Bab 8 Ancaman Bisma

    Mobil Bisma sudah tiba di depan halaman rumah kedua orang tuanya. Dia segera keluar dan masuk rumah dengan wajah masam. Di dalam ruang tamu, sudah ada sang mama menatap heran kedatangan Bisma yang sendiri.

"Assalamualaikum."

    "Waalaikumsalam. Mana Haura?" tanyanya dengan kening yang mengkerut.

    "Haura tidak ada saat Bisma jemput, Ma. Tahunya kata salah satu teman satu jurusannya, Haura sudah pulang 10 menit yang lalu, sedangkan Bisma sudah menunggunya hampir setengah jam. Gila, enak benar anak itu mempermainkan aku dan membiarkan aku menunggu di depan gerbang kampus. Emang dasar tidak punya adab anak angkat itu," umpat Bisma kesal.

    "Ya ampun Bisma, itu bicaranya dijaga, ya, jangan sampai kedengaran oleh orangnya. Haura bisa sakit hati, lho. Lagian, kenapa kamu sampai tidak melihat Haura lewat atau jalan di depan kampusnya? Jangan-jangan kamu sedang main Hp saat menunggu Haura. Kamu ini memang tidak bisa diandalkan. Lalu ke mana Haura pergi, dia juga sampai saat ini belum pulang?" heran Bu Sindi merasa khawatir.

    "Mungkin dia ke butik Mama, dia kerja paruh waktu di butik Mama, bukan?"

    "Tidak, hari ini Haura tidak bekerja. Dia ambil kerja di butik kalau kebetulan kuliahnya siang." Bu Sindi menyangkal.

    "Biarkan saja, Ma. Paling sebentar lagi dia pulang. Dia itu kelayapan dulu bersama teman cowoknya mungkin," ujar Bisma seraya berlalu.

    "Tidak. Haura tidak pernah kelayapan yang tidak jelas setelah pulang kampus. Pasti kalau telat pulang begini, Haura pasti ada keperluan lain yang mendadak," bela Bu Sindi masih dengan wajah yang was-was.

    "Mama percaya begitu saja. Perempuan muda seperti Haura pasti sedang asik-asiknya bertemu pacarnya, Haura pasti sedang pacaran saat ini," duga Bisma menyangkal keyakinan sang mama.

    "Tidak. Setahu mama, Haura tidak memiliki pacar. Dia tidak pernah berpacaran. Lagipula kamu ini, kenapa juga membiarkan Haura lepas begitu saja? Menjemput tapi main Hp," dumel Bu Sindi menyalahkan Bisma. Bisma ingin protes, tapi suara seseorang yang mengucap salam mengurungkan niatnya.

    "Assalamualaikum." Haura tiba-tiba sudah ada di depan pintu dan mengucap salam, disambut bahagia oleh Bu Sindi. Sedangkan Bisma menoleh dan mengurungkan niatnya untuk menaiki tangga, tadinya ia akan ke kamarnya, tapi saat melihat Haura ia mengurungkan niatnya. Bisma justru ingin menumpahkan perasaan kesalnya terhadap Haura karena saat dijemput, Haura justru tidak ada.

    "Waalaikumsalam. Haura, kamu sudah pulang? Panjang umur kamu. Barusan mama dan kakakmu sedang membicarakan kamu karena kamu tidak pulang bersama kakakmu. Lantas, kamu ke mana dulu pulang dari kampus? Mama sampai khawatir, dan kenapa tadi kamu tidak menghampiri mobil kakakmu, Bisma menjemputmu di depan kampus sampai setengah jam," tutur Bu Sindi menceritakan.

    Haura menghampiri Bu Sindi lalu mencium tangannya. "Haura tadi tidak melihat mobil Kak Bisma, Ma. Haura langsung nyebrang dan menaiki angkot," jawab Haura.

    "Lho, kenapa harus nyebrang dan naik angkot di situ, bukankah angkot ke rumah ini tidak harus nyebrang?" heran Bu Sindi.

    "Haura ke toko emas Berlian 99 dulu, Ma."

    "Ke toko emas Berlian 99, untuk apa? Apa kamu membeli perhiasan?" Bu Sindi masih penasaran.

    "Tidak, Ma. Haura tadi mematri kalung Haura yang patah," jawab Haura.

    "Mematri kalung yang patah? Kok bisa patah, kenapa?" Kening Bu Sindi mengkerut dalam.

