Tsania Laura 18.

Galang pulang ke kediaman mewahnya menjelang pagi. Dengan keadaan yang begitu kacau serta pakaian yang sudah tak lagi rapi. Dari tubuhnya menyeruak kuat aroma alkohol. Entah berapa banyak pria itu menegak minuman keras.

Perkataan Laura dan usahanya untuk kembali bersama sudah Laura tolak dengan keras. Galang bahkan dilarang bertemu dengan Tsania-gadis yang Galang yakini adalah putrinya.

"Ughh," suara berat itu terdengar. Ia melenguh dengan mata yang mulai membuka.

Cahaya matahari yang masuk melewati kaca jendela besar membuat netranya menyipit. Sesaat ia duduk, mengumpulkan nyawa yang sepertinya masih berserakan, tangannya juga memukul pelan kepala yang masih terasa berat.

"Di mana, Laura?" gumam Galang tanpa sadar. Ia beranjak dari tempat tidur, berniat ingin membersihkan diri ke dalam kamar mandi.

"Siapa Laura, Mas?"

Langkah Galang terhenti, ia mengangkat pandang. Tangannya yang memijat pelan kepala kini juga sudah mulai turun secara perlahan.

Sekar yang berdiri dengan membawa sebuah nampan itu menatap Galang. Penampilan suaminya sungguh lah kacau.

"Aku membuatkan ini untuk, Mas." Sekar meletakkan nampan di atas nakas. "Minumlah," tawar Sekar pada Galang. Wanita itu berharap pengar yang suaminya rasakan cepat menghilang.

Galang mengangguk dan menikmati minuman hangat itu.

Sekar terus memperhatikan Galang, tak sedikit pun ia mengalihkan pandangan dari suaminya, termasuk saat Galang yang sudah beranjak menuju kamar mandi.

Sekar tak dapat memejamkan mata saat menunggu kepulangan Galang malam tadi. Apalagi ia mengetahui di mana sebenarnya keberadaan suaminya itu. Dan betapa terkejutnya Sekar saat Galang pulang dengan keadaan yang mabuk berat.

Galang bahkan meracau tak jelas, suaminya menangis dengan menyebut nama Laura hingga akhirnya tertidur.

"Mas, pergi ke kantor hari ini?"

Galang sudah selesai membersihkan diri dan kini terlihat tengah bersiap. Pria itu mengenakan stelan jas seperti biasanya, mengabaikan pakaian rumah yang sudah Sekar siapkan. Sekar mengira jika Galang tidak bekerja karena masih merasakan efek samping setelah mengkonsumsi minuman beralkohol.

"Pekerjaanku banyak dan mungkin mulai sekarang aku akan sering pulang terlambat."

"Mas akan lembur?"

"Hmm."

Memastikan penampilannya sudah rapi, Galang segera keluar dari kamar. Sekar menghela napas, sikap Galang yang seperti itu bukanlah kali ini saja dia dapatkan, tapi entah mengapa saat ini Sekar merasakan kesal dalam hatinya.

Keduanya keluar dari dalam kamar secara bersamaan. Menuruni anak tangga ingin menuju meja makan, tapi Anggita sudah lebih dulu berteriak menghentikan langkah ayahnya.

"Papa!" Anggita mendekat cepat pada Galang. Ia merangkul lengan ayahnya. "Papa pulang jam berapa tadi malam? Aku menunggu dan menghubungi Papa berulang kali."

"Papa ada urusan di luar. Kenapa menghubungi Papa? Kartu mu tidak bisa digunakan?"

"Bukan itu. Aku memerlukan bantuan Papa."

"Bantuan apa yang putri Papa perlukan?" Galang tersenyum melihat Anggita yang cemberut. Hingga bayangan sosok muda yang begitu cantik terlintas dalam pikirannya. "Dia sebesar Anggita," benak Galang lirih.

"Keluarkan perempuan murahan itu dari kampus ku, Pa! Dia selalu mencari masalah dengan ku."

Mereka sudah duduk di meja makan, Sekar yang mendengar aduan Anggita pada Galang hanya diam. Tak berniat menimpali pembicaraan suami dan putrinya itu, Sekar seakan berada di dunia yang berbeda. Pikirannya sedang tidak fokus.

"Siapa perempuan murahan?"

"Tsania. Namanya Tsania Zoun, Pa," kata Anggita dan membuat Galang langsung terbatuk saat menikmati kopi paginya. "Dia sugar baby yang menjual diri demi bisa berkuliah di kampus itu, Pa."

