Episode 13

Terjebak dalam gedung yang gelap, suara rintihan angin yang menyusup dari jendela pecah membuat suasana semakin menegangkan. Queensha berdiri di sudut, punggungnya menempel erat pada dinding dingin yang retak. Kegelapan menyelimuti setiap sudut ruangan, sementara suara langkah kaki mendekat dengan perlahan, mengiris ketenangan yang rapuh. Jantungnya berdegup kencang, berirama dengan ketakutan yang menggeliat di dalam dirinya.

"Siapa di sana?" bisik Queensha dengan suara serak, matanya terus menatap lurus ke depan. Di tangan kirinya, sebuah batang besi bekas konstruksi ia genggam erat, satu-satunya senjata yang ia punya. Napasnya terengah-engah, ia mencoba menenangkan dirinya, namun setiap langkah yang mendekat membuat tubuhnya semakin tegang.

Langkah-langkah berat itu mendekat, lalu tiba-tiba berhenti. Suasana sunyi menggantung di udara, menyisakan ketidakpastian. Dalam benaknya, Queensha bertanya-tanya, "Apakah ini akhirnya? Apakah aku akan mati sekarang?"

Tiba-tiba, dari balik kegelapan, seorang gadis muncul, tubuhnya ramping namun tampak tangguh, mengenakan gamis yang terlihat serasi dengan tatanan hijabnya. Tatapan matanya tajam, tapi bukan tatapan zombie yang haus darah. Ia menatap Queensha dengan waspada, tetapi juga penuh rasa ingin tahu.

Queensha mengangkat batang besi lebih tinggi, suaranya menggigil dengan amarah dan ketakutan. "Mundur, atau-atau aku tidak akan ragu untuk memukulmu!"

Gadis itu mengangkat kedua tangannya perlahan, menunjukkan bahwa dia tidak membawa senjata. "Tenang... aku bukan musuh." Suaranya tenang namun penuh kendali, seperti seseorang yang sudah terbiasa menghadapi situasi gawat.

Queensha memperhatikan setiap gerakannya dengan saksama. "Bukan zombie... tapi apakah dia bisa dipercaya?" pikirnya. "Siapa kau?" tanyanya, masih menggenggam batang besi erat, otot-ototnya terasa tegang.

Gadis itu menurunkan tangannya perlahan, seolah tak ingin memprovokasi lebih lanjut. "Namaku Nada" katanya singkat. "Aku sudah tinggal di gedung ini sejak semua ini dimulai. Aku melihatmu masuk tadi. Kau beruntung zombie tidak mengikuti jejakmu."

Queensha mengerutkan kening, tidak yakin apakah ia bisa mempercayainya. "Nada? Bagaimana kau bisa selamat selama ini?"

Nada tersenyum tipis, matanya gelap namun tidak sepenuhnya kosong. "Dengan tetap bergerak, tidak tinggal di satu tempat terlalu lama." Dia menunjuk ke luar jendela yang pecah, asap tipis dari kejauhan tampak menyelimuti sebagian kota. "Kota ini sudah dikuasai mereka. Tidak ada yang aman di sini, terutama di pusat kota. Jika kau terus di sini, kau akan berakhir seperti mereka."

Queensha merasakan dadanya sesak. "Kau pikir... kita bisa lari ke mana? Seluruh kota penuh dengan mereka." Dia menunduk sebentar, seolah mencoba menenangkan pikirannya. Dalam benaknya, suara-suara masa lalu bergema- orang-orang yang ia cintai, keluarganya yang ia tinggalkan di balik pintu terkunci.

"Aku tahu satu tempat. Lebih aman, jauh dari sini," kata Nada dengan suara yang penuh keyakinan. "Tapi kita harus pergi sekarang, sebelum lebih banyak dari mereka datang."

Queensha menggigit bibir bawahnya, berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. "Apakah aku benar-benar bisa mempercayainya?" pikirnya. "Dia mungkin tulus, tapi bagaimana jika ini hanya jebakan? Aku bahkan tidak tahu siapa dia sebenarnya."