    "Iya, kalung Haura patah, karena ...."

    "Nah, ini dia orangnya. Sudah dijemput dan ditungguin lama, ehhh malah pergi naik angkot. Tidak tahu adab banget." Bisma datang memotong ucapan Haura. Lagipula kalau saja dia sudah pergi dari ruang tamu, kemungkinan besar Haura keceplosan dan mengatakan hal yang sebenarnya tentang kalung yang patah itu.

    "Haura minta maaf, Kak. Karena Haura memang tidak melihat kiri kanan dulu, sehingga Haura tidak tahu kalau Kak Bisma menjemput," balas Haura.

    "Sudah, sudah. Tidak apa-apa. Sekarang Haura sudah pulang dengan selamat tanpa kurang satu apapun. Sekarang kalian masuk, ganti pakaian masing-masing lalu makan siang," ucap Bu Sindi menengahi.

    Bisma mendelik, dia masih belum beranjak sebelum Haura berlalu dari ruang tamu. Haura mulai melangkahkan kakinya dari ruang tamu. Ketika di ruang tengah, Bisma menahan langkahnya lalu memperingatkan.

    "Haura, aku peringatkan jangan sampai kamu keceplosan. Kalau kamu keceplosan, maka kamu akan tahu akibatnya," ancam Bisma seraya berlalu dan menaiki tangga.

    Satu jam kemudian, mereka berempat kini sudah berada di meja makan untuk makan siang.

    "Setelah makan siang, mama dan papa akan pergi dulu. Kalian jangan sampai bertengkar saat kami pergi. Kalau kalian ada perlu apa-apa, minta tolong Bi Mimin. Bisma, mama mohon tolong jaga Haura, jangan kamu marahi lagi gara-gara dia tidak ikut mobil kamu," peringat Bu Sindi seraya merapikan bajunya setelah makan.

    "Papa dan Mama memangnya mau ke mana?" lontar Bisma. Bu Sindi tidak mengatakan akan ke mana, mereka hanya bilang pergi keluar untuk menemui kerabat dekat.

    "Ya sudah, Mama dan Papa hati-hati." Bisma mengulurkan tangannya pada kedua orang tuanya lalu diciumnya.

    "Mama dan Papa hati-hati, ya," ucap Haura mengikuti Bisma lalu mencium tangan kedua orang tua angkatnya.

    Bu Sindi dan Pak Saka pergi, tidak ada yang tahu bahwa kepergiannya ini untuk menemui rumah kedua orang tuanya Jelita. Mereka ingin tahu alasan dan kejelasan hubungan antara Bisma dan Jelita.

    "Pah, apakah lebih baik Bisma juga ikut?" Bu Sindi menahan lengan Pak Saka, merasa ragu kalau tanpa sepengetahuan Bisma mereka pergi ke rumah orang tua dr.Jelita.

    "Papa rasa tidak perlu, Ma. Jelita saja memutuskan hubungan begitu saja terhadap anak kita. Kita akan pertanyakan pada kedua orang tuanya, kenapa Jelita memutuskan hubungan saat Bisma sudah serius mengajaknya menikah," putus Pak Saka seraya melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah.

    Sementara itu, setelah kedua orang tua Bisma pergi. Bisma dan Haura meninggalkan meja makan, Haura masuk kamarnya. Tanpa sepengetahuan Haura, ternyata Bisma mengikuti Haura lalu mendorong pintu kamar Haura sebelum Haura menutupnya.

    "Kak Bisma, ada apa Kakak ikutin Haura?" Haura kaget saat Bisma berhasil mengikutinya dan kini sudah berada di dalam kamarnya.

    Bisma menduduki bibir ranjang lalu menatap Haura dengan intens. Haura memalingkan muka karena tatapan Bisma itu mengingatkan dia dengan kejadian semalam.

    "Kenapa kamu tadi main pergi begitu saja, bukannya hampiri aku? Kamu sengaja ingin hindari aku? Bagaimanapun kamu tidak bisa menghindari aku, karena kamu dan aku tinggal di rumah yang sama," tekan Bisma kesal.

    "Haura tidak melihat ke kanan, Kak. Keluar dari gerbang kampus, Haura langsung nyebrang dan naik angkot," alasan Haura.

    "Kamu tidak pergi dengan cowok kamu itu dan pacaran, kan?" lontar Bisma dengan nada menyelidik.

