Bab 34. konfrontasi di balkon

Malam itu, ketika semua orang sudah pergi tidur, Ciara keluar ke balkon untuk menikmati udara segar. Namun, ia dikejutkan oleh kehadiran Vino yang berdiri di sana, memandang langit malam dengan tatapan kosong.

"Vino," panggil Ciara dengan nada dingin.

Vino menoleh perlahan, matanya penuh kemarahan dan rasa sakit. "Apa lagi yang kau inginkan, Ciara? Kau sudah mendapatkan segalanya. Kau sudah berhasil menghancurkan hidupku."

Ciara mendekatinya, berdiri hanya beberapa langkah darinya. "Menghancurkan hidupmu? Kau pikir ini cukup untuk membalas apa yang kau lakukan padaku? Tidak, Vino. Ini baru permulaan."

"Kau menggunakan kakakku," kata Vino dengan suara serak. "Dia tidak tahu apa-apa tentang rencanamu. Dia mencintaimu, Ciara. Apa kau tidak merasa bersalah sedikit pun?"

Ciara tertawa kecil, lalu mendekatkan wajahnya ke arah Vino. "Bersalah? Aku tidak merasa bersalah sedikit pun. Kau yang memulai permainan ini, Vino. Kau yang mengkhianatiku dulu. Sekarang, aku hanya memastikan kau merasakan rasa sakit yang sama, bahkan lebih."

"Ciara, aku tahu aku salah," balas Vino. "Aku tahu aku sudah menghancurkanmu. Tapi menghancurkan Alvian dalam proses ini? Itu tidak adil. Dia tidak pantas diperlakukan seperti ini."

"Dan aku pantas diperlakukan seperti apa, Vino?" balas Ciara dengan suara tegas. "Jangan berbicara tentang keadilan, karena kau sendiri tidak pernah memikirkannya."

Vino terdiam, tidak mampu membalas.

"Aku ingin kau tahu satu hal," lanjut Ciara dengan nada penuh kemenangan. "Setiap kali kau melihat aku bersama Alvian, aku ingin kau merasa hancur. Aku ingin kau mengingat bahwa ini semua adalah akibat dari apa yang kau lakukan padaku. Dan ini belum selesai."

Vino yang mendengar ucapan ucapan Ciara pun marah, KAMU TIDAK BISA MEMPERMAINKAN ALVIAN DHARMAWAN KAKAK KU CIARA DIA TULUS MENCINTAIMU

Vino yang gelap mata marah kepada Ciara MENAMPAR CIARA .

tiba tiba Alvian datang APA YANG KAMU LAKUKAN VINO kamu menampar istriku sedangkan aku saja tidak pernah menampar nya .

"Amarah yang Memuncak"

Tamparan keras dari Vino membuat Ciara terkejut. Wajahnya terasa panas, bukan hanya karena rasa sakit fisik, tapi juga karena penghinaan yang baru saja diterimanya. Namun, ia tidak menunjukkan kelemahan sedikit pun. Dengan tatapan tajam dan senyum dingin, Ciara memandang Vino.

"Kau pikir tamparan itu akan menghentikan ku, Vino?" ucapnya dengan suara rendah. "Tidak. Kau baru saja membuatku semakin bertekad."

Sebelum Vino sempat menjawab, Alvian muncul dari pintu balkon, wajahnya penuh kemarahan setelah mendengar suara keras.

"Apa yang kau lakukan, Vino?" tanya Alvian dengan nada tinggi. "Kamu menampar istriku? Aku saja tidak pernah menyentuhnya dengan kasar!"

Vino, yang masih dipenuhi emosi, mencoba menjelaskan. "Alvian, kau tidak tahu siapa dia sebenarnya. Ciara hanya mempermainkan mu! Dia mendekatimu hanya untuk menyakitiku. Dia tidak mencintaimu!"

"Berhenti bicara omong kosong!" balas Alvian tajam. "Ciara adalah istriku, dan aku mencintainya. Dia tidak mungkin melakukan itu."

Ciara, yang menyadari situasi itu, segera memainkan perannya sebagai korban. Ia meraih lengan Alvian, matanya berkaca-kaca seolah menahan tangis. "Sayang, dia menuduhku hal yang tidak benar. Aku tidak tahu apa salahku sehingga dia membenciku seperti ini."

Alvian menatap Ciara dengan penuh simpati, lalu memeluknya erat. "Kau tidak perlu khawatir, baby. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu, bahkan adikku sendiri."

"Alvian, dengarkan aku!" seru Vino, mencoba mengubah pikiran kakaknya. "Ciara hanya memanfaatkan mu! Dia sedang menjalankan rencana balas dendam!"

