Episode 17

Setelah berhasil bertahan di dalam gedung tua yang dihantui keheningan, Aisyah dan Delisha merasa jantung mereka masih berdegup kencang, terperangkap dalam bayang-bayang. Dinding yang retak dan berlumut di sekeliling mereka tampak menyimpan cerita kelam dari masa lalu. Jendela-jendela pecah memancarkan sinar remang-remang dari luar, dan setiap desis angin membawa aroma busuk yang menyengat. Suara gemuruh di kejauhan menambah suasana mencekam, seolah-olah kota ini sendiri merintih.

Aisyah menegakkan punggungnya, kekhawatiran membayangi wajahnya yang lelah. "Kita perlu merencanakan pelarian," katanya, suara tegasnya berusaha mengatasi rasa takut yang menggelayut.

Delisha mengangguk, meski matanya tidak lepas dari bayangan di luar. Ketika dia melongok ke luar jendela, keterkejutan menerpa wajahnya. "Aisyah... lihat ini," ucapnya dengan suara bergetar. "Ada yang berbeda di antara mereka."

Di luar, antara kumpulan zombie yang merayap perlahan, satu sosok berdiri mencolok. Zombie itu lebih tinggi dan kekar, kulitnya berlubang-lubang, menunjukkan bekas luka eksperimen yang mengerikan. Gerakannya lincah, seperti predator yang siap memangsa. Ia berlari lebih cepat daripada yang lain, seolah-olah memiliki tujuan dan kesadaran.

"Ini bukan zombie biasa! Mereka mungkin sudah berevolusi atau... dimodifikasi!" Delisha berteriak, tangannya mencengkeram pinggiran jendela, matanya melebar penuh ketakutan. Jantungnya berdegup kencang, seolah berusaha melawan rasa panik yang menggelora.

Aisyah merasa perutnya berkontraksi, jiwanya merinding saat mendengar deskripsi Delisha. "Apa yang sebenarnya terjadi di luar sana?" pikirnya, "Apakah ini semua bagian dari eksperimen gila yang tidak pernah kita ketahui?"

"Aku tidak ingin menghadapi sesuatu yang lebih dari sekadar zombie, apalagi jika mereka adalah hasil modifikasi!" pikir Aisyah, tangannya bergetar. "Kami harus keluar sebelum semuanya terlambat!"

Delisha menggigit bibir bawahnya, bibirnya bergetar saat menyaksikan zombie itu bergerak lincah, menghindari rekan-rekannya yang lebih lamban. "Aisyah, kita harus cepat! Jika mereka bisa memodifikasi zombie, siapa tahu apa yang mereka lakukan kepada manusia?"

Aisyah mengangguk, merasakan peluh dingin mengalir di tengkuknya. "Kita tidak bisa bertahan di sini lebih lama lagi. Kita harus menuju pintu keluar dan menemukan tempat aman!"

Dengan langkah mantap, Aisyah berbalik dan bergegas ke pintu, ekspresi ketegangan menghiasi wajahnya. "Ayo, Delisha! Kita tidak punya banyak waktu!" Dia menarik tangan Delisha, berusaha mengeluarkannya dari ketakutan yang melumpuhkan.

Namun, saat mereka melangkah menuju pintu keluar, suara langkah kaki cepat tiba-tiba menggema di sepanjang koridor. Aisyah dan Delisha saling memandang, mata mereka berbicara dalam ketakutan yang tidak terucapkan. Zombie yang Delisha lihat sebelumnya kini meluncur cepat, seolah terbangun dari mimpi buruk.

"Dia tidak mungkin..." pikir Delisha, napasnya terasa berat. "Kami tidak bisa melawan sesuatu yang secepat itu!"

Mereka terjebak dalam ketegangan, suara langkah kaki mendekat dengan kekuatan tak terhindarkan. Kecemasan melanda pikiran Aisyah. "Kita harus segera membuat keputusan! Berlari atau melawan?" tanyanya, napasnya tercekat.

Delisha bergetar, merasakan darahnya membeku. "Kita tidak bisa melawan! Kita harus pergi sekarang!" Dia mulai berlari ke arah pintu, otaknya berputar-putar dengan ide untuk menghindari zombie itu.

Tapi saat mereka mencapai pintu, zombie itu mendekat dengan kecepatan luar biasa, dan Aisyah merasakan ketakutan menjalari seluruh tubuhnya. "Delisha, cepat!" serunya, mendorong pintu dengan sekuat tenaga.

Dalam sekejap, pilihan mereka terjepit—apakah mereka akan melawan monster modifikasi itu atau terjun ke dalam kegelapan yang menunggu di luar gedung tua? Detak jantung mereka berpacu, dan saat pintu hampir terbuka, suara geraman seram terdengar mendekat.