    "Tidak. Lagipula Haura tidak punya pacar," sangkal Haura. Tiba-tiba Bisma berdiri lalu meraih tubuh Haura dan berbicara di depan muka gadis berparas ayu itu.

    "Baguslah, itu artinya kamu tahu diri sebagai anak angkat. Kalau kamu mulai pacaran, maknanya kamu sudah harus siap meninggalkan rumah mama dan papaku," tegas Bisma membuat Haura merasa sakit hati karena ucapan Bisma terdengar menyinggung posisinya hanya sebagai anak angkat di rumah ini.

    Mereka masih di posisi yang begitu dekat, dan Bisma belum melepas cengkraman tangannya di tubuh Haura. Sementara Haura, selain hatinya sakit, ia justru terbuai dengan bau mint dari mulut Bisma yang menyegarkan, mint yang ditimbulkan dari rokok yang selalu dihisap Bisma. Seketika kejadian malam tadi terbayang kembali. Buru-buru Haura menjauh dan melepaskan tangan Bisma yang mencengkram.

    "Haura tahu diri, Kak. Kalau begitu, Haura mohon, Kakak keluar dari kamar ini, karena Kak Bisma tidak pantas berada di dalam kamar seorang anak angkat," ujar Haura mengusir Bisma dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

    "Non Haura, ada siapa di dalam, apakah Non sedang bersama seseorang dan bertengkar?" Tiba-tiba Bi Mimin berteriak khawatir dari luar kamar dan sepertinya tadi mendengar Haura berbicara agak keras sehingga terdengar keluar.

    Bisma dan Haura terkejut, Bisma langsung mendekati Haura lalu menutup mulut Haura supaya tidak bicara yang sesungguhnya.

    Apa yang akan Haura katakan pada Bi Mimin sebagai alasan? Nantikan kelanjutannya setelah Author nyoblos Pilkada. Author nyoblos bupati dulu, ya. Doakan semoga Bupati yang Author coblos amanah dan bisa dipercaya.

Terpopuler

Comments

Mrs.Riozelino Fernandez

Mrs.Riozelino Fernandez

Ngancem aja terus...
serasa Haura anak ingusan ya di ancem langsung diem...
kamu harus tegas jadi cewek Haura,sadar diri sih boleh tapi klo disakiti ya serang balik...

2024-11-27

1

elly fitriyatun

elly fitriyatun

Suka SM alurnya...cr menulisnya dibikin paragrap JD gak suntuk bacanya

2025-01-14

1

Murni Zain

Murni Zain

𝙰𝚠𝚊𝚜 𝙱𝚒𝚜𝚖𝚊, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚖𝚊𝚒𝚗 𝚊𝚗𝚌𝚎𝚖 𝚐𝚝.. 𝚝𝚊𝚛 𝚌𝚒𝚗𝚝𝚊 𝚕𝚑𝚘𝚘. 🤭

