Chapter 16: Kepanikan yang Tak Terduga

Malam itu, setelah insiden di depan pagar, Ruri mempersilakan Takeru masuk ke rumahnya. Suasana antara Carlos dan Takeru masih terasa kaku, meski tak ada kata yang terucap secara langsung. Keduanya terus saling mengawasi, dengan aura tegang yang tak bisa diabaikan. Ruri, meskipun merasa sedikit canggung, berusaha mengendalikan situasi.

Di ruang tamu, setelah beberapa menit hening, Takeru akhirnya berbicara. "Jadi, siapa pria ini, Ruri?" Pertanyaannya terkesan tajam, dengan sorot matanya yang terus menatap Carlos.

Sebelum Ruri bisa menjawab, Carlos dengan santai membuka mulutnya, "Aku peliharaannya Ruri." Ia berkata dengan nada ambigu, seraya menyandarkan tubuhnya di kursi. Senyum licik tersirat di wajahnya, menikmati reaksi Takeru yang langsung berubah kaku.

"Peliharaan?" Takeru mengulang, terkejut. Dia beralih menatap Ruri dengan tatapan penuh tanda tanya.

Ruri yang mendengar perkataan Carlos langsung panik. Wajahnya merah padam saat dia buru-buru meluruskan kesalahpahaman itu. "Bukan seperti itu! Maksudnya dia... hanya pria asing yang kebetulan tinggal di sini." Ruri melirik Carlos dengan tatapan tajam, mencoba menghentikan permainannya. "Bukan seperti yang kamu pikirkan."

Takeru tampak bingung, alisnya mengerut. "Kamu tinggal dengan pria asing? Apa kamu nekat?" Nada suaranya jelas dipenuhi kekhawatiran dan sedikit kecurigaan.

Ruri menghela napas panjang, merasa terpojok. Dia menoleh sejenak ke arah Carlos yang tampak tenang-tenang saja, lalu kembali menatap Takeru. "Percayalah, ini bukan keinginanku. Lagipula, sudah hampir sebulan dia tinggal di sini. Kalau ada yang mencurigakan, pasti sudah terjadi sejak dulu."

Carlos tersenyum licik, seperti biasa, menikmati kekacauan kecil yang ditimbulkannya. Takeru akhirnya mengangguk pelan, meski kerutan di dahinya belum sepenuhnya hilang.

Untuk mencairkan suasana, Ruri berjalan ke dapur dan kembali dengan membawa semangka yang sudah dipotong-potong. "Ayo, kita makan semangka. Mungkin bisa menenangkan kalian."

Carlos langsung mengambil potongan semangka dengan antusias, sementara Takeru tampak sedikit ragu sebelum akhirnya ikut mengambil. Obrolan ringan mulai mengalir, meskipun Takeru masih tampak tidak nyaman. Carlos sesekali menyahut dengan candaan, namun Takeru tetap diam, tenggelam dalam pikirannya.

Setelah beberapa lama, Takeru akhirnya angkat bicara, suaranya pelan namun terdengar jelas di ruangan. "Ruri... soal foto itu... semua salahku."

Ruri terdiam sejenak, lalu menatap Takeru. "Jadi itu alasan kamu ke sini?" tanya Ruri sambil tersenyum tipis. "Kukira kau datang karena hal lain."

Takeru mengangguk dengan wajah penuh penyesalan. Namun sebelum dia bisa berbicara lebih jauh, Ruri segera memotong. "Tapi tak perlu lagi memikirkan itu. Meski kamu mengakuinya sekarang, tidak akan banyak membantu. Justru malah bisa memperkeruh keadaan."

Ruri menjelaskan bahwa masalah ini lebih dalam dari sekadar rumor. Orang-orang di sekitarnya sudah lama menyimpan rasa benci, dan hanya butuh alasan kecil seperti rumor untuk memicu semuanya. Itu semua karena dirinya yang terlalu sibuk dengan urusannya sendiri, tanpa berusaha bergaul dengan teman-temannya.

Takeru mendengarkan dengan seksama, sesekali mengangguk. Tapi di sudut ruangan, Carlos hanya tersenyum licik, seolah menikmati ketegangan di antara mereka.

 ___

Pagi harinya, Ruri mengusulkan ide untuk pergi ke pantai sebagai bentuk penyambutan untuk Takeru. Dia berpikir bahwa dengan suasana yang lebih santai, semuanya akan lebih baik. Baik Takeru maupun Carlos setuju.

