Saat menyantap rambutan, Li Mei mempunyai ide cemerlang. "Fuqin, bagaimana jika nanti sore kita panen buah rambutan dan dijual besok ke Kota. Kebetulan Mei juga ada perlu mau jual tanaman obat" Pinta Li Mei pada sang Ayah.
"Tapi Mei'er, dulu ada warga yang mengambil buah ini kenapa rasa nya pahit?" tanya sang Ayah.
"Oh itu mungkin yang mereka ambil saat buahnya belum matang, Fuqin. Warna hijau pantas ada rasa pahit, jika kuning itu tahap daging keras dan rasanya manis ada pahitnya. Nah jika warna nya merah seperti ini, itu tanda nya buah matang dagingnya berair, empuk dan pasti nya muaaaanis" ucap Li Mei memberi penjelasan pada keluarga nya. Sedangkan Adik dan Keponakannya asyik memakan buah rambutan.
"Hem begitu, baik lah. Bagaimana Muqin dan para menantu?" tanya sang Ayah.
Ibu dan menantunya saling memandang dan mengangguk tanda persetujuan "Baik, Muqin dan kakak ipar mu akan ikut juga panen buah ini nanti" ucap Ibu Li Mei.
"Baiklah kalau begitu, Fuqin, Muqin, kakak ipar, Mei akan istirahat dulu" ucap Li Mei dengan wajah lelah.
"iya nak. Tidurlah, nanti Muqin panggil saat kita akan berangkat" ucap Ibu Li dengan sayang.
Akhirnya selesai makan, Li Mei tidak membantu ibu dan kakak ipar nya. Semua acara bersih-bersih peralatan masak dan makan di kerjakan oleh 3 wanita dewasa itu. Sedangkan Li Mei memasuki kamar, mengunci nya dan memasuki Ruang Dimensi nya.
Ruang Dimensi
"Mari kita catat, apa saja yang akan kita beli besok untuk menanam dalam Ruang ini"
Li Mei mengambil pena, kertas dari dunia modern. "Sepertinya besok aku akan membeli peralatan menulis, agar tidak membuat orang zaman ini curiga"
"Baiklah mari kita buat daftar belanjaan untuk besok, sepertinya gingseng ini akan mendapatkan uang banyak"
Setelah menulis daftar belanjaan, Li Mei pergi menuju tanah tanam. Li Mei mengambil bibit gingseng, anakan rambutan, ubi jalar, kentang dan obat obatan langka lainnya satu persatu. Karena sisa nya akan ia jual besok untuk mendapatkan uang.
"Pengen makan pedes, disini apa sudah ada cabe ya?" tanya Li Mei pada diri sendiri.
"Besok saja lah ke toko bibit"
Setelah acara tanam dan penyiraman selesai, Li Mei menuju lantai dua untuk istirahat.
Sore harinya, Li Mei terbangun dari tidurnya setelah ada bunyi ketukan pintu dan suara Ibu nya. Akhirnya Li Mei keluar dari Ruang Dimensi nya, dan membuka pintu.
"Mei'er, ayo makan sore dulu sebelum berangkat panen buah aneh itu"
"Buah aneh?" ucap Li Mei berfikir "Oh, itu bukan buah aneh Muqin, namanya rambutan"
"Iya apalah itu, ayo cepat makan dulu"
"Baik Muqin" ucap Li Mei menuju kamar mandi cuci muka lalu ke tempat makan.
Selesai makan, semua keluarga membawa keranjang dibelakang punggung nya bersiap menaiki gunung. Di perjalanan, mereka disapa oleh para warga yang lewat.
"Aiyaaa, Tuan Li mau kemana? Sekeluarga bawa keranjang semua" tanya Nenek Hong.
"Eh Nenek Hong, saya dan keluarga akan naik gunung"
"Oh, iya sudah hati-hati"
"Terima kasih Nenek Hong" ucap Ibu Mei.
Mereka berjalan terus hingga sampai di pohon rambutan berada. Setelah sampai, keluarga Li tercengang dengan rambutan yang sangat lebat. Bukan hanya itu, bagaimana cara mengambil nya? Pohonnya sangat tinggi, fikir mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 134 Episodes
Comments
Yusrina Ina
teruskan semangat upnya author 💪💪💪 rajin-rajin upnya ya author supaya saya semangat baca 😁😁😁 novel mu author 🤗🤗🤗
2024-11-25
0
Yusrina Ina
teruskan semangat upnya author 💪💪💪 rajin-rajin upnya ya author supaya saya semangat baca 😁😁😁
2024-11-25
0
Itha Komian Tha
tenang saja ayãh handa,kau memiliki putri yg handal
2024-12-09
0