Bab 4 Bisma Frustasi

    Bisma menghabiskan waktunya beberapa jam di depan danau buatan itu. Dia duduk di atas kap mobilnya sembari menghadap ke depan sana tanpa tujuan. Sesekali ia isap rokoknya, sebelum habis sudah ia lempar jauh ke dalam danau itu.

    Bisma sangat suntuk dan pikirannya begitu kalut, inginnya terjun bebas ke dalam danau itu merasakannya dingin dan angkernya dasar danau. Namun, Bisma masih punya iman dan sadar diri, dia tidak mungkin melakukan hal bodoh yang jelas dilarang di dalam agama.

    Bisma kini menaiki kap mobil lalu duduk dengan lutut menekuk, ia telungkupkan wajahnya diantara kedua lututnya. Posisi seperti ini sudah dipastikan, kalau Bisma sedang dalam keadaan frustasi karena patah hati.

    Semakin malam, danau itu semakin ramai, sesekali ada beberapa perempuan berpakaian minim menghampiri Bisma lalu menawarkan sesuatu dengan menunjukkan sebuah benda dengan telapak tangannya, Bisma menggeleng, dia bukan tertarik, Bisma justru mengusir marah.

    "Sialan, pergi!" usirnya. Para wanita dan waria yang berpakaian seksi itu lari terbirit melihat kemarahan Bisma, mereka pikir Bisma membutuhkan sebuah kehangatan dari salah satu mereka.

    Bisma kembali ke posisi duduk di atas kap mobil, ia merogoh saku kemejanya dan kembali menyalakan batang rokoknya.

    Baru saja beberapa wanita dan waria menawarkan dagangannya, lalu pergi terbirit, kini ada lagi yang menawarkan beberapa botol minuman. Pedagang asongan itu menjual beberapa minuman mineral dan ada juga minuman beralkohol, sepertinya si penjual asongan ini merupakan sebagian kecil atau oknum pedagang asongan yang nakal plus nekad.

    Tidak segan pedagang itu menawarkan sebuah minuman beralkohol dengan logo terkenal. Pedagang itu berbisik didekat Bisma tanpa peduli kalau Bisma sebetulnya seorang aparat negara.

    "Mas, minumnya. Untuk menghilangkan suntuk juga ada," rayu pedagang asongan itu seraya memperlihatkan satu botol berlogo ternama dengan sembunyi-sembunyi.

    Bisma tidak menyahut, dia diam karena merasa marah sudah ditawari minuman yang efeknya bisa saja tidak sadarkan diri atau mabuk.

    Pedagang itu belum menyerah, dia masih berusaha merayu Bisma. Bisma mengisap rokoknya dalam sembari matanya menatap pedagang asongan itu dengan garang. Pedagang asongan itu sepertinya takut, lalu melangkah untuk menghindari Bisma. Namun, pundak pedagang asongan itu terlanjur dipegang Bisma dengan kuat.

    "Satu sloki saja, aku bayar sebotol penuh," ucap Bisma sembari melepaskan bahu si pedagang. Pedagang asongan nakal itu tersenyum girang, akan tetapi dia masih belum yakin.

    "Uangnya dulu, Mas. Aku tidak mau kena tipu, ini mahal," ujarnya takut. Sesuai kesanggupannya, Bisma segera merogoh dompetnya di dalam saku celana lalu mengeluarkan dua lembar uang merah untuk satu sloki minuman itu.

    Pedagang itu buru-buru mengambil uang yang disodorkan Bisma, lalu dengan sigap ia membuka botol bersegel itu dan menuangkan isinya ke dalam gelas kecil khusus. Satu gelas kecil itu artinya satu sloki. Bisma menerima gelas kecil itu, lalu meneguknya sekali teguk.

    Reaksi yang ditimbulkan sungguh diluar dugaan ternyata hanya satu sloki saja, tenggorokan Bisma seakan terbakar dan kepalanya langsung berputar.