Namun, saat Ruri mulai memesan taksi online dan membuka aplikasi pembayaran, Carlos tiba-tiba menghentikan tangannya. "Hei, kau yakin ingin menghabiskan uang sebanyak itu?" tanyanya, matanya menatap layar ponsel Ruri dengan serius.

Ruri tersenyum, lalu memperlihatkan saldo tabungannya. "Tenang saja, Carlos. Ini hasil dari gajiku selama syuting Pemuda Tangguh. Aku punya cukup uang."

Carlos masih tampak ragu, tapi akhirnya dia hanya menghela napas. "Kau tetap harus hati-hati. Jangan boros."

Ruri tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa kali ini. Kita harus bersenang-senang."

Takeru yang sedari tadi diam, tiba-tiba menawarkan diri. "Kalau begitu, biar aku yang bayar."

Ruri tertawa kecil. "Tidak perlu, Takeru. Ini bentuk penyambutanku untukmu."

Takeru tampak tersadar sejenak, lalu tersenyum kecut. Dia mungkin baru ingat bahwa dia datang ke Indonesia tanpa sepengetahuan manajemennya, sehingga tidak membawa cukup uang. Pada akhirnya, dia menyerah, membiarkan Ruri yang mengurus semuanya.

Setibanya di pantai, Carlos langsung terlihat terkejut. Matanya menyipit saat menatap luasnya lautan. "Jadi ini yang disebut pantai?" gumamnya, seolah mencoba mencerna apa yang dilihatnya.

Namun, beberapa menit kemudian, Carlos merasa tidak nyaman. Bau asin dari air laut membuatnya mual, dan dia memutuskan untuk kembali ke mobil dan tiduran di sana, meninggalkan Ruri dan Takeru sendirian.

Di pantai, awalnya Takeru tampak canggung, seperti biasanya. Dia masih mencoba menyembunyikan wajahnya dengan masker dan topi, khawatir ada orang yang mengenalinya. Tapi sikapnya yang berlebihan itu justru menarik perhatian banyak orang. Mereka tertawa kecil melihat tingkah anehnya.

Ruri menepuk bahu Takeru, mencoba menenangkannya. "Takeru, tidak ada yang mengenalmu di sini. Santai saja."

Setelah mendengar ucapan Ruri, Takeru mulai melepaskan maskernya dan menurunkan topinya. Perlahan, dia mulai merasa nyaman. Mereka berjalan di sepanjang pantai, menikmati angin laut dan suara ombak yang memecah di bibir pantai.

Mereka bercanda, tertawa, dan mengenang masa kecil mereka bersama. Ruri merasa lega melihat Takeru bisa menikmati waktunya tanpa khawatir dengan pandangan orang lain. Selama beberapa saat, mereka lupa semua masalah yang membebani pikiran mereka.

Namun, di tengah-tengah kesenangan itu, tiba-tiba suara familiar terdengar dari kejauhan. "Ruri?"

Ruri menoleh, dan dia melihat seseorang yang sudah tak asing lagi baginya. Arham, seniornya, berdiri tak jauh dari mereka, tersenyum ramah.

Ruri sedikit terkejut, tapi tetap berusaha tersenyum. "Oh, Kak Arham. Kebetulan sekali ketemu di sini."

Arham mendekat, mengulurkan tangannya untuk menyapa. "Aku tidak menyangka bisa bertemu kamu di pantai. Apa kabar?"

Ruri menelan ludah, teringat peringatan Carlos tentang Arham. Ada sesuatu yang aneh tentangnya, meskipun selama ini dia selalu bersikap ramah. Sejak awal semester kedua, Arham selalu muncul di waktu yang tidak tepat.  Dan jika dia mengingat kembali, itu di saat hubungannya mulai memburuk baik dengan teman seangkatan maupun para seniornya, di waktu ketika segalanya tidak tepat.  Dan sekarang, setelah semua yang dikatakan Carlos, firasat buruknya semakin kuat.

Namun, Ruri tahu dia tidak bisa bersikap kasar hanya berdasarkan kata-kata Carlos. "Ah, baik. Tapi aku harus segera pergi," katanya cepat, mencoba mengakhiri pertemuan itu secepat mungkin.

Arham mengerutkan dahi, sedikit bingung dengan sikap terburu-buru Ruri. "Oh, begitu ya? Baiklah, semoga kita bisa bertemu lagi," katanya dengan senyum kecil, meski matanya tetap memperhatikan Ruri dengan tajam.

Takeru hanya berdiri diam di samping Ruri, memperhatikan situasi dengan hati-hati. Dia tidak berkata apa-apa, tapi jelas terlihat dia juga merasakan ada sesuatu yang aneh dengan pertemuan itu.

