Bab 9 Mendatangi Bekas Calon Besan

    "Saya sedang menonton drama Korea, Bi." Haura berteriak memberitahu Bi Mimin yang masih menunggu di depan pintu karena khawatir.

    "Oh, kirain Non Haura memasukan seseorang dan bertengkar, bibi jadi khawatir. Ya, sudah kalau memang sedang nonton drama Korea, bibi ke belakang dulu," ucap Bi Mimin merasa lega. Sebelum kakinya menjauh dari depan pintu kamar Haura, Bi Mimin mendengar sebuah drama Korea diputar.

    "Wah, sepertinya seru drama Korea yang diputar Non Haura. Nanti tanya ah judul dramanya, kalau Non Haura sudah keluar. Nanti bisa ditonton sebelum tidur," girangnya sembari berlalu.

    "Kak Bisma, sepertinya Bi Mimin sudah pergi, Haura mohon Kakak keluar," usir Haura seraya menjauh dari Bisma. Tanpa bicara Bisma berjalan menuju pintu, lalu dengan perlahan ia membuka pintu kamar itu. Sebelum keluar, Bisma sejenak melihat situasi, merasa aman dari Bi Mimin, ia segera keluar dari kamar itu, berjalan mengendap menuju tangga.

    Bisma masuk ke dalam kamarnya. Lalu membaringkan tubuhnya di ranjang. Kejadian bersama dr.Jelita kembali berputar-putar di kepalanya.

    Bisma meraih Hp nya, lalu menghubungi seseorang. "Pot, bisa cari info tentang Danki kita? Saat ini dia sedang menjalin hubungan dengan siapa? Mohon bantuannya." Bisma menghubungi seseorang yang sepertinya kenalan dekatnya untuk mencari tahu tentang Danki yang saat ini dikabarkan tengah dekat dengan dr.Jelita mantan tunangannya.

    "Apa yang kamu cari dari Danki itu Lita? Dia duda beranak satu, tapi kamu justru kepincut olehnya. Apa kurangnya aku, aku setia dan selama ini sabar menunggumu?" Bisma membatin, hatinya semakin sedih mengingat hubungan dr.Jelita dengan Danki yang sama-sama seorang anggota di kesatuan yang sama.

    Bagaimana Bisma bisa move on jika kenyataannya dan jika benar mantan tunangannya itu kini menjalin kasih dengan seorang Danki yang kantornya sama dengan tempat dia berdinas.

    "Apa Danki tidak tahu kalau aku menjalin kasih dengan Jelita? Tapi itu tidak mungkin, Danki juga tahu saat itu aku bertunangan dengan Jelita," sangkalnya lagi semakin dilanda sedih.

***

    Sementara itu, Pak Saka dan Bu Sindi kini sudah sampai di depan kediaman kedua orang tua dr.Jelita. Di depan halaman itu sudah ada sebuah mobil Pajexo terparkir rapi.

    Pak Saka cukup memarkir mobilnya di pinggir jalan, karena ia pikir tidak akan lama berada di rumah orang tua Jelita.

    Bu Sindi dan Pak Saka sedikit segan memasuki rumah Pak Dimas dan Bu Devi, kedua orang tuanya Jelita, sebab secara kebetulan di sana ternyata sedang ada seorang tamu laki-laki. Dari perawakannya bisa ditebak merupakan seorang anggota, usianya lumayan matang sekitar 35 tahun ke atas.

    Saat Bu Sindi dan Pak Saka mengucap salam, tamu itu menyambut keduanya dengan ramah dan mempersilahkan duduk. Tidak lama dari itu kedua orang tua Jelita datang menyambut, sementara laki-laki yang tadi menyambut yang diduga tamu, justru berlalu dari ruangan itu dan pindah. Mungkin saja pindah ke ruangan lain karena ada tamu baru pada sang pemilik rumah.

    Bu Devi dan Pak Dimas sedikit terkejut saat melihat tamunya siapa. "Bu Sindi dan Pak Saka," kejut Bu Devi.

    "Iya, ini kami. Kami mohon maaf sekiranya kedatangan kami mengganggu waktu dan ketenangan Bu Devi sekeluarga. Sekali lagi kami mohon maaf," ujar Bu Sindi basa-basi diangguki Pak Saka.

    "Oh, tidak, Bu Sindi, kami tidak terganggu," balas Bu Devi diiringi senyuman.

