Darknight In Jakarta

Darknight In Jakarta

Episode 1

Suara hiruk-pikuk kota Jakarta bergema di siang hari yang terik. Mobil-mobil berderet di jalan, klakson-klakson saling sahut-menyahut, sementara orang-orang tergesa-gesa melintas di trotoar, menembus keramaian. Di balik gemuruh kota itu, berdiri megah sebuah sekolah modern dengan gerbang tinggi dan dinding kaca yang berkilauan di bawah matahari.

Aisyah melangkah memasuki gerbang sekolah, mengenakan seragam putih abu-abu yang rapi. Wajahnya memancarkan tekad yang kuat. Rambut hitamnya dikuncir sederhana, menambah kesan tenang di balik kesibukannya sebagai siswa berprestasi. "Ini hari biasa," pikirnya, "tapi kenapa rasanya ada yang berbeda?" Ada ketegangan di perutnya yang tak bisa ia jelaskan.

Aisyah menarik napas dalam-dalam saat melewati lorong sekolah, mencoba mengenyahkan perasaan aneh yang membayangi.

“Pagi, Ais!” seru salah satu temannya dari kejauhan, melambaikan tangan. Aisyah membalas senyuman kecil, tapi dalam hati, ia merasa seperti terjebak dalam ritme yang monoton.

“Aku tidak boleh terlalu memikirkan ini,” gumamnya dalam hati.

Di ruang kelas, Aisyah segera disambut oleh Delisha, sahabatnya yang selalu ceria. Wajah Delisha bersinar dengan senyuman lebarnya, seperti biasa, energinya seolah tak pernah habis. "Ais! Akhir pekan ini kita jadi kan ke mall?" tanyanya riang sambil menggoyang-goyangkan tangan Aisyah.

“Tentu saja. Aku sudah janji, kan?” Aisyah tersenyum, meski sedikit dipaksakan. Tatapan matanya sedikit melamun, tapi Delisha terlalu sibuk untuk memperhatikan.

Di sudut kelas, Gathan masuk dengan langkah malasnya, mengguncang rambut kusutnya yang seolah tidak pernah diurus. Dia tersenyum miring, menepuk meja Aisyah. “Hei, kalian udah nyusun rencana? Jangan lupa aku, ya!” ujarnya, lebih sebagai peringatan daripada permintaan.

Aisyah mendengus, menoleh ke Gathan. “Kamu yakin bakal bangun tepat waktu?”

Gathan tertawa kecil. “Kalau aku terlambat, kan kalian bisa belanja duluan.”

"Dia memang selalu begitu," pikir Aisyah, menahan senyuman. Meski tampak malas, Gathan selalu ada ketika mereka benar-benar membutuhkannya. Meski begitu, perasaan aneh di dadanya tak kunjung hilang.

Saat kelas mulai ramai, bel berbunyi, dan suasana seketika berubah menjadi lebih formal ketika Pak Ridwan, guru mereka, melangkah masuk dengan ekspresi serius. “Baik, kelas. Hari ini kita akan membahas topik yang mungkin sedikit di luar kebiasaan,” suaranya bergema di ruang yang mulai sunyi.

Aisyah duduk tegak, memperhatikan dengan seksama. Pak Ridwan memulai ceritanya tentang fenomena aneh yang terjadi di luar negeri. “Ada wabah misterius...,” ucapnya, suaranya melambat, “belum diketahui asalnya, tapi telah menyebar dengan cepat.”

Sejenak, seluruh kelas terdiam sebelum salah satu siswa di belakang tertawa kecil. “Ah, itu pasti cuma hoax, Pak. Media suka melebih-lebihkan,” katanya.

Beberapa siswa lainnya mulai ikut tertawa, menganggap itu tak lebih dari lelucon atau teori konspirasi. Namun, Aisyah tetap diam, matanya menyipit. "Apa benar hanya sekadar sensasi? Kenapa aku merasa... takut?" Ia merasakan ketidaknyamanan yang tumbuh di dalam dirinya, seakan-akan sesuatu yang besar dan gelap sedang mendekat, meskipun ia tak tahu apa itu.

