LFTL Bab 17 - Cantik Sekali

Detik itu juga Hendra langsung mendatangi rumah Yanti, dia tahu betul pasti janda satu itu mengetahui dimana keberadaan anak dan mantan istrinya.

Bagi Hendra, Aruni tidak berhak sedikitpun atas anak mereka. Setelah berpisah harusnya Adrian ikut dengannya, bukan dengan Aruni.

"Yanti!" panggil Hendra dengan suara yang tinggi.

Yanti mendengar pula panggilan itu dengan jelas, dia takut tapi masih coba untuk berpikir dengan tenang. Yanti tetap mengunci pintu tak ingin menemui pria gila itu sendirian.

Yanti justru lebih dulu menghubungi para tetangganya, bahkan pak RT dia minta untuk datang pula.

"YANTI!!" panggil Hendra lagi, "Keluar kamu!" titahnya seolah tak ingin ditolak.

Namun bukannya Yanti yang keluar lebih dulu, justru para warga yang menghampirinya.

"Hendra, apa yang kamu lakukan? jangan membuat keributan di sini!" tegas seorang warga, pria paruh baya yang cukup dihormati di daerah tempat tinggal ini.

Merasa sudah banyak temannya, barulah Yanti keluar dari dalam rumah.

Hendra tak memperdulikan teguran yang dia dapatkan, tatapannya langsung lurus ke arah Yanti.

"Kemana Aruni membawa Adrian pergi? Hah! Katakan!" bentak Hendra.

"Aku tidak tahu, untuk apa pula aku mencampuri urusan Aruni!" balas Yanti tak kalah membentak. "Jangan membuat keributan di rumahku! Aku tak akan segan-segan melaporkan mu ke polisi!" ancam Yanti pula dan di dukung oleh para warga.

Melihat perlawanan Yanti akhirnya Hendra tak berkutik, meski wajahnya masih nampak kesal akhirnya dia pergi meninggalkan rumah Yanti.

Pulang dengan kekesalan yang makin menggunung di dalam hati.

Hendra langsung menuju dapur dan melihat ada apa di sana. Masih ada sedikit beras, 3 butie telur dan bumbu seadanya.

"Aruni," gumam Hendra, rasanya ingin sekali menarik wanita itu untuk kembali ke rumah ini.

*

*

Malam bergulir dan pagi yang cerah akhirnya menyapa. Pagi-pagi sekali Aruni sudah memasak untuk Adrian, sementara anak laki-lakinya itu bertugas membereskan rumah.

Hari ini akan jadi tombak sejarah baru bagi Aruni, dia tidak akan keliling lagi untuk menawarkan jasanya, tapi Aruni akan jadi seorang pembantu di sebuah rumah.

Pekerjaan tetap yang tentu sangat Aruni syukuri. Hari ini Aruni diminta untuk datang jam 8 pagi.

Jadi ibu dan anak itu keluar bersama-sama untuk pergi ke tujuannya masing-masing.

Adrian ke sekolah, dan Aruni ke rumah di komplek perumahan Golden. Yang Aruni tahu itu adalah komplek perumahan mewah.

"Bu, semangat untuk hari ini, aku selalu mendoakan yang terbaik untuk Ibu," ucap Adrian setelah mereka tiba di persimpangan. Dari tempat ini mereka akan berpisah.

Adrian selalu berusaha memperlakukan ibunya sebaik mungkin, segala hal yang tak pernah diberikan oleh ayahnya ingin dia ganti. Perlakukan lembut, juga pujian yang tulus seperti ini.

Aruni tersenyum lebar, senyum kebahagiaan dari hati. Membuat wajahnya terlihat semakin berseri, apalagi di bawah sinar matahari pagi yang hangat.

"Terima kasih sayang, ibu juga selalu mendoakan yang terbaik untukmu."

