Episode 6

Di luar, angin malam berhembus pelan namun membawa aura mencekam. Aisyah duduk di tepi ranjangnya, ruangan yang biasa terasa aman kini dipenuhi dengan rasa was-was. Cahaya redup dari ponselnya memantul di wajahnya yang pucat, dan keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. Jarinya terus menggulir layar, mencari informasi, namun hanya menemukan pesan-pesan singkat yang kacau. Laporan-laporan dari warga yang ketakutan membanjiri grup pesan, menyebutkan suara-suara aneh dan bayangan yang terlihat dari jendela."Kok nggak ada berita normal lagi?" gumam Aisyah, suaranya gemetar saat ia menatap layar yang semakin redup. Berita lokal yang biasanya penuh dengan hal-hal ringan kini hilang, digantikan dengan kekosongan. "Ini bukan pertanda baik," pikirnya, kepalanya penuh dengan skenario terburuk. Sesuatu yang tak terjelaskan sedang terjadi di luar sana, dan itu semakin nyata.

Di sisi lain kota, Delisha duduk di tepi jendelanya, dadanya berdegup kencang. Lampu jalan yang berkedip-kedip menciptakan bayangan aneh di luar rumahnya. la menahan napas, matanya terpaku pada jalanan yang kini sepi. Suara langkah berat terdengar jelas di kejauhan, mendekat-perlahan tapi pasti. Delisha mengintip di balik tirai dengan hati-hati. "Apa itu?" pikirnya saat matanya menangkap gerakan samar. Sosok manusia berjalan, tapi gerakannya tidak seperti orang normal. Terlalu kaku, terlalu lambat, seolah ada sesuatu yang salah. Dadanya semakin sesak, dan tangannya bergetar saat ia menutup tirai dengan cepat.

Ketakutan yang ia rasakan tidak bisa ia abaikan lagi. Dengan tubuh yang masih gemetar, Delisha memutuskan untuk keluar. "Aku harus tahu... apa yang sebenarnya terjadi di luar sana," gumamnya pada dirinya sendiri. Dengan hati-hati, ia membuka pinturumahnya, langkahnya pelan dan penuh kehati-hatian. Udara malam yang dingin menyergap tubuhnya saat ia melangkah ke jalan yang kosong.

Jalanan yang biasanya ramai kini lengang, dan hanya ada gemerisik dedaunan yang terbawa angin. Namun, perhatian Delisha segera tertuju pada sesuatu di aspal yang gelap. Matanya membelalak saat melihatnya-jejak darah, memanjang dari ujung jalan ke arah yang tak terlihat.

"Ini... darah?" suaranya tercekat. Perutnya mual, kakinya mendadak terasa berat, tapi instingnya berteriak untuk segera pergi. "Siapa yang terluka? Apa yang terjadi di sini?" pikirnya, sementara jantungnya berdetak semakin cepat. Keringat dingin membasahi telapak tangannya saat tubuhnya mulai bergerak, seolah-olah ada sesuatu yang memaksanya untuk menjauh.

Dalam kebingungan dan ketakutan, Delisha berbalik, berlari menuju rumahnya dengan napas terengah-engah. Suara gemuruh yang tadi samar kini semakin jelas di telinganya, membuat bulu kuduknya berdiri. "Bukan cuma aku yang dengar suara itu... ada sesuatu di luar sana," pikirnya, panik mulai menguasai dirinya.

Setelah masuk kembali ke rumah, Delisha menutup pintu dengan terburu-buru, tubuhnya bersandar lemas di balik pintu kayu yang kini terasa tipis. Namun, matanya masih enggan lepas dari jendela. Cahaya bulan yang pucat menyorot jalan yang sepi, dan di kejauhan, ia melihatnya.

Makhluk yang perlahan mendekat, dengan langkah pincang yang menyeret kakinya di atas aspal. Wajahnya... atau lebih tepatnya sisa wajahnya, hancur. Kulitnya terkelupas, darah kering menempel di pipi yang hampir habis. Matanya- tidak, itu bukan mata manusia. Mata itu kosong, tanpa jiwa. Delisha menutup mulutnya rapat-rapat, berusaha menahan jeritan yang hampir lolos dari tenggorokannya. "Ini... bukan manusia," pikir Delisha, matanya tak bisa lepas dari makhluk itu. Tubuhnya gemetar hebat. "Apa yang harus aku lakukan? Lari? Bersembunyi?" pikirannya kacau balau, tapi tubuhnya tetap membeku di tempat.

Napas Delisha semakin cepat dan tidak teratur. la bisa mendengar langkah pincang makhluk itu semakin mendekat, setiap gerakan terasa seperti ketukan kematian yang menggema di telinganya. "Apa aku akan selamat? Apa aku masih punya waktu untuk lari?" Desperasi melintas di matanya saat ia berusaha berpikir jernih.

Tiba-tiba, sosok itu berhenti. Tepat di depan pagar rumah Delisha. Langit malam tampak suram, diselimuti asap tebal yang membumbung dari arah lain kota. Jauh di kejauhan, suara ledakan menggema seperti deru petir yang tak pernah berakhir. Gathan berdiri di dekat jendela rumahnya, menatap kota yang perlahan berubah menjadi zona perang. Tubuhnya tegap, tapi wajahnya menyiratkan ketegangan. Keningnya berkerut, tangan kasarnya mengepal kuat, seolah siap meledak kapan saja.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" gumamnya, frustrasi. Napasnya berat, sementara pikirannyaberat, sementara pikirannya berusaha mencerna situasi yang kacau. "Aku nggak bisa cuma diam di sini. Kalau begini terus, aku bakal gila!" pikirnya, penuh tekad. Tanpa menunggu lagi, Gathan meraih jaketnya, menelusuri ruang tamu yang kini terasa sempit oleh rasa cemas. Dengan sekali hentakan, pintu depan terbuka lebar, dan ia melangkah keluar menuju kegelapan yang menyelimuti kota.

