Bab 5 Gara-gara Satu Sloki

    Haura terpaksa menahan langkahnya dengan tubuh tidak berbalik. Jantungnya mendadak berdebar kencang dan tidak enak perasaan.

    "Tunggu, antar aku ke kamar," pintanya dengan mata yang merah. Bau yang menyengat dari mulut Bisma tercium oleh Haura, sampai Haura menjauh. Ia belum pernah mencium bau itu, tapi baunya sangat menyengat.

    "Apakah Kak Bisma mabuk minuman keras? Dan bau ini apakah bau minuman keras? Ya ampun, kenapa Kak Bisma meminum minuman itu?" kaget Haura di dalam hati.

    Haura berusaha melepaskan cengkraman tangan Bisma. Namun, semakin dilepaskan semakin kuat cengkraman tangannya.

    Bisma bahkan berhasil menyeret tubuh Haura ke dalam ruang tengah yang temaram, lalu menghimpitnya sampai tubuh Haura bersandar di tembok. Di sana tubuh Haura dikungkung Bisma lalu dikunci, sehingga Haura tidak bisa melepaskan diri.

    "Kak Bisma, sadar Kak. Haura adik Kak Bisma. Apa yang akan Kakak lakukan? Ummmppppttt."

    Protes yang dilayangkan Haura sia-sia, karena Bisma secepat kilat sudah membungkam bibir Haura dengan ciuman ganasnya. Haura berusaha melepaskan dirinya dari ulah liar Bisma dengan menggerak-gerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan berusaha menghindar. Sayang, Bisma sudah menahan tengkuk Haura kuat sehingga usaha yang dilakukan Haura tidak membuahkan hasil yang berarti. Bisma berhasil menodai bibir suci Haura dengan ganas dan tidak tahu diri.

    Air mata Haura sudah berlinang menahan ulah liar Bisma yang tidak bisa dihindari lagi. Kini tangan Bisma mulai meraba piyama tidur Haura lalu menariknya kuat. Sepertinya Bisma sedang berusaha membuka paksa piyama yang menghalangi tubuh Haura.

    Haura shock dan takut, matanya melotot lalu berusaha tangannya meronta supaya bisa terbebas dari Bisma.

"*Apa yang sedang merasuki Kak Bisma, kenapa dia ingin melakukan ini*?"batin Haura panik.

    Haura hanya mempunyai satu cara yaitu menginjak kaki Bisma sekuat tenaga, agar Bisma melepaskan bibirnya yang dengan gila dinikmatinya tanpa henti. Nafas Haura sudah sesak, di momen itu, tidak ditunda lagi kaki Haura ia angkat lalu ia injakkan mengenai kaki Bisma.

    "Takk."

    Dengan kekuatan penuh, Haura menginjak telapak atas kaki Bisma sekali hentak sehingga Bisma dengan refleks melepaskan tautan bibirnya di bibir Haura. Bersamaan dengan itu, tangan Bisma berhasil menarik sesuatu dari leher Haura yang ia duga piyama Haura.

    Haura segera berlari dan menghindar setelah Bisma berhasil melepaskannya. Ia tidak berpikir lagi tentang sesuatu yang ditarik Bisma tadi itu apa dari lehernya. Haura segera menuju kamar dan masuk lalu mengunci pintu kamar itu dua kali. Haura takut Bisma mengejarnya dan mendobrak pintu kamarnya. Sehingga Haura hanya mampu duduk merosot di bawah pintu dengan air mata yang berlinang.

***

Sementara itu, setelah Haura pergi. Tubuh Bisma tiba-tiba terjungkal ke atas sofa di ruang tengah itu setelah Haura berhasil lepas dan menginjak kakinya kuat. Bisma kesakitan karena ia sempat mengaduh. Namun, sakit kepala dan mabuk akibat satu sloki minuman itu, membuat kepala Bisma berat, ditambah rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang. Beberapa menit kemudian, Bisma tertidur pulas tidak sadarkan diri di sofa itu dengan tangan menggenggam sebuah benda.

    Kumandang adzan Subuh telah diperdengarkan di mana-mana. Bisma terbangun dengan wajah yang heran, kenapa dirinya bisa tertidur di sofa ruang tengah. Perlahan ia bangkit dan duduk sejenak, sesekali ia pijat pelipisnya karena kepalanya masih terasa pusing.