Mereka berpelukan sejenak, lalu berpisah. Adrian harus naik bus karena sekarang jarak sekolahnya jadi lebih jauh, sementara Aruni menggunakan ojek sebab bus ataupun angkot tak ada yang menuju jalur komplek perumahan mewah tersebut.

Sedangkan Aruni tidak ingin datang terlambat, sebab itulah ojek jadi solusinya.

Setelah menempuh perjalanan beberapa saat akhirnya Aruni tiba di tempat tujuan, dia tidak hanya datang dengan tangan kosong, tapi juga brosur yang dia dapatkan kemarin.

Dengan bibir yang masih setia tersenyum, Aruni menatap rumah mewah ini. Wajah yang selama ini nampak penat hari ini terlihat jauh lebih baik.

Tiap kali tersenyum kerutan di wajahnya memang semakin nampak jelas, namun tetap saja tak mampu menghilang paras cantik yang Aruni miliki.

"Permisi Pak, hari ini saya diminta untuk datang ke sini," ucap Aruni, bicara pada penjaga keamanan di sana.

"Maaf, ibu siapa ya?"

"Saya Aruni, kemarin saya mendapatkan brosur ini," jelas Aruni, dia menyerahkan brosur di tangannya pada penjaga keamanan.

"Oh, iya Bu. Silahkan masuk." Sang penjaga keamanan segera membuka gerbang.

Penjaga keamanan itu tidak tahu bahwa wanita paruh baya ini memiliki hubungan dengan tuan Gionino. Dia bertindak hanya sesuai perintah kepala pelayan, katanya pagi ini memang akan ada orang yang datang untuk jadi pelayan baru di rumah ini.

Gio sengaja tidak memberi tahu semua pekerjanya agar Aruni merasa nyaman, tak terlalu diperlakukan spesial oleh semua orang.

Kelak Aruni akan benar-benar bekerja sesuai tanggung jawabnya di sini.

Penjaga keamanan itu memberi instruksi pada Aruni untuk masuk melalui pintu samping, kelak disana akan ada seseorang yang menyambutnya.

Aruni mengangguk patuh. Dia masuk melalui pintu samping rumah mewah tersebut, bukan melalui pintu utama.

"Permisi," ucap Aruni setelah di membuka pintu.

"Aruni?" tebak seorang wanita yang usianya nampak lebih tua dibandingkan Aruni. Bajunya rapi sekali, bak pemilik rumah megah ini.

"Benar Nyonya, mama saya Aruni."

"Silahkan masuk dan jangan memanggilku Nyonya, aku bukanlah nyonya rumah ini," jawabnya dengan ramah. "Namaku bibi Jema, kepala pelayan di rumah ini. Kamu bisa memanggil ku bibi."

Bibi Jema adalah satu-satunya orang di rumah ini yang mengetahui betapa istimewanya Aruni.

"Baik Bi."

"Ayo duduk lebih dulu, aku akan menjelaskan beberapa hal padamu."

Mereka duduk di sebuah sofa, ruangan nyaman ini ada dibagian dapur. Biasa digunakan untuk para pelayan beristirahat atau hanya sekedar untuk meminum teh.

"Kamu akan bekerja mulai besok, bukan hari ini," jelas bibi Jema, dia kemudian menjelaskan apa tugas dan tanggung jawab Aruni, yaitu bekerja di bagian dapur, memasak untuk sarapan, makan siang dan makan malam. Tugas Aruni hanya itu saja, dia tidak diizinkan untuk membersihkan rumah, tidak diizinkan untuk naik ke lantai 2.

Tempat yang boleh Aruni datangi benar-benar hanya di dapur ini.

Aruni tak banyak bertanya, dia mematuhi semua peraturan tersebut. Justru bersyukur disaat Aruni boleh pulang lebih dulu jika semua pekerjaannya sudah selesai.

Jam 6 pagi masak untuk sarapan, jam 11 siang masak untuk makan siang, jam 6 sore masak untuk makan malam.

