Bab 2 Kopi Buatan Haura

    "Haura kemarilah!" Bu Sindi memanggil Haura yang saat ini sedang berada di dapur bersama salah satu pembantu di rumah ini.

    "Ya, Ma," sahut Haura menyebut mama terhadap Bu Sindi seperti permintaan wanita paruh baya itu lima tahun lalu. Kasih sayangnya sama seperti kasih sayang yang ia berikan terhadap ketiga anak-anaknya.

    "Kamu pasti bisa membuat kopi yang enak untuk kakakmu. Kakakmu baru pulang, dan sepertinya hari ini akan nginap di rumah ini. Jadi, tolong kamu buatkan kopi untuknya, sekalian kamu akrabkan diri dengannya. Kalian jarang ketemu, tentunya harus lebih kenal dan akrab satu sama lain. Ayolah," titah Bu Sindi seraya mendorong pelan tubuh Haura ke pantry di dapur itu.

    "Baik, Ma." Haura patuh, lalu segera melaksanakan titah sang mama. Haura sudah tidak bingung lagi bagaimana membuat kopi yang enak dan pas seperti apa yang dikatakan mama angkatnya tadi. Sebab dia pernah pengalaman menjadi seorang Bartender saat sekolah SMA dulu. Saat itu Haura sekolah sambil bekerja paruh waktu sepulang sekolah, padahal saat itu dirinya sudah diangkat sebagai anak dari keluarga Pak Saka. Akan tetapi, Haura tidak mau terlalu keenakan menerima kasih sayang dan biaya hidup yang diberikan dengan tulus oleh kedua orang tua angkatnya itu.

    "Haura ingin mandiri, Ma. Terlebih, Haura ingin punya pengalaman bekerja setelah lulus sekolah nanti," alasannya kala itu. Bu Sindi dan Pak Saka tidak bisa melarang Haura untuk tidak mencoba hal yang ingin digelutinya, selama itu positif pada akhirnya mereka membiarkan Haura bekerja atas dasar kemauannya.

    Dan kini setelah lulus SMA, Haura punya keinginan yang tinggi, yaitu ingin menjadi Desainer ternama. Seperti pekerjaan paruh waktu yang kini digelutinya, yakni bekerja di salah satu butik milik Bu Sindi sendiri. Haura bekerja paruh waktu di butik Bu Sindi atas kemauan sendiri, sambil bekerja, ia belajar mendesain gaun-gaun.

    Wangi kopi sudah menguar di udara, Haura telah siap membuat kopi itu. Lalu ia segera membawa kopi itu ke ruang keluarga di mana di sana ada Bisma dan Pak Saka papa angkatnya.

    Haura tiba di sana, sikapnya masih malu-malu bertemu tatap dengan kakak angkatnya itu. Sebab dengan Bisma terbilang sangat jarang bertemu. Pernah bertemu, itupun hanya kali, saat dirinya mengantar kepergian Bisma tugas ke wilayah konflik Indonesia dan ketika kepulangan Bisma dari sana. Selebihnya, Haura kenal Bisma lewat cerita Bu Sindi maupun foto Bisma yang diperlihatkan. Beda dengan kedua saudara Bisma, Arani dan Birawa, mereka beberapa kali bertemu dan sudah lumayan dekat, bahkan mereka sudah menganggap Haura seperti adiknya sendiri.

    "Kak Bisma, kopinya, Kak." Haura meletakkan kopi itu di meja di depan Bisma. Cangkir itu diletakkan bersama tatakannya, saat menapaki meja, air kopi itu sedikit tumpah dan membasahi tatakan. Bisma dan kedua orang tuanya kompak memusatkan perhatian pada kopi yang diletakkan Haura tadi.

    "Ada apa dengan Haura?" Hati kecil Bu Sindi menjadi heran, tapi semua pikiran itu kembali normal. Wajar kopi di dalam cangkir itu tumpah, sepertinya Haura memang gugup bertemu dengan Bisma yang pada saat ini tatapnya bagai orang yang sedang marah, imbas dari kesedihan yang ditorehkan dr. Jelita yang memutuskan hubungan pertunangan terhadap Bisma.

    Setelah meletakkan cangkir itu, Haura perlahan mendekat dan menyalami tangan Bisma dengan cukup menangkupkan kedua tangannya di depan dada.

    Sejenak Bisma merasa keder, ketika ia sudah siap menerima uluran tangan gadis itu, ternyata Haura hanya menangkup kedua tangannya di dada.

    "Sok cantik dan terlalu percaya diri," cibir Bisma dalam hati. Entah kenapa, Bisma kurang suka dengan sikap Haura barusan.

    "Kak Bisma, segera diminum kopinya selagi hangat," ujar Haura mempersilahkan. Bisma tidak menoleh atau menyahut, dia hanya menatap ke arah lain dengan pikiran masih kalut.