    Bu Devi sejenak angkat kaki dari ruang tamu, mungkin akan membuat minuman atau menyuruh pembantunya membuat minum. Sementara Bu Sindi sejak duduk di sofa, matanya tidak henti bergulir, mencari sosok Jelita, hatinya berharap Jelita ada di rumah saat ini.

    "Mohon maaf, Pak Dimas, mungkin kedatangan kami kemari sedikit mengagetkan Pak Dimas sekeluarga. Kedatangan saya dan istri kemari, ada hubungannya dengan Nak Jelita." Pak Saka mengungkapkan niat mendatangi rumah orang tua Jelita.

    "Kalau boleh tahu, apakah Nak Jelitanya ada di rumah? Kalau ada dan tidak keberatan, saya ingin Nak Jelita dihadirkan di sini, supaya kami pulang ke rumah dengan membawa hati yang lega," sambung Bu Sindi berharap Jelita ada.

    "Anak saya, kebetulan ada. Dia ...."

    "Tante, Om," sapa Jelita yang tiba-tiba muncul dari arah ruang tengah dengan membawa dua cangkir air minum di atas nampan.

    "Nak Jelita, panjang umur Nak. Jangan repot-repot, Nak. Lagipula kami kemari hanya sebentar," sambut Bu Sindi saat Jelita menghidangkan air minum di meja. Setelah itu Jelita menduduki salah satu sofa, di samping Pak Dimas.

    "Silahkan diminum Pak Saka, Bu Sindi." Bu Devi berbasi-basi.

    "Terimakasih Bu Devi, seharusnya tidak perlu repot-repot. Kebetulan sudah ada Nak Jelita, sebaiknya kami langsung saja pada inti kedatangan kami kemari," ujar Bu Sindi sembari melirik Pak Saka sang suami memberi kode untuk bicara.

    "Maksud kedatangan kami kemari adalah ingin mempertanyakan hubungan antara Nak Jelita dan putra kami, Bisma. Kemarin dia sempat menceritakan bahwa Nak Jelita memutuskan hubungan pertunangan tanpa alasan yang jelas. Sementara putra kami, sudah setia dan sabar menunggu Nak Jelita selama ini. Dan ketika putra kami tahun ini siap membawa Nak Jelita ke pelaminan seperti yang pernah Nak Jelita sampaikan pada putra kami setahun yang lalu, tiba-tiba dia harus kecewa dengan keputusan Nak Jelita yang tiba-tiba saja memutuskan hubungan. Padahal setahunya selama ini merasa tidak ada masalah serius dengan hubungannya bersama Nak Jelita," ungkap Pak Saka panjang lebar.

    Bu Devi dan Pak Dimas untuk sejenak menarik nafasnya dalam, begitu juga Jelita. Mereka bertiga terlihat saling lempar pandang, seakan sedang saling tuding siapa yang harus bicara atau menjawab.

    "Kalau alasannya hanya ingin melanjutkan studi ke jenjang selanjutnya, kami rasa putra kami sangat tidak keberatan, dia pasti mendukung dan tidak akan mengekang. Tapi kenapa Nak Jelita justru memutuskan hubungan disaat anak saya tidak keberatan dengan apa yang akan dilakukan Nak Jelita? Anak saya merasa bahwa alasan yang diberikan Nak Jelita tidak masuk akal."

    "Sebentar, Pak Saka. Kenapa Nak Bismanya tidak datang sekalian ke sini? Bukankah lebih baik orang yang bersangkutan sendiri yang datang?" Pak Dimas memotong ucapan Pak Saka.

    "Tadinya kami mau mengajak putra kami, tapi kalau dipikir-pikir putra kami merupakan korban dari keputusan sepihak anak Bapak. Kalau diajak pun, kami takut membuat luka hatinya semakin menganga, saat ini juga dia masih sangat sedih atas keputusan Nak Jelita yang sepihak," jelas Pak Saka.

   "Dan lagi, sepertinya putra kami sudah bertemu Nak Jelita. Jadi, kami datang kemari justru sembunyi-sembunyi dari Bisma," sambung Bu Sindi.

    "Kami mohon maaf, Pak, Bu. Anak kami Jelita sudah membuat putra kalian kecewa. Tapi, kami kembali lagi pada Jelita, Jelita ternyata sudah ada pilihan yang lain."

