Bab 19 - Undangan Pesta

"Mama," panggil Aaron yang melihat Devina sedang berjalan menuju ke arahnya.

Seketika Devina mempercepat langkahnya lalu pelukan hangat pun mendarat begitu cepat di tubuh Aaron.

Grepp...

"Maafkan Mama ya, Sayang. Kamu pasti sudah lama menunggu," bisik Devina lembut dengan penuh rasa bersalah pada putranya.

"Bukan salah Mama. Kan siang ini harusnya aku dijemput Ayah Leno,"

"Maafkan Om Reno. Dia terjebak macet di jalan pas mau datang ke sini jemput Aaron," ujar Devina seraya mengelus lembut wajah Aaron usai melepaskan pelukannya.

"Aaron enggak marah kok, Ma. Aaron seneng banget hari ini," ucap Aaron seraya tersenyum lebar di depan Devina.

"Kenapa hari ini putra Mama terlihat bahagia? Boleh kasih tahu Mama?"

"Rahasia. Haha..." jawab Aaron seraya tertawa lebar.

"Ya sudah, sekarang Aaron mau ke toko mainan sama Mama atau nunggu Om Reno di rumah?" tawar Devina.

"Pulang saja, Ma. Aku mau bobo ciang. Capek..."

"Siap, Bos. Let's go..." ujar Devina seraya menggandeng tangan Aaron menuju ke mobilnya. Ia tak terlalu banyak bertanya pada Aaron alasan detail putranya itu terlihat lebih sumringah. Harusnya Aaron marah atau berwajah jutek saat Reno tak jadi menjemputnya ke sekolah. Devina tak ingin merusak kebahagiaan rahasia Aaron hari ini.

Mobil mereka pun bersiap pergi meninggalkan area sekolah. Sebenarnya Devina bisa mengemudikan mobil secara mandiri. Namun sejak ia bercerai dari Arthur, kedua orang tuanya melarang Devina membawa mobil sendiri. Sehingga sejak itu, Devina selalu diantar sopir kemana pun ia pergi.

Kini Aaron sudah berada di dalam mobil bersama Devina. Arthur memandang Devina dan Aaron dari kejauhan. Sebelum Devina datang ke sekolah, Arthur sudah keluar dari lingkungan sekolah dan kembali masuk ke dalam mobil. Alhasil mereka berdua tidak saling bertemu atau berpapasan.

Mainan mobil-mobilan milik Aaron sengaja dimasukkan bocah itu ke dalam tas sekolahnya yang berukuran cukup besar. Arthur yang menyuruhnya. Kalimat yang dibisikkan oleh Arthur pada Aaron sebelum kedatangan Devina yakni bocah itu harus merahasiakan kedatangannya di sekolah dari siapapun termasuk ibunya.

Sepanjang perjalanan mereka di dalam mobil, Aaron berceloteh riang nan santai pada Devina.

"Ma,"

"Iya,"

"Aaron sudah enggak pengin mobil-mobilan yang waktu itu hilang di Singapura kok,"

"Loh, kenapa?"

"Enggak apa-apa, Ma. Bukankah mainanku juga masih banyak," jawab Aaron.

"Putra Mama memang hebat. Mama bangga sama Aaron," puji Devina. Ia pun tak ingin memperpanjang urusan mainan mobil-mobilan tersebut.

Sedangkan Arthur sendiri ikut pergi juga dari area sekolah Aaron karena hendak menuju rumah sakit. Ia akan melakukan tes DNA. Lebih cepat dilakukan maka ia bisa tahu hasil kebenarannya apakah Aaron putra kandungnya atau tidak.

☘️☘️

"Hiks...hiks...hiks..."

"Papa jahat. Udah bikin aku cendilian di cini. Huhu..."

"Kamu siapa, Nak?" tanya Arthur dengan nada lembut.

Raut kebingungan tampak jelas di wajah Arthur kala di depannya ada seorang anak kecil perempuan yang usianya sebaya dengan Aaron, terus menangis seraya memeluk sebuah boneka. Bahkan anak perempuan itu memanggilnya 'Papa'.

"Apa Papa enggak lihat wajahku? Aku, putrimu."

Deg...

Jantung Arthur seketika berdetak dengan kencang. Memang benar jika dilihat secara seksama, wajah bocah perempuan ini begitu mirip dengan Devina dan rambutnya begitu mirip dengan Arthur.

Ia seakan tengah dihantam oleh sebuah batu besar yang menghimpit tubuhnya saat ini. Arthur merasa susah sekali untuk sekedar bernapas usai mendengar bocah perempuan itu mengatakan bahwa ia putrinya.

