Malam Pertama dan Merajuk

Dinda tak pernah menyangka kalau untuk pertama kalinya ia akan menyerahkan keperawanannya pada pria yang kini statusnya sudah menjadi suaminya. Dinda membuka kedua matanya dan mendapati tubuhnya masih polos namun ditutupi oleh selimut. Ia tak mendapati di mana Alex berada namun kemudian pintu kamar mandi terbuka dan menampakan Alex yang keluar kamar mandi hanya mengenakan handuk saja menutupi area bawahnya. Sontak saja kala melihat itu, Dinda langsung mengalihkan pandangannya dan rupanya hal itu membuat Alex terkekeh pelan.

"Masih saja malu sama suami sendiri, bukannya semalam kita sudah saling melihat satu sama lain? Untuk apa masih malu-malu?"

Mendengar ucapan Alex barusan membuat Diandra menggeplak lengan suaminya. Ia itu belum mahir di ranjang dan sekarang malah diingatkan soal apa yang terjadi semalam. Dinda sungguh sangat malu kalau diingatkan kejadian tadi malam.

"Sudahlah, nggak perlu dibahas lagi. Saya mau mandi."

Ketika Dinda ingin masuk ke kamar mandi, tangannya dicekal oleh Alex yang mana tentu saja hal itu membuat Dinda terkejut.

"Jangan macam-macam. Saya harus mandi sekarang."

"Sekarang kita ini sudah resmi menikah, bisakah kamu jangan bicara formal lagi? Apalagi yang menjadi lawan bicara kamu adalah suamimu sendiri."

Dinda menarik napasnya dalam dan kemudian ia menganggukan kepalanya, ia akan mencoba untuk mengubah bicara formalnya selama ini pada Alex dengan percakapan yang lebih santai namun pasti semua itu butuh proses panjang.

"Tapi jangan terlalu memaksa atau marah kalau saya lupa. Saya masih belajar."

"Iya, sudah sana mandi atau mandi bareng?"

Mendengar ucapan Alex barusan sontak saja membuat Dinda menggelengkan kepalanya dan gegas masuk ke dalam kamar mandi. Alex tertawa puas setelah berhasil menggoda Dinda barusan.

"Dia manis juga kalau sedang malu-malu seperti itu."

Tak butuh waktu lama sampai Dinda akhirnya selesai mandi, ia kemudian mulai merapihkan pakaiannya dan memasukannya ke dalam tas.

"Kenapa sudah diberesi?"

"Masih bertanya? Besok kan aku harus mulai bekerja."

****

Sebelum pulang ke apartemen, Dinda dan Alex mampir ke rumah Herlin terlebih dahulu dan di sana Herlin menyambut keduanya dengan heboh. Herlin tak henti-hentinya memuji bahwa Dinda dan Alex adalah pasangan yang cocok, Herlin sudah memasak makan siang untuk Dinda dan Alex yang mana tentu saja bagi mereka berdua sangat sulit untuk menolak tawaran sang bunda karena masakan Herlin itu selalu enak dan menggugah selera.

"Bunda gak pernah menyangka kalau pada akhirnya Bunda punya menantu bule. Kalau dirasai lagi kok seperti mimpi."

Herlin tertawa kala mengatakan hal itu sementara Dinda hanya tersenyum tipis, melihat kebahagiaan Herlin adalah kebahagiaan untuknya, andai Herlin tahu bahwa pernikahannya dengan Alex adalah sebuah pernikahan yang ada hitam di atas putihnya maka apakah mungkin Herlin akan bahagia seperti ini?

"Kamu kenapa, Kak?" tanya Melvin yang rupanya sejak tadi memerhatikan Dinda.

"Bukan apa-apa," elak Dinda.

Selepas acara makan siang bersama itu, Dinda dan Alex pulang ke apartemen mereka. Selama perjalanan pulang itu, mereka berdua sama sekali tidak saling bicara. Alex sibuk mengemudi sementara Dinda melempar pandangan ke luar jendela dengan sesekali menghela napas berat. Pada akhirnya mereka sampai juga di apartemen dan tujuan mereka adalah unit apartemen Dinda.

"Aku akan menjual unit apartemenku dan akan tinggal di sini," ujar Alex.

****

Alex sedang menyiapkan makan malam di dapur sementara Dinda masih memikirkan soal pernikahan yang ia jalani dengan Alex. Melihat bagaimana bahagianya sang bunda tadi siang saat akhirnya bisa mengantarkannya ke gerbang pernikahan seperti yang menjadi wasiat mendiang sang ayah masih saja bergelayut dalam dirinya.

"Makan malam sudah siap, kamu mikir apa, sih?"

