Episode 18

Di tengah keheningan mencekam, Nafisah, Nizam, dan Azzam berdiri di sebuah ruangan gelap yang penuh dengan peralatan laboratorium berkarat. Lampu neon yang menggantung di atas kepala mereka berkedip-kedip, mengeluarkan suara dengung pelan yang semakin mempertegas nuansa tak nyaman. Di dinding, tumpukan kertas berdebu dan coretan tak jelas menambah kesan suram. Nafas mereka terdengar jelas, berpadu dengan detak jantung yang kian cepat.

"Kak, ayo pergi sekarang!" Nizam menggertakkan giginya, menyeka keringat dingin di dahinya sambil menatap Nafisah yang berdiri membeku di depan sebuah dinding berlapis lumut. Namun, Nafisah tidak bergerak. Matanya terpaku pada sebuah simbol yang tergores di dinding: lambang organisasi misterius, berwujud lingkaran dengan beberapa garis tajam dan simbol-simbol yang tidak dikenalnya.

"Nizam... lihat ini." Nafisah menelan ludah, jari-jarinya menyusuri simbol tersebut dengan rasa ingin tahu yang tak terhindarkan. Ada sesuatu yang menarik sekaligus mengancam dari simbol itu. "Apa ini?" pikirnya. "Apakah ini yang memulai semua kekacauan ini?"

"Apa-apaan itu?" Azzam mengerutkan kening, melirik Nafisah dengan cemas. Tubuhnya bergetar akibat suasana mencekam di sekitarnya. Ia bisa merasakan sesuatu yang salah, namun Nafisah tetap bersikeras.

"Kita butuh bukti ini," Nafisah berbisik tegas. "Kalau kita berhasil keluar dari sini, orang-orang harus tahu siapa yang ada di balik semua ini." Tangannya yang gemetar cepat-cepat mengambil ponsel dari kantong dan memotret simbol tersebut. "Ini bisa jadi kunci untuk menghentikan mereka."

Nizam, yang dari tadi menggigit bibirnya dengan frustrasi, mendekat dengan langkah terburu-buru. "Aku setuju, tapi kita nggak punya waktu! Semakin lama di sini, semakin besar risiko kita terjebak!" Suaranya tegas, namun matanya memantulkan ketakutan yang dalam. Dia tahu apa yang menunggu di luar.

Azzam yang berdiri di belakang mereka, menggerakkan tubuhnya gelisah. "Sudah, cukup. Kita harus pergi!" ujarnya, mata hitamnya menyipit tajam. "Apa yang kita hadapi ini jauh di luar kendali," pikirnya. "Dan kalau kita tetap di sini lebih lama... ini bisa jadi akhir bagi kita semua."

Nafisah menarik napas panjang, menatap simbol itu sekali lagi sebelum akhirnya melangkah mundur. "Oke, kita keluar sekarang," katanya pelan, nada serius dalam suaranya menggetarkan udara. Mereka bergerak cepat, dengan Nafisah memimpin, Azzam menengok ke belakang setiap beberapa detik untuk memastikan mereka tidak diikuti, dan Nizam dengan tegang menyusul dari belakang.

Namun, saat mereka mendekati pintu keluar, suara gemeretak dari luar memecah keheningan. Nafisah berhenti mendadak, menahan napas. Matanya terbelalak saat dia menyadari apa yang ada di luar. "Apa itu...?" bisiknya penuh kegelisahan, jantungnya berdegup lebih kencang.

Nafisah membuka pintu sedikit, dan di balik pintu, mereka bisa melihatnya—sekumpulan zombie bergerak dengan gerakan lamban namun pasti, mengepung seluruh area. "Sial!" Nafisah berdesis, jantungnya berdegup tak karuan. Wajahnya memucat saat menyadari bahwa jalan keluar mereka tertutup rapat.

"Apa kita terjebak?" Nafisah menelan rasa panik yang mulai merayap di dadanya.

Nizam menatap mereka, wajahnya penuh ketegangan. "Kita harus cari jalan lain, atau kita akan terjebak di sini," ujarnya dengan nada datar, namun sorot matanya mencerminkan kekhawatiran yang dalam. Nafisah bisa merasakan kepanikan dalam suaranya, meski dia berusaha menyembunyikannya.

Di luar, geraman zombie semakin mendekat, langkah-langkah mereka bergema di dalam ruangan kosong, seolah-olah memberi tahu bahwa mereka semakin dekat. Nafisah menggigit bibirnya, matanya terus mencari jalan lain.

"Kalau kita nggak segera bergerak, mereka akan masuk!" Azzam berbisik cemas, matanya terbuka lebar karena rasa takut yang kini memenuhi dirinya. Nafisah memandang sekeliling dengan cepat, jantungnya berpacu saat ia tahu waktu mereka hampir habis.

Dentuman keras terdengar lagi, kali ini dari arah jendela yang sudah mulai retak. Cahaya bulan yang suram memantul di kaca, seolah menambah kesan keputusasaan. Ketiganya saling berpandangan dengan kegelisahan yang memuncak.

Mereka tahu, pilihan semakin sedikit, dan waktu semakin cepat menipis.

