjalankan amanah kedua orang tua kita. Kita tidak akan mengalami doa jelek dari ucapan Bisma tadi. Lagipula kita saling mencintai, bukan?" hibur Erwan seraya meraih jemari Jelita penuh kehangatan.

***

    Kembali ke Bisma. Bisma yang sudah keluar dari Gandola Cafe, kini menjalankan motornya dengan sangat kencang. Bisma memang mantan road racer sebelum ia menjadi Perwira TNI. Hobby kebut-kebutan di jalanan sudah makanannya sehari-hari. Dia sudah kenyang juga dengan luka bared di kaki dan lengannya. Tapi kini kebutan motornya tidak lagi bisa dikatakan road racer lagi, sebab Bisma saat ini menjalankan motornya seperti orang yang sedang kesetanan.

    Tanpa diduga, tepat di belokan kiri, ada sebuah sepeda motor akan menyebrang. Sementara Bisma sudah tidak bisa menghindar lagi, terpaksa Bisma banting stang ke sisi kiri dengan maksud menjatuhkan motor itu ke parit, sementara ia loncat dari motor.

    "Gubrakkkkk."

    Bunyi body motor menimpa parit terdengar sampai beberapa ratus meter. Bisma nampak kesakitan di bagian kaki dan siku tangannya karena bergesekan dengan aspal. Untung saja bukan luka parah, hanya saja kakinya sedikit terkilir sehingga ia butuh pertolongan orang lain untuk membantunya berdiri.

Terpopuler

Comments

Sandisalbiah

Sandisalbiah

definisi udah jati ketimpah tangga, kesiram cat lagi si Bisma ini.. apes bener...

2025-03-09

1

Rose

Rose

mau nyumpahin org.dri sendri kena karma duluan krn menzolini haura.

2024-12-07

1

budak jambi

budak jambi

jangan tidak percaya sm doa org yg terzolimi walaupun kalian menjalankn amanh orgtua tp tetp di jabh allah.tunggu saja karma itu erwan dan jelta juga org tua kalian

