SSM 3

Pagi itu kepala Giana sedang benar-benar sakit. Akan tetapi, Giana tetap berusaha melakukan yang terbaik untuk keluarga suaminya berharap sedikit saja ada secercah sinar harapan agar rumah tangganya bisa kembali utuh dan harmonis. Tidak masalah mertua dan iparnya memperlakukannya kurang baik, asalkan suaminya tetap mendukungnya, maka ia akan berusaha bersabar.

"Kamu ini masak apa sih? Buat nasi goreng aja hambar. Dan ini apa? Kenapa jus jeruk Mama asin gini? Kamu mau meracuni Mama? Iya? Kamu mau Mama hipertensi terus segera mati biar nggak ada yang ngomeli kamu lagi, begitu?" sentak Rahma membuat Giana tercengang. Ia memang sedang sakit kepala, perutnya pun rasa bergejolak, tapi tak mungkin ia sampai tidak bisa membedakan gula dan garam. Kalau nasi goreng yang hambar, mungkin bisa saja karena ia tidak bisa berkonsentrasi saat masak. Tapi kalau untuk jus jeruk yang justru asin, itu sangat aneh. Ibu mertuanya itu memang lebih suka jus jeruknya diberi sedikit gula untuk menetralisir rasa asam, tapi mana mungkin ia tidak bisa membedakan gula dan garam.

"Maaf, Ma. Kepala Gia sedang sakit banget, makanya ...."

"Stop banyak alasan! Dasar menantu tidak becus. Urus diri sendiri tidak becus, urus suami tidak becus, masak pun tidak becus. Jadi kamu bisanya ngapain? Mau disuruh kerja cari duit apalagi ini. Benar-benar menantu nggak guna," bentak Rahma sambil menggebrak meja. Giana meringis menahan perih. Ia sudah tidak memiliki tenaga untuk berdebat. Jadi ia memilih membereskan meja. Sementara Rahma gegas berlalu dari sana. Sedangkan Ratih justru terkekeh dari balik pintu karena berhasil mengerjai kakak iparnya itu.

"Rasain kamu!" bisik Ratih seraya terkekeh.

"Tih, kopi aku mana? Kamu bukannya buatin aku kopi, malah berdiri di situ," seru Rendi–suami Ratih.

"Eh, iya. Maaf, Sayang. Ya udah, aku minta Mbak Gia buatin kopi buat kamu dulu, ya." Ratih pun gegas berlalu menuju dapur. Rendi menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya yang selalu saja menyuruh kakak iparnya untuk melakukan ini itu. Rendi sudah sering kali menasihati Ratih, tapi Ratih tak pernah mengindahkan setiap perkataan Rendi. Rendi bahkan sudah mengajak Ratih untuk menyewa kontrakan saja agar mereka bisa lebih mandiri, tapi Ratih justru menolak membuat Rendi akhirnya pasrah dengan apa yang hendak Ratih lakukan.

Baru saja Rendi hendak berbalik, tiba-tiba ia mendengar suara kegaduhan di dapur. Rendi pun gegas menuju dapur saat mendengar suara sang istri begitu melengking.

"Ada apa ini?" tanya Rendi. Rahma pun ikut menyusul.

"Ini ada apa lagi sih? Nggak pagi, nggak siang, nggak malam, bahkan tengah malam ada aja keributan. Bisa-bisa Mama darah tinggi kalau kalian begini terus," omel Rahma.

"Sayang, liat, tangan aku jadi melepuh. Itu karena Mbak Giana yang sengaja numpahin kopi panas ke tangan aku. Kayaknya dia marah gara-gara aku minta buatin kopi. Padahal wajar 'kan, dia hidup numpang di sini. Jadi sudah seharusnya dia bekerja untuk rumah ini," adu Ratih membuat Rendi menghela nafas panjang.

Baru saja Rendi hendak membuka suara, suara Rahma sudah lebih dulu terdengar.

"Kamu lagi, kamu lagi. Apa nggak bisa sehari aja nggak butuh kegaduhan di rumah ini, hah?" sentak Rahma memarahi Giana.

"Tapi itu bukan salah aku, Ma. Salah Ratih sendiri. Kopi itu baru saja aku buat, tapi dia langsung merebutnya begitu saja sehingga airnya tumpah mengenai tangannya sendiri," ucap Giana jujur.

"Kamu nyalahin aku? Kamu yang nggak becus kerja malah nyalahin aku. Ma, liat tanganku ... Huhuhu ... perih banget." Ratih merengek seraya menunjukkan permukaan kulit tangannya yang sedikit memerah. Padahal bekas tumpahan kopi itu tidak terlalu besar, tapi Ratih mendramatisir seolah-olah lukanya begitu berat dan menyakitkan.

