Apakah Saya Tampan?

Dinda nampak terkejut dengan permintaan pria asing ini barusan, Dinda merasa bahwa pria asing ini masih saja menaruh curiga yabg berlebihan padanya padahal barusan ja sudah jelaskan bahwa ia sama sekali tidak merekam apa pun.

"Semua orang bisa mengelak namun harus ada buktinya kan?"

Dinda mendengus kesal dengan ucapan pria ini dan kemudian ia pun mempersilakan pria ini untuk mengecek sendiri ponselnya.

"Ini jauh lebih baik."

Dinda berdecak kesal saat pria itu mulai mengotak-atik ponselnya.

"Bagaimana Mister, apakah anda sudah menemukan bukti yang anda tuduhkan pada saya barusan?"

"Sepertinya kamu mengatakan kejujuran."

Dinda mendengus kesal lagi-lagi dengan jawaban pria asing di depannya ini namun kemudian sesaat kemudian ia melihat pria asing itu menelpon ponselnya lewat ponsel Dinda.

"Apa yang kamu lakukan?"

"Hanya jaga-jaga saja, aku tidak ingin kehilangan kontakmu. Awas saja kamu berani memblokir nomorku atau mengganti nomor."

"Siapa kamu yang berani-beraninya mengancamku?"

"Apakah kamu sudah menikah?"

Pria asing itu tiba-tiba saja mencondongkan wajahnya lebih dekat pada wajah Dinda yang mana sontak saja membuat Dinda terkejut bukan main. Kali ini pria itu sukses merangsek masuk ke dalam kamar Dinda dan mengurung Dinda di tembok dengan kedua tangannya.

"Mau apa kamu?"

"Apakah aku ini tampan?" desak pria asing itu.

"Iya kamu memang tampan," ujar Dinda yang entah kenapa bisa mengatakan itu dengan reflek.

Pria asing itu nampak tertawa getir setelahnya kemudian ia menjauhkan wajahnya dari Dinda yang mana membuat Dinda seketika bisa bernapas lega karena bisa lepas juga dari pria asing ini. Jantungnya masih berdegup kencang akibat ulah tak terduga pria asing yang ada di hadapannya ini, ekspresi pria itu berubah sendu.

"Dia tidak tulus kepadaku, dia tahu betul aku mencintainya namun dia tega tidur dengan temanku sendiri."

Dinda tak paham dengan apa yang pria asing ini bicarakan namun ia tak mau mengatakan apa pun dan membiarkan saja pria asing ini bicara.

"Maaf kalau sudah mengganggu malammu."

Pria asing itu berlalu menuju kamarnya yang ada di sebelah kamar Dinda dan Dinda buru-buru saja menutup pintu kamarnya dan memegangi dadanya yang masih bisa ia rasakan gemuruh di dalamnya.

"Ya ampun kenapa aku bisa mendapati kejadian seperti ini?"

****

Keesokan harinya adalah hari terakhir Dinda dan Ghea menghabiskan waktu di pulau Bintan dan mereka juga jajan oleh-oleh karena besok pagi pukul 7 pesawat yang mereka tumpangi akan berangkat dan tidak mungkin kalau Dinda dan Ghea besok mencari oleh-olehnya dalam perjalanan ke bandara.

"Rasanya kalau aku butuh tempat healing, aku bakal ke sini lagi aja Mbak, tenang banget kotanya," ujar Ghea seraya menikmati semilir yang angin menerpa wajahnya.

Ghea dan Dinda saat ini ada di taman tepi laut yang mana ada di sana ada ikon kota Tanjungpinang yaitu bangunan gonggong berwarna kuning. Dinda menganggukan kepalanya, kota ini tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya karena baru pertama kali ia datang sudah langsung jatuh hati dengan kota ini .

"Mbak Dinda kenapa?" tanya Ghea yang melihat Dinda saat inu menggelengkan kepalanya.

"Nggak apa-apa, kok."

Dinda berusaha menghapus pikirannya mengenai memori apa yang terjadi semalam antara dia dan pria asing itu di kamar hotelnya.

****

Dinda dan Ghea baru saja tiba di hotel tempat mereka menginap dan saat mereka tiba di depan kamar, pria asing yang kemarin datang menemui Dinda itu baru saja keluar dari kamarnya. Dinda seketika buang muka, ia masih teringat kejadian semalam dan hal itu sungguh membuatnya merasa campur aduk.

"Kamu baru pulang rupanya."

