Chapter 3: Manusia Baru

Di malam yang sunyi, saat Ruri sudah terlelap dalam pelukan si kucing hitam, sang kucing memandangi wajahnya yang damai. Batinnya terus berputar.

"Tuhan, tolong berikan aku kekuatan... Aku tidak ingin hanya menjadi bayang-bayang. Sebagai hantu kucing, aku merasa tidak berdaya. Aku ingin lebih dari ini. Aku ingin bisa menghibur dan melindungi Ruri seperti dulu, saat dia menyelamatkanku. Tapi bagaimana aku bisa melakukan itu dalam bentuk ini? Kumohon... biarkan aku berubah, biarkan aku menjadi manusia. Hanya itu yang kuminta. Demi dia."

Kucing itu menunduk, mendekatkan tubuhnya pada Ruri, merasakan kehangatan yang dulu pernah ia rasakan saat masih hidup. Air mata kecil turun dari matanya, menetes di tangan Ruri. Lalu, entah bagaimana, ada kekuatan besar yang merespon doanya. Cahaya lembut muncul dari tubuhnya, perlahan menutupi wujudnya yang kecil.

 ___

Keesokan paginya, Ruri terbangun dengan kehangatan. Namun, bukan lagi seekor kucing yang ia temukan di pelukannya, melainkan seorang pria tampan dengan rambut hitam berantakan dan tatapan tajam yang menawan. Dengan napas hangat pria itu yang menyentuh kulit halus di lehernya, kemudian bisikan rendah yang membuatnya merinding.

"Meoong…" suara itu bergema lagi di telinga Ruri, kali ini lebih nyata, lebih mendebarkan. Ruri terkejut, jantungnya berdebar lebih kencang.

"Apa yang terjadi?" gumam Ruri dengan bingung.

Namun sebelum Ruri sempat bereaksi lebih jauh, terdengar suara ketukan di pintu. Ruri meloncat bangun, jantungnya berdetak lebih kencang lagi. Dia cepat-cepat berlari ke pintu, melupakan pria tampan yang baru saja mengeong di telinganya. Di depan pintu, seorang ibu-ibu dengan wajah serius berdiri, membawa kantong makanan.

"Ini pesanannya," kata ibu itu sambil menyerahkan kantong tersebut.

Ruri bingung, "Pesanan? Saya tidak memesan apa-apa..."

Ibu itu mengangguk cepat, "Ini pesanan dari nenek pemilik rumah ini. Dia memintaku memastikan kau dirawat dengan baik. Katanya kau cucunya."

"Cucu?" Ruri bertanya, bingung. Nenek pemilik rumah ini memang baik hati, tapi dia jelas bukan cucunya.

Namun, sebelum Ruri bisa menjelaskan lebih lanjut, ibu itu melirik ke dalam rumah, melihat pria tampan yang kini berdiri di belakang Ruri. Matanya melebar. "Ck, ck, jadi begini cara generasi sekarang hidup. Tinggal bersama laki-laki tanpa ikatan. Terlalu bebas!"

Ruri langsung panik, "Bukan, bukan begitu! Dia bukan…"

Namun, ibu itu sudah menggelengkan kepala dengan marah. "Anak-anak zaman sekarang. Tsk, tsk. Tak ada rasa malu lagi." Ibu itu mengumpat sambil berbalik dan pergi sebelum Ruri sempat menjelaskan lebih jauh. Ruri mencoba menyusulnya, namun ibu itu telah menghilang entah ke mana.

Ruri menatap kosong ke arah jalan, panik menyebar di dadanya. "Oh tidak… kalau ini sampai menjadi rumor lagi, aku bisa di-DO!" pikirnya. Tapi kemudian, perhatiannya beralih kembali pada pria di rumahnya.

Dia berbalik, menatap pria itu dengan tajam. "Siapa kamu sebenarnya? Dan apa yang kamu lakukan di rumahku?"

