Episode 2

Di lapangan sekolah, bayangan Nizam dan Azzam tampak berkejaran, tubuh mereka bergerak lincah dalam kompetisi kecil yang sudah menjadi rutinitas. Kedua saudara kembar ini selalu berlomba, meski di balik persaingan itu, ikatan persaudaraan mereka sangat kuat. Keringat bercucuran di dahi mereka, napas mereka berat, tetapi senyum tak pernah lepas dari wajah mereka saat menantang satu sama lain.

"Kau pasti akan kalah kali ini, Zam," kata Nizam dengan suara menggoda, rambutnya yang basah oleh keringat ia sapu ke belakang.

Azzam hanya terkekeh pelan sambil menepuk bahu Nizam. "Mimpi terus, Nim. Aku selalu menang dalam hal ini."

Sementara itu, Nafisah, kakak perempuan mereka, melangkah melewati lapangan menuju kantin. Langkahnya tenang, tatapannya tajam, mencerminkan kepercayaan diri yang membuat banyak orang segan. Di kelas, dia dikenal karena kecerdasannya. Tapi yang membuatnya menonjol adalah kepekaannya terhadap isu-isu di luar yang jarang diperhatikan orang.

Di kantin, Nizam dan Azzam masih bercanda, membicarakan pertandingan basket minggu depan. Tangan mereka bergerak cepat meraih burger, sesekali saling dorong sambil tertawa.

"Kali ini aku yang jadi kapten," Nizam menyeringai, mengangkat alisnya pada Azzam.

"Ah, mimpi saja," Azzam balas sambil menelan makanannya.

Nafisah datang dan duduk di sebelah mereka, wajahnya serius. "Kalian nggak ngerasa ada yang aneh belakangan ini?" tanyanya, suaranya lebih pelan dari biasanya.

Nizam mengangkat bahu, sambil tetap fokus pada makanannya. "Kak, kamu terlalu banyak mikir. Ini cuma rutinitas sekolah. Biasa saja."

Azzam ikut tertawa kecil, "Iya, Kak. Kau baca terlalu banyak artikel konspirasi lagi?"

Nafisah menggelengkan kepala, wajahnya tetap serius. "Bukan cuma soal itu. Di beberapa negara, ada wabah misterius yang muncul tiba-tiba. Dan anehnya, media di sini nggak banyak ngomong soal itu. Aku rasa ada sesuatu yang mereka sembunyikan."

Nizam akhirnya meletakkan sendoknya, menatap Nafisah, "Kak, kamu benar-benar serius soal ini?"

"Aku serius," Nafisah mengangguk, matanya menatap tajam. "Apa kalian nggak merasa ada yang berbeda? Listrik mati di beberapa tempat tanpa sebab. Jalanan lebih sepi. Sesuatu memang terasa aneh."

Azzam yang biasanya pendiam, akhirnya menimpali dengan wajah yang agak tegang. "Ibu juga bilang hal yang sama. Beberapa rumah di sekitar kita listriknya mati tiba-tiba. Ini bukan kebetulan."

Mereka saling berpandangan sejenak, seolah semua tawa dan candaan hilang begitu saja. Ada perasaan gelisah yang tiba-tiba merambat di antara mereka.

Malam tiba dengan sunyi yang aneh. Biasanya, suara kendaraan dan hiruk pikuk kota Jakarta tak pernah berhenti, tapi malam ini, Nafisah merasa seolah-olah kota itu meredup. Nafisah duduk di depan laptopnya, menelusuri berita-berita yang membuatnya semakin curiga. Tangannya bergerak cepat di atas keyboard, membuka laporan-laporan tentang ledakan misterius di kota sebelah.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” pikir Nafisah dalam hati. Artikel yang baru saja dibacanya tiba-tiba hilang dari internet. Nafisah mengerutkan kening, merasakan jantungnya berdegup lebih cepat.

"Ditarik? Kenapa secepat itu?" gumamnya, rasa waswas mulai menjalari pikirannya. Nafisah menyandarkan punggungnya di kursi, menggigit bibir bawahnya sambil merenung.

Dia beranjak keluar dari kamarnya untuk memberi tahu saudara-saudaranya. Langkahnya pelan, penuh kehati-hatian. Namun saat sampai di ruang tamu, Nafisah melihat sesuatu yang membuat darahnya berdesir.

Jalanan di luar rumah tampak lebih gelap dari biasanya. Nafisah berjalan mendekati jendela, menatap ke luar. Tidak ada suara kendaraan, bahkan tidak ada hembusan angin. Semuanya hening. "Tidak biasanya sesepi ini," pikirnya, alisnya berkerut. Napasnya tertahan sejenak, jantungnya berdebar lebih kencang. Nafisah merasakan bulu kuduknya berdiri, ada sesuatu yang tidak beres.

Sementara itu, di kamarnya, Nizam yang sedang berbaring di tempat tidur, merasakan hal serupa. Dia melihat ke luar jendela dari balik tirai, dan berkata pada dirinya sendiri, "Kenapa semuanya terasa begitu... kosong?" Wajahnya tampak bingung, alisnya bertaut, namun ia tidak bisa mengabaikan perasaan gelisah yang semakin kuat.

Azzam, yang tengah menonton TV, juga mulai merasa aneh. Dia mengerutkan dahi ketika lampu di ruang tamu berkedip beberapa kali. "Ada apa ini?" pikirnya.

Malam yang biasanya hanya rutinitas biasa berubah menjadi sesuatu yang penuh ketidakpastian. Nafisah termenung di depan jendela, pandangannya menembus kegelapan.

“Ini baru permulaan,” bisiknya pada dirinya sendiri, penuh dengan firasat buruk.

