Bab 13 Pengajuan Bisma Ditolak

    Hari ini Bisma sudah mulai kembali bekerja. Ia sudah siap dengan seragam PDH nya. Aura seorang Perwira sangat jelas terlihat di sana. Bisma begitu tampan mempesona.

    Sejenak Haura terpaku saat melihat Bisma melewati kamarnya untuk menuju meja makan. Wangi parfum mahal langsung menusuk hidung Haura. Ia meras tidak percaya diri untuk duduk bersama dan sarapan pagi bersama dengan kedua orang tua angkatnya sejak dia mendengar perkataan Bisma tempo hari.

    Haura hanya anak angkat, jadi seharusnya tidak pantas ia berada di sana. Haura pun hanya mampu memandang punggung Bisma yang bidang menuju meja makan, dan kini tubuh itu sudah menduduki salah satu kursi makan.

    Meski sedikitpun dalam hati Haura tidak pernah terbersit menyimpan sebuah rasa atau naksir, namun sejak kejadian malam itu yang diduga Bisma pulang dalam keadaan mabuk minuman, pikiran Haura menjadi kalut dan kejadian itu terbayang.

    "Mengapa harus terbayang terus kejadian yang memalukan itu? Aku tidak mau mengingatnya. Ya Tuhan, tolong lupakan aku dengan kejadian itu, dan jauhkan aku dengan Kak Bisma." Haura berdoa di dalam hati dengan sungguh-sungguh. Ia tidak mau disebut adik angkat yang sengaja ambil kesempatan disaat kedua orang tua angkatnya tengah berusaha menjodohkan dirinya dengan anak kandung mereka.

    "Non Haura, kenapa masih bengong di sini? Bapak dan Ibu menyuruh Non segera menuju meja makan." Teguran Bi Mimin begitu mengejutkan Haura yang sedang termenung.

    "I~iya, Bi. Sebentar lagi saya nyusul," ujar Haura yang terpaksa keluar dan menghampiri meja makan. Jika tidak, maka ia tidak enak dengan kedua orang tuanya.

    "Haura, ayo sarapan dulu. Kamu hari ini tidak ada kuliah pagi, kan?" tanya Bu Sindi.

    "Hari ini kebetulan Haura tidak ada kuliah, Ma. Dosennya ijin tidak masuk karena ada salah satu anggota keluarganya yang meninggal dunia. Jadi, hari ini Haura akan ke butik."

    "Baiklah. Kalau begitu sarapanlah dulu." Bu Sindi memberikan satu piring kosong untuk Haura. Haura segera menceduk nasi goreng ke dalam piringnya hanya satu centong. Selama sarapan pagi, Haura tidak berani mengangkat wajahnya dan menatap Bisma, karena ia tidak mau menatap Bisma lagi. Terlalu menyakitkan jika ingat dengan ucapannya di ruang tamu kemarin.

    "Ma, Pa, Bisma pergi dulu, ya. Assalamualaikum." Bisma mengakhiri sarapan paginya. Ia berpamitan lalu bergegas pergi dari meja makan itu tanpa menyapa Haura sedikitpun. Haura pun sama, dia tidak menyapa Bisma sepatah katapun.

"Waalaikumsalam," balas Pak Saka dan Bu Sindi juga Haura kemudian.

    "Haura, apakah berangkatnya mau sama mama atau sendiri?" Bu Sindi menatap Haura.

    "Haura pakai motor saja, Ma. Lagipula Haura rencananya nanti siang setelah pulang dari butik, mau ambil kalung di toko mas Berlian 99," jawab Haura.

    "Kamu baru mau ambil kalung yang dipatri itu? Lama banget selesainya, hanya mematri saja."

    "Harusnya kemarin, Ma. Tapi Haura lupa," sahut Haura.

    "Baiklah. Kamu harus hati-hati nanti di jalannya, ya."

   Haura dan kedua orang tua angkatnya menyudahi sarapan pagi, mereka pagi ini akan pergi. Akan tetapi Bu Sindi berangkatnya sedikit siang diantar Pak Saka dengan mobil. Sementara Pak Saka, saat ini sudah bebas tugas dari kedinasannya sebagai TNI-AD enam bulan yang lalu, sehingga kini Pak Saka sudah menyandang sebagai purnawirawan TNI.