"Mister bisa bicara Bahasa Indonesia?" tanya Ghea takjub.

"Ibu saya orang Indonesia dan saya terbiasa menggunakan dua bahasa di rumah, apakah teman kamu tidak memberitahukannya padamu?"

"Maksud anda Mbak Dinda?"

"Oh namanya Dinda, nama yang bagus dan orangnya cantik."

Seketika wajah Dinda bersemu merah layaknya remaja yang baru pertama kali mendapatkan gombalan dari lawan jenis.

"Ngomong-ngomong nama saya Alex," ujar pria itu menyodorkan tangan pada Ghea.

"Ghea, senang bertemu dengan kamu."

"Kalian bukan dari sini, ya?"

"Kami dari Jakarta, ke sini karena tugas kantor."

Ghea sangat bersemangat sekali menceritakan awal muasal kenapa mereka bisa datang ke sini sementara Dinda mati-matian berusaha menghindari bersitatap dengan Alex.

"Dinda, ada masalah? Apa wajah saya tidak tampan malam ini?"

"Eh, memang mbak Dinda kapan sih bicara sama Mas Alex?"

"Semalam kami bertemu, dan dia mengatakan wajah saya tampan."

Ghea mesem-mesem sendiri mendengar jawaban Alex barusan yang kelewat jujur dan itu membuat Dinda makin salah tingkah.

****

Pagi ini mereka sudah tiba di bandara dan sedang di ruang tunggu menunggu panggilan boarding masuk ke pesawat. Dinda masih diam dan kesal pada Ghea yang sejak tadi pagi keluar hotel sampai saat ini tidak ada henti-hentinya menggodanya soal Alex.

"Mbak jangan marah dong," ujar Ghea.

"Habis kamu ini bawel banget sih, nanya-nanya yang gak jelas kayak gitu."

"Habisnya aku kan kepo Mbak, ternyata bener ya Mbak Dinda seleranya bule. Pantes saja dari sekian banyak cowok yang dateng Mbak Dinda gak respon semua."

"Mulai lagi."

Ghea nyengir mendengar ucapan Dinda barusan namun seketika Dinda terkejut dengan sosok Alex yang duduk di sebelahnya sambil tersenyum.

"Selamat pagi."

"Selamat pagi, Mas Alex mau ke Jakarta juga ini?" tanya Ghea antusias.

"Iya, saya kan memang tinggal di Jakarta ke sini buat liburan."

Ghea dan Alex terus saja mengobrol banyak hal karena dasarnya Ghea ini orang yang mudah bergaul dan akrab dengan siapa pun termasuk orang baru berbeda dengan Dinda yang tidak suka basa-basi dan tak nyaman dengan orang baru dikenal.

"Tuh udah dipanggil masuk ke pesawat, buruan!" seru Dinda yang langsung buru-buru berdiri di antrian pintu masuk ke pesawat.

****

Alex dengan wajah tampannya bisa membuat penumpang di sebelah Ghea untuk mau tukar kursi dengannya dan tentu saja Ghea langsung nurut saja saat Alex memintanya untuk berpindah kursi ke kursi di dekat lorong dan kini Alex duduk di tengah lebih dekat dengan Dinda yang duduk di pojok dekat jendela.

"Hei, kamu kenapa sih? Kok nggak mau ajak saya bicara?"

"Memangnya penting? Saya nggak kenal kamu sebelumnya jadi jangan ganggu saya."

"Kan kita udah kenalan sebelumnya, kamu juga udah save kontak saya kan?"

"Yang bener Mas?" tanya Ghea heboh.

"Iya kami memang sudah sempet tukeran nomor," jawab Alex santai.

Sementara itu Dinda mendengus kesal saat Ghea memberi kode menaik turunkan alisnya seperti tengah menggodanya saat ini.

Terpopuler

Comments

Dewi Sri

Dewi Sri

cerita nya bagus 👍

2025-03-15

2

Fifid Dwi Ariyani

Fifid Dwi Ariyani

teussemsmgst

2025-03-13

1

arniya

arniya

cerita cinta dimulai.....