Dia melirik ke luar jendela, melihat bayangan-bayangan bergerak di kejauhan. Geraman zombie yang tak henti-henti mulai terdengar lebih dekat. "Namun... aku juga tidak bisa bertahan sendirian di sini. Gedung ini tidak akan lama lagi menjadi kuburanku jika aku tetap diam."

Queensha menatap Nada dengan tatapan penuh keraguan. "Kenapa aku harus mempercayaimu?" tanyanya, nada suaranya tetap tajam meski ada rasa putus asa yang merayapi dirinya.

Nada menatap balik, matanya penuh ketulusan yang sulit diabaikan. "Karena kalau kau tidak ikut, kau akan mati di sini," jawabnya tegas. "Aku juga tidak ingin mati di tempat ini."

Detik-detik berlalu dalam kebisuan, suara geraman zombie semakin mendekat, menggetarkan udara di sekitar mereka. Queensha merasakan ketegangan yang mencekamnya-ini adalah keputusan hidup dan mati.

"Terserah padamu," ujar Nada, sebelum berbalik, mulai berjalan menuju pintu keluar. "Aku akan pergi sekarang."

Queensha merasakan dunia seakan terbelah di depan matanya. "Jika aku tidak ikut, ini mungkin kesempatan terakhirku untuk keluar dari sini..."

Namun, sebelum ia bisa memutuskan, suara keras dari belakangnya-sebuah pintu yang terbuka secara paksa-membuat tubuhnya membeku. Bayangan gelap melintas di sudut pandangnya.

"Apa itu?" bisiknya, tapi sebelum dia bisa bergerak, sebuah sosok muncul dari kegelapan, mematahkan kesunyian dengan raungan mengerikan. Zombie itu menerjang dengan kecepatan yang mengejutkan.

"Lari!" teriak Nada sambil berbalik, mata mereka bertemu dalam kepanikan yang sama.

Queensha terpaku sejenak, lalu tanpa berpikir lebih jauh, ia melempar batang besi itu ke arah zombie dan berlari mengikuti Nada- tanpa ada waktu lagi untuk meragukan keputusannya.

*****

Suara angin mendesis di sela-sela reruntuhan gedung tua tempat mereka terperangkap. Aisyah dan Delisha duduk bersandar di dinding yang penuh lumut dan retakan. Kegelapan menguasai ruangan, hanya tersisa sedikit cahaya yang menyelinap melalui celah-celah jendela yang pecah. Bau apek dan debu menusuk hidung, membuat napas mereka terasa berat.

"Kita harus keluar dari sini," bisik Aisyah, menggigit bibirnya dengan gugup. Matanya gelisah, terus berpindah-pindah, seakan menunggu sesuatu yang mengerikan datang dari balik kegelapan. Kakinya yang lelah ia tekuk rapat, bersiap jika harus lari kapan saja. "Kenapa tempat ini begitu sunyi?" pikirnya, merasakan ketakutan perlahan merayap di kulitnya. Suasana hening ini terlalu janggal, seolah ada yang mempermainkan mereka dengan sunyi sebelum badai datang.

Sementara itu, Delisha berjongkok di lantai, kedua tangannya gemetar saat ia memegang sebuah ponsel usang yang entah bagaimana masih berfungsi. "Aku menemukannya di bawah meja ini," ucapnya dengan suara serak. Matanya berbinar sejenak, seolah menemukan secercah harapan di tengah keputusasaan.

Delisha menatap layar ponsel, jari-jarinya bergerak cepat mencoba menelpon nomor temannya. Namun, setiap kali suara nada sibuk terdengar, wajahnya semakin murung. "Kenapa tidak bisa tersambung?" gumamnya, frustrasi. "Ayo dong, tersambunglah..."