******

Gathan dan Jasmine terengah-engah, tubuh mereka berkeringat dan napas mereka memburu setelah berlari tanpa henti. Rumah terpencil tempat mereka berlindung tampak sunyi, tetapi kegelapan yang melingkupi menyimpan ketidakpastian. Lampu redup menggantung di langit-langit, memberikan sedikit penerangan pada ruangan yang dipenuhi wajah-wajah tegang. Di sudut, seorang pria tua duduk di kursi kayu tua, tubuhnya membungkuk di bawah beban masa lalu. Rambutnya yang putih dan tipis berkibar pelan terkena angin dari jendela yang setengah terbuka.

Pria itu menghela napas panjang, wajahnya menunjukkan garis-garis kelelahan dan penyesalan. Saat dia mulai berbicara, suasana hening menebal, seolah-olah setiap kata yang keluar dari mulutnya membawa kepingan rahasia yang menakutkan.

"Kalian datang di saat yang salah...," katanya perlahan, matanya berkaca-kaca menatap lantai kayu yang berderit. Gathan menoleh pada Jasmine, alisnya berkerut seolah menuntut penjelasan lebih lanjut. "Apa maksudmu?" Gathan bertanya, suara tajamnya memecah keheningan.

Pria tua itu mengangkat kepalanya, sorot matanya kosong dan hampa. "Aku pernah bekerja di fasilitas penelitian di kota ini," katanya, suaranya penuh dengan penyesalan.

Jasmine tersentak, merasa dadanya tercekam oleh rasa penasaran yang menggelora. "Fasilitas penelitian?" pikirnya, tangannya meremas ujung jaketnya tanpa sadar.

"Kami dulu mengembangkan virus yang awalnya dirancang untuk mengendalikan perilaku manusia," lanjutnya, suaranya serak, seolah tiap kata menarik beban dari hatinya. "Tapi ada kebocoran... sesuatu yang tidak pernah kami antisipasi. Virus itu bermutasi dengan cara yang tak terbayangkan."

Gathan menggertakkan giginya, tubuhnya tegang saat ia mendekat. "Apa yang kau katakan?" desaknya. Matanya membelalak ketika pria tua itu menatapnya, sorot matanya menyiratkan kengerian yang mendalam. "Virus itu... mereka bukan hanya zombie sekarang. Mereka berevolusi menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar mayat hidup," bisiknya, suaranya bergetar. "Mereka sekarang berburu... dengan akal. Makhluk yang jauh lebih mematikan."

Jasmine mengerutkan kening, perutnya menggeliat karena rasa takut yang menjalar. "Lebih mematikan? Bagaimana mungkin?" pikirnya. "Seberapa jauh bencana ini akan berkembang?"

"Sial!" Gathan memukul dinding dengan kepalan tangan, emosinya meluap. "Kalian tahu ini bisa terjadi dan kalian tetap biarkan?!"

Pria tua itu hanya menggeleng, matanya dipenuhi penyesalan yang dalam. "Kami tidak pernah tahu... tidak pernah membayangkan... bahwa ini semua bisa terjadi." Napasnya memburu, seolah-olah setiap kata menghantam dadanya dengan beban penyesalan yang tak tertanggungkan.

"Ini lebih buruk dari yang aku duga...," pikir Gathan. "Ini bukan hanya tentang selamat dari zombie biasa. Kami menghadapi sesuatu yang jauh lebih berbahaya." Dia menatap Jasmine, matanya dipenuhi kecemasan. "Apa yang harus kami lakukan sekarang?"

Jasmine menggigit bibirnya, berusaha keras menenangkan pikirannya yang terus berputar. "Jika mereka berevolusi, kita harus menemukan cara lain untuk bertahan hidup," pikirnya, rasa takut merayap di setiap sudut otaknya.

Ketika Gathan hendak menanyakan lebih lanjut, tiba-tiba terdengar suara geraman dari luar jendela. Suara itu rendah, menggelegar, seolah-olah sesuatu yang besar dan berbahaya berada sangat dekat.

Gathan membekukan langkahnya, matanya melebar saat suara geraman itu semakin jelas. "Kita harus pergi sekarang," bisiknya pelan namun tegas, matanya bergerak cepat menilai setiap sudut ruangan.

Namun, tepat saat mereka hendak bergerak, terdengar dentuman keras dari jendela. Kaca bergetar, membuat semua orang di ruangan itu terdiam. Jasmine membekap mulutnya, napasnya tertahan dalam dada. Jantung Gathan berpacu, perasaannya terhimpit oleh waktu yang semakin sempit.

"Zombie sudah di ambang pintu," bisik Jasmine dengan suara gemetar. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Mereka tahu waktu semakin sedikit, dan pilihan mereka semakin terbatas.

Dentuman itu terdengar lagi, kali ini lebih keras, seperti sesuatu berusaha merobohkan pintu. "Tidak ada waktu!" Gathan berteriak. Mata semua orang terpaku pada pintu—dan mereka tahu bahwa apa pun yang menunggu di luar bukan hanya zombie biasa.

Terpopuler

Comments

Kardi Kardi

Kardi Kardi

mereka berevolusi menjadi MODERN

2024-11-01

2

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 episode 71
72 episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
episode 71
72
episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!