Episode 5

Pagi itu, langit tampak mendung, seakan menggantungkan ancaman yang tak terlihat. Udara dingin menyelusup ke tulang, membuat Queensha menggigil, meski ia merasa lebih diguncang oleh kecemasan daripada oleh cuaca. Tangannya gemetar saat memegang ponsel, mencoba menelepon teman-temannya untuk ke sekian kalinya.

"Kenapa nggak ada yang jawab?" gumamnya dengan suara serak, menatap layar ponselnya yang kosong dari notifikasi. Hatinya semakin gelisah. Seno, yang biasanya suka melemparkan lelucon, kini terdiam, tatapannya kosong seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat. Masagena berdiri di dekat jendela, mengintip keluar, matanya menyipit, seolah mencoba memahami keanehan yang menggantung di udara.

Suara angin menderu pelan di luar, mengangkat debu dari jalanan yang sepi. "Apa ini hanya kebetulan atau firasat buruk?" pikir Queensha, hatinya mulai terasa lebih berat. Sesuatu tak beres. Ia bisa merasakannya di perutnya, sensasi mual dan tegang yang tak mau hilang.

“Ini nggak normal,” kata Seno akhirnya, dengan nada pelan yang membuat Queensha menoleh cepat. “Ada yang salah. Kita harus cari tahu apa yang terjadi.”

Ketiga remaja itu akhirnya melangkah keluar dari rumah mereka dengan rasa penasaran dan sedikit ketakutan. Udara pagi terasa berat, dan setiap langkah mereka di jalan yang kosong bergema, memberikan kesan seakan mereka adalah satu-satunya manusia yang tersisa di dunia. Jalanan yang biasa dipenuhi suara bising kendaraan dan orang-orang yang beraktivitas kini terdiam, sepi.

"Ini kaya kota hantu," bisik Masagena, matanya terus waspada, memeriksa setiap sudut. Rasa dingin merayap di kulitnya meski matahari seharusnya sudah mulai naik. Jalan yang biasanya riuh dengan suara klakson mobil dan percakapan pedagang kini terasa seperti tempat asing yang menakutkan.

Queensha melangkah lebih cepat, kepalanya dipenuhi banyak pertanyaan yang tak terjawab. "Kenapa bisa sepi gini? Kemana semua orang? Ini nggak mungkin kebetulan." Ada ketegangan di suaranya, seperti tali yang ditarik terlalu kencang.

Seno, yang selalu tampak tenang, kini menunjukkan sedikit kegelisahan. "Mungkin... ada pengumuman atau sesuatu yang kita lewatkan? Tapi anehnya, kita semua nggak tahu." Dia menggaruk belakang kepalanya, mencoba merasionalisasi keadaan, meskipun hatinya tidak sepenuhnya yakin dengan kata-katanya sendiri.

Tiba-tiba, di kejauhan, dari sudut matanya, Queensha melihat sesuatu yang membuat napasnya tertahan. “Hei... ada yang lihat itu?” suaranya bergetar.

Seno dan Masagena segera mengikuti pandangannya. Di ujung jalan yang kosong, bayangan hitam mulai bergerak perlahan, tapi gerakannya terasa salah—tidak alami. Mereka tampak seperti manusia, tapi tubuh mereka terlalu kaku, langkah mereka tidak sinkron, seolah-olah sedang ditarik oleh benang yang tak terlihat.

Seno, berusaha mengumpulkan keberaniannya, melangkah maju. "Mungkin... itu orang yang tersesat. Atau... hanya orang biasa."

Queensha merasakan keringat dingin mengalir di pelipisnya. "Bukan orang biasa... ada yang salah. Sangat salah..." pikirnya, tetapi kata-kata itu tak keluar dari mulutnya.

Masagena menggigit bibirnya, menatap bayangan-bayangan itu semakin dekat. "Jangan, Seno. Ada yang nggak beres. Aku bisa merasakannya," suaranya bergetar halus.

Saat bayangan itu semakin mendekat, mereka mulai melihat lebih jelas. Gerakan mereka kaku, terhuyung-huyung, namun tiba-tiba berubah menjadi lebih cepat, lebih agresif. Salah satu dari mereka berbalik, tetapi wajahnya... tidak terlihat, seperti tertutup oleh kabut hitam pekat. Ada sesuatu yang menakutkan dalam ketidaktahuan itu—sesuatu yang primal.

