Chapter 2: Kenangan yang Terlupakan

Di bawah sinar rembulan yang temaram, sang kucing hitam duduk di atap rumah tua itu, mengawasi Ruri dari jendela kecil yang terbuka. Matanya yang bersinar tajam memantulkan kenangan-kenangan lama, memori yang Ruri sendiri sudah lupakan. Kucing itu bukanlah sembarang kucing. Dia adalah sosok yang pernah menjadi bagian dari masa lalu Ruri—saat mereka berdua masih kecil.

Dia tidak ingat aku lagi…

Kucing hitam itu mendesah pelan dalam hatinya, tatapannya tak pernah lepas dari Ruri yang terlelap di dalam rumah.

Dulu, kau menyelamatkanku, Ruri. Aku hanyalah seekor bayi kucing yang hampir mati ditindas burung gagak. Saat itu, aku sudah siap menyerah. Tubuhku terlalu kecil, terlalu lemah untuk melawan. Tapi kau muncul, tangan kecilmu mengangkatku dari tumpukan sampah, dan kau menyelamatkanku.

Kenangan akan hari itu masih segar di ingatan sang kucing. Ruri kecil, dengan pipi merah dan rambut kucir dua, berlari kencang menuju neneknya sambil memeluknya erat. "Nenek, aku menyelamatkan dia!" serunya, suaranya penuh kegembiraan dan kebanggaan.

Sejak hari itu, kita tak terpisahkan. Aku selalu ada di sisimu, mengikuti ke mana pun kau pergi. Kau memberikan nama padaku, memberiku makan, mengelus bulu hitamku setiap malam sebelum tidur. Kita hidup bahagia di rumah nenek.

Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Ibunya datang menjemput Ruri kembali ke Jakarta, meninggalkannya di rumah nenek bersama kenangan-kenangan yang perlahan memudar. Kucing itu ingat betul bagaimana ia menunggu di ambang pintu setiap hari, berharap Ruri kembali.

Kau tidak pernah kembali... pikirnya sedih, memandang langit malam yang terbentang luas. Aku menunggumu sampai hari terakhirku. Aku sakit, tubuhku semakin lemah, tapi aku tetap berharap kau datang. Namun, kau tak pernah muncul.

Air mata tak bisa mengalir dari mata seekor kucing, tapi hatinya hancur ketika Ruri tak lagi datang. Dan kini, bertahun-tahun kemudian, dia ada di sini—bukan sebagai kucing biasa lagi, tapi sesuatu yang lebih. Sesuatu yang kembali demi Ruri.

Sekarang kau bahkan tidak mengenaliku, Ruri. Tapi aku akan ada di sisimu lagi, untuk melindungimu, seperti dulu.

 ___

Esok harinya, Ruri kembali ke kampus, namun keadaan jauh dari membaik. Sebagai mahasiswa yang sebelumnya dikenal cerdas dan berbakat, rumor tentang pengkhianatan bangsa yang menyertainya begitu menyakitkan. Hari ini, gosip terus berhembus dari mulut ke mulut di kampus. Teman-teman yang dulu dekat kini menjauh. Setiap tatapan yang diarahkan padanya terasa seperti tudingan.

“Lihat, itu dia. Yang di foto itu, kan?” bisik seorang mahasiswi saat Ruri melintas di koridor.

“Kasihan ya, padahal pinter. Tapi kalau nggak cinta bangsa, ya buat apa?” komentar yang lain.

Ruri hanya menundukkan kepala, menghindari tatapan-tatapan penuh penghakiman itu. Dia mencoba untuk tetap tenang, berusaha bertahan di tengah badai sentimen yang tak beralasan. Namun, meski dirinya berusaha kuat, luka-luka itu tetap terasa, menambah beban yang kian berat.

Hari itu berjalan lambat, penuh dengan bisikan, tatapan aneh, dan teman-teman yang menjauh tanpa penjelasan. Ketika hari berakhir, Ruri pulang dengan perasaan yang semakin hancur. Setibanya di rumah reot yang kini jadi tempat tinggal sementaranya, dia tak lagi mampu menahan air matanya. Ia terjatuh di depan pintu rumah, tubuhnya terlipat seperti udang, menangis terisak-isak.

Angin malam berhembus dari celah pintu yang longgar, membuat tubuhnya menggigil. Kesendiriannya terasa begitu menyesakkan.

“Apa salahku...?” bisiknya dalam isak tangis, suaranya hampir tak terdengar.