    Sepeninggal Haura, Bu Sindi menarik lengan suaminya menduduki sofa ruang tamu, dan mengajak ngobrol di sana. "Menurut Papa, apakah ada yang beda dengan Haura?"

    "Beda? Beda bagaimana?" Pak Saka balik bertanya.

    "Sikapnya. Dia sama sekali tidak menyapa Bisma. Bisma juga begitu. Apakah gara-gara mereka akan dijodohkan sehingga membuat mereka jadi saling menjauh?" ungkap Bu Sindi terdengar sedih.

    "Bisa jadi seperti itu, Ma. Papa juga melihatnya berbeda. Mereka tidak saling sapa. Kalau seperti ini, papa jadi merasa bersalah," balas Pak Saka menunduk.

    Bu Sindi merasa bersalah juga mendengar pengakuan suaminya, ia pun menyesal telah berusaha menjodohkan Haura dengan Bisma, kalau pada akhirnya akan seperti ini.

    "Tapi, mama tidak akan menyerah, Pah, untuk berusaha menjodohkan Bisma dengan Haura. Mama tidak rela Bisma mendapat perempuan lain yang justru tidak tulus mencintai Bisma. Mereka menginginkan Bisma hanya karena tampang dan jabatan serta seragam saja," kukuh Bu Sindi membuat Pak Saka geleng kepala.

    "Papa minta tolong, Mama tahan dulu upaya Mama untuk menjodohkan Bisma dengan Haura. Tunggu saat Bisma sudah terlihat tenang. Sebetulnya kesalahan kita adalah, menyodorkan masalah baru disaat Bisma baru saja patah hati. Harusnya diberi jeda beberapa bulan, lalu kita sampaikan keinginan kita," ujar Pak Saka menyesali perbuatannya kemarin bersama sang istri yang terburu-buru ingin menjodohkan Haura dengan Bisma.

    "Baiklah, Pa. Sebaiknya kita tunda dulu pembahasan tentang anak-anak kita. Sekarang antar dulu mama ke butik, habis itu Papa ke bengkel papa," ajak Bu Sindi mengakhiri obrolan mereka sembari berdiri dan berjalan keluar rumah menghampiri mobil. Beberapa saat kemudian mobil Pak Saka melaju meninggalkan kediamannya.

***

    Di lain tempat, setelah apel pagi, Bisma kembali ke ruangannya. Sebentar lagi dia akan menghadap Komandan untuk mengajukan diri supaya dikirim kembali ke wilayah konflik di Papua.

    Saat melewati ruangan Danki, sungguh sangat disesalinya, karena dia justru bertemu dengan Danki di depan pintu ruangannya. Dengan terpaksa, Bisma memberikan hormat.

    "Hadapi dia dengan gentle, Bro," saran Diman dan yang lain tempo hari.

    "Selamat pagi Danki, ijin menyampaikan, bisakah siang nanti kita bertemu di luar. Saya ingin menyampaikan sesuatu men to men, empat mata tanpa menggunakan seragam kedinasan. Kita bertemu hanya sebagai orang biasa tanpa embel-embel seragam, pangkat, atau jabatan." tegas Bisma akhirnya menyampaikan niatnya yang ingin berbicara empat mata sepulang dari kantor.

    Mayor Erwan menyikapi dengan tegas juga. "Siap yunior, waktu dan tempat dipersilahkan."

    "Siap. Gandola Cafe. Ijin, permisi, Danki." Setelah menyampaikan maksud dan menunjukkan tempat pertemuan, Bisma segera berlalu dengan langkah tegap dan sigap menuju ruang Komandan.

    Beberapa saat di dalam ruangan Komandan, Bisma harus menelan kekecewaan yang dalam, pasalnya pengajuannya untuk ditugaskan di wilayah konflik, ditolak dan tidak di acc. Sebab Bisma baru saja kembali dari wilayah konflik.