    "Oh seperti itu? Kami sangat kecewa sebetulnya dengan keputusan sepihak anak kalian. Dengan kalian bilang bahwa anak kalian sudah ada pilihan yang lain, itu artinya anak kalian sudah menduakan putra kami. Padahal anak kami serius menjalin hubungan ini, dia tidak pernah main-main. Tapi, kami berterimakasih Allah sudah menunjukkan lebih awal siapa sebenarnya Nak Jelita. Mungkin memang mereka tidak jodoh, jika sampai mereka berlanjut ke jenjang selanjutnya, maka tidak menutup kemungkinan di dalam pernikahan mereka akan terjadi perselingkuhan. Kami rasa dari ucapan Bu Devi tadi, cukup mewakili jawaban dari pertanyaan kami. Untuk itu kami mohon diri. Semoga hubungan Nak Jelita dengan pria pilihannya bahagia dan langgeng," sela Pak Saka panjang lebar sebelum Bu Devi melanjutkan kalimat yang lebih panjang.

   "Bu Sindi, Pak Saka, tunggu dulu. Ini bukan masalah perselingkuhan yang serius, anak kami juga berhak memilih. Pak Saka, Bu Sindi, tunggu, dengarkan penjelasan kami dulu." Bu Devi berusaha menghalau kepergian orang tua Bisma.

    "Tidak, terimakasih Bu Devi, penjelasan kalian sudah cukup bagi kami. Assalamualaikum." Pak Saka dan Bu Sindi segera keluar pagar lalu masuk ke dalam mobilnya. Mobil itu segera berlalu dari tempat itu tanpa lagi ditunda-tunda. Rasa kecewa jelas tergambar dari sikap mereka.

    Bu Devi dan Pak Dimas maupun Jelita menatap kepergian mobil mantan calon besannya itu dengan berbagai reaksi. Jelita nampak tertekan dari sejak duduk di sofa sampai Pak Saka selesai bicara tadi.

    "Ayo, sebaiknya kita masuk saja. Kasihan calon suami kamu," ujar Pak Dimas mengajak Jelita masuk kembali ke dalam rumah.

Terpopuler

Comments

budak jambi

budak jambi

benar apa kt mm ny bisma kl di lanjut kn besar kemungkinan jelita akn selongkuh..bagus tuhan menunjukan bagaimana sift jelita dan kluargaa ny.dan yg jd calon ny jelita gak punya hati mengambil milk org smoga km dapt karma yg lebh sakit dr bisma

2024-11-27

1

𝑸𝒖𝒊𝒏𝒂

𝑸𝒖𝒊𝒏𝒂

what??bukn perselingkuhn katamu, klo status'y blm tunangn mah it's ok bs di bilng boleh berhak memilih tpi ini lain cerita bisma & jelita sudh kejenjang tunangn brarti kn udh serius mau lnjut ke jenjang berikut'y, dan tiba² memutuskn sepihak hbungn llu bilng jelita brhak memilih yg lain situ warass mpok 🙄😡

2024-11-27

2

𝑸𝒖𝒊𝒏𝒂

𝑸𝒖𝒊𝒏𝒂

sprti'y jelita dipaksa sm org tua'y deh, mungkin si danki ini lbih kaya dri kuluarga bisma klo ga ya keluarga jelita py hutang budi sm kluarga danki