"Putriku?"

"Iya, Pa. Aku kembarannya Kak Aaron. Aku benci Papa! Gara-gara Papa, aku pisah sama Mama dan Kak Aaron. Gara-gara Papa, Mama nangis terus. Huhu..."

Arthur semakin terpaku dalam posisinya dan air matanya tanpa sadar ikut menetes kala melihat bocah perempuan itu terus menangis tanpa henti. Tiba-tiba...

"TIDAK !!" pekik Arthur yang seketika terbangun dari mimpi buruknya. Keringat dinginnya membanjiri wajahnya.

Ceklek...

Pintu kamar Arthur yang tidak terkunci, mendadak terbuka karena di dorong oleh seseorang.

"Ya ampun, kamu masih belum siap-siap juga!" Rara masuk ke dalam kamar putra sulungnya. Arthur mengusap wajahnya. Ia masih berusaha menetralkan napasnya sejenak.

"Ada apa, Mom?"

"Astaga, kamu mulai pikun? Bukankah kamu ada undangan pesta pernikahan rekan bisnismu di Grand Hyatt,"

"Ya ampun, aku lupa Mom." Arthur refleks menepuk dahinya sendiri. Ia benar-benar tidak ingat jika ada undangan pesta tersebut malam ini.

"Buruan! Lisa sudah menunggumu sejak tadi di ruang tamu,"

"Temani Lisa dulu, Mom."

"Hem,"

Setelah satu jam lebih bersiap ke pesta, kini Arthur dan Lisa sudah berada di dalam mobil hendak menuju Grand Hyatt, Jakarta. Lisa terus mencuri pandang ke arah Arthur yang tengah mengemudikan mobil.

"Kenapa kamu melihatku terus?"

"Eh, maaf Mas."

"Sudah aku bilang jika berdua saja jangan panggil, Mas."

"Sesekali biarkanlah seperti ini, Mas. Apa salahnya? Kan aku juga tunangan sekaligus calon istri Mas Arthur,"

"Masih calon belum resmi kan," sindir Arthur.

"Ya, maka dari itu Mas Arthur segera resmikan hubungan kita ke jenjang pernikahan. Papa dan Mama sudah pengin banget kita nikah,"

"Kamu sangat tahu aku trauma sama pernikahan. Jadi harusnya kamu lebih sabar ngadepin aku kalau memang pengin kita menikah,"

"Enggak semua wanita itu seperti mantan istrimu. Jangan menyamaratakan kalau semua wanita akan berselingkuh. Buktinya sampai detik ini aku selalu setia menemani Mas Arthur dalam kondisi apapun. Aku bukan seperti Devina yang mudah berselingkuh dengan mantan kekasih,"

Cittt...

Arthur pun mengerem mobilnya secara mendadak. Ia merasa tak suka mendengar Lisa membahas Devina bahkan menyudutkan mantan istrinya itu. Entah mengapa hatinya panas mendengarnya.

"Sejak kapan aku mengizinkan kamu berkomentar banyak soal mantan istriku?"

Glug...

Lisa menelan salivanya dalam-dalam. Ia melihat wajah Arthur yang saat ini tampak jelas menyimpan kemarahan di dalamnya.

"Apa sih kurangnya aku, Mas? Aku berusaha memberi perhatian dan cinta padamu. Walaupun kamu tak menggubrisnya sama sekali. Aku berusaha sabar menghadapimu selama ini yang masih menyimpan cinta untuk Devina. Tapi, apa tak ada sedikit cinta buatku?" cecar Lisa yang terdengar sendu di ujung kalimatnya.

Lisa berusaha tak tinggal diam. Ia enggan minta maaf untuk kali ini karena telah berani membahas Devina di depan Arthur. Ia hanya wanita biasa yang juga ingin diperhatikan dan dicintai oleh Arthur. Terlebih mereka sudah bertunangan cukup lama. Walaupun Lisa yakin hingga kini Arthur masih belum juga mencintainya.

"Lupakan pembahasan ini, kita sudah dekat dengan hotelnya." Arthur malas melanjutkan perdebatannya dengan Lisa. Lalu, ia menekan pedal gas mobilnya guna melanjutkan perjalanan mereka yang sudah dekat dengan tempat acara berlangsung.

☘️☘️

Grand Hyatt, Jakarta.

"Ayo, pestanya sebentar lagi dimulai."

"Aku masih agak takut bertemu banyak orang," cicit Devina terdengar gugup.

"Tenanglah, Dev. Ada aku. Tidak akan ada orang yang menyakitimu di dalam sana. Percayalah," ucap Reno seraya menggenggam lembut tangan Devina yang terasa dingin. Mereka berdua saat ini masih berada di dalam mobil, tepatnya di area parkir basement hotel.

