Acara (yang seharusnya) Bahagia Justru Tidak Kesampaian

Acara syukuran yang seharusnya berjalan khidmat dan penuh rasa syukur serta kebahagiaan malah berubah seketika akibat kedatangan Widuri yang sukses membuat acara mereka berantakan. Kedatangan wanita dengan mulut nyinyir itu memang selalu saja membuat siapa pun menjadi kesal dibuatnya. Kini Widuri sudah pulang dan tersisa Dinda, Melvin, Alex dan juga Herlin. Herlin meminta maaf atas acara mereka yang justru berlangsung tidak sesuai dengan harapan.

"Bunda minta maaf."

"Kenapa harus Bunda yang meminta maaf? Bukannya nenek lampir itu yang harusnya minta maaf karena sudah menghancurkan acara kita?" sungut Melvin tak bisa menahan emosinya.

"Sudahlah Vin. Toh dia juga sudah pergi," ujar Dinda.

Alex sendiri malah sibuk menikmati kue dan beberapa cemilan yang ada di atas meja dan pria itu sama sekali tidak mau terlibat dalam drama keluarga Dinda saat ini akibat kedatangan Widuri yang tiba-tiba.

"Ngomong-ngomong Dinda soal apa yang kamu katakan barusan, apakah itu benar?" tanya Herlin.

"Soal aku yang akan menikah dengan Alex? Tentu saja benar," jawab Dinda tegas.

"Tapi Bunda nggak mau kamu menjadi tak bahagia karena pernikahan ini," ujar Herlin.

"Siapa yang bilang, Bun? Aku bahagia kok."

Dinda terpaksa mengatakan itu untuk membuat hati Herlin tenang, ia sendiri juga tak yakin dengan keputusannya yang mau menikah secepatnya dengan Alex yang tidak ia ketahui cukup lama latar belakangnya dan bagaimana perangai aslinya namun Dinda tidak bisa menarik kembali ucapannya, bagi Dinda harga dirinya adalah segala-galanya.

"Nak Alex."

"Iya Tante?"

"Apakah Nak Alex memang serius dengan anak saya?"

"Saya serius Tante, kalau saya tak serius mana mungkin saya mau menikahi Dinda?"

"Kalau begitu, kapan orang tua Nak Alex bisa datang ke sini untuk proses lamaran?"

Seketika wajah Alex berubah ketika mendengar pertanyaan dari Herlin dan Dinda cukup bosa melihat perubahan ekspresi itu, Dinda kemudoan mencoba untuk mengalihkan pembicaraan ke arah yang lain terlebih dahulu hingga Herlin pun lupa akan apa yang baru saja ia tanyakan pada Alex.

****

Dinda dan Alex sudah pamit pada Herlin dan kini mereka ada dalam perjalanan pulang ke apartemen, sepanjang perjalanan tak ada percakapan antara Dinda dan Alex. Dinda sendiri bukannya tak mau membuka percakapan dengan Alex namun Dinda sedang menunggu waktu yang tepat supaya bisa bertanya pada Alex.

"Kamu pasti mau bertanya sesuatu kan?" tanya Alex yang tanpa memandang wajah Dinda namun ia bisa tahu kalau sejak tadi wanita itu curi pandang ke arahnya.

"Iya, saya memang mau bertanya namun sepertinya saat ini suasana hati kamu sedang tidak baik jadi mungkin akan jauh lebih baik kalau saya tunda dulu pertanyaannya."

Alex nampak tertawa samar mendengar jawaban Dinda barusan yang mana tawa tersebut membuat Dinda menjadi heran. Dinda bertanya pada Alex mengapa pria itu malah menertawakan dirinya padahal di sini sama sekali tidak sda hal yang lucu.

"Sejak kapan kamu memerhatikan perasaan orang lain? Bukannya kamu selalu blak-blakan dalam mengungkapkan sesuatu?"

"Saya memang orang yang gak bisa basa-basi namun bukan berarti saya ini enggak punya empati. Saya paham kok kondisi di mana saya harus menempatkan diri dan bagaimana saya harus bicara."

Alex tak menanggapi apa yang Dinda barusan katakan namun setelah hening beberapa saat akhirnya pria itu mengatakan sesuatu.

****

Alex mengatakan pada Dinda bahwa dirinya hanya tinggal sendirian di sini, ia tak punya kerabat atau keluarga karena mereka semua ada di luar negeri. Dinda menganggukan kepalanya dan kemudian ia bertanya lebih lanjut soal keluarga Alex dan raut wajah Alex kembali muram ketika disinggung lebih dalam soal keluarganya.