2024-11-27

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Patah Hati
2 Bab 2 Kopi Buatan Haura
3 Bab 3 Pertemuan Yang Membuat Bisma Hancur Sehancur-Hancurnya
4 Bab 4 Bisma Frustasi
5 Bab 5 Gara-gara Satu Sloki
6 Bab 6 Kabar dr. Jelita
7 Bab 7 Kekecewaan Bisma
8 Bab 8 Ancaman Bisma
9 Bab 9 Mendatangi Bekas Calon Besan
10 Bab 10 Menjodohkan Haura Dengan Bisma
11 Bab 11 Menikahlah Dengan Haura!
12 Bab 12 Bagai Dihantam Gada
13 Bab 13 Pengajuan Bisma Ditolak
14 Bab 14 Pertemuan Di Luar Kesepakatan
15 Bab 15 Bisma Kecelakaan
16 Bab 16 Mengobati Bisma
17 Bab 17 Haura Mengikuti Lomba
18 Ban 18 Haura Pulang Terlambat
19 Bab 19 Adegan Alami dan Live
20 Bab 20 Haura Tidak Sepadan
21 Bab 21 Ada Yang Bingung
22 Bab 22 Bisma Tidur di Kamar Haura
23 Bab 23 Gaun Rancangan Haura dikontrak
24 Bab 24 Kejutan Untuk Bisma
25 Bab 25 Penantian Bisma
26 Bab 26 Harus Menikah
27 Bab 27 Menemui Ayah
28 Bab 28 Kesedihan Haura
29 Bab 29 Misi Perjodohan Digelar Lagi
30 Bab 30 Misi Berhasil
31 Bab 31 Bisma Bingung
32 Bab 32 Salah Paham
33 Bab 33 KTP Untuk Pengajuan Nikah
34 Bab 34 Mengajukan Nikah
35 Bab 35 Haura Linglung
36 Bab 36 Harus Menghadap Komandan
37 Bab 37 Adiknya Danton?
38 Bab 38 Haura Siap Mencintai Kak Bisma
39 Bab 39 Jawaban Cerdas Haura
40 Bab 40 Godaan Teman Kantor
41 Bab 41 Jangan Jadikan Haura Pelarian
42 Bab 42 Permintaan Bu Sindi Pada Haura
43 Bab 43 Bisma Ke Kampus Haura
44 Bab 44 Nomer Bisma Belum Disimpan
45 Bab 45 Udang Di Balik Batu
46 Bab 46 Perjumpaan Bisma dan Jelita
47 Bab 47 Dokter Jelita Menemui Haura
48 Bab 48 Hinaan Dokter Jelita
49 Bab 49 Kita Akan Menikah
50 Bab 50 Makan Malam Bersama
51 Bab 51 Bertemu Jelita
52 Bab 52 Penyesalan Dokter Jelita
53 Bab 53 Bara Rindu Ketika Hujan Lebat
54 Bab 54 Petir
55 Bab 55 Perintah Komandan
56 Bab 56 Pernikahan
57 Bab 57 Pedang Pora dan Pesona Haura
58 Bab 58 Masih Sibuk Menjelang Keberangkatan
59 Bab 59 Halangan
60 Bab 60 Kamu Bisa Pijat?
61 Bab 61 Jaga Hati
62 Bab 62 Keberangkatan Bisma
63 Bab 63 Gundah
64 Bab 64 Ada Apa Dengan Ayah Haura?
65 Bab 65 Meninggal
66 Bab 66 Provokasi dokter Jelita
67 Bab 67 Salah Sangka Bisma
68 Bab 68 Perkembangan Bagus Devaryo
69 Bab 69 Membujuk Devaryo
70 Bab 70 Menjelang Kepulangan Bisma
71 Bab 71 Akhirnya Kembali Dengan Selamat
72 Bab 72 Jamu Stamina
73 Bab 73 Malam Pertama
74 Bab 74 Sudah Sebulan Menikah Malah Lupa
75 Bab 75 Bisma Kembali Cemburu
76 Bab 76 Kejutan
77 Bab 77 Ucapan Ulang Tahun Dari Keluarga Mertua
78 Bab 78 Pesan WA dari dokter Jelita
79 Bab 79 I Love You Kak Bisma
80 Bab 80 Ada Yang Retak
81 Bab 81 Ijin Bisma
82 Bab 82 Kontrak Kerja Enam Bulan
83 Bab 83 Gaun Rancangan Haura
84 Bab 84 Berita Haura di Media Online
85 Bab 85 Peresmian Rumah Mode Haura
86 Bab 86 Setelah Lulus, Ditodong Punya Anak
87 Bab 87 Kedatangan Tamu Kenamaan
88 Bab 88 Haura Merindukan Bisma
89 Bab 89 Bulan Madu di Rumah Orang Tua
90 Bab 90 Garis Dua
91 Bab 91 Kado Untuk Bisma
92 Bab 92 Akhir Yang Bahagia (END)
93 Karya Baru Bab 1 Melepas Kepergian Satgas
94 Bab 94 Penyesalan, Pernikahan(Kisah Jelita dan Danki Erwan) End
Episodes

