Bab Dua

"Dan kamu, Naura ... jaga ucapanmu! Jika kamu tak suka dengan kehadiran Weny, kamu bisa pergi atau mengurung diri di kamar. Jangan membuatku melakukan hal yang tak diinginkan!" seru Mas Alex dengan penuh penekanan.

Weny berjalan mendekati ibu mertua Naura. Keduanya tampak tersenyum puas mendengar Alex memarahi istrinya itu.

"Kenapa aku yang harus pergi? Ini rumahku! Jika pun ada yang harus pergi, itu bukan aku tapi dia ...!" seru Naura menunjuk ke arah Weny.

Melihat Naura menunjuk Weny, sepertinya ibu mertuanya tak terima. Dia lalu memprovokasi putranya agar semakin marah dengan istrinya itu.

"Sombong sekali kamu, Naura! Weny datang baik-baik, kenapa kamu begitu marah?" tanya Ibu Rini.

"Kamu jangan terlalu lunak dengan istrimu, Alex. Lihatlah, dia semakin kurang ajar. Tak ada sopannya dengan tamu. Buat malu saja, untung Weny wanita baik, sehingga tak merasa tersinggung," ucap Ibu Rini lagi.

Mendengar ucapan ibu mertuanya, membuat Naura tertawa. Ketiga orang itu menjadi heran.

"Baik hati atau tak tau malu?" tanya Naura sambil tersenyum.

"Ucapanmu makin kurang ajar!" seru Alex.

Tanpa di duga pria itu mengangkat tangannya dan melayangkan tamparan ke wajah sang istri. Naura yang tak siap dengan tindakan suaminya menjadi terkejut dan dia jadi terhuyung ke belakang, karena tamparan yang begitu kerasnya. Pipinya memerah dan terasa panas. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya.

Naura mencoba berdiri tegak kembali. Matanya memandangi wajah suaminya dengan tatapan tajam. Tak ada rasa takut terlihat dari raut muka sang istri.

"Kau menamparku, Mas? Apa kau lupa jika rumah ini milikku, jadi aku berhak menentukan siapa saja yang boleh masuk ke sini!" seru Naura.

"Rumah ini sudah menjadi milikku, apa kamu lupa? Nanti aku perlihatkan surat kuasa yang telah kau tanda tangani, di sana jelas tertulis jika kau telah memberikan rumah ini untukku!" balas Alex. Dia tersenyum licik.

Naura terkejut mendengar ucapan suaminya. Dia merasa tak pernah menandatangani surat kuasa tersebut. Pasti ada kesalahan atau suaminya memalsukan tanda tangannya. Dia berpikir kapan dan di mana dia pernah memberikan tanda tangannya.

Saat Naura terdiam dan merenung, suaminya mengajak Weny dan ibunya untuk makan malam di luar saja. Mereka bertiga pergi meninggalkan rumah dengan perasaan bahagia, berbeda dengan sang istri yang masih terus berpikir, kapan dia menyerahkan rumah ini untuk Alex.

Lama berpikir membuat kepala Naura menjadi sangat pusing. Dia lalu masuk ke kamar dan membaringkan tubuhnya kembali, tanpa peduli kemana perginya sang suami.

**

Semakin larut, Naura merasakan kepalanya makin pusing. Suaminya belum juga kembali. Begitu juga sang mertua. Akhirnya dia memutuskan mencoba tidur dan ke rumah sakit besok saja.

Naura memejamkan matanya walau terasa berat. Sekian lama akhirnya dia tertidur setelah memijat sendiri kepalanya. Hingga pagi menjelang.

Naura bangun ketika jam menunjukan pukul enam pagi. Dia melihat ke samping, tak ada suaminya. Dalam hatinya bertanya-tanya, kemana perginya Alex sehingga tak pulang.

Dengan kepala yang masih terasa pusing dan perut yang kram, Naura melangkah menuju kamar mandi. Dia ingin membersihkan tubuhnya.

Setengah jam kemudian Naura telah siap dan berjalan keluar kamar. Di dapur dia hanya melihat mertuanya sedang sarapan.

"Selamat Pagi, Bu. Mana Mas Alex, kenapa tak ada di kamar?" tanya Naura.

"Mana betah anakku dengan istri seperti kamu. Lebih baik cari pengganti. Sudah tak bisa urus badan, mulutnya kayak comberan lagi. Ngomong tak ada sopan santun!" ucap Ibu Rini.

Naura menarik napas. Dia mencoba menahan diri untuk tidak melawan ucapan mertuanya. Saat ini kepalanya terasa sangat pusing dan perutnya juga kram. Dia tak memiliki energi untuk membantah.

Ditariknya kursi dan mencoba untuk sarapan, tapi selera tak ada. Sehingga Naura memutuskan untuk pergi ke dokter saja. Dia ingin memeriksakan kandungannya yang telah menginjak usia tujuh bulan.