"Lain kali tak perlu buatin aku kopi lagi kalau kamu cuma bisa memerintah orang lain," ujar Rendi kesal. Tanpa memedulikan rengekan Ratih, Rendi pun segera berlalu dari sana. Ratih berteriak memanggil Rendi, tapi laki-laki itu mengabaikan panggilan Ratih dan memilih segera pergi bekerja.

Kesal karena Rendi pergi begitu saja, Ratih justru melampiaskan kekesalannya pada Giana. Padahal yang salah adalah Ratih. Bahkan sebenarnya tangan Giana pun perih karena Ratih yang sengaja mendorong cangkir ke arah Giana sehingga tangan Giana bukan hanya terpercik, tapi tersiram kopi panas tersebut.

"Semua gara-gara, Mbak. Mbak yang ceroboh, aku yang jadi kena marah Mas Rendi," sentak Ratih.

"Berhenti menyalahkan ku terus, Ratih! Kau sendiri yang ceroboh dan tidak hati-hati, tapi kau justru menyalahkan aku. Lihat, karena ulahmu, tanganku pun terkena air panas. Jadi jangan playing victim karena semua takkan terjadi kalau kamu bisa lebih berhati-hati!" balas Giana kesal.

"Kau ...."

"Ratih, cukup! Sekarang ke depan. Dan kau ... Segera buatkan minum untuk Herdan dan tamu istimewanya. Cepat!" perintah Rahma pada Giana.

"Baik, Ma." Tanpa banyak bertanya apa yang dimaksud ibu mertuanya itu dengan tamu istimewa, Giana pun segera melakukan perintah sang ibu mertua.

Setelah selesai, Giana membawa minuman itu ke ruang tamu. Dahi Giana mengernyit saat melihat seorang wanita duduk tepat di samping suaminya. Bukan hanya itu, ibu mertua dan adik iparnya tampak begitu akrab dengan wanita tersebut. Mereka bercerita sambil tertawa. Herdan pun terlihat ikut menimpali dengan tawa yang begitu renyah. Entah kapan terakhir kali Herdan tertawa seperti itu dengannya, Giana sudah lupa.

Giana membawa minum itu dengan jantung yang berdebar kencang. Ia menghidangkan minum itu sambil berharap salah satu dari mereka mau mengenalkan siapa wanita itu. Giana tidak mengenalnya, tapi entah kenapa ia begitu familiar.

Wanita yang tak lain adalah Angel itu pun tersenyum ke arah Giana. Seketika Giana teringat dengan foto-foto yang dikirimkan kepadanya. Meskipun dari jarak cukup jauh, tapi Giana kini bisa mengenalinya dengan jelas.

"Halo, Kakak Madu, perkenalkan aku Angel, calon istri kedua suamimu. Salam kenal." Angel memperkenalkan diri sambil tersenyum tipis.

Sontak saja, jantung Giana bagai diremas tangan-tangan tak kasat mata. Giana menoleh ke arah sang suami, berharap mendengar kata-kata penyangkalan darinya. Tapi, Herdan justru tampak santai sekali. Ia bahkan tidak menyangkal sama sekali membuat mata Giana sontak memerah.

"Mas, dia ...."

"Apa yang Angel katakan benar. Dia adalah calon istriku. Kami akan segera menikah."

"Tapi Mas ...."

"Tidak ada penolakan, Gia. Terima tidak terima, keputusanku sudah bulat, aku akan segera menikahi Angel. Titik," tegas Herdan tanpa perasaan sama sekali.

Jelas saja, kata-kata Herdan itu meremukkan hati Giana. Nampan yang tadi berada di tangan, reflek jatuh. Dengan hati yang hancur berkeping-keping, Giana pun segera berlari menuju kamarnya.

...Happy reading 🥰🥰🥰...

Terpopuler

Comments

Nena Anwar

Nena Anwar

run Giana run ngarepin apalagi sih dirumah itu dan mempertahankan apa dirumah itu usaha dan pengorbananmu sia2 Giana, lebih baik luntang lantung dijalanan daripada disiksa jiwa raga dirumah itu

2024-11-03

4

Sisil

Sisil

Oh Giana u sangat menyedihkan😢😢😢😢selalu disalah kan,tapi u hebat bisa bertahan dengan perilaku semua orang didalam rumah... lebih tepat'y neraka kali ya yang semua'y hanya bisa menyuruh dan menyalahkan mu untuk semua hal bahkan bukan salah mu juga kau kena hukuman

2024-12-05

1

Kar Genjreng

Kar Genjreng

giana sudah banyak fakta,,,dan sudah banyak kejadian yang menyakiti mu ,,,yakin masih mau bertahan setidaknya mintalah talak,,, tinggal kan rumah itu rumah terkutuk,,,semoga kelak hidup Mu
Len h beruntung ,,

2024-11-03

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!