Namun, Alvian menggeleng dengan tegas. "Sudah cukup, Vino. Aku tidak tahu apa yang terjadi antara kalian berdua di masa lalu, tapi sekarang Ciara adalah istriku. Jika kau tidak bisa menghormati itu, lebih baik kau menjauh dari kami."

" Pengakuan dan Aliansi Baru"

Malam itu, Ciara memutuskan untuk mengambil langkah yang berani. Setelah kejadian di balkon, ia tahu bahwa permainan ini tidak bisa terus berlangsung tanpa batas. Hatinya berdebar saat duduk bersama Alvian di ruang kerja pribadi mereka.

"Sayang," ucap Ciara dengan suara lembut, menarik perhatian Alvian yang sedang membaca berkas di tangannya. "Ada sesuatu yang harus aku katakan. Sesuatu yang sangat penting."

Alvian meletakkan berkasnya, memandang istrinya dengan penuh perhatian. "Apa itu, baby? Kau terlihat tegang."

Ciara menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian. "Aku tidak ingin membohongimu lebih lama lagi. Aku merasa kau pantas mengetahui kebenaran, meskipun itu mungkin akan menyakitimu."

"Kebenaran tentang apa?" tanya Alvian, sedikit bingung namun tetap tenang.

Tentang Rencana Balas Dendam

Dengan suara bergetar, Ciara mulai menceritakan semuanya—bagaimana Vino pernah mengkhianatinya, rasa sakit yang ia rasakan, dan bagaimana ia merencanakan balas dendam dengan mendekati Alvian, kakak Vino.

"Aku tahu ini salah," kata Ciara, matanya mulai berkaca-kaca. "Awalnya aku hanya ingin Vino merasakan sakit yang sama seperti yang ia berikan padaku. Tapi selama proses ini, aku... aku mulai benar-benar mencintaimu. Kau adalah pria yang baik, Alvian. Kau memberiku cinta yang tulus, dan aku merasa sangat bersalah karena memanfaatkan mu."

Alvian mendengarkan dengan tenang, wajahnya tidak menunjukkan kemarahan atau kebencian. Setelah Ciara selesai berbicara, ia tetap diam sejenak, mencerna semua yang baru saja didengarnya.

Kemudian, ia tersenyum tipis, mengulurkan tangan untuk meraih tangan Ciara.

"Aku sudah menduga ada sesuatu yang kau sembunyikan, Ciara," katanya lembut. "Tapi aku tidak marah. Aku mengerti kenapa kau melakukan semua ini. Kau hanya ingin membalas rasa sakit yang Vino berikan padamu."

Ciara menatap Alvian dengan tatapan tak percaya. "Kau... tidak marah?"

Alvian menggeleng pelan. "Aku tahu bagaimana Vino. Dia memang sering bertindak tanpa memikirkan konsekuensinya. Jika kau merasa ini adalah cara untuk mendapatkan keadilan, aku tidak akan menghalangi mu. Bahkan, aku akan mendukungmu."

Mendengar kata-kata itu, Ciara merasa lega sekaligus bingung. "Kau benar-benar akan mendukungku?" tanyanya ragu.

Alvian tersenyum. "Tentu saja, sayang. Aku mencintaimu. Jika ini yang membuatmu merasa lebih baik, aku akan berdiri di sisimu. Lagipula, aku juga ingin melihat Vino belajar dari kesalahannya. Dia perlu memahami bahwa tindakannya memiliki konsekuensi."

Ciara tersenyum kecil, merasa beban berat yang selama ini menghantui hatinya mulai terangkat. Dengan dukungan Alvian, ia merasa lebih kuat untuk melanjutkan rencananya.

Vino pun mengajak sang kakak untuk berbicara berdua, dia ingin menunjukkan bukti kebenaran tentang niat rencana balas dendam Ciara tapi semua sudah terlambat Ciara lebih dulu jujur ke Alvian Dharmawan sang kakak

Vino memutuskan bahwa ia tidak bisa lagi menahan diri. Ia harus berbicara dengan Alvian secara pribadi. Dengan membawa bukti berupa pesan-pesan lama Ciara yang menunjukkan niatnya untuk balas dendam, Vino merasa yakin bahwa ia bisa membuka mata kakaknya.

Malam itu, ia mengetuk pintu ruang kerja Alvian. Kakaknya sedang duduk di kursi, tampak santai sambil membaca sebuah dokumen. Alvian mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis saat melihat Vino masuk.

"Ada apa, Vino? Kau kelihatan serius," tanya Alvian, meletakkan dokumen di atas meja.

"Kak," ucap Vino pelan, mencoba mengatur emosinya. "Aku ingin berbicara tentang Ciara. Ada sesuatu yang harus kau ketahui."