Saat akan pergi, ibu mertuanya melihat dengan tatapan tak suka. Dia langsung bertanya pada Naura.

"Mau kemana kau?" tanya Ibu Rini dengan ucapan kasar.

"Dari kemarin kepalaku terasa pusing. Aku mau periksa kandungan," jawab Naura.

"Periksa kandungan atau mau keluar buat foya-foya?" Kembali ibu mertuanya bertanya.

"Bu, aku benar-benar sakit kepala. Jika pun aku mau berfoya-foya Ibu mau apa? Apa Ibu lupa jika semua yang Ibu dan Mas Alex pakai dan gunakan adalah milikku. Kalian hanya numpang hidup!" seru Naura.

Naura sudah mencoba menahan emosi dan amarahnya, tapi ibu mertua selalu saja memancing. Sepertinya memang harus diingatkan lagi, bagaimana posisinya di rumah ini.

Wajah Ibu Rini tampak memerah menahan malu dan amarah. Dia langsung membentak.

"Apa kau lupa dengan apa yang anakku katakan! Jika rumah dan semua hartamu telah kau berikan pada Alex, jadi kau jangan sok dan belagu. Bisa saja nanti Alex mengusir mu!" teriak Ibu Rini.

Dada Naura terasa makin sesak mendengar ucapan Ibu mertuanya. Entah sejak kapan dia menyerahkan semua hartanya untuk sang suami. Dia bukanlah wanita bodoh. Jika pun benar, pasti Alex yang telah memalsukan semua. Dia harus menyelidiki semua ini, tapi terlebih dahulu dia ingin ke rumah sakit.

Tanpa pedulikan Ibu Rini, Naura terus berjalan menuju mobilnya. Tak peduli ibu mertua yang mengomel melihat kepergiannya.

Sampai di rumah sakit, Naura langsung menuju ruang dokter kandungan. Beruntung dia mengenal dokter itu. Dia merupakan sahabat ibunya dulu. Sehingga ada kemudahan baginya dalam periksa kandungan.

Naura di minta langsung masuk ke ruang kerja. Melihat kehadiran wanita itu, sang dokter langsung tersenyum.

"Selamat Pagi, Naura!" sapa Dokter Cindy.

"Selamat Pagi, Dokter," jawab Naura.

"Apa ada yang bisa Tante bantu?" tanya Dokter Cindy.

"Dua hari ini kepalaku terasa sangat pusing, Dokter. Aku takut ada masalah dengan kandungan ini," jawab Naura selanjutnya.

"Jangan panggil dokter. Seperti biasa saja, panggil tante. Kamu berbaringlah, biar Tante periksa."

Dokter Cindy lalu meminta Naura berbaring. Di bantu seorang perawat, dia menaiki ranjang. Setelah itu dokter mulai memeriksa. Dari tensi hingga detak jantung bayi. Setelah merasa cukup, dokter memintanya kembali duduk.

"Bagiamana Tante? Apa ada masalah dengan kandunganku?" tanya Naura tak sabar menunggu penjelasan dari dokter itu.

"Setelah melakukan pemeriksaan, ternyata tensi darahmu tetap tinggi. Sepertinya kamu mengalami pre-eklamsia."

"Apa itu pre-eklampsia, Tante?" tanya Naura dengan perasaan cemas.

"Pre-eklampsia adalah kondisi akibat dari tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol pada ibu hamil," jawab Dokter Cindy.

"Apakah itu berbahaya, Tante?" Kembali Naura bertanya dengan cemas.

"Bisa sangat berbahaya jika tidak ditangani dengan tepat dan cepat. Dan yang pasti kamu harus melahirkan secara sesar, tidak dianjurkan normal," jawab Dokter Cindy dengan suara hati-hati, mungkin tak ingin membuat Naura semakin cemas.

Terpopuler

Comments

Ilfa Yarni

Ilfa Yarni

waduh mang licik tu si Alex udah maju selangkah dia ya udah naura km menhilang dulu hbs itu km kembali rebut hartamu yg sudah di ambil alex

2024-11-14

1

Katherina Ajawaila

Katherina Ajawaila

wauu. keren nih spetnya ceritanya, hidup di antar suami dan mertua yg serakah. kere tapi numpang hidup, benalu x ya thour

2025-03-02

1

mams dimas

mams dimas

gara gara memelihara hama dirumah jadi kena tekanan darah tinggi,dan sayang nya hama hama itu sulit untuk dibasmi