"Bagaimanapun pernikahan ini harus dihadiri oleh keluargamu juga supaya gak terjadi kesalah pahaman di kemudian hari."

"Kamu orang pertama yang menyinggung masalah keluargaku."

Dinda mengerutkan keningnya heran dengan ucapan Alex barusan, tak lama kemudian Alex mengatakan pada Dinda bahwa ia memiliki seorang ayah yang kondisi kesehatannya sedang tidak baik-baik saja sementara ibunya sudah meninggal dunia. Dinda terkejut dengan cerita Alex barusan dan ia meminta maaf karena sudah menyinggung soal orang tua Alex.

"Kamu kan gak tahu soal keluargaku jadi gak masalah."

Alex kemudian menambahkan bahwa ia datang ke Indonesia sebagai seorang model untuk membantu perkenomian keluarganya dan jawaban Alex itu membuat Dinda tak banyak bertanya lagi soal pria itu. Namun ketika sampai di depan pintu unit apartemen masing-masing, Dinda baru ingat sesuatu dan ini sangat penting.

"Alex tunggu!"

"Ada apa lagi?"

"Maaf tapi saya harus menanyakan ini karena ini penting, apakah kamu punya agama?"

"Kenapa memangnya?"

"Kalau kamu mau menikah dengan saya maka kamu harus jadi mualaf dulu untuk bisa menikah dengan saya."

****

Herlin masih duduk seorang diri di sofa ruang tengah, ia tak menyangka acara hari ini yang harusnya diwarnai dengan kebahagiaan dan suka cita malah berakhir bencana. Kedatangan Widuri sungguh membuat segalanya hancur dan itu membuat dirinya merasa bersalah pada Dinda. Melvin yang baru saja turun dari lantai dua mendapati sang bunda tengah duduk seorang diri dan Melvin langsung berjalan menghampiri bundanya.

"Bunda kenapa?"

"Bunda hanya sedang memikirkan apa yang hari ini terjadi. Walau kakakmu mengatakan kalau ia baik-baik saja karena acara masih bisa dilakukan namun tentu saja ini tidaklah seperti apa yang ia bayangkan."

Melvin menggenggam tangan sang bunda, Melvin mencoba menenangkan bundanya dan mengatakan bahwa Dinda sama sekali tidak kecewa soal acara hari ini.

"Kamu tahu dari mana?"

"Kakak menelponku barusan, Bunda jangan sedih lagi dong."

Herlin menghela napasnya lega setelah mendengar apa yang Melvin katakan barusan. Kini pikiran Herlin jadi tertuju pada apa yang dikatakan oleh Dinda bahwa ia akan segera menikah dengan Alex.

"Melvin."

"Ada apa, Bunda?"

"Apakah kamu sudah lama mengenal nak Alex?"

"Belum terlalu lama sih Bund, tapi Melvin yakin kalau Alex pria yang baik dan cocok sama kakak."

****

Dinda sudah siap untuk bekerja pagi ini, ia sudah mengenakan pakaian kantornya dan bersiap untuk berjalan menuju lift ketika Alex keluar dari unit apartemennya.

"Bagaimana, kamu setuju dengan apa yang saya ucapkan kemarin?"

"Kalau aku tidak jadi mualaf memangnya kenapa? Apakah kita tidak bisa menikah?"

"Tentu saja tidak! Kalau kamu gak mau mending kita batalkan saja pernikahan kita, toh niat awal kita menikah kan gak serius melainkan pernikahan yang ada kesepakatan di dalamnya."

"Siapa yang bilang kalau kita bisa membatalkan itu? Kalau dibatalkan apa yang akan tante kamu bilang nanti? Yang ada nanti dia semakin menjadi-jadi dalam menghina kamu dan keluargamu."

"Urusan itu kamu gak perlu memikirkannya, aku bisa kok menghadapinya."

Alex berjalan menghampiri Dinda kemudian mengurung wanita itu dengan kedua tangannya di dinding.

"Kita akan tetap menikah apa pun yang terjadi."