Sementara itu, Jasmine, yang bersembunyi di dalam rumahnya, berusaha keras menenangkan diri. Ruangan tempat ia bersembunyi hanya diterangi cahaya kecil dari lampu meja. Di luar, suara angin menderu, memukul dinding rumah seperti bisikan ancaman yang tak kasat mata. "Tenang, Jas... kamu aman di sini," bisiknya pada diri sendiri, namun nadanya penuh keraguan. Tangannya gemetar saat menggenggam kursi di depannya, berusaha menahan laju detak jantung yang semakin cepat.

Tiba-tiba, tok... tok... tok..., suara ketukan pelan terdengar dari arah pintu depan. Jasmine menegang. Awalnya, ia berpikir itu hanya angin, namun ketukan itu terus berulang, semakin keras, semakin menekan. "Siapa di luar sana?" bisiknya, tubuhnya mulai berkeringat dingin. Ketakutan merayap dalam pikirannya. "Jangan buka pintu... jangan buka pintu...," desis suara batinnya, tapi rasa penasaran yang mengerikan membuat tangannya secara refleks mulai meraih kenop pintu. "Tidak mungkin ada orang keluar malam-malam begini..."

Sementara itu, di sisi lain kota yang hening, Gathan berjalan melewati gang-gang kecil yang biasanya ramai. Jalanan sepi, hanya lampu jalan yang berkerlip, seolah kehilangan daya. Kakinya melangkah mantap, meskipun ada rasa gentar yang mulai merayap dalam hatinya. Asap tipis membumbung dari puing-puing yang berserakan di trotoar. Bau terbakar menguar, menciptakan atmosfer kota mati yang tak bersahabat.

Saat berbelok di salah satu sudut, matanya menangkap gerakan di kejauhan. Sesosok manusia... atau lebih tepatnya sesuatu yang tampakseperti manusia, perlahan mendekat. "Seseorang terluka?" pikir Gathan, mencoba mendekati sosok itu. Namun semakin dekat ia berjalan, perasaan aneh mulai menyelimuti dirinya. Tubuh sosok itu bergerak kaku, langkahnya terseret, kepalanya terkulai tak wajar.

Cahaya lampu jalan menyoroti wajah sosok itu. Mata Gathan terbelalak. "Oh Tuhan..." napasnya tercekat. Wajah sosok itu hancur, daging terkelupas seperti habis terkoyak, mata kosong, tanpa jiwa. Bau busuk menyerang hidung Gathan. "Itu... bukan manusia..."

Jantung Gathan berdegup kencang,darahnya berdesir liar. Tanpa pikir panjang, tubuhnya berputar cepat, dan ia melarikan diri sekuat tenaga. "Lari! Jangan berhenti!" pikirnya sambil berusaha mengatur napas yang semakin berat. Suara langkah berat dari belakangnya terdengar berdebar-debar, irama langkah zombie yang tak beraturan terus membuntutinya. Semakin dekat, semakin mendesak.

"Aku nggak akan mati di sini...!" batinnya berteriak, ketakutan yang begitu mencekam menyelimuti pikirannya. Kakinya terus melangkah cepat di jalanan yang penuh kegelapan, tatapannya mencari-cari jalan keluar. Namun, rasa panik mulai menyelimuti dirinya. Jalanan yang dulu familiar kini tampak seperti labirin tak berujung.

Di tempat lain, Jasmine akhirnya tak bisa lagi menahan dorongan dalam dirinya. Dengan hati penuh keraguan dan ketakutan, ia memutar kenop pintu. Pintu kayu itu berderit pelan saat terbuka. "Siapa di luar?" tanyanya setengah berbisik, namun suaranya langsung membeku saat ia melihat apa yang ada di depannya.

Makhluk itu berdiri di sana, di bawah bayang-bayang bulan. Sosok yang hancur, berlumuran darah, wajahnya seperti telah dicabik-cabik tanpa ampun. Mata kosongnya menatap langsung ke arah Jasmine. Makhluk itu menggeram rendah, suara serak yang berasal dari kedalaman perut, mengirimkan getaran ketakutan yang merambat ke seluruh tubuh Jasmine."T-Tidak mungkin..." bisiknya, kakinya gemetar hebat. Dengan sisa-sisa kekuatan yang tersisa, Jasmine membanting pintu kembali, tubuhnya terjatuh ke lantai. Napasnya tersengal-sengal, air mata menggenang di matanya, sementara suara ketukan keras mulai menggema di pintu. "Apa yang harus aku lakukan?" pikirnya, hatinya dipenuhi teror yang mencekam.

Di jalanan, Gathan terus berlari, terengah-engah, dengan makhluk-makhluk aneh semakin mendekat di belakangnya. Di rumahnya, Jasmine berdiri di belakang pintu, mendengar suara makhluk di luar yang semakin beringas.

Terpopuler

Comments

Edana

Edana

Memukau dan mencerahkan

2024-10-15

1

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 episode 71
72 episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
episode 71
72
episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!