2024-12-31

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Patah Hati
2 Bab 2 Kopi Buatan Haura
3 Bab 3 Pertemuan Yang Membuat Bisma Hancur Sehancur-Hancurnya
4 Bab 4 Bisma Frustasi
5 Bab 5 Gara-gara Satu Sloki
6 Bab 6 Kabar dr. Jelita
7 Bab 7 Kekecewaan Bisma
8 Bab 8 Ancaman Bisma
9 Bab 9 Mendatangi Bekas Calon Besan
10 Bab 10 Menjodohkan Haura Dengan Bisma
11 Bab 11 Menikahlah Dengan Haura!
12 Bab 12 Bagai Dihantam Gada
13 Bab 13 Pengajuan Bisma Ditolak
14 Bab 14 Pertemuan Di Luar Kesepakatan
15 Bab 15 Bisma Kecelakaan
16 Bab 16 Mengobati Bisma
17 Bab 17 Haura Mengikuti Lomba
18 Ban 18 Haura Pulang Terlambat
19 Bab 19 Adegan Alami dan Live
20 Bab 20 Haura Tidak Sepadan
21 Bab 21 Ada Yang Bingung
22 Bab 22 Bisma Tidur di Kamar Haura
23 Bab 23 Gaun Rancangan Haura dikontrak
24 Bab 24 Kejutan Untuk Bisma
25 Bab 25 Penantian Bisma
26 Bab 26 Harus Menikah
27 Bab 27 Menemui Ayah
28 Bab 28 Kesedihan Haura
29 Bab 29 Misi Perjodohan Digelar Lagi
30 Bab 30 Misi Berhasil
31 Bab 31 Bisma Bingung
32 Bab 32 Salah Paham
33 Bab 33 KTP Untuk Pengajuan Nikah
34 Bab 34 Mengajukan Nikah
35 Bab 35 Haura Linglung
36 Bab 36 Harus Menghadap Komandan
37 Bab 37 Adiknya Danton?
38 Bab 38 Haura Siap Mencintai Kak Bisma
39 Bab 39 Jawaban Cerdas Haura
40 Bab 40 Godaan Teman Kantor
41 Bab 41 Jangan Jadikan Haura Pelarian
42 Bab 42 Permintaan Bu Sindi Pada Haura
43 Bab 43 Bisma Ke Kampus Haura
44 Bab 44 Nomer Bisma Belum Disimpan
45 Bab 45 Udang Di Balik Batu
46 Bab 46 Perjumpaan Bisma dan Jelita
47 Bab 47 Dokter Jelita Menemui Haura
48 Bab 48 Hinaan Dokter Jelita
49 Bab 49 Kita Akan Menikah
50 Bab 50 Makan Malam Bersama
51 Bab 51 Bertemu Jelita
52 Bab 52 Penyesalan Dokter Jelita
53 Bab 53 Bara Rindu Ketika Hujan Lebat
54 Bab 54 Petir
55 Bab 55 Perintah Komandan
56 Bab 56 Pernikahan
57 Bab 57 Pedang Pora dan Pesona Haura
58 Bab 58 Masih Sibuk Menjelang Keberangkatan
59 Bab 59 Halangan
60 Bab 60 Kamu Bisa Pijat?
61 Bab 61 Jaga Hati
62 Bab 62 Keberangkatan Bisma
63 Bab 63 Gundah
64 Bab 64 Ada Apa Dengan Ayah Haura?
65 Bab 65 Meninggal
66 Bab 66 Provokasi dokter Jelita
67 Bab 67 Salah Sangka Bisma
68 Bab 68 Perkembangan Bagus Devaryo
69 Bab 69 Membujuk Devaryo
70 Bab 70 Menjelang Kepulangan Bisma
71 Bab 71 Akhirnya Kembali Dengan Selamat
72 Bab 72 Jamu Stamina
73 Bab 73 Malam Pertama
74 Bab 74 Sudah Sebulan Menikah Malah Lupa
75 Bab 75 Bisma Kembali Cemburu
76 Bab 76 Kejutan
77 Bab 77 Ucapan Ulang Tahun Dari Keluarga Mertua
78 Bab 78 Pesan WA dari dokter Jelita
79 Bab 79 I Love You Kak Bisma
80 Bab 80 Ada Yang Retak
81 Bab 81 Ijin Bisma
82 Bab 82 Kontrak Kerja Enam Bulan
83 Bab 83 Gaun Rancangan Haura
84 Bab 84 Berita Haura di Media Online
85 Bab 85 Peresmian Rumah Mode Haura
86 Bab 86 Setelah Lulus, Ditodong Punya Anak
87 Bab 87 Kedatangan Tamu Kenamaan
88 Bab 88 Haura Merindukan Bisma
89 Bab 89 Bulan Madu di Rumah Orang Tua
90 Bab 90 Garis Dua
91 Bab 91 Kado Untuk Bisma
92 Bab 92 Akhir Yang Bahagia (END)
93 Karya Baru Bab 1 Melepas Kepergian Satgas
94 Bab 94 Penyesalan, Pernikahan(Kisah Jelita dan Danki Erwan) End
Episodes