    Bisma mengingat semuanya, keberadaannya di danau lalu meminum satu sloki minuman mengandung alkohol sampai ia merasa tenggorokannya terbakar dan kepalanya berat dan pusing.

    "Ya ampun sepertinya aku tadi malam mabuk, padahal hanya satu sloki." Bisma kini sadar sesadarnya dengan kejadian tadi malam, bahkan yang terjadi di sofa ruang tengah ini, masih diingatnya. Beruntung Bisma tidak mabuk terlalu berat, sehingga ia masih mengingat semua yang dia lakukan tadi malam terhadap Haura.

    Beberapa kali Bisma ngucap disertai mengusap wajahnya. Saat mengusap wajah, ada sesuatu yang jatuh dari kepalan tangannya. Bisma segera meraih benda itu, yang ternyata kalung emas.

    "Kalung Haura. Ya ampun, apa yang telah aku perbuat pada Haura? Sialan, Haura pasti sedih banget karena merasa telah aku lecehkan. Gawat, kalau Haura cerita sama mama dan papa," gumamnya mengingat semua.

    Bisma segera bangkit dari sofa ruang tengah, dia harus segera beranjak dari sana untuk menuju kamar yang berada di lantai atas, sebelum dirinya diketahui oleh orang-orang di rumah ini terutama mama dan papanya.

   Bisma berjalan mengendap dan berharap tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Akhirnya Bisma tiba di lantai atas, dengan segera ia melangkah menuju kamarnya. Tangannya sudah berhasil memegang handle pintu lalu dibukanya.

    Bersamaan dengan itu, sebuah pintu kamar yang lain mulai terdengar dibuka dari dalam. Bisma segera memasukkan tubuhnya ke dalam kamar, sebelum si empunya kamar itu keluar dan memergokinya. Nasib baik, Bisma sudah keburu berada di dalam. Kali ini dia selamat dari penglihatan orang-orang di rumah ini. Bisma sedikit lega.

    Dengan segera ia memasuki kamar mandi dan membasuh wajah dan sekujur tubuhnya supaya segar kembali.

***

    Subuh berganti pagi, semua orang di rumah ini sudah terbangun dan segar kembali, juga siap dengan aktifitasnya masing-masing. Bisma hanya menggunakan kaos oblong biasa dilengkapi jaket lorengnya, dengan bawahan celana jeans. Tampilannya begitu santai. Bisma memang masih cuti selepas kepulangannya dari tugas di wilayah konflik. Jadi pagi ini, dia tidak pergi ke kantor sampai beberapa hari ke depan.

    Bisma melangkahkan kakinya menuruni tangga menuju ruang makan. Di sana sudah ada mama dan papanya juga Haura yang sudah siap dan rapi, sepertinya Haura akan pergi ke kampus pagi ini.

    Haura hanya menunduk saat Bisma tiba di meja makan tanpa berani menatap pria yang tadi malam hampir memaksanya.

    "Haura, ambilkan nasi lemak untuk kakakmu," suruh Bu Sindi. Haura terkejut, untuk beberapa saat ia hanya mematung. "Haura," ulang Bu Sindi menegur Haura yang diam mematung.

    "I~iya, Ma."

    Mendapati Haura gelagapan, Bisma sadar kalau sikap Haura itu akibat perbuatannya semalam.

    "Tidak perlu diambilkan, Ma. Bisma ambil sendiri saja nasi lemaknya," sela Bisma seraya meraih piringnya dan menceduk nasi lemak.

    "Baiklah, sebaiknya kita mulai sarapan," ujar Bu Sindi mencairkan suasana tegang antara Haura dan Bisma yang tidak diketahui Bu Sindi dan Pak Saka.

    "Haura, kamu ke kampus pagi ini, kan? Biar aku antar," ujar Bisma tiba-tiba setelah ia menyelesaikan sarapannya.

    Haura menatap ragu dan takut terhadap Bisma, ia kembali menunduk dan tidak menjawab.

    "Iya, Haura pagi ini kuliah pagi. Kamu antar saja sekalian ke kampusnya." Bu Sindi yang menjawab dengan wajah girang. Hatinya bersorak senang dengan sikap Bisma yang tiba-tiba dengan kesadaran diri mau mengantar Haura ke kampus.

