Setelah selesai makan, Li Mei dan Anggita keluarga perempuan membereskan meja makan dengan cekatan. Suasana rumah yang sederhana namun hangat membuatnya merasa bersyukur.
Ibu Li Mei dan kedua iparnya masih sibuk merapikan barang-barang di dapur. Kedua adik dan ketiga keponakannya, duduk di lantai sibuk bermain sambil memakan permen yang Li Mei berikan tadi.
“Baiklah” kata Li Mei sambil menarik napas panjang setelah memastikan semuanya sudah rapi. “Kumpul semua, Li Mei ingin memberikan laporan hasil jualan hari ini”.
Ayah dan ibu Li Mei saling bertukar pandang, lalu mendekat ke Li Mei. Kedua kakak iparnya juga mulai mendekati Li Mei, sedangkan adik dan ketiga keponakannya dengan cepat meninggalkan mainan dan manisan mereka dan ikut bergabung.
Li Mei mengeluarkan kantong kain kecil dari lengan baju nya. Ia membukanya perlahan, memperlihatkan sejumlah uang logam, perak dan beberapa lembar uang kertas.
Keluarga yang melihat uang di atas meja, ayok tentunya. Apakah uang penjualan buah rambutan sebanyak itu?
“Hari ini, aku berhasil menjual semua buah rambutan kita” kata Li Mei dengan senyum bangga. “Pasar di kota memang sangat ramai, seperti yang Ayah tanyakan tadi. Banyak orang datang, terutama karena sedang ada festival bulan purnama. Aku berhasil menjual buah rambutan".
Ayahnya mengangguk pelan “Bagus sekali,Mei'er. Tapi, barang-barang yang kau beli terlalu banyak, barang tersebut dari hasil penjualan rambutan?"
Li Mei menggeleng “Hasil buah rambutan 900 Wen. satu ikat dijual dengan 3 wen. ada 300 ikat buah rambutan total 900 Wen. Li Mei membeli daging ayam 2 kati, lemak daging domba 1 kati dan bebek 1 buah lalu menyimpannya dan menghabiskan 150 wen".
Sedangkan keluarga nya mendesah, kenapa Li Mei membeli banyak daging? Li Mei membuang uang dengan boros. Terus dari mana uang di atas meja yang banyak itu?.
"Li Mei Beras 5 kati, tepung putih 5 kati, tepung gandum 5 kati, minyak wijen 5 kati, garam 1 kati, 3 kati telur ayam menghabiskan 720 Wen. Sisa uang penjualan buah rambutan 30 wen" lanjutnya.
1 keluarga menatap Li Mei dengan tak percaya, anak dan adik iparnya terlalu boros.
"Lalu, kenapa uang ini jadi banyak mei'er?" tanya sang Ayah.
"Fuqin tau kan, Li Mei juga menjual tanaman obat?" tanya Li Mei pada Ayah nya. Sedangkan sang Ayah mengangguk diikuti semua keluarga.
"Hasil penjualan tanaman obat itu 350 wen, dan Li Mei menjual gingseng liar berusia 50 tahun mendapatkan 250 perak" ucap Li Mei senang.
Sekeluarga yang mendengar ucapan Li Mei menatapnya tak percaya.
"Begitu banyak" tanya sang Ayah.
Li Mei mengangguk "Dengan uang hasil penjualan obat herbal dan gingseng, Li Mei membeli beberapa kain untuk ibu dan kedua ipar membuat baju baru untuk kami semua termasuk kedua kakak laki-laki. Serta baju jadi 2 set untuk kita semua. Beberapa alat tulis, sepasang sepatu, dan biji bibit tanaman" ucap Li Mei mantap.
"Selain itu, aku masih menyisakan uang ini” katanya sambil menunjuk beberapa lembar uang yang tadi ia letakkannya di atas meja.
Mendengar itu, ibu Li Mei tersenyum lembut “Kau memang anak yang bijak, Li Mei. Muqin sangat bangga padamu. Dengan uang ini, kita bisa memenuhi kebutuhan selama beberapa tahun ke depan”.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 134 Episodes
Comments
RJ 💜🐑
semangat buat karyanya thor, aku suka sama ceritanya 😍😍💪🏻💪🏻
2024-11-29
0
Mitha yoga
Duitnya simpan sendiri... GAK perlu laporan... Kayak tentara aja pake lapor hhh
2024-12-25
2
Nita123
Syok tentunya🙏🏻☺️
2024-12-09
0