Tuan di rumah ini menyukai makanan yang masih hangat, karena itulah makanan harus disajikan segera setelah di masak. Kelak Aruni juga tidak hanya sendiri, dia akan bekerja sama dengan tiga orang lainnya.

Setelah semua dijelaskan secara rinci, Aruni langsung mendapatkan baju seragamnya saat bekerja di sini. Baju yang akan jadi identitasnya bahwa dia adalah seorang pelayan.

"Sebelumnya aku tidak tahu apa ukuranmu, tapi cobalah lebih dulu seragam ini," ucap bibi Jema.

Dia membawa Aruni menuju paviliun Aruni di rumah ini, kelak Aruni dibebaskan ingin menginap atau pulang. Paviliun adalan rumah-rumah kecil yang diperuntukkan oleh semua pelayan, letaknya ada di belakang rumah utama.

"Baik, Bi," jawab Aruni, dia mengganti bajunya dan menggunakan seragam tersebut.

Seragam berwarna biru tua yang ternyata begitu pas di tubuhnya. Aruni tersenyum, seragam ini jauh lebih bagus dibandingkan bajunya tadi.

"Rambutmu juga harus diikat sanggul, ini adalah kewajiban," jelas bibi Jema.

Aruni menurutinya, dia menyisir dan mengikat rambutnya rapi lalu di sanggul sesuai ketentuan. Segala kebutuhannya pun telah tersedia di dalam kamar tersebut.

"Oke bagus, cantik sekali," ucap bibi Jema. "Besok belajarlah untuk merias diri, bekerja di sini harus benar-benar tapi."

"Baik, Bi."

Terpopuler

Comments

Kar Genjreng

Kar Genjreng

aduuuhh ada Bibi Jema wah Ak suka ada Bibi Jema,,,ini pelayan sepanjqng masa,,,, kalau ada Bibi Jema semua bisa di atur,,,selamat ya Runi mulai memasak. buat sang kekasih,,,,Gionino ,,,semoga betah ya Runi Anak mu tau semua tentang Tua. Gionino,,,berkat beliau Ibu nya me jadi ceria dan punya harapan,,, kenapa Ak ko mewek terharu atau senang ahhh sumpah bikin mewek tau Thor Lunoxs,,,😭😭😭😭

2024-11-15

0

Syahria Ria

Syahria Ria

CANTIK ... Semangat Aruni tugas mu memasak sudah menanti semoga Aruni nyaman kerja jadi sef di rumah pak Gia yang penting pak Gio jangan memperlihat kan diri di depan Aruni 🤭 Ayo Pak Gionino cari tau dong ada apa dengan Aruni sampai Aruni gak mau bertemu pak Gio juga sangat marah sama pak Gio biar semua masalalu jelas di hadapan pak Gio 😊

2024-11-14

1

DwiDinz

DwiDinz

Thor gio kan kaya raya & berkuasa tuh, coba deh cari tau apa yg sebenarnya terjadi di masa lalu pasti bukan hal yg susah kan.. Pasti ada hal yg menyakitkan bgt smpe aruni kyknya benci bgt ke gio & keluarganya