    "Baiklah. Haura, berdirilah! Biar aku antar ke kampus sekalian aku pulang dulu ke rumahku," ujar Bisma seraya berdiri lebih dulu dengan mata tertuju pada Haura.

    Perlahan Haura bangkit. "Tapi, Kak Bisma tidak usah mengantar. Haura pakai motor saja," tolak Haura.

    "Sekali-sekali kakakmu biarkan mengantarmu, Haura. Mama ingin kalian lebih akrab lagi sebagai kakak adik, atau kalau bisa lebih," ujar Bu Sindi seraya terakhir menutup mulutnya karena merasa telah keceplosan. Semua mata bersamaan menatap Bu Sindi setelahnya.

    "Ayo, kalian cepat pergi. Nanti Haura terlambat pula. Jangan lupa pulangnya jemput lagi di kampus Haura," ujar Bu Sindi setengah mengusir Bisma dan Haura. Tidak lupa diakhir kalimat, Bu Sindi berusaha mengingatkan Bisma untuk kembali menjemput Haura.

    Terpaksa Haura menerima tawaran Bisma, padahal hatinya menyimpan berbagai kecamuk rasa atas kejadian tidak terduga semalam. Haura dan Bisma pergi meninggalkan ruang makan.

    "Lihat, Pah. Sepertinya setelah menemui mantan kekasihnya tadi malam, Bisma tidak menampakkan wajah sedih seperti kemarin. Mudah-mudahan Bisma segera bisa lepas dari bayang-bayang Jelita," ucap Bu Sindi penuh harap. Pak Saka mengangguk setuju dengan ucapan sang istri.

Terpopuler

Comments

Mrs.Riozelino Fernandez

Mrs.Riozelino Fernandez

Mama papa blom tau aja kejadian tadi malam ,Bisma hampir merusak Haura...untung Haura punya akal untuk lepas dari Bisma...Gara2 patah hati tuh ceritanya...

2024-11-26

1

Murni Zain

Murni Zain

𝚖𝚜𝚑 𝚝𝚎𝚛𝚜𝚎𝚕𝚊𝚖𝚊𝚝𝚔𝚊𝚗,, 𝚐𝚊𝚛𝚊-𝚐𝚊𝚛𝚊 𝚖𝚒𝚗𝚞𝚖 𝚊𝚕𝚔𝚘𝚑𝚘𝚕 𝚑𝚊𝚖𝚙𝚒𝚛 𝚜𝚊𝚓𝚊 𝙷𝚊𝚞𝚛𝚊 𝚓𝚍 𝚔𝚘𝚛𝚋𝚊𝚗.

2024-12-31

1

Mrs.Riozelino Fernandez

Mrs.Riozelino Fernandez

waaaah....
othornya orang Medan ya???
ingat kampung ku di Medan juga bilang nasi lemak untuk nasi uduk