2025-02-15

1

lihat semua
Episodes
1 Tuduhan dan Sebutan Perawan Tua
2 Seleranya Sama Bule?
3 Foto Ketika Sunset di Pantai
4 Apakah Saya Tampan?
5 Tetangga Apartemen
6 25 Tahun
7 Pertemuan Tak Terencana
8 Bujukan Sang Mantan
9 Calon Suami
10 Tawaran Untuk Menikah
11 Acara (yang seharusnya) Bahagia Justru Tidak Kesampaian
12 Batal Nikah
13 Jujur Pada Bunda
14 Mantan Itu Tetangga Rumah Baru Tante
15 Tante yang Kepo
16 Menikah
17 Malam Pertama dan Merajuk
18 Masih Ada Rasa Untuk Sang Mantan?
19 Keputusan Suami
20 Mulut Pedas Sang Tante
21 Tiba Di Rumah Mertua
22 Mengulik Masa Lalu
23 Peringatan Bunda
24 Pelukan Hangat
25 Pindah Ke Hotel
26 Musim Gugur
27 Tawaran Dari Mertua
28 Pelukan Dari Bunda
29 Minta Pesta Ulang
30 Membalas Hinaan Tante
31 Pamit Pada Rekan Kerja
32 Wakil Presdir
33 Musuh yang Nyata
34 Peringatan yang Datang
35 Sikap Manis
36 Perlahan Cinta Itu Tumbuh
37 Jadian
38 Maaf Dan Terima Kasih
39 Lamaran
40 Menjaga Jarak
41 Kondisi yang Menyedihkan
42 Kabar Bahagia yang Dinanti
43 Siasat Licik dan Ancaman
44 Hari Pernikahan Tiba
45 Butuh Penyesuaian
46 Bulan Madu di Rumah Ipar
47 Kejujuran Pada Mertua
48 Memilih Untuk Percaya
49 Takut Ketahuan
50 Bom yang Meledak
51 Lahir Ke Dunia
52 Dia Anakku?
53 Kejujuran yang Berujung Penangkapan
54 Hukuman Bagi yang Pantas Mendapatkannya
55 Mulai Kepo yang Membuat Resah
56 Menolak Tipu Muslihat
57 Tak Terima dan Marah
58 Sikap Aneh Suami
59 Semua Hancur
60 Berpisah Lebih Baik
61 Pergi Dari Rumah
62 Hidup yang Baru
63 Pekerjaanku
64 Akhir Cerita
Episodes

Updated 64 Episodes

1
Tuduhan dan Sebutan Perawan Tua
2
Seleranya Sama Bule?
3
Foto Ketika Sunset di Pantai
4
Apakah Saya Tampan?
5
Tetangga Apartemen
6
25 Tahun
7
Pertemuan Tak Terencana
8
Bujukan Sang Mantan
9
Calon Suami
10
Tawaran Untuk Menikah
11
Acara (yang seharusnya) Bahagia Justru Tidak Kesampaian
12
Batal Nikah
13
Jujur Pada Bunda
14
Mantan Itu Tetangga Rumah Baru Tante
15
Tante yang Kepo
16
Menikah
17
Malam Pertama dan Merajuk
18
Masih Ada Rasa Untuk Sang Mantan?
19
Keputusan Suami
20
Mulut Pedas Sang Tante
21
Tiba Di Rumah Mertua
22
Mengulik Masa Lalu
23
Peringatan Bunda
24
Pelukan Hangat
25
Pindah Ke Hotel
26
Musim Gugur
27
Tawaran Dari Mertua
28
Pelukan Dari Bunda
29
Minta Pesta Ulang
30
Membalas Hinaan Tante
31
Pamit Pada Rekan Kerja
32
Wakil Presdir
33
Musuh yang Nyata
34
Peringatan yang Datang
35
Sikap Manis
36
Perlahan Cinta Itu Tumbuh
37
Jadian
38
Maaf Dan Terima Kasih
39
Lamaran
40
Menjaga Jarak
41
Kondisi yang Menyedihkan
42
Kabar Bahagia yang Dinanti
43
Siasat Licik dan Ancaman
44
Hari Pernikahan Tiba
45
Butuh Penyesuaian
46
Bulan Madu di Rumah Ipar
47
Kejujuran Pada Mertua
48
Memilih Untuk Percaya
49
Takut Ketahuan
50
Bom yang Meledak
51
Lahir Ke Dunia
52
Dia Anakku?
53
Kejujuran yang Berujung Penangkapan
54
Hukuman Bagi yang Pantas Mendapatkannya
55
Mulai Kepo yang Membuat Resah
56
Menolak Tipu Muslihat
57
Tak Terima dan Marah
58
Sikap Aneh Suami
59
Semua Hancur
60
Berpisah Lebih Baik
61
Pergi Dari Rumah
62
Hidup yang Baru
63
Pekerjaanku
64
Akhir Cerita

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!