Episode 10

Udara malam dipenuhi aroma busuk dan lembab, angin dingin berembus membawa debu reruntuhan yang beterbangan. Queensha, Seno, dan Masagena melangkah hati-hati di jalanan kota yang hancur. Gedung-gedung runtuh, mobil-mobil terbengkalai menghalangi jalan, sementara noda-noda darah yang sudah mengering menempel di trotoar seperti lukisan muram yang tak pernah hilang.

Seno melirik ke sekitar dengan cemas, keringat dingin menetes di dahinya meskipun malam itu dingin. "Kita harus segera menemukan tempat yang aman...," gumamnya. Matanya menyipit, menatap jauh ke depan, mencoba mencari celah di antara reruntuhan.

"Ya, tapi... di mana?" Queensha membalas, suaranya penuh tekanan. Napasnya terasa berat, sementara pandangannya melintas ke segala arah. Rasa takut yang tak pernah ia rasakan sebelumnya kini menjalari tubuhnya. "Kita nggak bisa terus jalan begini, mereka bisa muncul kapan saja."

"Tenang," Masagena berusaha terdengar tegar, meski bahunya tegang dan wajahnya pucat. "Kalau kita panik, kita bisa mati di sini."

Tapi dalam hatinya, Masagena pun tak bisa menenangkan diri. "Apa kita akan bertahan hidup? Atau ini akhir dari kita?" pikirnya dengan kecemasan yang memburu.

Saat mereka berbelok ke sebuah jalan yang penuh dengan mobil-mobil terbengkalai dan puing-puing beton, tiba-tiba dari balik reruntuhan, sekelompok zombie menyerbu dengan suara geraman rendah yang mengerikan.

"LARI!" Seno berteriak sekuat tenaga, panik. Tubuhnya langsung bergerak, mendorong kakinya untuk berlari tanpa menoleh ke belakang. Masagena tak butuh waktu lama untuk mengikuti, kakinya berderap keras di atas aspal, mencoba sekuat tenaga meloloskan diri.

Namun, Queensha tertinggal. Jantungnya berdetak keras, kakinya terasa berat, dan dalam sekejap ia terjebak di sudut gang sempit yang diblokir oleh reruntuhan. "TIDAK!" ia menggeram putus asa, matanya melebar ketika melihat gerombolan zombie yang semakin mendekat. Mereka bergerak lamban tapi pasti, seperti mimpi buruk yang tidak bisa dihindari.

"Ini gila..." pikir Queensha sambil dengan cepat mengambil pecahan beton di dekatnya. Tangannya gemetar, tapi ia tidak punya pilihan lain. Dengan sekuat tenaga, ia melempar pecahan itu ke arah zombie terdekat. "Pergi! Pergi!" teriaknya, suaranya bergetar penuh amarah dan ketakutan.

Namun, jumlah mereka terlalu banyak. Queensha merasa dirinya terpojok, adrenalinnya memuncak saat ia mengambil apapun yang bisa dijadikan senjata, entah itu botol kaca atau pipa yang rusak. Tapi di dalam dirinya, ia tahu—ini tidak akan cukup.

"Apakah ini akhirnya?" pikir Queensha, tatapan matanya liar saat zombie semakin mendekat.

Setelah lari tanpa henti, napasnya tersengal, kakinya lemas. Queensha berhasil menemukan sebuah bangunan kosong, mungkin bekas kantor, yang tampaknya aman. Ia masuk dengan tergesa-gesa, menutup pintu dengan cepat dan menyandarkannya dengan meja yang tergeletak di dekatnya. Punggungnya bersandar di pintu, napasnya berat, tubuhnya gemetar. "Aman... untuk saat ini," bisiknya pada dirinya sendiri, tapi kata-kata itu tak memberi ketenangan.

Di dalam bangunan, hanya ada keheningan. Lampu-lampu sudah padam, membuat interior bangunan terlihat suram dengan bayangan-bayangan yang mencekam. Jantungnya masih berdetak kencang, dan ia mencoba mengatur napas. Namun, semakin sunyi suasana di dalam, semakin ia merasa terisolasi.