Devina berusaha mengingat kembali saran dari dokter bahwa ia tak boleh takut dan harus menghadapi segala kesulitan di depan. Jika memang dalam kondisi kegawatan, barulah Devina bisa meminum obat anti depresan yang selalu ia bawa di dalam tasnya. Jika tidak dalam kondisi mendesak, dokter melarangnya. Sebab, sang dokter ingin Devina lepas dari ketergantungan obat anti depresan tersebut.

Berdamailah dengan masa lalu. Itulah saran dari dokter pribadinya. Dikarenakan jika kita terus takut menghadapi atau menghindar, maka selamanya hidup kita akan terbelenggu trauma masa lalu tak berkesudahan. Semua proses penyembuhan diri tergantung dari niat dan kegigihan pasien itu sendiri.

Reno dan Devina kini telah berjalan untuk masuk ke dalam lift. Hanya ada mereka berdua di dalam lift saat ini.

Tring...

Pintu lift mendadak terbuka, namun mereka baru sampai di lantai satu. Sedangkan venue acara terletak di lantai dua. Seketika pandangan Reno dan Devina bersirobok menatap dua sosok manusia yang kini berdiri mematung di depan pintu lift yang terbuka.

Deg...

Bersambung...

🍁🍁🍁

Terpopuler

Comments

Ais

Ais

Siapa lagi klo bkn mantan suami dan mantan sahabat yg sdh menusuk devina dr belakang dr awal aku curiga sm lisa kyknya ini smua rencana lisa makanya devina bs berakhir satu kamar sm reno entah bagaimana cara lisa wkt itu melakukan smua rencana dgn rapi dan sngt detail tp sepandai pandai tupai melompat pst akan jatuh juga hny saja lisa kyknya hny sendirian melakukan aksi gilanya ini dia pst dibantu seseorang entah siapa bs jd itu reno atau ibu kandung reno dan arthur yaitu rara entahlah

2024-11-18

10

Nena Anwar

Nena Anwar

Aaron lagi bahagia karena mainan mobil2annya sudah kembali jadi dia gk marah meskipun Reno gk jadi jemput,,,Lisa dan Reno sama nih sama2 pemaksa udah tau hanya mencintai dan gk dicintai tapi masih keukeuh ingin bersatu mending jodohin aja dah si Reno sama si Lisa,,,akhirnya ketemu juga mereka

2024-11-18

6

As Lamiah

As Lamiah

wah kejutan nih untuk Arthur dan Devina di pertemukan kembali setelah limatahun dipisahkan semoga Devina kuat menghadapi suasana yg bakal bikin traumanya kambuh