    Pedangan itu masih menunggu takutnya Bisma mau lagi. Tapi tangan Bisma segera terangkat seraya berkata.

    "Minta satu air mineral," ujarnya. Pedagang itu tidak membantah, toh uang dari Bisma saja sudah cukup membayar satu botol minuman beralkohol tadi. Bisma segera membuka botol air mineral lalu meneguknya, ia segera menetralisir rasa tidak enak di dalam tenggoroakannya akibat minuman beralkohol tadi.

   "Pergilah, dan jangan kau jual lagi minuman laknat itu lagi di sini. Kalau tidak, maka kau akan kupenjarakan. Aku seorang anggota dan aku bisa saja melaporkanmu karena kau merupakan salah satu penjual asongan yang curang," ancam Bisma seraya mengacungkan tangannya memperlihatkan sebuah kartu anggota.

    Kini giliran pedagang asongan itu yang lari terbirit sambil ngedumel, "Huh, bilang saja tidak kuat minum, pakai ngancam segala. Baru satu sloki sudah soak dan pening kepala, apalagi kalau habis satu botol ini. Ahaha, tapi lumayan. Untung saja aku menawarkan orang tadi, jadinya hari ini aku untung banyak. Bisa aku jual lagi di tempat lain minuman ini," girangnya sembari berlalu dari tempat itu karena takut ancaman Bisma.

    Karena memang tidak terbiasa, Bisma merasakan kepalanya sangat pening. Air mineral yang ia jadikan penawar saja, tidak cukup meredam sakit kepala yang ia rasakan akibat minuman tadi.

    Bisma memutuskan untuk segera pulang, daripada sakit kepalanya tambah jadi. Dengan keadaan pening, perlahan Bisma menjalankan mobilnya.Beruntung tadi Bisma hanya satu sloki minum-minuman itu, yang efeknya langsung membuat kepalanya begitu berat.

    "Sialan, mau-maunya aku tergoda minuman itu. Ini sangat tidak enak, kepalaku berat dan sakit. Tapi, aku harus tiba di rumah dengan selamat sebelum aku tidak sadar di jalanan," rutuknya seraya berharap mobilnya segera tiba di depan gerbang rumah.

***

    Jam dinding sudah menuju ke angka sebelas malam. Haura baru saja menyelesaikan tugas kampusnya. Sesuai dengan jurusan yang ia ambil yaitu Fashion Design, tugas Haura kali ini mendesain sebuah gaun pesta yang unik dan dengan detil yang tidak norak. Karena sudah terbiasa bekerja di butik dan disuguhkan dengan gaun-gaun dari berbagai Designer, Haura tidak merasa sulit lagi menyelesaikan tugas dari Dosen di kampusnya kali ini.

    "Selesai, semoga besok Dosennya suka," harap Haura dengan hati senang. "Ya, ampun, sudah jam sebelas malam rupanya. Lama juga aku menyelesaikan tugas tadi. Aku harus segera tidur agar besok pergi ke kampus tidak telat," gumamnya lagi seraya membereskan buku-buku dan hasil tugasnya di atas meja menjadi tertata rapi.

    "Hoammm."

    Haura mulai ngantuk dan menguap, ia berdiri menghampiri pintu. Sebelum tidur ia harus membuang urin dalam kantong kemihnya yang sudah berjejal ingin keluar. Karena di dalam kamarnya tidak ada kamar mandi di dalam, terpaksa Haura buang air kecil ke kamar mandi dekat dapur.

    Perlahan ia menuju kamar mandi itu dan memmbuka pintu kamar mandi dengan pelan. Haura tidak ingin mengganggu tidur Bi Mimin, ART rumah ini.

    Selesai membuang urinnya, Haura kembali menuju kamar. Belum sampai kakinya menuju kamar, Haura mendengar suara pintu depan dibuka. Dengan penasaran Haura melangkah pelan menuju ruang tamu dan melihat siapakah yang datang.

