Episode 4

Gathan terbangun dengan jantung yang berdetak kencang. Biasanya ia tidak pernah takut, tapi malam ini berbeda. Keringat dingin menetes di pelipisnya, meski udara malam cukup dingin. Sebuah suara mengerikan menggelegar dari luar jendela, seperti sesuatu yang merayap di antara bayang-bayang. Ia duduk tegak di tempat tidurnya, matanya terpaku ke jendela. "Apa itu tadi?" pikirnya, kerongkongannya kering.

Gathan mendengarkan lebih seksama, berharap suara itu hanya bagian dari mimpi. Tapi tidak, suara itu semakin jelas—geraman pelan yang diikuti dengan suara gemuruh rendah. "Ini bukan mimpi," desisnya, mengusap wajah dengan gugup. "Harus kuperiksa." Dengan hati-hati, ia bangkit dari tempat tidur, lalu menyambar jaket yang tergantung di kursi.

Sementara itu, di tempat lain, Jasmine terbangun dengan rasa resah. Biasanya ia tenang dalam menghadapi banyak hal, tetapi malam ini ada sesuatu yang sangat salah. Hawa dingin menyeruak dari bawah pintu kamarnya, membuat bulu kuduknya meremang. Jasmine memaksakan dirinya bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju jendela. "Suara apa itu?" batinnya, ketika suara gemuruh yang sama terdengar, semakin lama semakin dekat.

Dia mengintip melalui celah tirai, dan matanya langsung tertuju pada sebuah bayangan besar yang bergerak cepat. Bayangan itu bukan milik manusia. Jantung Jasmine berdegup lebih kencang. "Apa itu?" pikirnya panik, napasnya tertahan di tenggorokan. Bayangan itu bergerak cepat, seolah-olah sedang memburu sesuatu, atau... seseorang.

Merasa ada yang tidak beres, Gathan akhirnya memutuskan untuk keluar dan mencari tahu. "Aku tak bisa diam saja," gumamnya dengan tekad, meski hatinya dipenuhi keraguan. Dengan senter kecil di tangan, ia membuka pintu depan dan melangkah keluar. Udara malam semakin dingin, menampar wajahnya seperti peringatan samar. Jalanan tampak lengang, tak ada satu pun mobil melintas, dan tidak terdengar suara apapun selain gemuruh dari kejauhan. "Aneh...," pikirnya, alisnya berkerut dalam.

Ia melangkah dengan hati-hati di atas aspal yang sepi, sinar senternya hanya mampu menembus sedikit kegelapan di depannya. Ia mencoba menghubungi teman-temannya—Aisyah, Delisha, dan Jasmine—tetapi semua panggilannya gagal tersambung. "Apa yang terjadi? Kenapa tidak ada sinyal?" desah Gathan, frustasi.

Jasmine, di sisi lain, merasa semakin tidak nyaman. Ia ingin menelepon seseorang, siapa saja, tetapi sama seperti Gathan, jaringannya mati. Ia kembali ke tempat tidurnya dengan tangan gemetar, ponsel masih tergenggam erat. "Apa yang harus kulakukan?" pikirnya. Bayangan itu masih terekam jelas di pikirannya, membuatnya merasa seolah ada sesuatu yang mengintainya dari kegelapan.

Tiba-tiba, sebuah suara gemuruh keras terdengar, kali ini sangat dekat. Jasmine menjerit kecil dan segera menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya melebar. Suara itu terdengar seperti sesuatu yang besar menghantam tanah. "Oh Tuhan, apa yang sedang terjadi?" batinnya, tubuhnya gemetar ketakutan.

Sementara itu, Gathan mulai merasakan bahwa apa pun yang ia hadapi malam ini bukanlah sesuatu yang biasa. Suara langkah berat mulai menggema, semakin dekat. "Itu bukan angin, bukan juga hewan... ini lebih besar dari apa pun yang pernah kulihat," pikirnya dengan cemas. Bayangan besar yang ia lihat di kejauhan mulai bergerak lebih cepat, semakin dekat dengan posisinya.

Tanpa berpikir panjang, Gathan berbalik dan mulai berlari, kakinya menghentak tanah dengan cepat. Napasnya memburu, matanya sesekali melirik ke belakang, memastikan bayangan itu tidak mengikutinya. "Aku harus memperingatkan yang lain... tapi bagaimana?!" pikirnya panik. Seluruh kota terasa mati—tidak ada sinyal, tidak ada listrik, hanya kegelapan yang menyelimuti.

Saat ia tiba di rumah, Gathan mencoba menenangkan diri, tetapi detak jantungnya terus berpacu. Ia menatap ke langit yang gelap, mendengarkan suara gemuruh dan geraman yang semakin dekat. "Ini nyata," bisiknya, dadanya terasa sesak oleh rasa takut yang mulai mendominasi dirinya.

Gathan yang berdiri di kegelapan, suara langkah besar semakin mendekat, dan ia sadar bahwa apa pun yang datang malam ini, tidak ada cara mudah untuk menghadapinya.