    "Coba kopi buatan adikmu, enak sekali dan pas. Kamu pasti akan ketagihan dengan kopi buatannya," timpal Pak Saka sembari beralih kepada Bisma. Koran yang sejak tadi dibawah pengawasannya, kini kembali diletakkan di meja.

    Bisma mulai meraih gagang cangkir dan membawanya dekat dadanya, wangi kopi arabika asli ini cukup menggoda seleranya. Perlahan Bisma mulai mendekatkan bibir cangkir itu ke mulutnya dan meneguk kopi itu.

    Bisma terlihat menikmati kopi buatan Haura, sesekali ia menghisap harum kopi itu oleh hidungnya. "Enak sekali kopi ini, rasanya pas," puji Bisma di dalam hati.

    "Bagaimana Bisma, enak bukan kopi buatan adik kamu?" sela Pak Saka sembari menatap ke arah Bisma.

    "Lumayan, Pa." Bisma menjawab tanpa mau mengatakan yang sebenarnya, lagipula itu tidak penting dibahas, hanya sebuah kopi saja.

    Acara minum kopi sore di ruang keluarga itu, kini berlalu. Haura kembali ke kamarnya. Kamar Haura berada di lantai bawah, dekat dengan ruang tengah yang hampir tidak terjamah, karena ruang tengah hanyalah ruang penghubung dengan ruangan lainnya seperti dapur, ruang tamu, dan ruang keluarga.

    Bisma memasuki kamarnya yang selalu ia singgahi jika sedang akan menginap saja. Di dalam kamar itu, ia termenung sembari mempermainkan cincin tunangan yang dikembalikan dr. Jelita siang tadi.

    Pikiran Bisma kacau kembali, ia tidak terima dengan perlakuan kekasihnya itu yang tiba-tiba memutuskan hubungan pertunangan secara tiba-tiba.

    "Lita, ijinkan malam ini aku menemuimu. Aku mohon, sekali ini saja," pinta Bisma di dalam saluran telpon. Tentu saja yang dia hubungi adalah dr. Jelita, Bisma ingin tahu lebih jelas apa alasan dr. Jelita memutuskan pertunangan itu.

    Di balik pintu kamar yang Bisma tempati, Bu Sindi ternyata sedang mengintip sang anak. Dia merasa iba dengan Bisma yang seperti memohon cinta terhadap dr. Jelita.

    "Kasihan Bisma, sampai patah hati seperti itu. Dia memang tidak cocok dengan Jelita yang egois dan terlalu mendiri. Aku harus menemukan pengganti Jelita agar Bisma tidak kecewa berlarut-larut," gumamnya sembari menyusun sebuah rencana. Ide ini muncul seketika dan menurutnya ini lebih baik untuk Bisma.

    "Tunggu kejutan mama, Bisma. Kamu akan mendapatkan pengganti Jelita jauh lebih baik dari dia, yang jelas perempuan satu ini tidak egois dan tahu tata krama dan sopan santun, serta sabar. Dia pasti cocol dengan kamu yang sedikit keras kepala," rencana Bu Sindi sembari tersenyum gembira. Bu Sindi berlalu dari balik pintu kamar Bisma.

    Malam ini setelah Isya, Bisma sudah menyiapkan diri. Tubuhnya sudah wangi dan rapi dengan kemeja kotak-kotak yang melekat di tubuhnya. Ketampanan Bisma yang paripurna semakin terlihat meskipun ia tidak sedang menggunakan seragam TNI nya.

    "Kak Bisma, kata mama dan papa segera turun, kita makan malam bersama," beritahu Haura yang tiba-tiba sudah berada tepat di hadapan Bisma yang baru saja keluar dari kamarnya.