Updated 94 Episodes

1
Bab 1 Patah Hati
2
Bab 2 Kopi Buatan Haura
3
Bab 3 Pertemuan Yang Membuat Bisma Hancur Sehancur-Hancurnya
4
Bab 4 Bisma Frustasi
5
Bab 5 Gara-gara Satu Sloki
6
Bab 6 Kabar dr. Jelita
7
Bab 7 Kekecewaan Bisma
8
Bab 8 Ancaman Bisma
9
Bab 9 Mendatangi Bekas Calon Besan
10
Bab 10 Menjodohkan Haura Dengan Bisma
11
Bab 11 Menikahlah Dengan Haura!
12
Bab 12 Bagai Dihantam Gada
13
Bab 13 Pengajuan Bisma Ditolak
14
Bab 14 Pertemuan Di Luar Kesepakatan
15
Bab 15 Bisma Kecelakaan
16
Bab 16 Mengobati Bisma
17
Bab 17 Haura Mengikuti Lomba
18
Ban 18 Haura Pulang Terlambat
19
Bab 19 Adegan Alami dan Live
20
Bab 20 Haura Tidak Sepadan
21
Bab 21 Ada Yang Bingung
22
Bab 22 Bisma Tidur di Kamar Haura
23
Bab 23 Gaun Rancangan Haura dikontrak
24
Bab 24 Kejutan Untuk Bisma
25
Bab 25 Penantian Bisma
26
Bab 26 Harus Menikah
27
Bab 27 Menemui Ayah
28
Bab 28 Kesedihan Haura
29
Bab 29 Misi Perjodohan Digelar Lagi
30
Bab 30 Misi Berhasil
31
Bab 31 Bisma Bingung
32
Bab 32 Salah Paham
33
Bab 33 KTP Untuk Pengajuan Nikah
34
Bab 34 Mengajukan Nikah
35
Bab 35 Haura Linglung
36
Bab 36 Harus Menghadap Komandan
37
Bab 37 Adiknya Danton?
38
Bab 38 Haura Siap Mencintai Kak Bisma
39
Bab 39 Jawaban Cerdas Haura
40
Bab 40 Godaan Teman Kantor
41
Bab 41 Jangan Jadikan Haura Pelarian
42
Bab 42 Permintaan Bu Sindi Pada Haura
43
Bab 43 Bisma Ke Kampus Haura
44
Bab 44 Nomer Bisma Belum Disimpan
45
Bab 45 Udang Di Balik Batu
46
Bab 46 Perjumpaan Bisma dan Jelita
47
Bab 47 Dokter Jelita Menemui Haura
48
Bab 48 Hinaan Dokter Jelita
49
Bab 49 Kita Akan Menikah
50
Bab 50 Makan Malam Bersama
51
Bab 51 Bertemu Jelita
52
Bab 52 Penyesalan Dokter Jelita
53
Bab 53 Bara Rindu Ketika Hujan Lebat
54
Bab 54 Petir
55
Bab 55 Perintah Komandan
56
Bab 56 Pernikahan
57
Bab 57 Pedang Pora dan Pesona Haura
58
Bab 58 Masih Sibuk Menjelang Keberangkatan
59
Bab 59 Halangan
60
Bab 60 Kamu Bisa Pijat?
61
Bab 61 Jaga Hati
62
Bab 62 Keberangkatan Bisma
63
Bab 63 Gundah
64
Bab 64 Ada Apa Dengan Ayah Haura?
65
Bab 65 Meninggal
66
Bab 66 Provokasi dokter Jelita
67
Bab 67 Salah Sangka Bisma
68
Bab 68 Perkembangan Bagus Devaryo
69
Bab 69 Membujuk Devaryo
70
Bab 70 Menjelang Kepulangan Bisma
71
Bab 71 Akhirnya Kembali Dengan Selamat
72
Bab 72 Jamu Stamina
73
Bab 73 Malam Pertama
74
Bab 74 Sudah Sebulan Menikah Malah Lupa
75
Bab 75 Bisma Kembali Cemburu
76
Bab 76 Kejutan
77
Bab 77 Ucapan Ulang Tahun Dari Keluarga Mertua
78
Bab 78 Pesan WA dari dokter Jelita
79
Bab 79 I Love You Kak Bisma
80
Bab 80 Ada Yang Retak
81
Bab 81 Ijin Bisma
82
Bab 82 Kontrak Kerja Enam Bulan
83
Bab 83 Gaun Rancangan Haura
84
Bab 84 Berita Haura di Media Online
85
Bab 85 Peresmian Rumah Mode Haura
86
Bab 86 Setelah Lulus, Ditodong Punya Anak
87
Bab 87 Kedatangan Tamu Kenamaan
88
Bab 88 Haura Merindukan Bisma
89
Bab 89 Bulan Madu di Rumah Orang Tua
90
Bab 90 Garis Dua
91
Bab 91 Kado Untuk Bisma
92
Bab 92 Akhir Yang Bahagia (END)
93
Karya Baru Bab 1 Melepas Kepergian Satgas
94
Bab 94 Penyesalan, Pernikahan(Kisah Jelita dan Danki Erwan) End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!