Updated 94 Episodes

1
Bab 1 Patah Hati
2
Bab 2 Kopi Buatan Haura
3
Bab 3 Pertemuan Yang Membuat Bisma Hancur Sehancur-Hancurnya
4
Bab 4 Bisma Frustasi
5
Bab 5 Gara-gara Satu Sloki
6
Bab 6 Kabar dr. Jelita
7
Bab 7 Kekecewaan Bisma
8
Bab 8 Ancaman Bisma
9
Bab 9 Mendatangi Bekas Calon Besan
10
Bab 10 Menjodohkan Haura Dengan Bisma
11
Bab 11 Menikahlah Dengan Haura!
12
Bab 12 Bagai Dihantam Gada
13
Bab 13 Pengajuan Bisma Ditolak
14
Bab 14 Pertemuan Di Luar Kesepakatan
15
Bab 15 Bisma Kecelakaan
16
Bab 16 Mengobati Bisma
17
Bab 17 Haura Mengikuti Lomba
18
Ban 18 Haura Pulang Terlambat
19
Bab 19 Adegan Alami dan Live
20
Bab 20 Haura Tidak Sepadan
21
Bab 21 Ada Yang Bingung
22
Bab 22 Bisma Tidur di Kamar Haura
23
Bab 23 Gaun Rancangan Haura dikontrak
24
Bab 24 Kejutan Untuk Bisma
25
Bab 25 Penantian Bisma
26
Bab 26 Harus Menikah
27
Bab 27 Menemui Ayah
28
Bab 28 Kesedihan Haura
29
Bab 29 Misi Perjodohan Digelar Lagi
30
Bab 30 Misi Berhasil
31
Bab 31 Bisma Bingung
32
Bab 32 Salah Paham
33
Bab 33 KTP Untuk Pengajuan Nikah
34
Bab 34 Mengajukan Nikah
35
Bab 35 Haura Linglung
36
Bab 36 Harus Menghadap Komandan
37
Bab 37 Adiknya Danton?
38
Bab 38 Haura Siap Mencintai Kak Bisma
39
Bab 39 Jawaban Cerdas Haura
40
Bab 40 Godaan Teman Kantor
41
Bab 41 Jangan Jadikan Haura Pelarian
42
Bab 42 Permintaan Bu Sindi Pada Haura
43
Bab 43 Bisma Ke Kampus Haura
44
Bab 44 Nomer Bisma Belum Disimpan
45
Bab 45 Udang Di Balik Batu
46
Bab 46 Perjumpaan Bisma dan Jelita
47
Bab 47 Dokter Jelita Menemui Haura
48
Bab 48 Hinaan Dokter Jelita
49
Bab 49 Kita Akan Menikah
50
Bab 50 Makan Malam Bersama
51
Bab 51 Bertemu Jelita
52
Bab 52 Penyesalan Dokter Jelita
53
Bab 53 Bara Rindu Ketika Hujan Lebat
54
Bab 54 Petir
55
Bab 55 Perintah Komandan
56
Bab 56 Pernikahan
57
Bab 57 Pedang Pora dan Pesona Haura
58
Bab 58 Masih Sibuk Menjelang Keberangkatan
59
Bab 59 Halangan
60
Bab 60 Kamu Bisa Pijat?
61
Bab 61 Jaga Hati
62
Bab 62 Keberangkatan Bisma
63
Bab 63 Gundah
64
Bab 64 Ada Apa Dengan Ayah Haura?
65
Bab 65 Meninggal
66
Bab 66 Provokasi dokter Jelita
67
Bab 67 Salah Sangka Bisma
68
Bab 68 Perkembangan Bagus Devaryo
69
Bab 69 Membujuk Devaryo
70
Bab 70 Menjelang Kepulangan Bisma
71
Bab 71 Akhirnya Kembali Dengan Selamat
72
Bab 72 Jamu Stamina
73
Bab 73 Malam Pertama
74
Bab 74 Sudah Sebulan Menikah Malah Lupa
75
Bab 75 Bisma Kembali Cemburu
76
Bab 76 Kejutan
77
Bab 77 Ucapan Ulang Tahun Dari Keluarga Mertua
78
Bab 78 Pesan WA dari dokter Jelita
79
Bab 79 I Love You Kak Bisma
80
Bab 80 Ada Yang Retak
81
Bab 81 Ijin Bisma
82
Bab 82 Kontrak Kerja Enam Bulan
83
Bab 83 Gaun Rancangan Haura
84
Bab 84 Berita Haura di Media Online
85
Bab 85 Peresmian Rumah Mode Haura
86
Bab 86 Setelah Lulus, Ditodong Punya Anak
87
Bab 87 Kedatangan Tamu Kenamaan
88
Bab 88 Haura Merindukan Bisma
89
Bab 89 Bulan Madu di Rumah Orang Tua
90
Bab 90 Garis Dua
91
Bab 91 Kado Untuk Bisma
92
Bab 92 Akhir Yang Bahagia (END)
93
Karya Baru Bab 1 Melepas Kepergian Satgas
94
Bab 94 Penyesalan, Pernikahan(Kisah Jelita dan Danki Erwan) End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!