Terpopuler

Comments

Murni Zain

Murni Zain

ceritanya bagus.. 💪👍

2024-12-31

2

Titik Sofiah

Titik Sofiah

lanjut lanjut Thor

2024-11-24

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Patah Hati
2 Bab 2 Kopi Buatan Haura
3 Bab 3 Pertemuan Yang Membuat Bisma Hancur Sehancur-Hancurnya
4 Bab 4 Bisma Frustasi
5 Bab 5 Gara-gara Satu Sloki
6 Bab 6 Kabar dr. Jelita
7 Bab 7 Kekecewaan Bisma
8 Bab 8 Ancaman Bisma
9 Bab 9 Mendatangi Bekas Calon Besan
10 Bab 10 Menjodohkan Haura Dengan Bisma
11 Bab 11 Menikahlah Dengan Haura!
12 Bab 12 Bagai Dihantam Gada
13 Bab 13 Pengajuan Bisma Ditolak
14 Bab 14 Pertemuan Di Luar Kesepakatan
15 Bab 15 Bisma Kecelakaan
16 Bab 16 Mengobati Bisma
17 Bab 17 Haura Mengikuti Lomba
18 Ban 18 Haura Pulang Terlambat
19 Bab 19 Adegan Alami dan Live
20 Bab 20 Haura Tidak Sepadan
21 Bab 21 Ada Yang Bingung
22 Bab 22 Bisma Tidur di Kamar Haura
23 Bab 23 Gaun Rancangan Haura dikontrak
24 Bab 24 Kejutan Untuk Bisma
25 Bab 25 Penantian Bisma
26 Bab 26 Harus Menikah
27 Bab 27 Menemui Ayah
28 Bab 28 Kesedihan Haura
29 Bab 29 Misi Perjodohan Digelar Lagi
30 Bab 30 Misi Berhasil
31 Bab 31 Bisma Bingung
32 Bab 32 Salah Paham
33 Bab 33 KTP Untuk Pengajuan Nikah
34 Bab 34 Mengajukan Nikah
35 Bab 35 Haura Linglung
36 Bab 36 Harus Menghadap Komandan
37 Bab 37 Adiknya Danton?
38 Bab 38 Haura Siap Mencintai Kak Bisma
39 Bab 39 Jawaban Cerdas Haura
40 Bab 40 Godaan Teman Kantor
41 Bab 41 Jangan Jadikan Haura Pelarian
42 Bab 42 Permintaan Bu Sindi Pada Haura
43 Bab 43 Bisma Ke Kampus Haura
44 Bab 44 Nomer Bisma Belum Disimpan
45 Bab 45 Udang Di Balik Batu
46 Bab 46 Perjumpaan Bisma dan Jelita
47 Bab 47 Dokter Jelita Menemui Haura
48 Bab 48 Hinaan Dokter Jelita
49 Bab 49 Kita Akan Menikah
50 Bab 50 Makan Malam Bersama
51 Bab 51 Bertemu Jelita
52 Bab 52 Penyesalan Dokter Jelita
53 Bab 53 Bara Rindu Ketika Hujan Lebat
54 Bab 54 Petir
55 Bab 55 Perintah Komandan
56 Bab 56 Pernikahan
57 Bab 57 Pedang Pora dan Pesona Haura
58 Bab 58 Masih Sibuk Menjelang Keberangkatan
59 Bab 59 Halangan
60 Bab 60 Kamu Bisa Pijat?
61 Bab 61 Jaga Hati
62 Bab 62 Keberangkatan Bisma
63 Bab 63 Gundah
64 Bab 64 Ada Apa Dengan Ayah Haura?
65 Bab 65 Meninggal
66 Bab 66 Provokasi dokter Jelita
67 Bab 67 Salah Sangka Bisma
68 Bab 68 Perkembangan Bagus Devaryo
69 Bab 69 Membujuk Devaryo
70 Bab 70 Menjelang Kepulangan Bisma
71 Bab 71 Akhirnya Kembali Dengan Selamat
72 Bab 72 Jamu Stamina
73 Bab 73 Malam Pertama
74 Bab 74 Sudah Sebulan Menikah Malah Lupa
75 Bab 75 Bisma Kembali Cemburu
76 Bab 76 Kejutan
77 Bab 77 Ucapan Ulang Tahun Dari Keluarga Mertua
78 Bab 78 Pesan WA dari dokter Jelita
79 Bab 79 I Love You Kak Bisma
80 Bab 80 Ada Yang Retak
81 Bab 81 Ijin Bisma
82 Bab 82 Kontrak Kerja Enam Bulan
83 Bab 83 Gaun Rancangan Haura
84 Bab 84 Berita Haura di Media Online
85 Bab 85 Peresmian Rumah Mode Haura
86 Bab 86 Setelah Lulus, Ditodong Punya Anak
87 Bab 87 Kedatangan Tamu Kenamaan
88 Bab 88 Haura Merindukan Bisma
89 Bab 89 Bulan Madu di Rumah Orang Tua
90 Bab 90 Garis Dua
91 Bab 91 Kado Untuk Bisma
92 Bab 92 Akhir Yang Bahagia (END)
93 Karya Baru Bab 1 Melepas Kepergian Satgas
94 Bab 94 Penyesalan, Pernikahan(Kisah Jelita dan Danki Erwan) End
Episodes