    "Apakah itu Kak Bisma? Aku harus pastikan apakah itu Kak Bisma atau bukan, kalau bukan, aku harus siap-siap berteriak membangunkan seisi rumah ini," ujarnya pelan seraya masih berjalan mengendap menuju ruang tamu yang pintunya mulai dibuka.

    Tiba di sana, Haura cukup lega karena orang yang membuka pintu itu adalah Bisma. Haura menyapa Bisma untuk sekedar basa-basi.

    "Kak Bisma, baru pulang Kak? Tadi Haura pikir takutnya orang lain yang buka pintu, makanya Haura menghampiri ke sini. Ya udah, Haura permisi, ya, Kak," ucap Haura seraya membalikkan badan lalu melangkah meninggalkan Bisma.

    "Tunggu!" tahannya seraya mencekal pundak Haura kuat sehingga Haura menahan langkahnya di sana.

Terpopuler

Comments

Murni Zain

Murni Zain

𝚂𝚎𝚖𝚊𝚗𝚐𝚊𝚝 𝙱𝚒𝚜𝚖𝚊.. 𝙳 𝚝𝚘𝚕𝚊𝚔 𝚙𝚎𝚛𝚎𝚖𝚙𝚞𝚊𝚗 𝚒𝚗𝚜𝚢𝚊𝚊𝚕𝚕𝚊𝚑 𝚊𝚔𝚗 𝚍𝚙𝚝 𝚢𝚐 𝚕𝚋𝚑 𝚍𝚛 𝚒𝚝𝚞.