2024-11-26

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Patah Hati
2 Bab 2 Kopi Buatan Haura
3 Bab 3 Pertemuan Yang Membuat Bisma Hancur Sehancur-Hancurnya
4 Bab 4 Bisma Frustasi
5 Bab 5 Gara-gara Satu Sloki
6 Bab 6 Kabar dr. Jelita
7 Bab 7 Kekecewaan Bisma
8 Bab 8 Ancaman Bisma
9 Bab 9 Mendatangi Bekas Calon Besan
10 Bab 10 Menjodohkan Haura Dengan Bisma
11 Bab 11 Menikahlah Dengan Haura!
12 Bab 12 Bagai Dihantam Gada
13 Bab 13 Pengajuan Bisma Ditolak
14 Bab 14 Pertemuan Di Luar Kesepakatan
15 Bab 15 Bisma Kecelakaan
16 Bab 16 Mengobati Bisma
17 Bab 17 Haura Mengikuti Lomba
18 Ban 18 Haura Pulang Terlambat
19 Bab 19 Adegan Alami dan Live
20 Bab 20 Haura Tidak Sepadan
21 Bab 21 Ada Yang Bingung
22 Bab 22 Bisma Tidur di Kamar Haura
23 Bab 23 Gaun Rancangan Haura dikontrak
24 Bab 24 Kejutan Untuk Bisma
25 Bab 25 Penantian Bisma
26 Bab 26 Harus Menikah
27 Bab 27 Menemui Ayah
28 Bab 28 Kesedihan Haura
29 Bab 29 Misi Perjodohan Digelar Lagi
30 Bab 30 Misi Berhasil
31 Bab 31 Bisma Bingung
32 Bab 32 Salah Paham
33 Bab 33 KTP Untuk Pengajuan Nikah
34 Bab 34 Mengajukan Nikah
35 Bab 35 Haura Linglung
36 Bab 36 Harus Menghadap Komandan
37 Bab 37 Adiknya Danton?
38 Bab 38 Haura Siap Mencintai Kak Bisma
39 Bab 39 Jawaban Cerdas Haura
40 Bab 40 Godaan Teman Kantor
41 Bab 41 Jangan Jadikan Haura Pelarian
42 Bab 42 Permintaan Bu Sindi Pada Haura
43 Bab 43 Bisma Ke Kampus Haura
44 Bab 44 Nomer Bisma Belum Disimpan
45 Bab 45 Udang Di Balik Batu
46 Bab 46 Perjumpaan Bisma dan Jelita
47 Bab 47 Dokter Jelita Menemui Haura
48 Bab 48 Hinaan Dokter Jelita
49 Bab 49 Kita Akan Menikah
50 Bab 50 Makan Malam Bersama
51 Bab 51 Bertemu Jelita
52 Bab 52 Penyesalan Dokter Jelita
53 Bab 53 Bara Rindu Ketika Hujan Lebat
54 Bab 54 Petir
55 Bab 55 Perintah Komandan
56 Bab 56 Pernikahan
57 Bab 57 Pedang Pora dan Pesona Haura
58 Bab 58 Masih Sibuk Menjelang Keberangkatan
59 Bab 59 Halangan
60 Bab 60 Kamu Bisa Pijat?
61 Bab 61 Jaga Hati
62 Bab 62 Keberangkatan Bisma
63 Bab 63 Gundah
64 Bab 64 Ada Apa Dengan Ayah Haura?
65 Bab 65 Meninggal
66 Bab 66 Provokasi dokter Jelita
67 Bab 67 Salah Sangka Bisma
68 Bab 68 Perkembangan Bagus Devaryo
69 Bab 69 Membujuk Devaryo
70 Bab 70 Menjelang Kepulangan Bisma
71 Bab 71 Akhirnya Kembali Dengan Selamat
72 Bab 72 Jamu Stamina
73 Bab 73 Malam Pertama
74 Bab 74 Sudah Sebulan Menikah Malah Lupa
75 Bab 75 Bisma Kembali Cemburu
76 Bab 76 Kejutan
77 Bab 77 Ucapan Ulang Tahun Dari Keluarga Mertua
78 Bab 78 Pesan WA dari dokter Jelita
79 Bab 79 I Love You Kak Bisma
80 Bab 80 Ada Yang Retak
81 Bab 81 Ijin Bisma
82 Bab 82 Kontrak Kerja Enam Bulan
83 Bab 83 Gaun Rancangan Haura
84 Bab 84 Berita Haura di Media Online
85 Bab 85 Peresmian Rumah Mode Haura
86 Bab 86 Setelah Lulus, Ditodong Punya Anak
87 Bab 87 Kedatangan Tamu Kenamaan
88 Bab 88 Haura Merindukan Bisma
89 Bab 89 Bulan Madu di Rumah Orang Tua
90 Bab 90 Garis Dua
91 Bab 91 Kado Untuk Bisma
92 Bab 92 Akhir Yang Bahagia (END)
93 Karya Baru Bab 1 Melepas Kepergian Satgas
94 Bab 94 Penyesalan, Pernikahan(Kisah Jelita dan Danki Erwan) End
Episodes