Terpopuler

Comments

Ayu

Ayu

ya ! harus jadi nikah!
bungkam tuh mulut bude Duri /Joyful/

2024-11-21

1

Bzaa

Bzaa

setujuuu. harus menikah

2025-04-02

0

Fifid Dwi Ariyani

Fifid Dwi Ariyani

trussemangst

2025-03-13

1

lihat semua
Episodes
1 Tuduhan dan Sebutan Perawan Tua
2 Seleranya Sama Bule?
3 Foto Ketika Sunset di Pantai
4 Apakah Saya Tampan?
5 Tetangga Apartemen
6 25 Tahun
7 Pertemuan Tak Terencana
8 Bujukan Sang Mantan
9 Calon Suami
10 Tawaran Untuk Menikah
11 Acara (yang seharusnya) Bahagia Justru Tidak Kesampaian
12 Batal Nikah
13 Jujur Pada Bunda
14 Mantan Itu Tetangga Rumah Baru Tante
15 Tante yang Kepo
16 Menikah
17 Malam Pertama dan Merajuk
18 Masih Ada Rasa Untuk Sang Mantan?
19 Keputusan Suami
20 Mulut Pedas Sang Tante
21 Tiba Di Rumah Mertua
22 Mengulik Masa Lalu
23 Peringatan Bunda
24 Pelukan Hangat
25 Pindah Ke Hotel
26 Musim Gugur
27 Tawaran Dari Mertua
28 Pelukan Dari Bunda
29 Minta Pesta Ulang
30 Membalas Hinaan Tante
31 Pamit Pada Rekan Kerja
32 Wakil Presdir
33 Musuh yang Nyata
34 Peringatan yang Datang
35 Sikap Manis
36 Perlahan Cinta Itu Tumbuh
37 Jadian
38 Maaf Dan Terima Kasih
39 Lamaran
40 Menjaga Jarak
41 Kondisi yang Menyedihkan
42 Kabar Bahagia yang Dinanti
43 Siasat Licik dan Ancaman
44 Hari Pernikahan Tiba
45 Butuh Penyesuaian
46 Bulan Madu di Rumah Ipar
47 Kejujuran Pada Mertua
48 Memilih Untuk Percaya
49 Takut Ketahuan
50 Bom yang Meledak
51 Lahir Ke Dunia
52 Dia Anakku?
53 Kejujuran yang Berujung Penangkapan
54 Hukuman Bagi yang Pantas Mendapatkannya
55 Mulai Kepo yang Membuat Resah
56 Menolak Tipu Muslihat
57 Tak Terima dan Marah
58 Sikap Aneh Suami
59 Semua Hancur
60 Berpisah Lebih Baik
61 Pergi Dari Rumah
62 Hidup yang Baru
63 Pekerjaanku
64 Akhir Cerita
Episodes

Updated 64 Episodes

1
Tuduhan dan Sebutan Perawan Tua
2
Seleranya Sama Bule?
3
Foto Ketika Sunset di Pantai
4
Apakah Saya Tampan?
5
Tetangga Apartemen
6
25 Tahun
7
Pertemuan Tak Terencana
8
Bujukan Sang Mantan
9
Calon Suami
10
Tawaran Untuk Menikah
11
Acara (yang seharusnya) Bahagia Justru Tidak Kesampaian
12
Batal Nikah
13
Jujur Pada Bunda
14
Mantan Itu Tetangga Rumah Baru Tante
15
Tante yang Kepo
16
Menikah
17
Malam Pertama dan Merajuk
18
Masih Ada Rasa Untuk Sang Mantan?
19
Keputusan Suami
20
Mulut Pedas Sang Tante
21
Tiba Di Rumah Mertua
22
Mengulik Masa Lalu
23
Peringatan Bunda
24
Pelukan Hangat
25
Pindah Ke Hotel
26
Musim Gugur
27
Tawaran Dari Mertua
28
Pelukan Dari Bunda
29
Minta Pesta Ulang
30
Membalas Hinaan Tante
31
Pamit Pada Rekan Kerja
32
Wakil Presdir
33
Musuh yang Nyata
34
Peringatan yang Datang
35
Sikap Manis
36
Perlahan Cinta Itu Tumbuh
37
Jadian
38
Maaf Dan Terima Kasih
39
Lamaran
40
Menjaga Jarak
41
Kondisi yang Menyedihkan
42
Kabar Bahagia yang Dinanti
43
Siasat Licik dan Ancaman
44
Hari Pernikahan Tiba
45
Butuh Penyesuaian
46
Bulan Madu di Rumah Ipar
47
Kejujuran Pada Mertua
48
Memilih Untuk Percaya
49
Takut Ketahuan
50
Bom yang Meledak
51
Lahir Ke Dunia
52
Dia Anakku?
53
Kejujuran yang Berujung Penangkapan
54
Hukuman Bagi yang Pantas Mendapatkannya
55
Mulai Kepo yang Membuat Resah
56
Menolak Tipu Muslihat
57
Tak Terima dan Marah
58
Sikap Aneh Suami
59
Semua Hancur
60
Berpisah Lebih Baik
61
Pergi Dari Rumah
62
Hidup yang Baru
63
Pekerjaanku
64
Akhir Cerita

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!