Dinda menggelengkan kepalanya, ia tak ingin membahas hal ini dulu dengan Alex. Alex sendiri sebenarnya bukan orang yang penasaran soal masalah orang lain namun entah kenapa dengan Dinda adalah sesuatu hal yang berbeda.

"Kenapa kamu gak mau cerita?"

"Memangnya kamu tertarik kalau aku cerita?"

"Cerita saja, tapi aku gak memaksa, kalau memang gak mau. Masa aku paksa?"

"Aku mikir soal bunda."

Dinda menceritakan semua perasaan yang ia alami pada Alex tanpa ada sesuatu hal apa pun yang ia tutupi dari suaminya itu. Alex sendiri membiarkan Dinda bercerita tanpa ada niatan untuk menginterupsi. Setelah Dinda benar-benar selesai bercerita barulah ia akan memberikan tanggapan mengenai cerita itu.

"Apakah kamu ingin kita melupakan saja perjanjian kita sebelum menikah?"

"Maksudnya?"

"Kita jalani saja pernikahan ini seperti pernikahan pada umumnya bukan pernikahan kontrak."

Dinda menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis, Dinda mengatakan bahwa untuk saat ini ia tak mau melakukan hal itu. Alex yang melihat respon Dinda barusan entah mengapa merasa kecewa dan pada akhirnya pria itu malah pergi meninggalkan Dinda.

****

Herlin masuk ke dalam kamar Melvin yang mana saat itu Melvin tengah bermain game di ponselnya. Melihat keberadaan sang bunda, tentu saja Melvin langsung menghentikan aktivitasnya dan duduk menghadap sang bunda.

"Ada apa, Bund? Apakah ada hal yang Bunda perlukan?"

"Bunda gak sedang memerlukan apa pun. Bunda hanya ingin memastikan kalau kamu baik-baik saja."

"Tentu saja aku baik-baik saja. Bunda bisa lihat sendiri kan?"

"Apakah kamu bahagia dengan pernikahan kakakmu?"

"Oh jelas bahagia, akhirnya kakak bisa menikah juga, aku pikir selamanya dia tak akan menikah."

Jawaban Melvin barusan disambut oleh geplakan dari Herlin yang mendarat di lengan Melvin hingga membuat Melvin mengaduh.

"Jangan bicara seperti itu."

"Iya Bunda, aku minta maaf."

"Ngomong-ngomong apa rencana kamu setelah ini? Apakah kamu sudah menemukan tambatan hati lagi?"

Melvin menggelengkan kepalanya dan mengatakan pada bunda bahwa saat ini yang menjadi fokusnya adalah pekerjaannya.

"Aku masih belum mau memikirkan soal cinta-cintaan lagi."

"Bunda paham kalau kamu masih trauma dengan apa yang pernah terjadi. Tapi satu hal yang perlu Bunda katakan, jangan pernah menutup hati kamu pada siapa pun, kelak kalai hatimu sembuh maka Bunda doakan kamu bisa menemukan jodoh kamu."

****

Dinda heran kenapa Alex mendadak mendiamkannya setelah Dinda membahas soal pernikahan mereka yang berdasarkan kontrak yang sudah mereka sepakat. Salah satu poin yang mereka sepakati adalah setelah 6 bulan atau 1 tahun mereka akan bercerai yang mana semua alasan ketika mereka ditanya sampai bercerai sudah disiapkan alasannya di kertas perjanjian itu.

"Alex, kamu kenapa, sih?"

"Aku hanya nggak suka kalau membahas soal perjanjian itu."

"Memangnya salah kalau aku membahas soal itu? Bukankah memang kita menikah atas dasar ini?"

"Kalau kelak kamu hamil bagaimana? Kamu kan butuh seorang suami yang bisa menjaga dan melindungi kamu."

"Aku ini kan sudah 36 tahun, kemungkinan untuk memiliki anak kan sangat kecil kalaupun nanti aku hamil dan melahirkan seorang anak di mana posisi kita sudah bercerai maka aku yakin bisa menghidupi kami berdua."

"Jangan bicara seperti itu!"