Tanpa peringatan, Queensha berteriak, "RUN!"

Suaranya seperti memicu sesuatu dalam diri mereka. Tanpa berpikir lagi, mereka bertiga langsung berlari. Napas mereka terdengar terengah-engah, jantung mereka berdegup begitu cepat hingga hampir memekakkan telinga. Seno yang biasanya kuat kini merasakan lututnya hampir goyah. Masagena yang biasanya tenang, merasakan adrenalin memaksanya berlari lebih cepat dari sebelumnya.

Langkah-langkah berat bayangan itu terdengar di belakang mereka, semakin dekat. "Ini nggak mungkin! Mereka terlalu cepat!" pikiran Seno mulai dipenuhi ketakutan saat ia melirik ke belakang.

Mereka terus berlari melewati jalanan sepi, namun suara langkah berat dari bayangan itu semakin mendekat, menambah beban ketakutan yang mereka rasakan. Bayangan itu semakin mendekat, dengan gerakan yang aneh dan mengancam. Lalu, dari arah lain, salah satu bayangan tiba-tiba muncul di depan mereka, menghadang langkah mereka dengan gerakan yang lebih cepat dari yang mereka duga.

Queensha terhenti sejenak, matanya membesar, napasnya terputus-putus. "Kita terjebak!" jeritnya, suara ketakutan itu menembus keheningan.

Masagena menatap sekeliling dengan panik, otaknya bekerja keras untuk mencari jalan keluar. "Apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa kita bisa melarikan diri dari ini? Apa mereka akan membunuh kita?" pikirnya, kepanikan menjalar hingga ke ujung jari-jarinya.

Seno menggertakkan giginya, tangannya mengepal erat. "Kita nggak bisa diam aja di sini." Tapi suaranya tidak yakin, seolah ada sesuatu yang lebih besar dan lebih menakutkan sedang mendekati mereka, sesuatu yang tidak bisa mereka hindari.

****

Di tengah situasi yang mencekam, suara telepon akhirnya tersambung. Aisyah, dengan tangan gemetar, menempelkan ponselnya ke telinga. "Halo? Delisha, kamu denger aku?" Nada suaranya penuh kegelisahan, nyaris berbisik. Ia bisa merasakan keringat dingin di punggungnya, jantungnya berdebar kencang di tengah keheningan yang terasa begitu asing.

Dari seberang, suara Delisha terdengar lemah namun tegas. "Ya, Aisyah... aku dengar. Kamu juga ngalamin hal aneh? Ini... gila banget. Aku nggak bisa jelasin tapi..." Suaranya terputus-putus, tak hanya karena jaringan yang buruk, tetapi juga karena ketakutannya yang jelas terdengar di antara setiap kata.

Beberapa detik kemudian, Gathan, Jasmine, Nizam, dan Azzam juga ikut tersambung dalam percakapan. Jaringan yang tidak stabil membuat suara mereka terdengar terputus-putus, tapi cukup jelas untuk mereka saling berbagi pengalaman.

Gathan menarik napas dalam sebelum berbicara. "Di sini ada yang aneh banget... tadi aku denger suara geraman, kayak... binatang tapi nggak pernah aku dengar sebelumnya." Suaranya terdengar berat, padahal Gathan biasanya selalu tampil sebagai sosok yang berani.

Jasmine menyusul dengan suara kecil, hampir berbisik. "Aku lihat... bayangan dari jendela kamar. Tapi... itu nggak mungkin manusia." Dia menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan diri agar tidak terdengar panik. Matanya tak pernah lepas dari jendela di kamarnya, berusaha menangkap gerakan sekecil apa pun di luar sana.

Nizam mencoba tetap tenang meskipun keringat mengalir dari pelipisnya. "Kota ini... sunyi banget, nggak ada suara sama sekali selain gemuruh tadi. Ini bukan cuma mati listrik biasa." Ia menatap keluar jendela, berusaha mencari sumber ketidaknyamanan yang semakin menebal.

Azzam, yang duduk tak jauh dari Nizam, hanya bisa memeluk lututnya, mencoba mencari rasa aman dalam kegelapan. "Aku nggak tahu apa yang terjadi, tapi perasaan ini... kita harus hati-hati."

Suasana percakapan semakin tegang. Aisyah, meskipun suaranya terdengar tegas, wajahnya pucat. Ia menggigit bibirnya, mencoba menenangkan pikirannya. "Kita harus ngumpul. Ada yang nggak beres, dan kita nggak bisa cuma duduk di sini. Kalau terus begini, kita bisa dalam bahaya lebih besar."

