Hari ini adalah hari pertama Aruni akan bekerja di rumah Gionino. Dia pergi meninggalkan rumah lebih dulu dibandingkan sang anak. Tapi meski begitu Adrian tetap mengantar kepergian ibunya sampai ke ujung gang.
Setelah sang ibu mendapatkan ojek barulah dia kembali ke rumah. Jam setengah 5 pagi Aruni telah dalam perjalanan untuk bekerja.
Di usianya yang sudah tidak muda lagi tidak membuat Aruni jadi bermalas-malasan, dia juga masih memiliki cita-cita, yaitu melihat anaknya berhasil. Adrian lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang layak.
Tiba di tempat kerja Aruni langsung bertemu rekan sesama pelayan di bagian dapur. Berkutat memasak beberapa menu untuk sarapan sang Tuan.
Hari ini Aruni terlihat cukup berbeda, menggunakan seragam yang rapi, rambut di sanggul dan sedikit riasan di wajahnya.
Sudah lama tidak menggunakan make-up Aruni merasa canggung, jadi dia hanya memakai lipstik tipis dan juga bedak padat. Tapi seperti itu saja sudah membuatnya terlihat seperti orang lain.
Bukan Aruni yang selama ini hidup lusuh.
Selesai memasak mereka menyajikan semua makanan itu di meja makan, setelahnya mereka diwajibkan untuk meninggalkan dapur. Hanya bibi Jema lah yang akan mendampingi sang majikan untuk sarapan.
Aruni kini duduk di taman belakang, menikmati teh hangat miliknya dan menatap rumah megah tersebut. Dari tiap sudut dia memandangi rumah ini, semuanya terasa begitu mewah.
Mulai bermimpi jika suatu saat nanti dia dan Adrian bisa tinggal di rumah senyaman ini.
"Mbak Aruni, ayo dimakan gorengannya. Mumpung masih hangat," ucap salah satu rekan kerja. Selesai tugas mereka memang memiliki waktunya sendiri untuk beristirahat.
Tadi setelah memasak untuk sarapan sang majikan, Aruni dan yang lainnya juga sudah memasak untuk para pekerja di rumah ini. Mulai dari para pelayan di dalam rumah, penjaga keamanan dan juga tukang kebun.
"Iya Mbak, ini saya makan," jawab Aruni.
"Kenapa mbak tidak tinggal di paviliun saja? Enak daripada pulang pergi," tanya yang lain.
"Iya Mbak, tapi anak saya masih belum mau," jawab Aruni bohong dan hanya Adrian yang mampu dia jadikan sebagai alasan.
"Setelah ini kamu mau pulang?"
"Tidak Mbak, langsung siang nanti saja. Sekalian menjemput anak sekolah."
"Sudah besar kok dijemput-jemput," ledek yang lain, lalu sebagiannya tertawa dan Aruni pun ikut tersenyum menikmati pembicaraan tersebut.
Dulu saat Adrian masih kecil Aruni tidak memiliki waktu untuk mengantar ataupun menjemput Adrian sekolah. Aruni terlalu sibuk menjadi buruh di rumah-rumah warga. Terkadang justru Yanti yang lebih banyak mengantarkan anaknya ke sekolah.
Sekarang Adrian memang sudah dewasa, tapi Aruni merasa baru memiliki waktu untuk menjemput Adrian pulang sekolah.
Tidak apa-apa semuanya serba terlambat seperti ini, tapi sebisa mungkin Aruni akan terus memberikan yang terbaik untuk sang anak.
Sampai Adrian benar-benar bangga padanya, tak akan meninggalkannya apapun yang terjadi nanti.
Di meja makan Gionino menikmati semua hidangan yang tersaji dengan hati yang bahagia.
"Jadi ini masakan Aruni?" tanya Gio pada bibi Jema.
"Iya Tuan, khusus satu menu itu spesial masakan Aruni sendiri. Tidak ada campur tangan pelayan yang lain."
"Enak sekali."
"Tuan menyukainya?"
"Tentu saja."
"Haruskah saya memberi tahu Aruni?"
"Tidak perlu, dia akan tahu jika aku menyukai makanan ini setelah aku menghabiskannya," jawab Gio.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
enur .⚘🍀
apapun masakan ny ,, yang penting teh botol so*ro y Gio ..🤭 oh salah y ,,🤣 apapun masakan ny , yang penting Aruni yang buat ,, gtu khan Gi ..🤣 ni berasa gak asing dengan nama Bbi Jema ..🤭✌
2024-11-15
7
Ayna Adam
kok blm update kak?
2024-11-16
2
Cici Sri Yuniawati
tak apa meskipun terlambat karena itu semua sudah takdir🤧🤧kesabaran mu dalam menjalani kehidupan akan segera berbuah manis Aruni
2024-11-16
3