Tiba-tiba, sesuatu yang hangat dan lembut menyentuh pipinya. Ruri membuka matanya yang basah dan mendapati kucing hitam yang kemarin dilihatnya sedang duduk di sampingnya. Kucing itu menjilati pipinya, seolah-olah berusaha menenangkan.

“Kau lagi...?” Ruri tersenyum kecil di tengah air matanya. Dia memeluk kucing itu erat, seolah kucing itu adalah satu-satunya yang tersisa untuknya. “Terima kasih, kamu datang lagi...”

Dengan lembut, kucing itu mengeong dan menatapnya, seolah mengerti kesedihannya. Ruri, yang terhibur oleh kehadirannya, membawa kucing itu ke tempat tidur. Mereka berdua naik ke ranjang yang sederhana, dan Ruri mengelus-elus bulu hitam kucing itu dengan penuh kasih.

“Kamu ini milik siapa, sih? Gemesin banget,” celoteh Ruri sambil tertawa kecil, merasa lebih ringan. “Tapi... kemarin kamu tiba-tiba hilang. Padahal aku sudah siapkan cemilan untukmu.”

Kucing itu hanya mengeong pelan, tetap diam di pelukan Ruri. Ruri terus berbicara pada kucing itu, meski tahu kucing tak bisa menjawab. Hanya kehangatan dan keberadaan kucing itu yang membuat Ruri merasa nyaman. Dia tak menyadari betapa spesial kucing itu baginya—setidaknya belum.

“Terima kasih, ya...” bisik Ruri sambil memejamkan mata, tubuhnya mulai terasa lelah. Dia tidak ingat kapan tepatnya dia tertidur, tapi satu hal yang pasti, dia tidak lagi merasa sendiri.

 ___

Pagi itu, Ruri terbangun dengan perasaan hangat dan nyaman, namun ada yang aneh. Dia mengerjap, mencoba membuka matanya sepenuhnya. Sesuatu terasa berbeda di pelukannya. Bukannya kucing hitam kecil yang ia bawa tidur semalam, melainkan… sesuatu yang lebih besar dan lebih… manusiawi.

Ketika kesadarannya mulai sepenuhnya kembali, jantung Ruri berdegup cepat. Ada seorang pria di pelukannya. Seorang pria tampan, dengan wajah yang begitu dekat hingga ia bisa merasakan napas hangatnya di wajah. Rambut hitamnya berantakan dengan cara yang menggoda, dan matanya yang tajam menatap Ruri dengan intensitas yang membuat perutnya terasa bergejolak.

"Siapa... siapa kamu?" bisik Ruri, suaranya nyaris tenggelam dalam kegugupannya.

Alih-alih menjawab, pria itu tersenyum tipis, sudut bibirnya terangkat dengan cara yang begitu menawan. Tanpa peringatan, dia mendekatkan wajahnya ke telinga Ruri. Napas hangatnya menyentuh kulit halus di leher dan telinga Ruri, membuat bulu kuduknya meremang. Ruri bisa merasakan tubuhnya menegang, jantungnya berdetak semakin cepat, seolah hendak meledak.

Lalu, suara itu terdengar—lembut, serak, dan begitu dekat. "Meoong…" desah pria itu dengan suara rendah dan penuh godaan, seolah setiap suku kata yang ia ucapkan adalah bisikan rahasia.

Suara itu, begitu seksi dan mendalam, bergema di telinga Ruri, membuat napasnya terhenti. Seperti gelombang panas yang tiba-tiba menyapu seluruh tubuhnya, membuatnya sulit berpikir jernih. Sensasi itu menusuknya dalam-dalam, meninggalkan kesan yang membakar. Pria itu menggeser sedikit kepalanya, mengendus lembut kulit di belakang telinga Ruri, seolah menciptakan getaran yang tak tertahankan.

Ruri membeku di tempatnya, pipinya memerah, tubuhnya gemetar. "Apa... apa yang kau lakukan?" suaranya lirih, hampir tidak terdengar, tenggelam dalam sensasi yang baru pertama kali ia rasakan.

Pria itu tidak menjawab dengan kata-kata. Sebaliknya, dia hanya tertawa kecil, suara tawa itu begitu lembut namun penuh dengan kemisteriusan yang menggoda. Lalu dia menggerakkan tubuhnya sedikit, mendekatkan diri lebih erat ke Ruri, seolah menikmati kebingungan dan kegugupan yang terpancar dari wajah gadis itu.

Untuk sesaat, dunia Ruri seolah berhenti. Detak jantungnya satu-satunya yang terasa nyata, berdentam keras dalam dadanya. Sesuatu yang tidak biasa, tetapi begitu intens, mengguncang dirinya, dan semua itu berasal dari seorang pria asing yang mengeong di telinganya—seorang pria yang seharusnya tidak ada di tempat tidur itu.