Semua terdiam sejenak. Delisha, yang biasanya optimis dan ceria, kini terlihat tegang. "Tapi di mana? Kita nggak tahu situasi di luar gimana. Aku... aku takut," ucapnya, suaranya bergetar. Tangan Delisha gemetar saat dia memegang erat ponselnya, seolah itu adalah satu-satunya hal yang menghubungkannya dengan kenyataan.

Jasmine yang sudah mulai merasa panik, mengeluarkan kekhawatirannya, "Tapi gimana kalau kita keluar dan malah kena sesuatu? Kita nggak tahu apa yang ada di luar sana." Matanya berkedip cepat, sesekali mengintip ke arah jendela kamar. Wajahnya pucat, dan napasnya terasa semakin pendek.

Gathan, yang biasanya tampil kuat, kini hanya bisa terdiam, menekan ponselnya erat-erat. Telinganya menangkap suara aneh di luar. "Aku bisa denger sesuatu dari luar. Suara itu… makin deket. Aku nggak yakin ini cuma binatang biasa." Matanya menyipit, mencoba fokus pada suara di luar, tapi kegelapan yang pekat membuat segalanya terasa semakin tak pasti.

Tiba-tiba, suara gemuruh yang mereka dengar sepanjang malam berubah. Gathan segera berdiri dari tempat duduknya, menatap ke arah pintu depan. "Suara itu... bukan gemuruh biasa. Itu kayak... langkah-langkah berat," katanya dengan nada tercekik, memicu perasaan takut di antara yang lain.

Azzam merangkak mendekati jendela dengan perlahan, mencoba mengintip keluar, tapi dia segera mundur dengan wajah pucat pasi. "Ini bukan hanya suara biasa… apa pun itu, semakin mendekat." Suaranya bergetar, matanya membelalak seperti baru saja melihat sesuatu yang tidak ingin dia percayai.

Aisyah memegang erat telepon di tangannya, detak jantungnya semakin cepat. Darahnya berdesir, firasat buruk mulai menguasainya. "Kita harus cepat mutusin... apa pun yang terjadi, kita nggak bisa diem di sini." Kepalanya dipenuhi kekhawatiran, tapi ia tetap berusaha terdengar tegar di hadapan yang lain.

Delisha, yang biasanya berusaha positif, kini tak bisa menyembunyikan ketegangannya. "Tapi... apa kita benar-benar aman kalau keluar? Bagaimana kalau malah lebih bahaya?" ucapnya, suaranya semakin lemah. Tangannya gemetar, memegang telepon seolah itu adalah satu-satunya penghubungnya dengan kenyataan.

Tiba-tiba, di tengah percakapan mereka, terdengar teriakan keras dari luar rumah Gathan. Suara itu tidak seperti teriakan manusia biasa—lebih mirip dengan jeritan makhluk yang menderita, dipenuhi kemarahan dan ketakutan yang menyayat. Gathan langsung berdiri terpaku, matanya melebar saat suara itu terus terdengar. "Kalian... kalian denger itu?" suaranya serak, penuh ketakutan.

Di sisi lain, Jasmine langsung menutup mulutnya, berusaha menahan jeritan. Tubuhnya gemetar, matanya tak bisa lepas dari jendela kamarnya. "Apa itu... apa itu yang aku lihat tadi?" ucapnya pelan, nyaris tak terdengar.

Setiap langkah berat terdengar semakin jelas. Jantung Nizam berdegup kencang, seolah-olah ada sesuatu yang mendekat, mengancam dari kegelapan di luar. Nafasnya tersengal-sengal, tubuhnya kaku, tidak bisa bergerak. Di dalam kepalanya, pikiran-pikiran menakutkan berputar liar. "Apakah ini akhirnya?"

Mereka semua tahu bahwa apa pun yang ada di luar sana, itu bukan sesuatu yang bisa mereka abaikan. Masing-masing dari mereka kini berhadapan dengan ketakutan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Malam semakin gelap, dan apa yang mendekat terasa semakin nyata, semakin mengerikan.

Terpopuler

Comments

Kardi Kardi

Kardi Kardi

never give up teams🍄

2024-10-26

1

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 episode 71
72 episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
episode 71
72
episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!