****

Malam itu, angin malam yang dingin berhembus pelan di sepanjang jalan kota yang biasanya ramai. Lampu-lampu jalan yang suram memberikan kilauan redup, mempertegas keheningan yang tidak biasa. Biasanya, pusat kota penuh dengan keramaian, suara kendaraan berlalu lalang, dan tawa orang-orang yang berseliweran. Namun malam ini berbeda. Terasa ada sesuatu yang tidak beres, seolah kota itu perlahan-lahan ditinggalkan oleh penghuninya.

Queensha berjalan di depan dengan langkah cepat dan percaya diri, jaket denim birunya melambai terkena hembusan angin. Di belakangnya, Seno, dengan kaos oblong dan topi terbalik, masih mencoba mencairkan suasana. Sementara Masagena, yang selalu terlihat lebih pendiam, melangkah pelan di belakang mereka, matanya tajam mengamati setiap sudut jalan yang mereka lewati. Ada sesuatu yang tidak bisa dia abaikan, sesuatu yang tidak sesuai.

“Kalian sadar nggak sih? Kok sepi banget ya malam ini?” Masagena akhirnya angkat suara, nadanya datar namun sarat dengan ketidaknyamanan. Dia berhenti sejenak, memperhatikan sekeliling.

Queensha menoleh dengan cemberut. "Mungkin cuma kebetulan. Lagi pula, siapa juga yang mau jalan-jalan malam-malam begini, kan?" Dia tertawa kecil, berusaha menyembunyikan perasaan aneh yang mulai merayap di dalam dirinya. Namun, gerak tangannya yang mulai gelisah tidak luput dari pandangan Seno.

Seno tertawa, seperti biasa. “Atau mungkin mereka takut ketemu kita? Hantu-hantu jalanan!” candanya, mencoba menghidupkan suasana. Tapi, tidak seperti biasanya, tawa yang keluar darinya terasa hambar, seperti dia memaksakan diri untuk bersikap ceria. Dia menggaruk kepala, meski tidak gatal, tanda bahwa dia juga merasa canggung dengan situasi ini.

Masagena mengerutkan dahi, "Kalian nggak merasa aneh? Toko-toko tutup lebih awal, dan... ada bau itu." Ia mengendus udara dengan cermat, keningnya berkerut dalam. "Kalian nggak cium sesuatu?"

Queensha berhenti mendadak, mengerutkan hidung. "Bau busuk...?" gumamnya, menengadah sedikit, mencoba mengenali aroma tak sedap yang tiba-tiba terasa di udara. “Ini... bukan cuma bau got, kan?”

“Zombie kali, baru bangun dari kubur!” Seno tertawa lagi, kali ini lebih pelan. Tapi matanya, biasanya cerah dan bersinar, kini menampakkan kecemasan samar. Ia juga mencium bau aneh itu. "Nggak, ini bukan zombie. Tapi apa ya?" pikir Seno dalam hati.

Mereka terus melangkah, tapi suasana semakin tegang. Di kejauhan, sebuah toko yang biasanya buka 24 jam, kini gelap gulita. Jendela-jendela toko ditutup rapat seolah-olah kota sedang menghadapi sesuatu yang besar. Queensha merasa ada yang menekan dadanya semakin kuat, tetapi ia tidak ingin menunjukkan kekhawatirannya. Matanya memandang jauh ke depan, meskipun pikirannya melayang ke berbagai skenario buruk.

"Eh, kalian denger nggak?" tiba-tiba Masagena menahan napas, mendengar sesuatu yang samar. Ia berhenti, dan dengan cepat, Queensha dan Seno ikut berhenti. Di kejauhan, terdengar suara gemuruh rendah, seperti bumi bergetar. Semakin lama, suara itu semakin jelas, membuat dada mereka berdebar cepat.

“Itu... bukan suara kereta, kan?” Seno berbicara lirih, tidak ada tanda canda di suaranya kali ini. Napasnya memburu, dan ia merapatkan jaketnya lebih erat, meskipun udara tidak begitu dingin.

Queensha mencoba tetap tenang, tapi dia bisa merasakan detak jantungnya memacu dengan cepat. "Apa ini? Kenapa rasanya seperti... kita diawasi?" pikirnya. “Ayo, kita pulang. Cepat.” suaranya terdengar lebih mendesak daripada yang dia maksudkan. Dia melangkah maju dengan tergesa, tetapi matanya terus menoleh ke arah suara gemuruh itu.

Gemuruh semakin keras, semakin mendekat. Masagena, yang paling tenang di antara mereka, merasakan desiran dingin di punggungnya. “Cepat!” serunya, kali ini nadanya penuh ketakutan yang tak biasa.

Tanpa banyak bicara lagi, ketiganya mulai berlari, napas mereka terengah-engah, kaki mereka menghantam aspal jalanan yang dingin dengan kecepatan yang semakin meningkat. Di belakang mereka, suara gemuruh itu terus mengejar, menggema di udara malam yang kosong.

Seno, yang biasanya paling ceria, kini pucat, keringat dingin mengalir di pelipisnya. "Ini nggak mungkin. Apa yang sebenarnya terjadi?" pikirnya. Queensha di depannya terus mempercepat langkah, tubuhnya menegang, "Aku harus bawa mereka keluar dari sini. Harus." pikirnya, napasnya memburu.

Masagena, di belakang mereka, tiba-tiba berhenti dan menoleh ke belakang. Matanya membesar, mulutnya terbuka, "Tunggu! Itu... apa?" suaranya tercekat, wajahnya diliputi kengerian.

Terpopuler

Comments

Ria Balerante

Ria Balerante

deg deg'n ya

2025-03-11

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 episode 71
72 episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
episode 71
72
episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!