2024-12-31

1

Merica Bubuk

Merica Bubuk

Gara² sesloki minuman, dia pulang smpoyongan 😁😁

2025-02-13

1

Merica Bubuk

Merica Bubuk

🤣🤣🤣

2025-02-13

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Patah Hati
2 Bab 2 Kopi Buatan Haura
3 Bab 3 Pertemuan Yang Membuat Bisma Hancur Sehancur-Hancurnya
4 Bab 4 Bisma Frustasi
5 Bab 5 Gara-gara Satu Sloki
6 Bab 6 Kabar dr. Jelita
7 Bab 7 Kekecewaan Bisma
8 Bab 8 Ancaman Bisma
9 Bab 9 Mendatangi Bekas Calon Besan
10 Bab 10 Menjodohkan Haura Dengan Bisma
11 Bab 11 Menikahlah Dengan Haura!
12 Bab 12 Bagai Dihantam Gada
13 Bab 13 Pengajuan Bisma Ditolak
14 Bab 14 Pertemuan Di Luar Kesepakatan
15 Bab 15 Bisma Kecelakaan
16 Bab 16 Mengobati Bisma
17 Bab 17 Haura Mengikuti Lomba
18 Ban 18 Haura Pulang Terlambat
19 Bab 19 Adegan Alami dan Live
20 Bab 20 Haura Tidak Sepadan
21 Bab 21 Ada Yang Bingung
22 Bab 22 Bisma Tidur di Kamar Haura
23 Bab 23 Gaun Rancangan Haura dikontrak
24 Bab 24 Kejutan Untuk Bisma
25 Bab 25 Penantian Bisma
26 Bab 26 Harus Menikah
27 Bab 27 Menemui Ayah
28 Bab 28 Kesedihan Haura
29 Bab 29 Misi Perjodohan Digelar Lagi
30 Bab 30 Misi Berhasil
31 Bab 31 Bisma Bingung
32 Bab 32 Salah Paham
33 Bab 33 KTP Untuk Pengajuan Nikah
34 Bab 34 Mengajukan Nikah
35 Bab 35 Haura Linglung
36 Bab 36 Harus Menghadap Komandan
37 Bab 37 Adiknya Danton?
38 Bab 38 Haura Siap Mencintai Kak Bisma
39 Bab 39 Jawaban Cerdas Haura
40 Bab 40 Godaan Teman Kantor
41 Bab 41 Jangan Jadikan Haura Pelarian
42 Bab 42 Permintaan Bu Sindi Pada Haura
43 Bab 43 Bisma Ke Kampus Haura
44 Bab 44 Nomer Bisma Belum Disimpan
45 Bab 45 Udang Di Balik Batu
46 Bab 46 Perjumpaan Bisma dan Jelita
47 Bab 47 Dokter Jelita Menemui Haura
48 Bab 48 Hinaan Dokter Jelita
49 Bab 49 Kita Akan Menikah
50 Bab 50 Makan Malam Bersama
51 Bab 51 Bertemu Jelita
52 Bab 52 Penyesalan Dokter Jelita
53 Bab 53 Bara Rindu Ketika Hujan Lebat
54 Bab 54 Petir
55 Bab 55 Perintah Komandan
56 Bab 56 Pernikahan
57 Bab 57 Pedang Pora dan Pesona Haura
58 Bab 58 Masih Sibuk Menjelang Keberangkatan
59 Bab 59 Halangan
60 Bab 60 Kamu Bisa Pijat?
61 Bab 61 Jaga Hati
62 Bab 62 Keberangkatan Bisma
63 Bab 63 Gundah
64 Bab 64 Ada Apa Dengan Ayah Haura?
65 Bab 65 Meninggal
66 Bab 66 Provokasi dokter Jelita
67 Bab 67 Salah Sangka Bisma
68 Bab 68 Perkembangan Bagus Devaryo
69 Bab 69 Membujuk Devaryo
70 Bab 70 Menjelang Kepulangan Bisma
71 Bab 71 Akhirnya Kembali Dengan Selamat
72 Bab 72 Jamu Stamina
73 Bab 73 Malam Pertama
74 Bab 74 Sudah Sebulan Menikah Malah Lupa
75 Bab 75 Bisma Kembali Cemburu
76 Bab 76 Kejutan
77 Bab 77 Ucapan Ulang Tahun Dari Keluarga Mertua
78 Bab 78 Pesan WA dari dokter Jelita
79 Bab 79 I Love You Kak Bisma
80 Bab 80 Ada Yang Retak
81 Bab 81 Ijin Bisma
82 Bab 82 Kontrak Kerja Enam Bulan
83 Bab 83 Gaun Rancangan Haura
84 Bab 84 Berita Haura di Media Online
85 Bab 85 Peresmian Rumah Mode Haura
86 Bab 86 Setelah Lulus, Ditodong Punya Anak
87 Bab 87 Kedatangan Tamu Kenamaan
88 Bab 88 Haura Merindukan Bisma
89 Bab 89 Bulan Madu di Rumah Orang Tua
90 Bab 90 Garis Dua
91 Bab 91 Kado Untuk Bisma
92 Bab 92 Akhir Yang Bahagia (END)
93 Karya Baru Bab 1 Melepas Kepergian Satgas
94 Bab 94 Penyesalan, Pernikahan(Kisah Jelita dan Danki Erwan) End
Episodes