Terpopuler

Comments

Bzaa

Bzaa

semoga cepet hamil

2025-04-03

0

Santi Rizal

Santi Rizal

jangan bercerai Dinda

2025-03-22

0

Fifid Dwi Ariyani

Fifid Dwi Ariyani

trusssbar

2025-03-13

0

lihat semua
Episodes
1 Tuduhan dan Sebutan Perawan Tua
2 Seleranya Sama Bule?
3 Foto Ketika Sunset di Pantai
4 Apakah Saya Tampan?
5 Tetangga Apartemen
6 25 Tahun
7 Pertemuan Tak Terencana
8 Bujukan Sang Mantan
9 Calon Suami
10 Tawaran Untuk Menikah
11 Acara (yang seharusnya) Bahagia Justru Tidak Kesampaian
12 Batal Nikah
13 Jujur Pada Bunda
14 Mantan Itu Tetangga Rumah Baru Tante
15 Tante yang Kepo
16 Menikah
17 Malam Pertama dan Merajuk
18 Masih Ada Rasa Untuk Sang Mantan?
19 Keputusan Suami
20 Mulut Pedas Sang Tante
21 Tiba Di Rumah Mertua
22 Mengulik Masa Lalu
23 Peringatan Bunda
24 Pelukan Hangat
25 Pindah Ke Hotel
26 Musim Gugur
27 Tawaran Dari Mertua
28 Pelukan Dari Bunda
29 Minta Pesta Ulang
30 Membalas Hinaan Tante
31 Pamit Pada Rekan Kerja
32 Wakil Presdir
33 Musuh yang Nyata
34 Peringatan yang Datang
35 Sikap Manis
36 Perlahan Cinta Itu Tumbuh
37 Jadian
38 Maaf Dan Terima Kasih
39 Lamaran
40 Menjaga Jarak
41 Kondisi yang Menyedihkan
42 Kabar Bahagia yang Dinanti
43 Siasat Licik dan Ancaman
44 Hari Pernikahan Tiba
45 Butuh Penyesuaian
46 Bulan Madu di Rumah Ipar
47 Kejujuran Pada Mertua
48 Memilih Untuk Percaya
49 Takut Ketahuan
50 Bom yang Meledak
51 Lahir Ke Dunia
52 Dia Anakku?
53 Kejujuran yang Berujung Penangkapan
54 Hukuman Bagi yang Pantas Mendapatkannya
55 Mulai Kepo yang Membuat Resah
56 Menolak Tipu Muslihat
57 Tak Terima dan Marah
58 Sikap Aneh Suami
59 Semua Hancur
60 Berpisah Lebih Baik
61 Pergi Dari Rumah
62 Hidup yang Baru
63 Pekerjaanku
64 Akhir Cerita
Episodes

Updated 64 Episodes

1
Tuduhan dan Sebutan Perawan Tua
2
Seleranya Sama Bule?
3
Foto Ketika Sunset di Pantai
4
Apakah Saya Tampan?
5
Tetangga Apartemen
6
25 Tahun
7
Pertemuan Tak Terencana
8
Bujukan Sang Mantan
9
Calon Suami
10
Tawaran Untuk Menikah
11
Acara (yang seharusnya) Bahagia Justru Tidak Kesampaian
12
Batal Nikah
13
Jujur Pada Bunda
14
Mantan Itu Tetangga Rumah Baru Tante
15
Tante yang Kepo
16
Menikah
17
Malam Pertama dan Merajuk
18
Masih Ada Rasa Untuk Sang Mantan?
19
Keputusan Suami
20
Mulut Pedas Sang Tante
21
Tiba Di Rumah Mertua
22
Mengulik Masa Lalu
23
Peringatan Bunda
24
Pelukan Hangat
25
Pindah Ke Hotel
26
Musim Gugur
27
Tawaran Dari Mertua
28
Pelukan Dari Bunda
29
Minta Pesta Ulang
30
Membalas Hinaan Tante
31
Pamit Pada Rekan Kerja
32
Wakil Presdir
33
Musuh yang Nyata
34
Peringatan yang Datang
35
Sikap Manis
36
Perlahan Cinta Itu Tumbuh
37
Jadian
38
Maaf Dan Terima Kasih
39
Lamaran
40
Menjaga Jarak
41
Kondisi yang Menyedihkan
42
Kabar Bahagia yang Dinanti
43
Siasat Licik dan Ancaman
44
Hari Pernikahan Tiba
45
Butuh Penyesuaian
46
Bulan Madu di Rumah Ipar
47
Kejujuran Pada Mertua
48
Memilih Untuk Percaya
49
Takut Ketahuan
50
Bom yang Meledak
51
Lahir Ke Dunia
52
Dia Anakku?
53
Kejujuran yang Berujung Penangkapan
54
Hukuman Bagi yang Pantas Mendapatkannya
55
Mulai Kepo yang Membuat Resah
56
Menolak Tipu Muslihat
57
Tak Terima dan Marah
58
Sikap Aneh Suami
59
Semua Hancur
60
Berpisah Lebih Baik
61
Pergi Dari Rumah
62
Hidup yang Baru
63
Pekerjaanku
64
Akhir Cerita

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!