******

Ruangan itu gelap dan sempit, udara di dalamnya tebal dengan bau zat kimia dan rasa lembap yang menjalar di kulit. Lampu neon di langit-langit bergetar, memancarkan cahaya redup yang semakin mempertegas suasana menyeramkan di laboratorium tersembunyi itu. Meja-meja laboratorium penuh dengan tumpukan kertas yang kusut, botol-botol berisi cairan aneh, dan komputer tua yang masih menyala, menampilkan angka-angka serta grafik yang tidak mereka mengerti.

Queensha dan Nada berdiri diam, tatapan mereka terfokus pada tumpukan catatan di tangan mereka. Mata Queensha membesar saat membaca halaman demi halaman yang mengungkapkan sesuatu yang lebih gelap dari yang pernah mereka bayangkan.

"Ini... ini gila," suara Queensha bergetar. Jari-jarinya gemetar, memegang lembaran catatan yang menunjukkan evolusi virus tersebut. "Mereka sengaja melakukannya?"

Nada, yang berdiri di sampingnya, menunduk ke arah catatan yang lain, matanya menyipit tajam. Dia merasakan darahnya mendidih. "Ini bukan kecelakaan," gumamnya, hampir tidak percaya pada apa yang baru saja dia baca. "Lihat ini, mereka sudah mendistribusikan virus ke berbagai lokasi, ini semua... direncanakan."

Queensha menarik napas dalam, rasa takut mulai merayap di dadanya. "Maksudmu, ada orang di luar sana... yang merencanakan kehancuran ini?" tanyanya dengan nada rendah, tatapannya tak lepas dari catatan di tangannya. Kata-kata Nada membuat bulu kuduknya berdiri.

"Sial, ini lebih buruk dari yang kukira," pikir Nada, perasaannya bercampur antara ketakutan dan kemarahan. Matanya berpindah dari kertas ke Queensha, yang terlihat terkejut dan gemetar. "Kita terjebak di sini, di tengah-tengah konspirasi yang bisa menghancurkan semuanya. Apakah kita bisa keluar dari sini hidup-hidup?"

Nada mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba menenangkan pikirannya. "Mereka tahu persis apa yang mereka lakukan, Queensha. Semua ini sudah direncanakan dengan sangat rapi," tambahnya dengan suara yang lebih rendah namun penuh ketegangan.

Queensha mengepalkan tangannya erat-erat, berusaha menahan ketakutan yang mengalir dalam darahnya. Matanya yang besar memandang Nada, mencoba menemukan secercah harapan dalam situasi ini. Tapi dari sorot mata Nada yang dingin, dia tahu jawaban itu tidak akan datang. "Nada... apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanyanya, suaranya nyaris berbisik, keraguannya jelas terlihat dalam cara bahunya merosot lemah.

Nada berjalan mondar-mandir, mencoba berpikir jernih, tapi semua yang ada di depannya hanya menambah lapisan kengerian. Jari-jarinya berkali-kali mencengkeram bajunya, mencari jawaban yang sulit. "Kita harus cepat keluar dari sini dan memberi tahu yang lain. Ini terlalu besar untuk kita tangani sendirian."

Tiba-tiba, suara gemerisik pelan terdengar dari ujung ruangan, memecah ketegangan yang sudah menggantung di udara. Queensha dan Nada membeku di tempat. Mereka saling berpandangan, napas mereka terhenti.

"Apa itu?" Queensha berbisik, matanya melebar. Tenggorokannya mengering, dan dia bisa merasakan keringat dingin mulai mengalir di punggungnya.

Nada menajamkan pendengarannya, matanya menyipit ke arah bayangan yang bergerak di balik lemari peralatan. Jantungnya berdetak keras, dan tangannya dengan sigap meraih sesuatu yang bisa digunakan sebagai senjata. "Ada seseorang di sini... atau sesuatu," bisiknya tegang.

"Tidak mungkin... kita sendirian di sini, kan?" pikir Queensha panik, tubuhnya terasa kaku. "Apa yang bersembunyi di balik bayangan itu?" Otaknya berlomba antara ingin lari atau bertahan.

Bayangan itu semakin jelas, bergerak dengan gerakan cepat dan membuat suara lembut yang aneh. Nada menatap Queensha, sorot matanya menunjukkan bahwa mereka harus segera memutuskan: melawan atau kabur.

"Nada... kita harus pergi!" Queensha menarik lengan Nada, tetapi kakinya terasa berat. Mereka berada di ambang ketidakpastian, terjebak di antara keinginan untuk menyelidiki lebih lanjut atau melarikan diri secepat mungkin.

"Diam. Kita lihat dulu apa itu." Suara Nada tegas, meski dahi berkerut dan alisnya terangkat, jelas bahwa ia sama takutnya.

Ketegangan semakin tebal di udara, setiap detik yang berlalu terasa semakin berat. Mereka tahu, pilihan apapun yang mereka buat, bisa berakibat fatal.

Saat mereka mendekati bayangan itu, pintu laboratorium tiba-tiba berderak keras, seolah sesuatu di luar sana mencoba masuk. Queensha dan Nada berbalik dengan cepat, ketakutan merambat ke wajah mereka. Pintu tersebut hampir hancur, dan di baliknya terdengar suara geraman yang semakin mengancam.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 episode 71
72 episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
episode 71
72
episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!