Updated 94 Episodes

1
Bab 1 Patah Hati
2
Bab 2 Kopi Buatan Haura
3
Bab 3 Pertemuan Yang Membuat Bisma Hancur Sehancur-Hancurnya
4
Bab 4 Bisma Frustasi
5
Bab 5 Gara-gara Satu Sloki
6
Bab 6 Kabar dr. Jelita
7
Bab 7 Kekecewaan Bisma
8
Bab 8 Ancaman Bisma
9
Bab 9 Mendatangi Bekas Calon Besan
10
Bab 10 Menjodohkan Haura Dengan Bisma
11
Bab 11 Menikahlah Dengan Haura!
12
Bab 12 Bagai Dihantam Gada
13
Bab 13 Pengajuan Bisma Ditolak
14
Bab 14 Pertemuan Di Luar Kesepakatan
15
Bab 15 Bisma Kecelakaan
16
Bab 16 Mengobati Bisma
17
Bab 17 Haura Mengikuti Lomba
18
Ban 18 Haura Pulang Terlambat
19
Bab 19 Adegan Alami dan Live
20
Bab 20 Haura Tidak Sepadan
21
Bab 21 Ada Yang Bingung
22
Bab 22 Bisma Tidur di Kamar Haura
23
Bab 23 Gaun Rancangan Haura dikontrak
24
Bab 24 Kejutan Untuk Bisma
25
Bab 25 Penantian Bisma
26
Bab 26 Harus Menikah
27
Bab 27 Menemui Ayah
28
Bab 28 Kesedihan Haura
29
Bab 29 Misi Perjodohan Digelar Lagi
30
Bab 30 Misi Berhasil
31
Bab 31 Bisma Bingung
32
Bab 32 Salah Paham
33
Bab 33 KTP Untuk Pengajuan Nikah
34
Bab 34 Mengajukan Nikah
35
Bab 35 Haura Linglung
36
Bab 36 Harus Menghadap Komandan
37
Bab 37 Adiknya Danton?
38
Bab 38 Haura Siap Mencintai Kak Bisma
39
Bab 39 Jawaban Cerdas Haura
40
Bab 40 Godaan Teman Kantor
41
Bab 41 Jangan Jadikan Haura Pelarian
42
Bab 42 Permintaan Bu Sindi Pada Haura
43
Bab 43 Bisma Ke Kampus Haura
44
Bab 44 Nomer Bisma Belum Disimpan
45
Bab 45 Udang Di Balik Batu
46
Bab 46 Perjumpaan Bisma dan Jelita
47
Bab 47 Dokter Jelita Menemui Haura
48
Bab 48 Hinaan Dokter Jelita
49
Bab 49 Kita Akan Menikah
50
Bab 50 Makan Malam Bersama
51
Bab 51 Bertemu Jelita
52
Bab 52 Penyesalan Dokter Jelita
53
Bab 53 Bara Rindu Ketika Hujan Lebat
54
Bab 54 Petir
55
Bab 55 Perintah Komandan
56
Bab 56 Pernikahan
57
Bab 57 Pedang Pora dan Pesona Haura
58
Bab 58 Masih Sibuk Menjelang Keberangkatan
59
Bab 59 Halangan
60
Bab 60 Kamu Bisa Pijat?
61
Bab 61 Jaga Hati
62
Bab 62 Keberangkatan Bisma
63
Bab 63 Gundah
64
Bab 64 Ada Apa Dengan Ayah Haura?
65
Bab 65 Meninggal
66
Bab 66 Provokasi dokter Jelita
67
Bab 67 Salah Sangka Bisma
68
Bab 68 Perkembangan Bagus Devaryo
69
Bab 69 Membujuk Devaryo
70
Bab 70 Menjelang Kepulangan Bisma
71
Bab 71 Akhirnya Kembali Dengan Selamat
72
Bab 72 Jamu Stamina
73
Bab 73 Malam Pertama
74
Bab 74 Sudah Sebulan Menikah Malah Lupa
75
Bab 75 Bisma Kembali Cemburu
76
Bab 76 Kejutan
77
Bab 77 Ucapan Ulang Tahun Dari Keluarga Mertua
78
Bab 78 Pesan WA dari dokter Jelita
79
Bab 79 I Love You Kak Bisma
80
Bab 80 Ada Yang Retak
81
Bab 81 Ijin Bisma
82
Bab 82 Kontrak Kerja Enam Bulan
83
Bab 83 Gaun Rancangan Haura
84
Bab 84 Berita Haura di Media Online
85
Bab 85 Peresmian Rumah Mode Haura
86
Bab 86 Setelah Lulus, Ditodong Punya Anak
87
Bab 87 Kedatangan Tamu Kenamaan
88
Bab 88 Haura Merindukan Bisma
89
Bab 89 Bulan Madu di Rumah Orang Tua
90
Bab 90 Garis Dua
91
Bab 91 Kado Untuk Bisma
92
Bab 92 Akhir Yang Bahagia (END)
93
Karya Baru Bab 1 Melepas Kepergian Satgas
94
Bab 94 Penyesalan, Pernikahan(Kisah Jelita dan Danki Erwan) End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!