2024-11-18

3

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Dituduh Selingkuh
2 Bab 2 - Petaka Itu
3 Bab 3 - Tersebar Luas (Viral)
4 Bab 4 - Kepergian (Berduka)
5 Bab 5 - Perceraian
6 Bab 6 - Selamat Ulang Tahun
7 Bab 7 - Keguguran
8 Bab 8 - Depresi Berat
9 Bab 9 - Menuju Rumah Sakit
10 Bab 10 - El-usan Lembut
11 Bab 11 - Mantan Istri
12 Bab 12 - Mainan Kesayangan
13 Bab 13 - Permintaan Devina
14 Bab 14 - Desakan Turun Ranjang
15 Bab 15 - Soal Anak
16 Bab 16 - Ulang Tahun Devina
17 Bab 17 - Pulang ke Tanah Air
18 Bab 18 - Ke Sekolah Aaron
19 Bab 19 - Undangan Pesta
20 Bab 20 - Setelah Kami Bercerai (Aku Mencintainya) ~ DelovA
21 Bab 21 - Pingsan
22 Bab 22 - Dijodohkan Orang Tua
23 Bab 23 - Pengantin Baru
24 Bab 24 - Mantan Pasien Rumah Sakit Jiwa
25 Bab 25 - Hasil Tes DNA
26 Bab 26 - Aku Ingin Rujuk (Arthur)
27 Bab 27 - Putus
28 Bab 28 - Menolak Putus dan Menerima Turun Ranjang
29 Bab 29 - Nonton Film
30 Bab 30 - Rencana Arthur
31 Bab 31 - Berbicara Empat Mata
32 Bab 32 - Perang Siap Dimulai
33 Bab 33 - Arthur vs Reno
34 Bab 34 - Terpaksa Berbohong
35 Bab 35 - Obrolan Menjelang Tengah Malam
36 Bab 36 - Kemesraan Mantan Suami-Istri
37 Promo Karya Baru
38 Bab 37 - Kedatangan Arthur dan Keluarganya
39 Bab 38 - Berjalan A_lot (Upaya Rujuk)
40 Bab 39 - Sebuah Hukuman
41 Bab 40 - Kehidupan Lisa dan Keluarganya
42 Bab 41 - Mertua vs Menantu Megalodon
43 Bab 42 - Lakukan Misi Selanjutnya
44 Bab 43 - Saling Memaafkan (Devina-Dion)
45 Bab 44 - Apa Kita Tidak Berhak Untuk Bahagia Bersama ? (Devina-Arthur)
46 Bab 45 - Pergi Bertiga (Arthur, Devina dan Aaron)
47 Bab 46 - Om Cakep (Papa Aaron)
48 Bab 47 - Sebuah Pertengkaran
49 Bab 48 - Arthur Jatuh Sakit
50 Bab 49 - Happy Anniversary
51 Bab 50 - Niat Membatalkan Turun Ranjang (Berganti Rujuk)
52 Bab 51 - Dipantau
53 Bab 52 - Kejutan di Pagi Hari
54 Bab 53 - Batal Rujuk
55 Bab 54 - Dendam
56 Bab 55 - Sosok Mr. X
57 Bab 56 - Mempercepat Rencana Pernikahan Turun Ranjang
58 Bab 57 - Rapat Terbatas
59 Bab 58 - Jatuh Sakit (Aaron)
60 Bab 59 - Deep Talk
61 Bab 60 - Bertemu Papa (Arthur dan Aaron)
62 Bab 61 - Permintaan Aaron
63 Bab 62 - Menjelang Pernikahan Turun Ranjang
64 Bab 63 - Hari Pernikahan Tiba (Reno-Devina)
65 Bab 64 - Cinta Itu Bukan Untukku (Reno-Devina)
66 Bab 65 - Kedatangan Tamu di Pagi Hari
67 Bab 66 - Menguak Tabir
68 Bab 67 - Sebuah Kecelakaan
69 Bab 68 - Pesan Terakhir Lisa
70 Bab 69 - Siapa Nama Anak Tiri Anda ?
71 Bab 70 - Akhirnya Terkuak
72 Bab 71 - Kehebohan di Bandara
73 Bab 72 - Rujuk (DelovA=Devina Love Arthur)
74 Bab 73 - Keikhlasan Reno (Sehari Sebelum Pernikahan)
75 Bab 74 - Pergi ke Makam
76 Bab 75 - Hukuman (Pengantin Baru)
77 Bab 76 - Sebuah Ide
78 Bab 77 - Terciduk
79 Bab 78 - Random (Arthur-Reno-Mr. X)
80 Bab 79 - Akhir Hidup Mr. X
81 Bab 80 - Ajakan Menikah (Reno-Novi)
82 Bab 81 - Pura-Pura Hamil (Reno-Novi)
83 Bab 82 - Lantai Horor
84 Bab 83 - Hari Apes Tidak Ada di Kalender
85 Bab 84 - Calon Bunda Untuk Riri
86 Bab 85 - Pernikahan (Reno-Novi) ~ TAMAT
87 Bab 86 - Extra Chapter 1
88 Bab 87 - Extra Chapter 2
89 Bab 88 - Extra Chapter 3
90 Bab 89 - Extra Chapter 4
91 Bab 90 - Extra Chapter 5
92 Bab 91 - Extra Chapter 6
93 Bab 92 - Extra Chapter 7
94 Bab 93 - Extra Chapter 8
95 Bab 94 - Extra Chapter 9
96 PROMO NOVEL BARU
Episodes