2024-11-14

4

lihat semua
Episodes
1 LFTL Bab 1
2 LFTL Bab 2
3 LFTH Bab 3
4 LFTL Bab 4
5 LFTL Bab 5
6 LFTL Bab 6
7 LFTL Bab 7 - Susah Untuk Didekati
8 LFTL Bab 8 - Ikan Bakar
9 LFTL Bab 9 - Pria Badjingan
10 LFTL Bab 10 - Yang Paling Terluka
11 LFTL Bab 11 - Pontang Panting
12 LFTL Bab 12 - Temani Aku Bertemu Ibumu
13 LFTL Bab 13 - Kita Hadapi Berdua
14 LFTL Bab 14 - Apa Aku Yang Salah
15 LFTL Bab 15 - Durian Runtuh
16 LFTL Bab 16 - Kuli Bangunan
17 LFTL Bab 17 - Cantik Sekali
18 LFTL Bab 18 - Mengekor Di Belakang
19 LFTL Bab 19 - Sosok Ayah
20 LFTL Bab 20 - Enak Sekali
21 LFTL Bab 21 - Mengikuti
22 LFTL Bab 22 - Semuanya Akan Baik-baik Saja Bagiku
23 LFTL Bab 23 - Menemukan Debarnya Lagi
24 LFTL Bab 24 - Mulai Darimana?
25 LFTL Bab 25 - Cinta
26 LFTL Bab 26 - Satu-satunya Orang
27 LFTL Bab 26 - Benang-benang Yang Telah Terputus
28 LFTL Bab 28 - Rumah Barumu
29 LFTL Bab 29 - Satu Nama
30 LFTL Bab 30 - Tak Mampu Dia Tebus
31 LFTL Bab 31 - Menyusuri Semua Luka Aruni
32 LFTL Bab 32 - Makin Banyak Bicara
33 LFTL Bab 33 - Membuka Setengah Jendela Kaca
34 LFTL Bab 34 - 19 Tahun
35 LFTL Bab 35 - Sedang Tidak Baik-baik Saja
36 LFTL Bab 36 - Pengacara
37 LFTL Bab 37 - Tak Pernah Usai
38 LFTL Bab 38 - Wanita Yang Merasa Hampa
39 LFTL Bab 39 - 1000 Alasan
40 LFTL Bab 40 - Diam-diam Tersenyum
41 LFTL Bab 41 - Satu Rahasia
42 LFTL Bab 42 - Petak Umpet
43 LFTL Bab 43 - Keceplosan
44 LFTL Bab 44 - Jalan Ini Sudah Benar
45 LFTL Bab 45 - Rerumputan Taman
46 LFTL Bab 46 - Wanita Karir
47 LFTL Bab 47 - Maukah Kamu Datang?
48 LFTL Bab 48 - Mulai Peduli
49 LFTL Bab 49 - Orang Yang Sama
50 LFTL Bab 50 - Nanti
51 LFTL Bab 51 - Terasa Ingin Meledak
52 LFTL Bab 52 - Tiga Hari Kemudian
53 LFTL Bab 53 - Kita Masih Punya Waktu
54 LFTL Bab 54 - Bahagia Atau Sedih
55 LFTL Bab 55 - Tidak Mau Mendengar Apapun
56 LFTL Bab 56 - Belajar Ikhlas
57 LFTL Bab 57 - Mengakhiri Semuanya
58 LFTL Bab 58 - Kenapa Memanggil Adrian Dengan Sebutan Tuan?
59 LFTL Bab 59 - Tidak Akan Punya Kuasa Apa-apa
60 LFTL Bab 60 - Beri Aku Pertanda
61 LFTL Bab 61 - Satu-satunya Harapan
62 LFTL Bab 62 - Menerima Semuanya
63 LFTL Bab 63 - Sekutu Anak Sendiri
64 LFTL Bab 64 - Ayah Dan Anak
65 LFTL Bab 65 - Mas Tidak Bohong?
66 LFTL Bab 66 - Potret Keluarga
67 LFTL Bab 67 - Terlepas Dari Genggaman
68 LFTL Bab 68 - Belajar Untuk Tidak Bohong
69 LFTL Bab 69 - Datang Lebih Cepat
70 LFTL Bab 70 - Sampai Puas
71 LFTL Bab 71 - Naura Abraham
72 Adrian dan Ansara
Episodes