Alvian memiringkan kepala, tampak tertarik. "Baiklah, aku mendengarkan."

Vino mendekat, meletakkan beberapa lembar kertas di meja. "Ini bukti pesan-pesan Ciara dengan temannya. Dia mengaku bahwa dia hanya menikah denganmu untuk balas dendam padaku. Semua ini adalah bagian dari rencananya."

Alvian mengambil kertas-kertas itu dengan tenang, membaca isinya satu per satu. Namun, ekspresinya tetap netral, tanpa tanda-tanda keterkejutan atau kemarahan.

Setelah selesai membaca, Alvian menghela napas dan meletakkan kertas itu kembali di meja. "Aku tahu, Vino," katanya dengan suara lembut namun tegas.

Vino terkejut. "Kau... kau tahu?"

Alvian mengangguk. "Ciara sudah jujur padaku beberapa hari yang lalu. Dia menceritakan semuanya—tentang rencananya, tentang rasa sakit yang kau berikan padanya, dan kenapa dia memilihku sebagai bagian dari rencananya. Aku tahu semuanya."

Vino terdiam. Ia merasa dadanya sesak. "Kalau begitu, kenapa kau tidak marah padanya? Kenapa kau tetap mendukungnya?"

Alvian tersenyum tipis, pandangannya penuh ketenangan. "Karena aku mencintainya, Vino. Dan aku mengerti kenapa dia melakukannya. Kau menyakitinya dengan cara yang sangat dalam, dan aku tidak bisa menyalahkannya karena ingin membalas dendam. Tapi ada satu hal yang perlu kau tahu: Ciara tidak lagi menjalankan rencana balas dendam itu. Dia benar-benar mencintaiku sekarang."

Episodes
1 Bab 1. Perkenalan
2 Bab 31. pernikahan Tian dan putri
3 Bab 32. Cinta dan dendam
4 Bab 33. Persiapan pernikahan
5 Bab 34. konfrontasi di balkon
6 Bab 35. Ciara Hamil
7 Bab 36. Naira di Culik
8 Bab 37. Naira hamil
9 Bab 38. periksa kehamilan citra
10 Bab 39. Tian dan putri
11 Bab 2. apa kamu masih mengingat ku
12 Bab 3. Saingan Nauval
13 Bab 4. Pergi berdua
14 Bab 5. Geng motor
15 Bab 6. Terlambat
16 Bab 7. arena balap
17 Bab 8. Terluka
18 Bab 9. bertemu Daddy
19 Bab 10. Sayang
20 Bab 11. Berubah status
21 Bab 12. melihat seseorang
22 Bab 13. Nonton bioskop
23 Bab 14. Pantai
24 Bab 15. Pacaran
25 Bab 16. acara keluarga
26 Bab 17. Cemburu buta
27 Bab 18. Pengakuan dan pemaafan
28 Bab 19. Keyla dan Arga pacaran
29 Bab 20. Rahasia Naira
30 Bab 21. melepaskan luka masa lalu
31 Bab 22. Maura dan pencarian cinta sejati
32 Bab 23. Cinta baru
33 Bab 24. Vino dan cia sebuah kisah cinta baru
34 Bab 25. Pertemuan tidak terduga
35 Bab 26. Rahasia terkuak
36 Bab 27. Surat untuk Nauval
37 Bab 28. Untuk mu nauval
38 Bab 29. menatap masa depan
39 Bab 30. persiapan pernikahan
40 Bab 31. Hari bahagia
41 Bab 32. pernikahan Tian dan putri
42 Bab 33. persiapan pernikahan
43 Bab 34. konfrontasi di balkon
44 Bab 35. Ciara hamil
45 Bab 36. Naira di culik
46 Bab 37. Naira hamil
47 Bab 38. periksa kehamilan citra
48 Bab 39. Tuan dan putri
49 Bab 40. kebahagiaan Tian dan putri
50 Bab 41.berkumpul di rumah Naira
51 Bab 42. persalinan Naira
52 bab 43.ciara melahirkan
53 Bab 44. sadarnya putri dari koma
54 Bab 45. Kembali ke rumah
55 Bab 46. Retaknya sebuah ikatan
56 Bab 47.Keputusan yang Mengubah Segalanya
57 bab 48. Ciara dan Tian pulang ke rumah
58 Bab 49. Riko yang menyesal
59 Bab 50. Berkumpul di rumah Riki dan Citra
60 Bab 51. Aldi yang terbangun dari tidurnya
61 Bab 52. Ulang tahun Bagaskara putra
62 Bab 53. Kirana ulang tahun
63 Bab 54. Hari ulang tahun Aldi
64 Bab 55. Riko datang menemui putra nya
65 Bab 56. Taman bermain
66 Bab 57. Aldi yang berkunjung ke rumah putra
67 Bab 58. Perasaan yang tidak terucap
68 Bab 59. Jam istirahat sekolah
69 Bab 60. Bermain bersama
70 Bab 61. Raka yang memendam perasaan suka sama Kirana
71 Bab 62. Raka yang kecewa
72 Bab 63.kirana bicara sama ayahnya tian
73 Bab 64. olimpiade di sekolah TK
74 Bab 65. di sudut aula
75 Bab 66. selesai olimpiade
76 Bab 67. Petualangan Baru di Dunia Penulisan
77 Bab 68.Tantangan Baru, Dunia Baru
78 Bab 69. berkumpul bersama
79 Bab 70. Akhir yang bahagia
Episodes