2024-11-30

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Patah Hati
2 Bab 2 Kopi Buatan Haura
3 Bab 3 Pertemuan Yang Membuat Bisma Hancur Sehancur-Hancurnya
4 Bab 4 Bisma Frustasi
5 Bab 5 Gara-gara Satu Sloki
6 Bab 6 Kabar dr. Jelita
7 Bab 7 Kekecewaan Bisma
8 Bab 8 Ancaman Bisma
9 Bab 9 Mendatangi Bekas Calon Besan
10 Bab 10 Menjodohkan Haura Dengan Bisma
11 Bab 11 Menikahlah Dengan Haura!
12 Bab 12 Bagai Dihantam Gada
13 Bab 13 Pengajuan Bisma Ditolak
14 Bab 14 Pertemuan Di Luar Kesepakatan
15 Bab 15 Bisma Kecelakaan
16 Bab 16 Mengobati Bisma
17 Bab 17 Haura Mengikuti Lomba
18 Ban 18 Haura Pulang Terlambat
19 Bab 19 Adegan Alami dan Live
20 Bab 20 Haura Tidak Sepadan
21 Bab 21 Ada Yang Bingung
22 Bab 22 Bisma Tidur di Kamar Haura
23 Bab 23 Gaun Rancangan Haura dikontrak
24 Bab 24 Kejutan Untuk Bisma
25 Bab 25 Penantian Bisma
26 Bab 26 Harus Menikah
27 Bab 27 Menemui Ayah
28 Bab 28 Kesedihan Haura
29 Bab 29 Misi Perjodohan Digelar Lagi
30 Bab 30 Misi Berhasil
31 Bab 31 Bisma Bingung
32 Bab 32 Salah Paham
33 Bab 33 KTP Untuk Pengajuan Nikah
34 Bab 34 Mengajukan Nikah
35 Bab 35 Haura Linglung
36 Bab 36 Harus Menghadap Komandan
37 Bab 37 Adiknya Danton?
38 Bab 38 Haura Siap Mencintai Kak Bisma
39 Bab 39 Jawaban Cerdas Haura
40 Bab 40 Godaan Teman Kantor
41 Bab 41 Jangan Jadikan Haura Pelarian
42 Bab 42 Permintaan Bu Sindi Pada Haura
43 Bab 43 Bisma Ke Kampus Haura
44 Bab 44 Nomer Bisma Belum Disimpan
45 Bab 45 Udang Di Balik Batu
46 Bab 46 Perjumpaan Bisma dan Jelita
47 Bab 47 Dokter Jelita Menemui Haura
48 Bab 48 Hinaan Dokter Jelita
49 Bab 49 Kita Akan Menikah
50 Bab 50 Makan Malam Bersama
51 Bab 51 Bertemu Jelita
52 Bab 52 Penyesalan Dokter Jelita
53 Bab 53 Bara Rindu Ketika Hujan Lebat
54 Bab 54 Petir
55 Bab 55 Perintah Komandan
56 Bab 56 Pernikahan
57 Bab 57 Pedang Pora dan Pesona Haura
58 Bab 58 Masih Sibuk Menjelang Keberangkatan
59 Bab 59 Halangan
60 Bab 60 Kamu Bisa Pijat?
61 Bab 61 Jaga Hati
62 Bab 62 Keberangkatan Bisma
63 Bab 63 Gundah
64 Bab 64 Ada Apa Dengan Ayah Haura?
65 Bab 65 Meninggal
66 Bab 66 Provokasi dokter Jelita
67 Bab 67 Salah Sangka Bisma
68 Bab 68 Perkembangan Bagus Devaryo
69 Bab 69 Membujuk Devaryo
70 Bab 70 Menjelang Kepulangan Bisma
71 Bab 71 Akhirnya Kembali Dengan Selamat
72 Bab 72 Jamu Stamina
73 Bab 73 Malam Pertama
74 Bab 74 Sudah Sebulan Menikah Malah Lupa
75 Bab 75 Bisma Kembali Cemburu
76 Bab 76 Kejutan
77 Bab 77 Ucapan Ulang Tahun Dari Keluarga Mertua
78 Bab 78 Pesan WA dari dokter Jelita
79 Bab 79 I Love You Kak Bisma
80 Bab 80 Ada Yang Retak
81 Bab 81 Ijin Bisma
82 Bab 82 Kontrak Kerja Enam Bulan
83 Bab 83 Gaun Rancangan Haura
84 Bab 84 Berita Haura di Media Online
85 Bab 85 Peresmian Rumah Mode Haura
86 Bab 86 Setelah Lulus, Ditodong Punya Anak
87 Bab 87 Kedatangan Tamu Kenamaan
88 Bab 88 Haura Merindukan Bisma
89 Bab 89 Bulan Madu di Rumah Orang Tua
90 Bab 90 Garis Dua
91 Bab 91 Kado Untuk Bisma
92 Bab 92 Akhir Yang Bahagia (END)
93 Karya Baru Bab 1 Melepas Kepergian Satgas
94 Bab 94 Penyesalan, Pernikahan(Kisah Jelita dan Danki Erwan) End
Episodes