    Bisma kembali sedih, niat dia ingin menghindari Danki akhirnya gagal.

    "Ya sudah, tidak usah disesali. Tugas kita sudah selesai di sana, kini giliran yang lain. Kamu hadapi saja Danki dengan gentle. Buat apa dihindari, harusnya dia yang merasa malu karena sudah merebut tunanganmu," hibur Rudy, Diman dan yang lainnya.

    Sejenak Bisma termenung, semua kata-kata temannya ada benarnya juga. Buat apa Danki pengkhianat itu dia hindari, toh bukan dia yang salah.

    "Baiklah. Aku terima dukungan kalian dengan senang hati." Bisma menyunggingkan senyum seraya berlalu dari ruangannya karena jam pulang sudah tiba.

    Tiba di rumah, Bisma ribut mencari Haura, entah apa yang dia mau. Kebetulan Haura sudah pulang dari butik dan toko emas Berlian 99.

    "Haura, mana kunci motormu, aku pinjam sebentar?" serobot Bisma sembari masuk ke dalam kamar Haura tanpa permisi.

    "Kak Bisma, tapi buat apa?" heran Haura.

    "Jangan bertanya. Kamu mau pinjamin tidak?"

    "Ini, Kak." Terpaksa Haura memberikan kunci motornya pada Bisma dengan perasaan was-was, masalahnya Bisma terlihat seperti diburu sesuatu.

    Bisma pergi dengan motor Haura setelah ia berganti pakaian dengan pakaian biasa. Haura menatap kepergian Bisma dengan tatap khawatir. Entah kenapa firasatnya kali ini buruk terhadap Bisma.

Terpopuler

Comments

Mrs.Riozelino Fernandez

Mrs.Riozelino Fernandez

tekanan batin Haura jadinya...
mulut Bisma ini kek Mak komplek yang lagi gosipin anak gadis orang😠