Updated 79 Episodes

1
Bab 1. Perkenalan
2
Bab 31. pernikahan Tian dan putri
3
Bab 32. Cinta dan dendam
4
Bab 33. Persiapan pernikahan
5
Bab 34. konfrontasi di balkon
6
Bab 35. Ciara Hamil
7
Bab 36. Naira di Culik
8
Bab 37. Naira hamil
9
Bab 38. periksa kehamilan citra
10
Bab 39. Tian dan putri
11
Bab 2. apa kamu masih mengingat ku
12
Bab 3. Saingan Nauval
13
Bab 4. Pergi berdua
14
Bab 5. Geng motor
15
Bab 6. Terlambat
16
Bab 7. arena balap
17
Bab 8. Terluka
18
Bab 9. bertemu Daddy
19
Bab 10. Sayang
20
Bab 11. Berubah status
21
Bab 12. melihat seseorang
22
Bab 13. Nonton bioskop
23
Bab 14. Pantai
24
Bab 15. Pacaran
25
Bab 16. acara keluarga
26
Bab 17. Cemburu buta
27
Bab 18. Pengakuan dan pemaafan
28
Bab 19. Keyla dan Arga pacaran
29
Bab 20. Rahasia Naira
30
Bab 21. melepaskan luka masa lalu
31
Bab 22. Maura dan pencarian cinta sejati
32
Bab 23. Cinta baru
33
Bab 24. Vino dan cia sebuah kisah cinta baru
34
Bab 25. Pertemuan tidak terduga
35
Bab 26. Rahasia terkuak
36
Bab 27. Surat untuk Nauval
37
Bab 28. Untuk mu nauval
38
Bab 29. menatap masa depan
39
Bab 30. persiapan pernikahan
40
Bab 31. Hari bahagia
41
Bab 32. pernikahan Tian dan putri
42
Bab 33. persiapan pernikahan
43
Bab 34. konfrontasi di balkon
44
Bab 35. Ciara hamil
45
Bab 36. Naira di culik
46
Bab 37. Naira hamil
47
Bab 38. periksa kehamilan citra
48
Bab 39. Tuan dan putri
49
Bab 40. kebahagiaan Tian dan putri
50
Bab 41.berkumpul di rumah Naira
51
Bab 42. persalinan Naira
52
bab 43.ciara melahirkan
53
Bab 44. sadarnya putri dari koma
54
Bab 45. Kembali ke rumah
55
Bab 46. Retaknya sebuah ikatan
56
Bab 47.Keputusan yang Mengubah Segalanya
57
bab 48. Ciara dan Tian pulang ke rumah
58
Bab 49. Riko yang menyesal
59
Bab 50. Berkumpul di rumah Riki dan Citra
60
Bab 51. Aldi yang terbangun dari tidurnya
61
Bab 52. Ulang tahun Bagaskara putra
62
Bab 53. Kirana ulang tahun
63
Bab 54. Hari ulang tahun Aldi
64
Bab 55. Riko datang menemui putra nya
65
Bab 56. Taman bermain
66
Bab 57. Aldi yang berkunjung ke rumah putra
67
Bab 58. Perasaan yang tidak terucap
68
Bab 59. Jam istirahat sekolah
69
Bab 60. Bermain bersama
70
Bab 61. Raka yang memendam perasaan suka sama Kirana
71
Bab 62. Raka yang kecewa
72
Bab 63.kirana bicara sama ayahnya tian
73
Bab 64. olimpiade di sekolah TK
74
Bab 65. di sudut aula
75
Bab 66. selesai olimpiade
76
Bab 67. Petualangan Baru di Dunia Penulisan
77
Bab 68.Tantangan Baru, Dunia Baru
78
Bab 69. berkumpul bersama
79
Bab 70. Akhir yang bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!