Updated 96 Episodes

1
Bab 1 - Dituduh Selingkuh
2
Bab 2 - Petaka Itu
3
Bab 3 - Tersebar Luas (Viral)
4
Bab 4 - Kepergian (Berduka)
5
Bab 5 - Perceraian
6
Bab 6 - Selamat Ulang Tahun
7
Bab 7 - Keguguran
8
Bab 8 - Depresi Berat
9
Bab 9 - Menuju Rumah Sakit
10
Bab 10 - El-usan Lembut
11
Bab 11 - Mantan Istri
12
Bab 12 - Mainan Kesayangan
13
Bab 13 - Permintaan Devina
14
Bab 14 - Desakan Turun Ranjang
15
Bab 15 - Soal Anak
16
Bab 16 - Ulang Tahun Devina
17
Bab 17 - Pulang ke Tanah Air
18
Bab 18 - Ke Sekolah Aaron
19
Bab 19 - Undangan Pesta
20
Bab 20 - Setelah Kami Bercerai (Aku Mencintainya) ~ DelovA
21
Bab 21 - Pingsan
22
Bab 22 - Dijodohkan Orang Tua
23
Bab 23 - Pengantin Baru
24
Bab 24 - Mantan Pasien Rumah Sakit Jiwa
25
Bab 25 - Hasil Tes DNA
26
Bab 26 - Aku Ingin Rujuk (Arthur)
27
Bab 27 - Putus
28
Bab 28 - Menolak Putus dan Menerima Turun Ranjang
29
Bab 29 - Nonton Film
30
Bab 30 - Rencana Arthur
31
Bab 31 - Berbicara Empat Mata
32
Bab 32 - Perang Siap Dimulai
33
Bab 33 - Arthur vs Reno
34
Bab 34 - Terpaksa Berbohong
35
Bab 35 - Obrolan Menjelang Tengah Malam
36
Bab 36 - Kemesraan Mantan Suami-Istri
37
Promo Karya Baru
38
Bab 37 - Kedatangan Arthur dan Keluarganya
39
Bab 38 - Berjalan A_lot (Upaya Rujuk)
40
Bab 39 - Sebuah Hukuman
41
Bab 40 - Kehidupan Lisa dan Keluarganya
42
Bab 41 - Mertua vs Menantu Megalodon
43
Bab 42 - Lakukan Misi Selanjutnya
44
Bab 43 - Saling Memaafkan (Devina-Dion)
45
Bab 44 - Apa Kita Tidak Berhak Untuk Bahagia Bersama ? (Devina-Arthur)
46
Bab 45 - Pergi Bertiga (Arthur, Devina dan Aaron)
47
Bab 46 - Om Cakep (Papa Aaron)
48
Bab 47 - Sebuah Pertengkaran
49
Bab 48 - Arthur Jatuh Sakit
50
Bab 49 - Happy Anniversary
51
Bab 50 - Niat Membatalkan Turun Ranjang (Berganti Rujuk)
52
Bab 51 - Dipantau
53
Bab 52 - Kejutan di Pagi Hari
54
Bab 53 - Batal Rujuk
55
Bab 54 - Dendam
56
Bab 55 - Sosok Mr. X
57
Bab 56 - Mempercepat Rencana Pernikahan Turun Ranjang
58
Bab 57 - Rapat Terbatas
59
Bab 58 - Jatuh Sakit (Aaron)
60
Bab 59 - Deep Talk
61
Bab 60 - Bertemu Papa (Arthur dan Aaron)
62
Bab 61 - Permintaan Aaron
63
Bab 62 - Menjelang Pernikahan Turun Ranjang
64
Bab 63 - Hari Pernikahan Tiba (Reno-Devina)
65
Bab 64 - Cinta Itu Bukan Untukku (Reno-Devina)
66
Bab 65 - Kedatangan Tamu di Pagi Hari
67
Bab 66 - Menguak Tabir
68
Bab 67 - Sebuah Kecelakaan
69
Bab 68 - Pesan Terakhir Lisa
70
Bab 69 - Siapa Nama Anak Tiri Anda ?
71
Bab 70 - Akhirnya Terkuak
72
Bab 71 - Kehebohan di Bandara
73
Bab 72 - Rujuk (DelovA=Devina Love Arthur)
74
Bab 73 - Keikhlasan Reno (Sehari Sebelum Pernikahan)
75
Bab 74 - Pergi ke Makam
76
Bab 75 - Hukuman (Pengantin Baru)
77
Bab 76 - Sebuah Ide
78
Bab 77 - Terciduk
79
Bab 78 - Random (Arthur-Reno-Mr. X)
80
Bab 79 - Akhir Hidup Mr. X
81
Bab 80 - Ajakan Menikah (Reno-Novi)
82
Bab 81 - Pura-Pura Hamil (Reno-Novi)
83
Bab 82 - Lantai Horor
84
Bab 83 - Hari Apes Tidak Ada di Kalender
85
Bab 84 - Calon Bunda Untuk Riri
86
Bab 85 - Pernikahan (Reno-Novi) ~ TAMAT
87
Bab 86 - Extra Chapter 1
88
Bab 87 - Extra Chapter 2
89
Bab 88 - Extra Chapter 3
90
Bab 89 - Extra Chapter 4
91
Bab 90 - Extra Chapter 5
92
Bab 91 - Extra Chapter 6
93
Bab 92 - Extra Chapter 7
94
Bab 93 - Extra Chapter 8
95
Bab 94 - Extra Chapter 9
96
PROMO NOVEL BARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!