Aisyah mencondongkan tubuhnya mendekati Delisha, jantungnya berdegup lebih kencang. "Coba lagi, mungkin sinyalnya jelek," katanya, mencoba menyembunyikan kepanikan dalam suaranya. "Kalau kita tidak bisa menghubungi mereka... kita akan terjebak di sini."

Delisha menggertakkan giginya, lalu mencoba sekali lagi, kali ini lebih lama menunggu. "Ayo... ayo...," bisiknya dengan nada tegang. Tiba-tiba, suara dering sambungan terdengar dari ponsel, mengejutkan keduanya. Delisha menatap layar dengan mata melebar, dan dengan tangan gemetar, dia menekan tombol jawab.

"Halo? Nafisah?!" Delisha berteriak, suaranya nyaris pecah. "Kau di mana?!"

Di seberang, suara Nafisah terdengar—lemah, terputus-putus. "Aku... aku di luar gedung tua... Kami juga terjebak... zombie... di mana kalian?"

Aisyah dan Delisha saling berpandangan sejenak, mata mereka penuh harapan dan ketakutan bercampur jadi satu. Delisha menggenggam ponsel lebih erat, mencoba menenangkan dirinya. "Kami di gedung tua dekat pusat kota," jawabnya cepat. "Kita harus bertemu di tempat aman. Apakah kau tahu tempatnya?"

Suara Nafisah terdengar tegang. "Ada... ada titik pertemuan di utara, di bawah jembatan tua... Tapi hati-hati, banyak zombie di jalan. Kita harus bergerak cepat."

Aisyah mengangguk, wajahnya tegang. "Kita tidak punya banyak waktu," katanya kepada Delisha, lalu mengambil napas dalam-dalam. "Ayo, kita harus ke sana sebelum mereka mendekat."

Delisha menggigit bibirnya, lalu menatap Aisyah. "Kau yakin ini aman? Kalau kita bergerak sekarang... zombie bisa saja mengepung kita."

"Kita terjebak dalam mimpi buruk ini. Aku tidak tahu apakah ini keputusan yang benar..." pikir Delisha, perutnya terasa mual karena ketakutan. Namun, di dalam kepanikan itu, ia tahu satu hal. "Tapi kalau kita tidak bergerak, kita pasti akan mati di sini."

"Aku tahu," kata Aisyah, merasakan ketakutan Delisha. "Tapi kita harus ambil risiko. Di sini juga tidak aman."

Delisha menggenggam ponsel dengan lebih erat, menatap Aisyah dengan tekad di matanya. "Baiklah. Kita pergi sekarang."

Mereka bersiap-siap, merapikan barang-barang yang bisa dibawa, dan perlahan mulai bergerak menuju pintu keluar gedung. Suara derak lantai yang retak terdengar setiap kali mereka melangkah, membuat keduanya semakin berhati-hati. Udara malam yang dingin merasuki mereka, dan setiap sudut tampak seperti bisa menyembunyikan bahaya.

Namun, saat mereka mendekati pintu, suara keras tiba-tiba memecah keheningan. Pintu di belakang mereka berderit keras, terbuka perlahan seolah disentak oleh tangan yang tak terlihat.

Aisyah dan Delisha berhenti seketika, tubuh mereka membeku. Napas mereka tertahan, ketakutan menyelimuti ruangan. Aisyah merasakan darahnya membeku, seketika tahu apa yang mungkin terjadi.

Delisha berbisik, hampir tidak bisa terdengar, "Jangan bilang... itu..."

Sebuah bayangan besar muncul di balik pintu. Sosok zombie yang menyeramkan dengan tubuh membungkuk dan mata kosong menatap lurus ke arah mereka, dengusan napasnya berat dan penuh kemarahan.

Aisyah menarik napas tajam, tangannya bergerak cepat meraih sesuatu di dekatnya untuk dijadikan senjata. "Delisha... kita harus lari... sekarang!"

Terpopuler

Comments

Kardi Kardi

Kardi Kardi

runnnnnn, girlssss. runnnn

2024-10-30

1

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 episode 71
72 episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
episode 71
72
episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!