Updated 94 Episodes

1
Bab 1 Patah Hati
2
Bab 2 Kopi Buatan Haura
3
Bab 3 Pertemuan Yang Membuat Bisma Hancur Sehancur-Hancurnya
4
Bab 4 Bisma Frustasi
5
Bab 5 Gara-gara Satu Sloki
6
Bab 6 Kabar dr. Jelita
7
Bab 7 Kekecewaan Bisma
8
Bab 8 Ancaman Bisma
9
Bab 9 Mendatangi Bekas Calon Besan
10
Bab 10 Menjodohkan Haura Dengan Bisma
11
Bab 11 Menikahlah Dengan Haura!
12
Bab 12 Bagai Dihantam Gada
13
Bab 13 Pengajuan Bisma Ditolak
14
Bab 14 Pertemuan Di Luar Kesepakatan
15
Bab 15 Bisma Kecelakaan
16
Bab 16 Mengobati Bisma
17
Bab 17 Haura Mengikuti Lomba
18
Ban 18 Haura Pulang Terlambat
19
Bab 19 Adegan Alami dan Live
20
Bab 20 Haura Tidak Sepadan
21
Bab 21 Ada Yang Bingung
22
Bab 22 Bisma Tidur di Kamar Haura
23
Bab 23 Gaun Rancangan Haura dikontrak
24
Bab 24 Kejutan Untuk Bisma
25
Bab 25 Penantian Bisma
26
Bab 26 Harus Menikah
27
Bab 27 Menemui Ayah
28
Bab 28 Kesedihan Haura
29
Bab 29 Misi Perjodohan Digelar Lagi
30
Bab 30 Misi Berhasil
31
Bab 31 Bisma Bingung
32
Bab 32 Salah Paham
33
Bab 33 KTP Untuk Pengajuan Nikah
34
Bab 34 Mengajukan Nikah
35
Bab 35 Haura Linglung
36
Bab 36 Harus Menghadap Komandan
37
Bab 37 Adiknya Danton?
38
Bab 38 Haura Siap Mencintai Kak Bisma
39
Bab 39 Jawaban Cerdas Haura
40
Bab 40 Godaan Teman Kantor
41
Bab 41 Jangan Jadikan Haura Pelarian
42
Bab 42 Permintaan Bu Sindi Pada Haura
43
Bab 43 Bisma Ke Kampus Haura
44
Bab 44 Nomer Bisma Belum Disimpan
45
Bab 45 Udang Di Balik Batu
46
Bab 46 Perjumpaan Bisma dan Jelita
47
Bab 47 Dokter Jelita Menemui Haura
48
Bab 48 Hinaan Dokter Jelita
49
Bab 49 Kita Akan Menikah
50
Bab 50 Makan Malam Bersama
51
Bab 51 Bertemu Jelita
52
Bab 52 Penyesalan Dokter Jelita
53
Bab 53 Bara Rindu Ketika Hujan Lebat
54
Bab 54 Petir
55
Bab 55 Perintah Komandan
56
Bab 56 Pernikahan
57
Bab 57 Pedang Pora dan Pesona Haura
58
Bab 58 Masih Sibuk Menjelang Keberangkatan
59
Bab 59 Halangan
60
Bab 60 Kamu Bisa Pijat?
61
Bab 61 Jaga Hati
62
Bab 62 Keberangkatan Bisma
63
Bab 63 Gundah
64
Bab 64 Ada Apa Dengan Ayah Haura?
65
Bab 65 Meninggal
66
Bab 66 Provokasi dokter Jelita
67
Bab 67 Salah Sangka Bisma
68
Bab 68 Perkembangan Bagus Devaryo
69
Bab 69 Membujuk Devaryo
70
Bab 70 Menjelang Kepulangan Bisma
71
Bab 71 Akhirnya Kembali Dengan Selamat
72
Bab 72 Jamu Stamina
73
Bab 73 Malam Pertama
74
Bab 74 Sudah Sebulan Menikah Malah Lupa
75
Bab 75 Bisma Kembali Cemburu
76
Bab 76 Kejutan
77
Bab 77 Ucapan Ulang Tahun Dari Keluarga Mertua
78
Bab 78 Pesan WA dari dokter Jelita
79
Bab 79 I Love You Kak Bisma
80
Bab 80 Ada Yang Retak
81
Bab 81 Ijin Bisma
82
Bab 82 Kontrak Kerja Enam Bulan
83
Bab 83 Gaun Rancangan Haura
84
Bab 84 Berita Haura di Media Online
85
Bab 85 Peresmian Rumah Mode Haura
86
Bab 86 Setelah Lulus, Ditodong Punya Anak
87
Bab 87 Kedatangan Tamu Kenamaan
88
Bab 88 Haura Merindukan Bisma
89
Bab 89 Bulan Madu di Rumah Orang Tua
90
Bab 90 Garis Dua
91
Bab 91 Kado Untuk Bisma
92
Bab 92 Akhir Yang Bahagia (END)
93
Karya Baru Bab 1 Melepas Kepergian Satgas
94
Bab 94 Penyesalan, Pernikahan(Kisah Jelita dan Danki Erwan) End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!