Pria itu tersenyum dengan tenang, seolah tidak terganggu sama sekali oleh kekacauan yang baru saja terjadi. "Aku adalah kucing hitam yang kau peluk tadi malam," jawabnya santai.

Ruri mengerutkan kening, wajahnya dipenuhi kebingungan. "Apa? Kucing hitam? Kamu gila, ya?"

Pria itu mengangguk pelan. "Benar. Aku kucingmu. Kucing yang kau selamatkan dulu."

Ruri merasa kesabarannya diuji. "Dengar, aku tidak tahu siapa kamu atau dari mana kamu datang, tapi kamu jelas gila. Kamu harus pergi dari sini sekarang, atau aku akan memanggil polisi!"

Tapi pria itu tidak bergerak sedikit pun. "Aku tidak akan pergi. Kau butuh bantuanku."

Ruri terdiam. Pria itu tampak begitu yakin dan… ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat Ruri merasa aneh. Namun, sebelum dia sempat menanggapi, langkah kaki tiba-tiba terdengar dari luar rumah. Ruri melirik ke pintu, khawatir tetangga lain mungkin akan datang dan melihat mereka. Situasi ini sudah cukup buruk.

"Baiklah, jangan buat keributan!" Ruri mendesah berat, menyerah sementara. "Dan kamu harus menjauhiku!"

Pria itu tersenyum tipis, tampak puas dengan respon Ruri. "Aku kucing yang tenang jadi tidak akan buat keributan. Tapi ke mana pun Ruri pergi, aku akan mengikutimu."

Mendengar jawaban itu, Ruri tercengang. Ekspresinya seperti orang gila.

 ___

Benar saja, ke mana pun Ruri pergi hari itu, pria misterius itu selalu ada di sisinya. Saat dia pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan, pria itu berjalan dengan tenang di sebelahnya, bertanya tentang segala hal yang terlihat asing baginya. Dia bahkan menanyakan apakah makanan manusia itu enak atau tidak, sesuatu yang membuat Ruri semakin curiga, 'Jangan-jangan dia pasien rumah sakit jiwa kali ya?'

Namun, cobaan hidup yang mesti dihadapinya hari itu tidak selesai sampai di situ saja. Ketika Ruri kembali ke kampus begitu memasuki gerbang, suara-suara cemoohan mulai terdengar lagi dari sekelompok gadis yang dipimpin oleh Sandra.

"Hei, lihat siapa yang datang! Pengkhianat bangsa!" Sandra tertawa keras, suaranya penuh sinisme. "Kau benar-benar tak tahu malu, ya? Mengaku-aku sebagai aktivis, tapi berfoto dengan orang yang memuja penjajah. Betapa memalukan!"

Ruri mengepalkan tangan, mencoba menahan amarah dan sakit hatinya. Dia memutuskan untuk tidak membalas. Tapi kemudian, Sandra melihat pria tampan yang mengikuti Ruri.

"Wow, dari mana kau mendapatkan pangeran tampan ini? Pasti dia belum tahu tentang reputasimu, ya?" Sandra melangkah maju, mencoba mendekati pria itu dengan senyum menggoda.

Namun, tanpa memandang Sandra sedikit pun, pria itu terus berjalan ke arah Ruri. Dia menghampiri Ruri dengan tenang, dan dengan gerakan lembut namun penuh perhatian, dia meraih tangan Ruri. "Kau baik-baik saja?" tanyanya, suaranya lembut namun penuh perhatian, seolah Ruri adalah orang paling berharga di dunia ini.

Sandra hanya bisa menatap mereka dengan mulut ternganga, cemburu menguasai wajahnya. Ruri, di sisi lain, merasa jantungnya kembali berdetak kencang—bukan karena ketakutan atau cemoohan, tapi karena pria aneh di hadapannya.