Anggita terus bicara, mengeluarkan isi hatinya yang penuh dengan kebencian terhadap Tsania. Mengabaikan sang ayah yang kini sudah menatap serius ke arahnya.

"Siapa sebenarnya yang kamu maksud, Anggi?" Anggita menoleh. Bisa ia lihat tatapan ayahnya kini berbeda. Anggita bahkan sampai dibuat mengerjap beberapa kali. "Apakah dia... gadis yang pernah terlibat masalah dengan mu?"

Anggita mengangguk cepat, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan karena menilai dari ekspresi Galang, jika saat ini ayahnya itu pastilah akan marah besar.

"Dia sudah membuat ku malu di depan teman-teman kampus. Dia bahkan merebut Teo dariku. Anak haram itu sudah keterlaluan, Pa!"

"Siapa yang kamu sebut anak haram!! Dia bukan anak haram!!" Anggita dan Sekar terkesiap saat melihat Galang yang bersuara keras. "Jaga sikap mu, Anggita! Papa tidak akan berpikir dua kali untuk menarik kartu-kartu mu!!"

Dua wanita berbeda usia itu terpaku setelah melihat Galang yang langsung meninggalkan meja makan. Pria kebanggaan mereka itu tidak pernah seperti ini sebelumnya.

"Papa kenapa, Ma?" tanya Anggita pelan. Jantungnya masih berdegub setelah melihat ayahnya yang seakan tengah marah.

"Tidak apa-apa. Papa mu sedang banyak pekerjaan. Untuk sekarang jangan ganggu papamu dulu."

Anggita memperhatikan sekar sebelum akhirnya memberikan anggukan. Dan keduanya kembali melanjutkan sarapan tanpa Galang.

Di sisi lain. Galang yang sudah berada di dalam mobil yang bergerak menuju kantor itu memikirkan ulang perkataan Anggita. Apakah benar kabar itu? Apakah benar putrinya-Tsania mencari uang dengan cara yang salah?

"Ke kampus Anggita dulu, Pak."

Satu perintah itu langsung lolos dari bibir Galang dan dengan segera diikuti oleh supir pribadinya.

Tak butuh waktu lama mobil Galang sudah terparkir di area kampus. Ia duduk dengan diam seraya mengawasi satu persatu mahasiswa dan mahasiswi yang mulai berdatangan. Galang harap bisa bertemu Tsania.

"Siapa dia?" Galang bergumam saat ia melihat Tsania yang datang bersama seorang pria dengan menaiki motor besar. Tatapannya juga terus mengunci pergerakan Tsania.

"Kurang ajar!" Galang dengan cepat keluar dari dalam mobil dan berlari ke arah Tsania saat melihat pria yang datang bersama Tsania itu tengah berusaha mencium putrinya.

*

*

*

"Kau tenang saja. Aku sangat pandai menempatkan diri." Ia menatap dingin pada wajah wanita yang sudah jauh-jauh datang menemuinya. "Aku tahu kapan aku harus menghilang...dan kapan aku harus bertahan."

Terpopuler

Comments

Upi Raswan

Upi Raswan

sekar menemui Laura? untuk apa coba, menyuruh llaura pergi menjauh? egois gak sih