Setelah menyapa singkat, Ruri dan Takeru pun segera meninggalkan pantai, tanpa menoleh kembali ke Arham yang masih berdiri di sana, menatap mereka dengan tatapan yang sulit dijelaskan.

Episodes
1 Chapter 1: Kehilangan dan Pertemuan
2 Chapter 2: Kenangan yang Terlupakan
3 Chapter 3: Manusia Baru
4 Chapter 4: Petualangan Kampus
5 Chapter 5: Sebuah Nama untuk Carlos
6 Chapter 6: Awal Kompetisi
7 Chapter 7: Penyelidikan yang Menegangkan
8 Chapter 8: Nyawa yang Dipertaruhkan
9 Chapter 9: Misteri di Balik Jalan Rusak dan Luka di Tubuh Carlos
10 Chapter 10: Hari Baru, Cinta Lama
11 Chapter 11: Pilihan yang Tak Terduga
12 Chapter 12: Malam yang Terlupakan
13 Chapter 13: Ketika Kebenaran Terungkap dan Pertarungan Dimulai
14 Chapter 14. Bayang-Bayang di Balik Asap
15 Chapter 15: Kepulangan yang Tak Terduga
16 Chapter 16: Kepanikan yang Tak Terduga
17 Chapter 17: Akar Kebencian yang Mengintai
18 Chapter 18. Pengungkapan dan Kenyataan
19 Chapter 19: Pertemuan yang Tak Terhindarkan
20 Chapter 20: Dendam di Balik Asap Hitam
21 Chapter 21: Beban Rasa Bersalah
22 Chapter 22: Dalam Kegelapan Terlihat Harapan
23 Chapter 23: Pengorbanan Emas
24 Chapter 24. Nyawa yang Tersisa
25 Chapter 25: Pemuda di Balik Layar
26 Chapter 26. Melodi Ombak dan Bayang-Bayang
27 Chapter 27. Tersedot dalam Kegelapan
28 Chapter 28: Malam yang Dipenuhi Teror
29 Chapter 29: Pertarungan Hidup dan Mati
30 Chapter 30. Di Ujung Harapan Kemenangan
31 Chapter 31. Senandung Terakhir
32 Chapter 32. Kesetiaan Seekor Kucing
33 Chapter 33. Hilang dalam Kenangan
34 Chapter 34. Jejak yang Pudar
Episodes

Updated 34 Episodes

1
Chapter 1: Kehilangan dan Pertemuan
2
Chapter 2: Kenangan yang Terlupakan
3
Chapter 3: Manusia Baru
4
Chapter 4: Petualangan Kampus
5
Chapter 5: Sebuah Nama untuk Carlos
6
Chapter 6: Awal Kompetisi
7
Chapter 7: Penyelidikan yang Menegangkan
8
Chapter 8: Nyawa yang Dipertaruhkan
9
Chapter 9: Misteri di Balik Jalan Rusak dan Luka di Tubuh Carlos
10
Chapter 10: Hari Baru, Cinta Lama
11
Chapter 11: Pilihan yang Tak Terduga
12
Chapter 12: Malam yang Terlupakan
13
Chapter 13: Ketika Kebenaran Terungkap dan Pertarungan Dimulai
14
Chapter 14. Bayang-Bayang di Balik Asap
15
Chapter 15: Kepulangan yang Tak Terduga
16
Chapter 16: Kepanikan yang Tak Terduga
17
Chapter 17: Akar Kebencian yang Mengintai
18
Chapter 18. Pengungkapan dan Kenyataan
19
Chapter 19: Pertemuan yang Tak Terhindarkan
20
Chapter 20: Dendam di Balik Asap Hitam
21
Chapter 21: Beban Rasa Bersalah
22
Chapter 22: Dalam Kegelapan Terlihat Harapan
23
Chapter 23: Pengorbanan Emas
24
Chapter 24. Nyawa yang Tersisa
25
Chapter 25: Pemuda di Balik Layar
26
Chapter 26. Melodi Ombak dan Bayang-Bayang
27
Chapter 27. Tersedot dalam Kegelapan
28
Chapter 28: Malam yang Dipenuhi Teror
29
Chapter 29: Pertarungan Hidup dan Mati
30
Chapter 30. Di Ujung Harapan Kemenangan
31
Chapter 31. Senandung Terakhir
32
Chapter 32. Kesetiaan Seekor Kucing
33
Chapter 33. Hilang dalam Kenangan
34
Chapter 34. Jejak yang Pudar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!