"Di mana mereka? Seno... Masagena... apakah mereka selamat?" pikirnya sambil memeluk lututnya sendiri, berusaha mengusir rasa takut yang terus menghantuinya. Air mata hampir tumpah, tapi ia menahannya. "Aku nggak boleh menangis sekarang. Aku harus bertahan."

Namun, di balik pikirannya yang berusaha tegar, ketakutan mulai menjalari dirinya. Keringat dingin terus mengalir di pelipisnya. "Apa aku bisa bertahan sendirian?"

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari dalam gedung. Queensha membeku, tubuhnya langsung kaku. Ia tak tahu apakah itu Seno dan Masagena yang mencari perlindungan, atau... sesuatu yang jauh lebih buruk. Napasnya tertahan, jantungnya berdetak begitu kencang hingga hampir meledak. "Siapa itu?"

Langkah-langkah itu semakin mendekat, menggema di sepanjang lorong yang gelap dan kosong. Queensha berjongkok di balik meja, tak berani bergerak sedikit pun. "Apa aku harus keluar? Atau tetap bersembunyi?" pikirnya dengan kebingungan. Tapi ketakutannya begitu besar hingga ia hanya bisa diam, membatu di tempat.

Suara langkah kaki semakin dekat, dan tiba-tiba berhenti di luar pintu ruangan di mana Queensha bersembunyi. Keheningan yang mencekam menyelimuti tempat itu. Dalam diam yang nyaris menyakitkan, ia menunggu, tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

******

Malam yang seharusnya tenang kini berubah menjadi kengerian yang tak terbayangkan. Kota yang pernah mereka kenal telah hancur, penuh dengan puing-puing, suara jeritan yang terdengar dari kejauhan, dan bau busuk menyengat yang seakan menempel di udara. Aisyah dan Delisha berjalan tertatih-tatih di antara reruntuhan, tangan mereka saling menggenggam erat. Mata Aisyah yang lebar memindai setiap sudut jalan, sementara Delisha berusaha menahan gemetar di tubuhnya.

"Aku nggak tahu kita bisa bertahan berapa lama lagi..." bisik Aisyah, suaranya nyaris tenggelam oleh suara angin yang menerpa reruntuhan bangunan di sekitarnya. Rambutnya yang panjang berantakan, sementara wajahnya tampak kelelahan.

"Jangan ngomong gitu, kita pasti bisa." Delisha mencoba terdengar kuat, tapi getaran di suaranya tak bisa disembunyikan. Ia menarik nafas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri, tapi jantungnya berdegup kencang, memukul-mukul dadanya dengan keras. Dalam hatinya, ia bertanya-tanya apakah harapannya itu sungguh nyata. "Apa mungkin kita selamat dari semua ini?" pikirnya.

Gathan, yang berada di sisi lain kota, berlari kencang di antara bangkai mobil dan puing-puing. Otot-otot di lengannya tegang ketika ia menghindari bayangan zombie yang terus bergerak di setiap sudut. "Jasmine... di mana kau?" gumamnya putus asa. Matanya tajam, menelusuri setiap jalan yang ia lewati. Tapi setiap langkah terasa semakin berat, semakin putus asa.

"Aku nggak akan meninggalkanmu, Jasmine... aku janji," Gathan meyakinkan dirinya sendiri, walau ketakutan semakin merayap ke dalam pikirannya. "Tapi... bagaimana kalau aku terlambat?"

Jasmine, terjebak di atap rumah yang sunyi, duduk dengan lutut yang ia peluk erat. Bibirnya bergetar dan tatapannya kosong, menatap langit yang mulai meredup. "Apa aku akan bertemu mereka lagi? Atau ini akhirnya?" Suara desahan angin bercampur dengan erangan jauh dari zombie di bawahnya, seakan menertawakan kesendiriannya.

Di tempat lain, Nizam, Azzam, dan Nafisah duduk di dalam mobil yang sudah tidak berfungsi. Udara dalam mobil terasa pengap, sementara napas mereka tersengal-sengal setelah pertarungan sengit dengan zombie beberapa saat sebelumnya. Nafisah menggigit bibirnya, mencoba menahan air mata yang hampir jatuh. "Kita nggak bisa terus di sini... mereka pasti akan datang lagi," ucapnya dengan suara rendah, hampir tak terdengar.