Ruri tahu dia harus bergerak, menjauh, atau setidaknya bertanya lebih lanjut, tetapi tubuhnya menolak untuk melawan sensasi itu. 

Episodes
1 Chapter 1: Kehilangan dan Pertemuan
2 Chapter 2: Kenangan yang Terlupakan
3 Chapter 3: Manusia Baru
4 Chapter 4: Petualangan Kampus
5 Chapter 5: Sebuah Nama untuk Carlos
6 Chapter 6: Awal Kompetisi
7 Chapter 7: Penyelidikan yang Menegangkan
8 Chapter 8: Nyawa yang Dipertaruhkan
9 Chapter 9: Misteri di Balik Jalan Rusak dan Luka di Tubuh Carlos
10 Chapter 10: Hari Baru, Cinta Lama
11 Chapter 11: Pilihan yang Tak Terduga
12 Chapter 12: Malam yang Terlupakan
13 Chapter 13: Ketika Kebenaran Terungkap dan Pertarungan Dimulai
14 Chapter 14. Bayang-Bayang di Balik Asap
15 Chapter 15: Kepulangan yang Tak Terduga
16 Chapter 16: Kepanikan yang Tak Terduga
17 Chapter 17: Akar Kebencian yang Mengintai
18 Chapter 18. Pengungkapan dan Kenyataan
19 Chapter 19: Pertemuan yang Tak Terhindarkan
20 Chapter 20: Dendam di Balik Asap Hitam
21 Chapter 21: Beban Rasa Bersalah
22 Chapter 22: Dalam Kegelapan Terlihat Harapan
23 Chapter 23: Pengorbanan Emas
24 Chapter 24. Nyawa yang Tersisa
25 Chapter 25: Pemuda di Balik Layar
26 Chapter 26. Melodi Ombak dan Bayang-Bayang
27 Chapter 27. Tersedot dalam Kegelapan
28 Chapter 28: Malam yang Dipenuhi Teror
29 Chapter 29: Pertarungan Hidup dan Mati
30 Chapter 30. Di Ujung Harapan Kemenangan
31 Chapter 31. Senandung Terakhir
32 Chapter 32. Kesetiaan Seekor Kucing
33 Chapter 33. Hilang dalam Kenangan
34 Chapter 34. Jejak yang Pudar
Episodes

Updated 34 Episodes

1
Chapter 1: Kehilangan dan Pertemuan
2
Chapter 2: Kenangan yang Terlupakan
3
Chapter 3: Manusia Baru
4
Chapter 4: Petualangan Kampus
5
Chapter 5: Sebuah Nama untuk Carlos
6
Chapter 6: Awal Kompetisi
7
Chapter 7: Penyelidikan yang Menegangkan
8
Chapter 8: Nyawa yang Dipertaruhkan
9
Chapter 9: Misteri di Balik Jalan Rusak dan Luka di Tubuh Carlos
10
Chapter 10: Hari Baru, Cinta Lama
11
Chapter 11: Pilihan yang Tak Terduga
12
Chapter 12: Malam yang Terlupakan
13
Chapter 13: Ketika Kebenaran Terungkap dan Pertarungan Dimulai
14
Chapter 14. Bayang-Bayang di Balik Asap
15
Chapter 15: Kepulangan yang Tak Terduga
16
Chapter 16: Kepanikan yang Tak Terduga
17
Chapter 17: Akar Kebencian yang Mengintai
18
Chapter 18. Pengungkapan dan Kenyataan
19
Chapter 19: Pertemuan yang Tak Terhindarkan
20
Chapter 20: Dendam di Balik Asap Hitam
21
Chapter 21: Beban Rasa Bersalah
22
Chapter 22: Dalam Kegelapan Terlihat Harapan
23
Chapter 23: Pengorbanan Emas
24
Chapter 24. Nyawa yang Tersisa
25
Chapter 25: Pemuda di Balik Layar
26
Chapter 26. Melodi Ombak dan Bayang-Bayang
27
Chapter 27. Tersedot dalam Kegelapan
28
Chapter 28: Malam yang Dipenuhi Teror
29
Chapter 29: Pertarungan Hidup dan Mati
30
Chapter 30. Di Ujung Harapan Kemenangan
31
Chapter 31. Senandung Terakhir
32
Chapter 32. Kesetiaan Seekor Kucing
33
Chapter 33. Hilang dalam Kenangan
34
Chapter 34. Jejak yang Pudar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!