2024-11-30

4

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Patah Hati
2 Bab 2 Kopi Buatan Haura
3 Bab 3 Pertemuan Yang Membuat Bisma Hancur Sehancur-Hancurnya
4 Bab 4 Bisma Frustasi
5 Bab 5 Gara-gara Satu Sloki
6 Bab 6 Kabar dr. Jelita
7 Bab 7 Kekecewaan Bisma
8 Bab 8 Ancaman Bisma
9 Bab 9 Mendatangi Bekas Calon Besan
10 Bab 10 Menjodohkan Haura Dengan Bisma
11 Bab 11 Menikahlah Dengan Haura!
12 Bab 12 Bagai Dihantam Gada
13 Bab 13 Pengajuan Bisma Ditolak
14 Bab 14 Pertemuan Di Luar Kesepakatan
15 Bab 15 Bisma Kecelakaan
16 Bab 16 Mengobati Bisma
17 Bab 17 Haura Mengikuti Lomba
18 Ban 18 Haura Pulang Terlambat
19 Bab 19 Adegan Alami dan Live
20 Bab 20 Haura Tidak Sepadan
21 Bab 21 Ada Yang Bingung
22 Bab 22 Bisma Tidur di Kamar Haura
23 Bab 23 Gaun Rancangan Haura dikontrak
24 Bab 24 Kejutan Untuk Bisma
25 Bab 25 Penantian Bisma
26 Bab 26 Harus Menikah
27 Bab 27 Menemui Ayah
28 Bab 28 Kesedihan Haura
29 Bab 29 Misi Perjodohan Digelar Lagi
30 Bab 30 Misi Berhasil
31 Bab 31 Bisma Bingung
32 Bab 32 Salah Paham
33 Bab 33 KTP Untuk Pengajuan Nikah
34 Bab 34 Mengajukan Nikah
35 Bab 35 Haura Linglung
36 Bab 36 Harus Menghadap Komandan
37 Bab 37 Adiknya Danton?
38 Bab 38 Haura Siap Mencintai Kak Bisma
39 Bab 39 Jawaban Cerdas Haura
40 Bab 40 Godaan Teman Kantor
41 Bab 41 Jangan Jadikan Haura Pelarian
42 Bab 42 Permintaan Bu Sindi Pada Haura
43 Bab 43 Bisma Ke Kampus Haura
44 Bab 44 Nomer Bisma Belum Disimpan
45 Bab 45 Udang Di Balik Batu
46 Bab 46 Perjumpaan Bisma dan Jelita
47 Bab 47 Dokter Jelita Menemui Haura
48 Bab 48 Hinaan Dokter Jelita
49 Bab 49 Kita Akan Menikah
50 Bab 50 Makan Malam Bersama
51 Bab 51 Bertemu Jelita
52 Bab 52 Penyesalan Dokter Jelita
53 Bab 53 Bara Rindu Ketika Hujan Lebat
54 Bab 54 Petir
55 Bab 55 Perintah Komandan
56 Bab 56 Pernikahan
57 Bab 57 Pedang Pora dan Pesona Haura
58 Bab 58 Masih Sibuk Menjelang Keberangkatan
59 Bab 59 Halangan
60 Bab 60 Kamu Bisa Pijat?
61 Bab 61 Jaga Hati
62 Bab 62 Keberangkatan Bisma
63 Bab 63 Gundah
64 Bab 64 Ada Apa Dengan Ayah Haura?
65 Bab 65 Meninggal
66 Bab 66 Provokasi dokter Jelita
67 Bab 67 Salah Sangka Bisma
68 Bab 68 Perkembangan Bagus Devaryo
69 Bab 69 Membujuk Devaryo
70 Bab 70 Menjelang Kepulangan Bisma
71 Bab 71 Akhirnya Kembali Dengan Selamat
72 Bab 72 Jamu Stamina
73 Bab 73 Malam Pertama
74 Bab 74 Sudah Sebulan Menikah Malah Lupa
75 Bab 75 Bisma Kembali Cemburu
76 Bab 76 Kejutan
77 Bab 77 Ucapan Ulang Tahun Dari Keluarga Mertua
78 Bab 78 Pesan WA dari dokter Jelita
79 Bab 79 I Love You Kak Bisma
80 Bab 80 Ada Yang Retak
81 Bab 81 Ijin Bisma
82 Bab 82 Kontrak Kerja Enam Bulan
83 Bab 83 Gaun Rancangan Haura
84 Bab 84 Berita Haura di Media Online
85 Bab 85 Peresmian Rumah Mode Haura
86 Bab 86 Setelah Lulus, Ditodong Punya Anak
87 Bab 87 Kedatangan Tamu Kenamaan
88 Bab 88 Haura Merindukan Bisma
89 Bab 89 Bulan Madu di Rumah Orang Tua
90 Bab 90 Garis Dua
91 Bab 91 Kado Untuk Bisma
92 Bab 92 Akhir Yang Bahagia (END)
93 Karya Baru Bab 1 Melepas Kepergian Satgas
94 Bab 94 Penyesalan, Pernikahan(Kisah Jelita dan Danki Erwan) End
Episodes