"Aku tahu," jawab Nizam singkat. Rahangnya mengatup erat, matanya fokus menatap jalanan di depan yang gelap dan sunyi. "Tapi ke mana kita bisa pergi? Kita nggak tahu apa yang ada di luar sana."

Azzam menatap kedua saudaranya dengan penuh kecemasan. Kepalanya terkulai di belakang kursi, berusaha menenangkan dirinya meski pikirannya terus berputar. "Aku nggak akan biarkan mereka terluka lagi..." bisiknya pada dirinya sendiri. "Tapi... bagaimana kalau aku tidak cukup kuat untuk melindungi mereka?"

Queensha, yang terpisah jauh dari kelompok lainnya, berjalan pelan di dalam gedung kosong. Setiap langkahnya terasa berat, tak ada suara selain derak lantai di bawah sepatunya. Bayangan-bayangan di sudut ruangan tampak bergerak, mengintai dalam keheningan yang memekakkan telinga.

"Aku nggak bisa terus seperti ini," pikir Queensha. Napasnya pendek-pendek, ketakutan menjerat pikirannya. "Aku harus menemukan mereka... aku nggak boleh sendirian."

Tapi di setiap langkah, suara misterius itu terus mengikuti. Desahan panjang yang mengerikan dan langkah-langkah berat seakan terus membuntutinya. Punggungnya terasa dingin, bulu kuduknya berdiri, membuatnya menoleh ke belakang setiap beberapa detik. "Apakah itu... mereka?" pikirnya, penuh kekhawatiran. Namun, dia tidak berani menunggu untuk memastikan.

Para remaja di setiap sudut kota yang hancur ini, mulai merasakan frustrasi yang membakar di dalam diri mereka. Rasa takut dan ketidakpastian terus menggerogoti pikiran mereka. Kota yang dulu menjadi rumah kini berubah menjadi mimpi buruk yang tak pernah mereka bayangkan. Suara jeritan dan tangisan dari kejauhan menambah kekacauan mental mereka. Ini bukan hanya tentang melawan zombie lagi—ini tentang melawan rasa takut, kelaparan, dan keputusasaan yang perlahan menghancurkan mereka dari dalam.

"Apakah kita benar-benar bisa bertahan?" Delisha bertanya dalam hati, mengamati Aisyah yang berjalan di sebelahnya dengan mata yang lelah.

Di sisi lain kota, Arka dan Abib saling bertatapan setelah berhasil menyelinap masuk ke sebuah bangunan yang terlantar. Arka duduk di sudut ruangan, tangannya gemetar saat mencoba mengatur napas. Abib berdiri tak jauh darinya, menatap keluar jendela yang hancur. "Ini gila... kita nggak bisa terus begini," Abib bergumam dengan suara rendah, matanya memancarkan rasa putus asa.

"Terus terang, gue juga nggak tahu apa yang harus kita lakukan selanjutnya," balas Arka, suara seraknya penuh kelelahan. Dalam hati, ia bertanya-tanya apakah ada harapan di tengah kegelapan ini. "Apa yang kita kejar? Apakah kita benar-benar bisa keluar dari sini hidup-hidup?"

Ketika semua tampak semakin gelap, di tengah kepanikan yang mencekam, tiba-tiba Aisyah dan Delisha melihat kilatan cahaya yang aneh di langit. Langit yang tadinya gelap tiba-tiba terbelah oleh cahaya terang, seperti ledakan besar atau sinyal dari sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Aisyah terkejut, langkahnya terhenti. Mata Delisha membulat, mulutnya ternganga.

"Apa itu?" tanya Aisyah, nadanya penuh kebingungan dan ketakutan.

"Aku nggak tahu... tapi ini... ini nggak biasa," jawab Delisha, suaranya nyaris berbisik. Mereka berdua saling menatap dengan panik, sadar bahwa apapun yang baru saja terjadi bisa mengubah segalanya.

Apakah ini pertanda baik? Atau justru ancaman yang lebih besar sedang datang?

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 episode 71
72 episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
episode 71
72
episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!