2024-11-14

1

lihat semua
Episodes
1 Bab Satu
2 Bab Dua
3 Bab Tiga
4 Bab Empat
5 Bab Lima
6 Bab Enam
7 Bab Tujuh
8 Bab Delapan
9 Bab Sembilan
10 Bab Sepuluh
11 Bab Sebelas
12 Bab Dua Belas
13 Bab Tiga Belas
14 Bab Empat Belas
15 Bab Lima Belas
16 Bab Enam Belas
17 Bab Tujuh Belas
18 Bab Delapan Belas
19 Bab Sembilan Belas
20 Bab Dua Puluh
21 Bab Dua Puluh Satu
22 Bab Dua Puluh Dua
23 Bab Dua Puluh Tiga
24 Bab Dua Puluh Empat
25 Bab Dua Puluh Lima
26 Bab Dua Puluh Enam
27 Bab Dua Puluh Tujuh
28 Bab Dua Puluh Delapan
29 Bab Dua Puluh Sembilan
30 Bab Tiga Puluh
31 Bab Tiga Puluh Satu
32 Bab Tiga Puluh Dua
33 Bab Tiga Puluh Tiga
34 Bab Tiga Puluh Empat
35 Bab Tiga Puluh Lima
36 Bab Tiga Puluh Enam
37 Bab Tiga Puluh Tujuh
38 Bab Tiga Puluh Delapan
39 Bab Tiga Puluh Sembilan
40 Bab Empat Puluh
41 Bab Empat Puluh Satu
42 Bab Empat Puluh Dua
43 Bab Empat Puluh Tiga
44 Bab Empat Puluh Empat
45 Bab Empat Puluh Lima
46 Bab Empat Puluh Enam
47 Bab Empat Puluh Tujuh
48 Bab Empat Puluh Delapan
49 Bab Empat Puluh Sembilan
50 Bab Lima Puluh
51 Bab Lima Puluh Satu
52 Promo Novel Terbaru
53 Bab Lima Puluh Dua
54 Bab Lima Puluh Tiga
55 Bab Lima Puluh Empat
56 Bab Lima Puluh Lima
57 Bab Lima Puluh Enam
58 Bab Lima Puluh Tujuh
59 Bab Lima Puluh Delapan
60 Bab Lima Puluh Sembilan
61 Bab Enam Puluh
62 Bab Enam Puluh Satu
63 Bab Enam Puluh Dua
64 Bab Enam Puluh Tiga
65 Bab Enam Puluh Empat
66 Bab Enam Puluh Lima
67 Bab Enam Puluh Enam
68 Promo Novel Terbaru
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Bab Satu
2
Bab Dua
3
Bab Tiga
4
Bab Empat
5
Bab Lima
6
Bab Enam
7
Bab Tujuh
8
Bab Delapan
9
Bab Sembilan
10
Bab Sepuluh
11
Bab Sebelas
12
Bab Dua Belas
13
Bab Tiga Belas
14
Bab Empat Belas
15
Bab Lima Belas
16
Bab Enam Belas
17
Bab Tujuh Belas
18
Bab Delapan Belas
19
Bab Sembilan Belas
20
Bab Dua Puluh
21
Bab Dua Puluh Satu
22
Bab Dua Puluh Dua
23
Bab Dua Puluh Tiga
24
Bab Dua Puluh Empat
25
Bab Dua Puluh Lima
26
Bab Dua Puluh Enam
27
Bab Dua Puluh Tujuh
28
Bab Dua Puluh Delapan
29
Bab Dua Puluh Sembilan
30
Bab Tiga Puluh
31
Bab Tiga Puluh Satu
32
Bab Tiga Puluh Dua
33
Bab Tiga Puluh Tiga
34
Bab Tiga Puluh Empat
35
Bab Tiga Puluh Lima
36
Bab Tiga Puluh Enam
37
Bab Tiga Puluh Tujuh
38
Bab Tiga Puluh Delapan
39
Bab Tiga Puluh Sembilan
40
Bab Empat Puluh
41
Bab Empat Puluh Satu
42
Bab Empat Puluh Dua
43
Bab Empat Puluh Tiga
44
Bab Empat Puluh Empat
45
Bab Empat Puluh Lima
46
Bab Empat Puluh Enam
47
Bab Empat Puluh Tujuh
48
Bab Empat Puluh Delapan
49
Bab Empat Puluh Sembilan
50
Bab Lima Puluh
51
Bab Lima Puluh Satu
52
Promo Novel Terbaru
53
Bab Lima Puluh Dua
54
Bab Lima Puluh Tiga
55
Bab Lima Puluh Empat
56
Bab Lima Puluh Lima
57
Bab Lima Puluh Enam
58
Bab Lima Puluh Tujuh
59
Bab Lima Puluh Delapan
60
Bab Lima Puluh Sembilan
61
Bab Enam Puluh
62
Bab Enam Puluh Satu
63
Bab Enam Puluh Dua
64
Bab Enam Puluh Tiga
65
Bab Enam Puluh Empat
66
Bab Enam Puluh Lima
67
Bab Enam Puluh Enam
68
Promo Novel Terbaru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!