2024-11-20

1

Aiyuki

Aiyuki

bejirrrr sekali lakik mu kar😆😆

2024-11-23

1

F.T Zira

F.T Zira

kann.. di bilangin mulut balsem/Smug//Smug/

2024-11-21

1

lihat semua
Episodes
1 Tsania Laura 1.
2 Tsania Laura 2.
3 Tsania Laura 3.
4 Tsania Laura 4.
5 Tsania Laura 5.
6 Tsania Laura 6.
7 Tsania Laura 7.
8 Tsania Laura 8.
9 Tsania Laura 9.
10 Tsania Laura 10.
11 Tsania Laura 11.
12 Tsania Laura 12.
13 Tsania Laura 13.
14 Tsania Laura 14.
15 Tsania Laura 15.
16 Tsania Laura 16.
17 Tsania Laura 17.
18 Tsania Laura 18.
19 Tsania Laura 19.
20 Tsania Laura 20.
21 Tsania Laura 21.
22 Tsania Laura 22.
23 Tsania Laura 23.
24 Tsania Laura 24.
25 Tsania Laura 25.
26 Tsania Laura 26.
27 Tsania Laura 27.
28 Tsania Laura 28.
29 Tsania Laura 29.
30 Tsania Laura 30.
31 Tsania Laura 31.
32 Tsania Laura 32.
33 Tsania Laura 33.
34 Tsania Laura 34.
35 Tsania Laura 35.
36 Tsania Laura 36.
37 Tsania Laura 37.
38 Tsania Laura 38.
39 Tsania Laura 39.
40 Tsania Laura 40.
41 Tsania Laura 41.
42 Tsania Laura 42.
43 Tsania Laura 43.
44 Tsania Laura 44.
45 Tsania Laura 45.
46 Tsania Laura 46.
47 Tsania Laura 47.
48 Tsania Laura 48.
49 Tsania Laura 49.
50 Tsania Laura 50.
51 Tsania Laura 51.
52 Tsania Laura 52.
53 Tsania Laura 53.
54 Tsania Laura 54.
55 Tsania Laura 55.
56 Tsania Laura 56.
57 Tsania Laura 57.
58 Tsania Laura 58.
59 Tsania Laura 59.
60 Tsania Laura 60.
61 Tsania Laura 61.
62 Tsania Laura 62.
63 Tsania Laura 63.
64 Tsania Laura 64.
65 Tsania Laura 65.
66 Tsania Laura 66.
67 Tsania Laura 67.
68 Tsania Laura 68.
69 Tsania Laura 69.
70 Tsania Laura 70.
71 Tsania Laura 71.
72 Tsania Laura 72 Bonchap.
73 Tsania Laura 73 Bonchap.
74 Tsania Laura 74 Bonchap.
75 Tsania Laura 75 Bonchap.
76 Tsania Laura 76 Bonchap.
77 Tsania Laura 77 Bonchap Akhir.
Episodes

Updated 77 Episodes

1
Tsania Laura 1.
2
Tsania Laura 2.
3
Tsania Laura 3.
4
Tsania Laura 4.
5
Tsania Laura 5.
6
Tsania Laura 6.
7
Tsania Laura 7.
8
Tsania Laura 8.
9
Tsania Laura 9.
10
Tsania Laura 10.
11
Tsania Laura 11.
12
Tsania Laura 12.
13
Tsania Laura 13.
14
Tsania Laura 14.
15
Tsania Laura 15.
16
Tsania Laura 16.
17
Tsania Laura 17.
18
Tsania Laura 18.
19
Tsania Laura 19.
20
Tsania Laura 20.
21
Tsania Laura 21.
22
Tsania Laura 22.
23
Tsania Laura 23.
24
Tsania Laura 24.
25
Tsania Laura 25.
26
Tsania Laura 26.
27
Tsania Laura 27.
28
Tsania Laura 28.
29
Tsania Laura 29.
30
Tsania Laura 30.
31
Tsania Laura 31.
32
Tsania Laura 32.
33
Tsania Laura 33.
34
Tsania Laura 34.
35
Tsania Laura 35.
36
Tsania Laura 36.
37
Tsania Laura 37.
38
Tsania Laura 38.
39
Tsania Laura 39.
40
Tsania Laura 40.
41
Tsania Laura 41.
42
Tsania Laura 42.
43
Tsania Laura 43.
44
Tsania Laura 44.
45
Tsania Laura 45.
46
Tsania Laura 46.
47
Tsania Laura 47.
48
Tsania Laura 48.
49
Tsania Laura 49.
50
Tsania Laura 50.
51
Tsania Laura 51.
52
Tsania Laura 52.
53
Tsania Laura 53.
54
Tsania Laura 54.
55
Tsania Laura 55.
56
Tsania Laura 56.
57
Tsania Laura 57.
58
Tsania Laura 58.
59
Tsania Laura 59.
60
Tsania Laura 60.
61
Tsania Laura 61.
62
Tsania Laura 62.
63
Tsania Laura 63.
64
Tsania Laura 64.
65
Tsania Laura 65.
66
Tsania Laura 66.
67
Tsania Laura 67.
68
Tsania Laura 68.
69
Tsania Laura 69.
70
Tsania Laura 70.
71
Tsania Laura 71.
72
Tsania Laura 72 Bonchap.
73
Tsania Laura 73 Bonchap.
74
Tsania Laura 74 Bonchap.
75
Tsania Laura 75 Bonchap.
76
Tsania Laura 76 Bonchap.
77
Tsania Laura 77 Bonchap Akhir.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!