Updated 72 Episodes

1
LFTL Bab 1
2
LFTL Bab 2
3
LFTH Bab 3
4
LFTL Bab 4
5
LFTL Bab 5
6
LFTL Bab 6
7
LFTL Bab 7 - Susah Untuk Didekati
8
LFTL Bab 8 - Ikan Bakar
9
LFTL Bab 9 - Pria Badjingan
10
LFTL Bab 10 - Yang Paling Terluka
11
LFTL Bab 11 - Pontang Panting
12
LFTL Bab 12 - Temani Aku Bertemu Ibumu
13
LFTL Bab 13 - Kita Hadapi Berdua
14
LFTL Bab 14 - Apa Aku Yang Salah
15
LFTL Bab 15 - Durian Runtuh
16
LFTL Bab 16 - Kuli Bangunan
17
LFTL Bab 17 - Cantik Sekali
18
LFTL Bab 18 - Mengekor Di Belakang
19
LFTL Bab 19 - Sosok Ayah
20
LFTL Bab 20 - Enak Sekali
21
LFTL Bab 21 - Mengikuti
22
LFTL Bab 22 - Semuanya Akan Baik-baik Saja Bagiku
23
LFTL Bab 23 - Menemukan Debarnya Lagi
24
LFTL Bab 24 - Mulai Darimana?
25
LFTL Bab 25 - Cinta
26
LFTL Bab 26 - Satu-satunya Orang
27
LFTL Bab 26 - Benang-benang Yang Telah Terputus
28
LFTL Bab 28 - Rumah Barumu
29
LFTL Bab 29 - Satu Nama
30
LFTL Bab 30 - Tak Mampu Dia Tebus
31
LFTL Bab 31 - Menyusuri Semua Luka Aruni
32
LFTL Bab 32 - Makin Banyak Bicara
33
LFTL Bab 33 - Membuka Setengah Jendela Kaca
34
LFTL Bab 34 - 19 Tahun
35
LFTL Bab 35 - Sedang Tidak Baik-baik Saja
36
LFTL Bab 36 - Pengacara
37
LFTL Bab 37 - Tak Pernah Usai
38
LFTL Bab 38 - Wanita Yang Merasa Hampa
39
LFTL Bab 39 - 1000 Alasan
40
LFTL Bab 40 - Diam-diam Tersenyum
41
LFTL Bab 41 - Satu Rahasia
42
LFTL Bab 42 - Petak Umpet
43
LFTL Bab 43 - Keceplosan
44
LFTL Bab 44 - Jalan Ini Sudah Benar
45
LFTL Bab 45 - Rerumputan Taman
46
LFTL Bab 46 - Wanita Karir
47
LFTL Bab 47 - Maukah Kamu Datang?
48
LFTL Bab 48 - Mulai Peduli
49
LFTL Bab 49 - Orang Yang Sama
50
LFTL Bab 50 - Nanti
51
LFTL Bab 51 - Terasa Ingin Meledak
52
LFTL Bab 52 - Tiga Hari Kemudian
53
LFTL Bab 53 - Kita Masih Punya Waktu
54
LFTL Bab 54 - Bahagia Atau Sedih
55
LFTL Bab 55 - Tidak Mau Mendengar Apapun
56
LFTL Bab 56 - Belajar Ikhlas
57
LFTL Bab 57 - Mengakhiri Semuanya
58
LFTL Bab 58 - Kenapa Memanggil Adrian Dengan Sebutan Tuan?
59
LFTL Bab 59 - Tidak Akan Punya Kuasa Apa-apa
60
LFTL Bab 60 - Beri Aku Pertanda
61
LFTL Bab 61 - Satu-satunya Harapan
62
LFTL Bab 62 - Menerima Semuanya
63
LFTL Bab 63 - Sekutu Anak Sendiri
64
LFTL Bab 64 - Ayah Dan Anak
65
LFTL Bab 65 - Mas Tidak Bohong?
66
LFTL Bab 66 - Potret Keluarga
67
LFTL Bab 67 - Terlepas Dari Genggaman
68
LFTL Bab 68 - Belajar Untuk Tidak Bohong
69
LFTL Bab 69 - Datang Lebih Cepat
70
LFTL Bab 70 - Sampai Puas
71
LFTL Bab 71 - Naura Abraham
72
Adrian dan Ansara

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!