Updated 94 Episodes

1
Bab 1 Patah Hati
2
Bab 2 Kopi Buatan Haura
3
Bab 3 Pertemuan Yang Membuat Bisma Hancur Sehancur-Hancurnya
4
Bab 4 Bisma Frustasi
5
Bab 5 Gara-gara Satu Sloki
6
Bab 6 Kabar dr. Jelita
7
Bab 7 Kekecewaan Bisma
8
Bab 8 Ancaman Bisma
9
Bab 9 Mendatangi Bekas Calon Besan
10
Bab 10 Menjodohkan Haura Dengan Bisma
11
Bab 11 Menikahlah Dengan Haura!
12
Bab 12 Bagai Dihantam Gada
13
Bab 13 Pengajuan Bisma Ditolak
14
Bab 14 Pertemuan Di Luar Kesepakatan
15
Bab 15 Bisma Kecelakaan
16
Bab 16 Mengobati Bisma
17
Bab 17 Haura Mengikuti Lomba
18
Ban 18 Haura Pulang Terlambat
19
Bab 19 Adegan Alami dan Live
20
Bab 20 Haura Tidak Sepadan
21
Bab 21 Ada Yang Bingung
22
Bab 22 Bisma Tidur di Kamar Haura
23
Bab 23 Gaun Rancangan Haura dikontrak
24
Bab 24 Kejutan Untuk Bisma
25
Bab 25 Penantian Bisma
26
Bab 26 Harus Menikah
27
Bab 27 Menemui Ayah
28
Bab 28 Kesedihan Haura
29
Bab 29 Misi Perjodohan Digelar Lagi
30
Bab 30 Misi Berhasil
31
Bab 31 Bisma Bingung
32
Bab 32 Salah Paham
33
Bab 33 KTP Untuk Pengajuan Nikah
34
Bab 34 Mengajukan Nikah
35
Bab 35 Haura Linglung
36
Bab 36 Harus Menghadap Komandan
37
Bab 37 Adiknya Danton?
38
Bab 38 Haura Siap Mencintai Kak Bisma
39
Bab 39 Jawaban Cerdas Haura
40
Bab 40 Godaan Teman Kantor
41
Bab 41 Jangan Jadikan Haura Pelarian
42
Bab 42 Permintaan Bu Sindi Pada Haura
43
Bab 43 Bisma Ke Kampus Haura
44
Bab 44 Nomer Bisma Belum Disimpan
45
Bab 45 Udang Di Balik Batu
46
Bab 46 Perjumpaan Bisma dan Jelita
47
Bab 47 Dokter Jelita Menemui Haura
48
Bab 48 Hinaan Dokter Jelita
49
Bab 49 Kita Akan Menikah
50
Bab 50 Makan Malam Bersama
51
Bab 51 Bertemu Jelita
52
Bab 52 Penyesalan Dokter Jelita
53
Bab 53 Bara Rindu Ketika Hujan Lebat
54
Bab 54 Petir
55
Bab 55 Perintah Komandan
56
Bab 56 Pernikahan
57
Bab 57 Pedang Pora dan Pesona Haura
58
Bab 58 Masih Sibuk Menjelang Keberangkatan
59
Bab 59 Halangan
60
Bab 60 Kamu Bisa Pijat?
61
Bab 61 Jaga Hati
62
Bab 62 Keberangkatan Bisma
63
Bab 63 Gundah
64
Bab 64 Ada Apa Dengan Ayah Haura?
65
Bab 65 Meninggal
66
Bab 66 Provokasi dokter Jelita
67
Bab 67 Salah Sangka Bisma
68
Bab 68 Perkembangan Bagus Devaryo
69
Bab 69 Membujuk Devaryo
70
Bab 70 Menjelang Kepulangan Bisma
71
Bab 71 Akhirnya Kembali Dengan Selamat
72
Bab 72 Jamu Stamina
73
Bab 73 Malam Pertama
74
Bab 74 Sudah Sebulan Menikah Malah Lupa
75
Bab 75 Bisma Kembali Cemburu
76
Bab 76 Kejutan
77
Bab 77 Ucapan Ulang Tahun Dari Keluarga Mertua
78
Bab 78 Pesan WA dari dokter Jelita
79
Bab 79 I Love You Kak Bisma
80
Bab 80 Ada Yang Retak
81
Bab 81 Ijin Bisma
82
Bab 82 Kontrak Kerja Enam Bulan
83
Bab 83 Gaun Rancangan Haura
84
Bab 84 Berita Haura di Media Online
85
Bab 85 Peresmian Rumah Mode Haura
86
Bab 86 Setelah Lulus, Ditodong Punya Anak
87
Bab 87 Kedatangan Tamu Kenamaan
88
Bab 88 Haura Merindukan Bisma
89
Bab 89 Bulan Madu di Rumah Orang Tua
90
Bab 90 Garis Dua
91
Bab 91 Kado Untuk Bisma
92
Bab 92 Akhir Yang Bahagia (END)
93
Karya Baru Bab 1 Melepas Kepergian Satgas
94
Bab 94 Penyesalan, Pernikahan(Kisah Jelita dan Danki Erwan) End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!