Updated 94 Episodes

1
Bab 1 Patah Hati
2
Bab 2 Kopi Buatan Haura
3
Bab 3 Pertemuan Yang Membuat Bisma Hancur Sehancur-Hancurnya
4
Bab 4 Bisma Frustasi
5
Bab 5 Gara-gara Satu Sloki
6
Bab 6 Kabar dr. Jelita
7
Bab 7 Kekecewaan Bisma
8
Bab 8 Ancaman Bisma
9
Bab 9 Mendatangi Bekas Calon Besan
10
Bab 10 Menjodohkan Haura Dengan Bisma
11
Bab 11 Menikahlah Dengan Haura!
12
Bab 12 Bagai Dihantam Gada
13
Bab 13 Pengajuan Bisma Ditolak
14
Bab 14 Pertemuan Di Luar Kesepakatan
15
Bab 15 Bisma Kecelakaan
16
Bab 16 Mengobati Bisma
17
Bab 17 Haura Mengikuti Lomba
18
Ban 18 Haura Pulang Terlambat
19
Bab 19 Adegan Alami dan Live
20
Bab 20 Haura Tidak Sepadan
21
Bab 21 Ada Yang Bingung
22
Bab 22 Bisma Tidur di Kamar Haura
23
Bab 23 Gaun Rancangan Haura dikontrak
24
Bab 24 Kejutan Untuk Bisma
25
Bab 25 Penantian Bisma
26
Bab 26 Harus Menikah
27
Bab 27 Menemui Ayah
28
Bab 28 Kesedihan Haura
29
Bab 29 Misi Perjodohan Digelar Lagi
30
Bab 30 Misi Berhasil
31
Bab 31 Bisma Bingung
32
Bab 32 Salah Paham
33
Bab 33 KTP Untuk Pengajuan Nikah
34
Bab 34 Mengajukan Nikah
35
Bab 35 Haura Linglung
36
Bab 36 Harus Menghadap Komandan
37
Bab 37 Adiknya Danton?
38
Bab 38 Haura Siap Mencintai Kak Bisma
39
Bab 39 Jawaban Cerdas Haura
40
Bab 40 Godaan Teman Kantor
41
Bab 41 Jangan Jadikan Haura Pelarian
42
Bab 42 Permintaan Bu Sindi Pada Haura
43
Bab 43 Bisma Ke Kampus Haura
44
Bab 44 Nomer Bisma Belum Disimpan
45
Bab 45 Udang Di Balik Batu
46
Bab 46 Perjumpaan Bisma dan Jelita
47
Bab 47 Dokter Jelita Menemui Haura
48
Bab 48 Hinaan Dokter Jelita
49
Bab 49 Kita Akan Menikah
50
Bab 50 Makan Malam Bersama
51
Bab 51 Bertemu Jelita
52
Bab 52 Penyesalan Dokter Jelita
53
Bab 53 Bara Rindu Ketika Hujan Lebat
54
Bab 54 Petir
55
Bab 55 Perintah Komandan
56
Bab 56 Pernikahan
57
Bab 57 Pedang Pora dan Pesona Haura
58
Bab 58 Masih Sibuk Menjelang Keberangkatan
59
Bab 59 Halangan
60
Bab 60 Kamu Bisa Pijat?
61
Bab 61 Jaga Hati
62
Bab 62 Keberangkatan Bisma
63
Bab 63 Gundah
64
Bab 64 Ada Apa Dengan Ayah Haura?
65
Bab 65 Meninggal
66
Bab 66 Provokasi dokter Jelita
67
Bab 67 Salah Sangka Bisma
68
Bab 68 Perkembangan Bagus Devaryo
69
Bab 69 Membujuk Devaryo
70
Bab 70 Menjelang Kepulangan Bisma
71
Bab 71 Akhirnya Kembali Dengan Selamat
72
Bab 72 Jamu Stamina
73
Bab 73 Malam Pertama
74
Bab 74 Sudah Sebulan Menikah Malah Lupa
75
Bab 75 Bisma Kembali Cemburu
76
Bab 76 Kejutan
77
Bab 77 Ucapan Ulang Tahun Dari Keluarga Mertua
78
Bab 78 Pesan WA dari dokter Jelita
79
Bab 79 I Love You Kak Bisma
80
Bab 80 Ada Yang Retak
81
Bab 81 Ijin Bisma
82
Bab 82 Kontrak Kerja Enam Bulan
83
Bab 83 Gaun Rancangan Haura
84
Bab 84 Berita Haura di Media Online
85
Bab 85 Peresmian Rumah Mode Haura
86
Bab 86 Setelah Lulus, Ditodong Punya Anak
87
Bab 87 Kedatangan Tamu Kenamaan
88
Bab 88 Haura Merindukan Bisma
89
Bab 89 Bulan Madu di Rumah Orang Tua
90
Bab 90 Garis Dua
91
Bab 91 Kado Untuk Bisma
92
Bab 92 Akhir Yang Bahagia (END)
93
Karya Baru Bab 1 Melepas Kepergian Satgas
94
Bab 94 Penyesalan, Pernikahan(Kisah Jelita dan Danki Erwan) End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!