Updated 94 Episodes

1
Bab 1 Patah Hati
2
Bab 2 Kopi Buatan Haura
3
Bab 3 Pertemuan Yang Membuat Bisma Hancur Sehancur-Hancurnya
4
Bab 4 Bisma Frustasi
5
Bab 5 Gara-gara Satu Sloki
6
Bab 6 Kabar dr. Jelita
7
Bab 7 Kekecewaan Bisma
8
Bab 8 Ancaman Bisma
9
Bab 9 Mendatangi Bekas Calon Besan
10
Bab 10 Menjodohkan Haura Dengan Bisma
11
Bab 11 Menikahlah Dengan Haura!
12
Bab 12 Bagai Dihantam Gada
13
Bab 13 Pengajuan Bisma Ditolak
14
Bab 14 Pertemuan Di Luar Kesepakatan
15
Bab 15 Bisma Kecelakaan
16
Bab 16 Mengobati Bisma
17
Bab 17 Haura Mengikuti Lomba
18
Ban 18 Haura Pulang Terlambat
19
Bab 19 Adegan Alami dan Live
20
Bab 20 Haura Tidak Sepadan
21
Bab 21 Ada Yang Bingung
22
Bab 22 Bisma Tidur di Kamar Haura
23
Bab 23 Gaun Rancangan Haura dikontrak
24
Bab 24 Kejutan Untuk Bisma
25
Bab 25 Penantian Bisma
26
Bab 26 Harus Menikah
27
Bab 27 Menemui Ayah
28
Bab 28 Kesedihan Haura
29
Bab 29 Misi Perjodohan Digelar Lagi
30
Bab 30 Misi Berhasil
31
Bab 31 Bisma Bingung
32
Bab 32 Salah Paham
33
Bab 33 KTP Untuk Pengajuan Nikah
34
Bab 34 Mengajukan Nikah
35
Bab 35 Haura Linglung
36
Bab 36 Harus Menghadap Komandan
37
Bab 37 Adiknya Danton?
38
Bab 38 Haura Siap Mencintai Kak Bisma
39
Bab 39 Jawaban Cerdas Haura
40
Bab 40 Godaan Teman Kantor
41
Bab 41 Jangan Jadikan Haura Pelarian
42
Bab 42 Permintaan Bu Sindi Pada Haura
43
Bab 43 Bisma Ke Kampus Haura
44
Bab 44 Nomer Bisma Belum Disimpan
45
Bab 45 Udang Di Balik Batu
46
Bab 46 Perjumpaan Bisma dan Jelita
47
Bab 47 Dokter Jelita Menemui Haura
48
Bab 48 Hinaan Dokter Jelita
49
Bab 49 Kita Akan Menikah
50
Bab 50 Makan Malam Bersama
51
Bab 51 Bertemu Jelita
52
Bab 52 Penyesalan Dokter Jelita
53
Bab 53 Bara Rindu Ketika Hujan Lebat
54
Bab 54 Petir
55
Bab 55 Perintah Komandan
56
Bab 56 Pernikahan
57
Bab 57 Pedang Pora dan Pesona Haura
58
Bab 58 Masih Sibuk Menjelang Keberangkatan
59
Bab 59 Halangan
60
Bab 60 Kamu Bisa Pijat?
61
Bab 61 Jaga Hati
62
Bab 62 Keberangkatan Bisma
63
Bab 63 Gundah
64
Bab 64 Ada Apa Dengan Ayah Haura?
65
Bab 65 Meninggal
66
Bab 66 Provokasi dokter Jelita
67
Bab 67 Salah Sangka Bisma
68
Bab 68 Perkembangan Bagus Devaryo
69
Bab 69 Membujuk Devaryo
70
Bab 70 Menjelang Kepulangan Bisma
71
Bab 71 Akhirnya Kembali Dengan Selamat
72
Bab 72 Jamu Stamina
73
Bab 73 Malam Pertama
74
Bab 74 Sudah Sebulan Menikah Malah Lupa
75
Bab 75 Bisma Kembali Cemburu
76
Bab 76 Kejutan
77
Bab 77 Ucapan Ulang Tahun Dari Keluarga Mertua
78
Bab 78 Pesan WA dari dokter Jelita
79
Bab 79 I Love You Kak Bisma
80
Bab 80 Ada Yang Retak
81
Bab 81 Ijin Bisma
82
Bab 82 Kontrak Kerja Enam Bulan
83
Bab 83 Gaun Rancangan Haura
84
Bab 84 Berita Haura di Media Online
85
Bab 85 Peresmian Rumah Mode Haura
86
Bab 86 Setelah Lulus, Ditodong Punya Anak
87
Bab 87 Kedatangan Tamu Kenamaan
88
Bab 88 Haura Merindukan Bisma
89
Bab 89 Bulan Madu di Rumah Orang Tua
90
Bab 90 Garis Dua
91
Bab 91 Kado Untuk Bisma
92
Bab 92 Akhir Yang Bahagia (END)
93
Karya Baru Bab 1 Melepas Kepergian Satgas
94
Bab 94 Penyesalan, Pernikahan(Kisah Jelita dan Danki Erwan) End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!