*****

Nizam terbangun dengan napas tersengal. Keringat dingin membasahi pelipisnya, meskipun udara kamar terasa sejuk. Ia langsung menoleh ke arah Azzam, saudara kembarnya, yang tengah duduk tegak di tempat tidur, matanya membelalak menatap pintu kamar.

"Ada yang aneh...," bisik Azzam, suaranya hampir tenggelam dalam keheningan yang tiba-tiba menyesakkan.

Nizam bangkit dan mengusap wajahnya. "Kenapa listrik padam? Padahal belum pernah kejadian seperti ini," gumamnya, mencoba menenangkan diri, meskipun jantungnya berdebar kencang. Ia berjalan ke arah saklar dan mencoba menekan-nekan tombol, tapi sia-sia. Gelap total.

"Ada suara aneh di luar tadi... kau dengar?" tanya Azzam, suaranya lebih tegang sekarang. Nizam mengangguk, meskipun tidak yakin suara apa yang barusan ia dengar. Sesuatu menggeram di kejauhan, seperti binatang buas yang sedang mencari mangsa.

“Tenang, mungkin cuma gangguan listrik biasa,” kata Nizam, mencoba berpikir logis. Tapi dalam hatinya, ia merasa ada sesuatu yang salah. "Kenapa sunyi sekali?" pikirnya. Biasanya Jakarta tidak pernah benar-benar tidur.

Di ruang tamu yang gelap, Nafisah duduk dengan ponsel di tangan, mengutak-atik tombol meski tahu jaringannya mati. Ia merasakan hawa mencekam yang tak biasa. Di kepalanya, berita-berita aneh dari beberapa hari lalu mulai muncul kembali: wabah misterius di luar negeri, kota-kota yang tiba-tiba dikarantina, dan teori konspirasi yang ia baca tentang eksperimen rahasia. Nafisah menggigit bibir, berusaha menekan perasaan cemas yang semakin memuncak. "Apa yang sedang terjadi?"

"Kenapa jaringannya mati?" Azzam muncul di belakangnya, suaranya pelan namun jelas dipenuhi ketegangan.

"Sesuatu yang lebih besar sedang terjadi," bisik Nafisah, setengah untuk dirinya sendiri. “Ini bukan pemadaman biasa.” Ia berdiri, berjalan menuju jendela, dan menarik tirai pelan. Jantungnya berdegup lebih kencang saat matanya menyapu jalanan gelap di luar. Tidak ada mobil, tidak ada lampu, bahkan tidak ada suara. Kota ini seperti dihantam kekosongan.

"Kenapa semuanya mati?" Nizam yang berdiri di dekat pintu akhirnya angkat bicara, mencoba menyembunyikan ketakutannya. Nafisah diam, menelan ludah. Matanya membesar saat sesuatu di kejauhan menarik perhatiannya.

"Ada orang di sana..." Nafisah berbisik, menahan napas. Di sudut jalan, bayangan beberapa orang tampak bergerak. Tapi gerakan mereka... tidak wajar. Terlalu kaku, terlalu lambat, seperti boneka yang digerakkan oleh benang tak kasat mata.

"Apa maksudmu? Siapa?" tanya Nizam, mendekat. Nafisah menoleh dengan wajah pucat, bibirnya bergetar seolah mencari kata yang tepat.

“Mereka... tidak terlihat normal...” Nafisah mundur beberapa langkah, rasa takut menjalar di seluruh tubuhnya. Tangannya mulai bergetar tanpa ia sadari. "Kenapa mereka bergerak seperti itu?"

Azzam ikut mengintip dari balik jendela. “Mereka bergerak seperti... zombie...” gumamnya pelan, suaranya penuh kebingungan. Nafisah menelan ludah, mencoba memproses apa yang dilihatnya.

Tiba-tiba, salah satu dari Zombie, sosok yang berjalan paling depan, berhenti dan menoleh langsung ke arah rumah mereka. Nafisah tersentak mundur, punggungnya membentur dinding. "Apa dia melihat kita?" bisiknya, suaranya penuh kepanikan.

Nizam menatap kakaknya dengan mata penuh kecemasan. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?" pikirnya, namun tidak berani mengucapkannya. Tiba-tiba, langkah-langkah aneh itu berubah menjadi lari. Mereka mulai mendekat, dengan gerakan yang cepat dan tidak manusiawi.

"Masuk ke kamar! Sekarang!" Nafisah menarik kedua adiknya, panik. Mereka bertiga berlari ke dalam kamar dengan jantung berdebar kencang. Nafisah mengunci pintu dan merapatkan telinganya ke dinding, mendengar langkah-langkah itu semakin mendekat di luar.

Sementara itu, di luar, gerakan makhluk-makhluk itu semakin tidak wajar, semakin cepat. Nafisah menahan napas, berharap langkah-langkah itu akan berlalu begitu saja. Tapi... tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Nafisah berdiri di balik pintu, terperangkap dalam kegelapan dan ketakutan, sementara di luar sesuatu yang tak dikenal semakin mendekat, menunggu di dalam bayangan.

Terpopuler

Comments

Mehayo official

Mehayo official

Lucu dan menghibur.

2024-10-14

1

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 episode 71
72 episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
episode 71
72
episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!