Episodes
1 Chapter 1: Kehilangan dan Pertemuan
2 Chapter 2: Kenangan yang Terlupakan
3 Chapter 3: Manusia Baru
4 Chapter 4: Petualangan Kampus
5 Chapter 5: Sebuah Nama untuk Carlos
6 Chapter 6: Awal Kompetisi
7 Chapter 7: Penyelidikan yang Menegangkan
8 Chapter 8: Nyawa yang Dipertaruhkan
9 Chapter 9: Misteri di Balik Jalan Rusak dan Luka di Tubuh Carlos
10 Chapter 10: Hari Baru, Cinta Lama
11 Chapter 11: Pilihan yang Tak Terduga
12 Chapter 12: Malam yang Terlupakan
13 Chapter 13: Ketika Kebenaran Terungkap dan Pertarungan Dimulai
14 Chapter 14. Bayang-Bayang di Balik Asap
15 Chapter 15: Kepulangan yang Tak Terduga
16 Chapter 16: Kepanikan yang Tak Terduga
17 Chapter 17: Akar Kebencian yang Mengintai
18 Chapter 18. Pengungkapan dan Kenyataan
19 Chapter 19: Pertemuan yang Tak Terhindarkan
20 Chapter 20: Dendam di Balik Asap Hitam
21 Chapter 21: Beban Rasa Bersalah
22 Chapter 22: Dalam Kegelapan Terlihat Harapan
23 Chapter 23: Pengorbanan Emas
24 Chapter 24. Nyawa yang Tersisa
25 Chapter 25: Pemuda di Balik Layar
26 Chapter 26. Melodi Ombak dan Bayang-Bayang
27 Chapter 27. Tersedot dalam Kegelapan
28 Chapter 28: Malam yang Dipenuhi Teror
29 Chapter 29: Pertarungan Hidup dan Mati
30 Chapter 30. Di Ujung Harapan Kemenangan
31 Chapter 31. Senandung Terakhir
32 Chapter 32. Kesetiaan Seekor Kucing
33 Chapter 33. Hilang dalam Kenangan
34 Chapter 34. Jejak yang Pudar
Episodes

Updated 34 Episodes

1
Chapter 1: Kehilangan dan Pertemuan
2
Chapter 2: Kenangan yang Terlupakan
3
Chapter 3: Manusia Baru
4
Chapter 4: Petualangan Kampus
5
Chapter 5: Sebuah Nama untuk Carlos
6
Chapter 6: Awal Kompetisi
7
Chapter 7: Penyelidikan yang Menegangkan
8
Chapter 8: Nyawa yang Dipertaruhkan
9
Chapter 9: Misteri di Balik Jalan Rusak dan Luka di Tubuh Carlos
10
Chapter 10: Hari Baru, Cinta Lama
11
Chapter 11: Pilihan yang Tak Terduga
12
Chapter 12: Malam yang Terlupakan
13
Chapter 13: Ketika Kebenaran Terungkap dan Pertarungan Dimulai
14
Chapter 14. Bayang-Bayang di Balik Asap
15
Chapter 15: Kepulangan yang Tak Terduga
16
Chapter 16: Kepanikan yang Tak Terduga
17
Chapter 17: Akar Kebencian yang Mengintai
18
Chapter 18. Pengungkapan dan Kenyataan
19
Chapter 19: Pertemuan yang Tak Terhindarkan
20
Chapter 20: Dendam di Balik Asap Hitam
21
Chapter 21: Beban Rasa Bersalah
22
Chapter 22: Dalam Kegelapan Terlihat Harapan
23
Chapter 23: Pengorbanan Emas
24
Chapter 24. Nyawa yang Tersisa
25
Chapter 25: Pemuda di Balik Layar
26
Chapter 26. Melodi Ombak dan Bayang-Bayang
27
Chapter 27. Tersedot dalam Kegelapan
28
Chapter 28: Malam yang Dipenuhi Teror
29
Chapter 29: Pertarungan Hidup dan Mati
30
Chapter 30. Di Ujung Harapan Kemenangan
31
Chapter 31. Senandung Terakhir
32
Chapter 32. Kesetiaan Seekor Kucing
33
Chapter 33. Hilang dalam Kenangan
34
Chapter 34. Jejak yang Pudar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!