Pak Ridwan melanjutkan, matanya tajam menatap kelas. “Mungkin kalian berpikir ini tidak penting. Tapi, kita tidak boleh meremehkan apa yang terjadi di dunia luar. Kita semua harus waspada.”

Aisyah menelan ludah, tatapannya beralih ke jendela, melihat langit yang cerah, kontras dengan kecemasan yang mulai tumbuh di dadanya. "Apakah aku satu-satunya yang merasa ini aneh?"

Delisha menyikutnya perlahan. “Ais, kamu kok serius banget? Itu cuma berita biasa, santai aja,” katanya sambil terkikik.

Tapi Aisyah tidak bisa menghilangkan firasat buruk itu. "Aku... tidak tahu, Del. Ini terasa aneh. Seperti... sesuatu akan terjadi," jawabnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada untuk temannya.

Gathan, yang tadinya cuek, tiba-tiba menatap Aisyah lebih dalam dari biasanya. "Kamu mikirin apa?" tanyanya sambil mengernyitkan dahi. “Biasanya kamu nggak begini.”

Aisyah menggigit bibir bawahnya, merasakan detak jantungnya meningkat. "Mungkin cuma perasaanku," jawabnya, mencoba menenangkan diri, meskipun dalam hati ia tahu, ada yang tidak beres.

*******

Jasmine, gadis yang tenang dan artistik, duduk di meja kecil di kamarnya. Tangannya yang lentik lincah menggoreskan pensil di atas kertas, menciptakan dunia imajinasi penuh warna. Sketsa-sketsa bergelantungan di dinding, menghiasi ruangan yang dipenuhi cahaya matahari sore. Namun, meski ruangan itu hangat, ada kesunyian yang menyelimutinya. Jasmine menggigit bibirnya, matanya berkedip lambat seolah merenungkan sesuatu yang jauh di balik kertasnya. “Kenapa akhir-akhir ini aku merasa tidak nyaman?” pikirnya. Seperti ada sesuatu yang mendekat, tapi aku tak bisa melihatnya.

Di sisi lain, Abib berlatih keras di Dojo, gerakan pukulan dan tendangannya menghentak lantai kayu dengan presisi sempurna. Keringat membasahi dahinya, tapi matanya tetap fokus. Setiap pukulan terasa penuh amarah yang terpendam, meski wajahnya tenang.

“Abib, lebih cepat!” seru gurunya, suaranya menggema di ruangan yang kosong. Abib menggertakkan gigi, tangannya semakin cepat menghantam samsak, tapi pikirannya melayang.

"Apa ini perasaan aneh yang sama seperti yang kualami kemarin?" Dia melirik sekelilingnya dengan sudut mata, seolah ada sesuatu yang tak kasat mata mengawasi.

Sementara itu, Arka tenggelam dalam dunia digital. Duduk di depan komputer, dikelilingi berbagai perangkat elektronik, dia mengetik cepat, kode-kode berderet di layar monitor yang menyala. Jarinya bergerak seolah-olah tidak bisa berhenti, namun sesekali, ia berhenti, memasang wajah bingung. "Apa itu suara tadi?" pikirnya. Telinganya menangkap suara samar, seperti dengungan yang datang dari kejauhan, menghilang secepat datangnya. Arka memiringkan kepalanya, mendengarkan dengan saksama. "Mungkin cuma mesin pendingin ruangan…" Tapi firasat buruknya berkata lain, membuat bulu kuduknya meremang.

Waktu terus berjalan. Di kamarnya yang tenang, Jasmine masih fokus dengan gambarnya, tapi matanya sering melirik ke jendela. Suara ketukan samar terdengar dari luar, tapi ketika dia berdiri dan membuka tirai, tak ada apa pun di sana selain kegelapan yang semakin pekat. "Aneh, kenapa aku merasa seperti diawasi?" pikirnya, menelan ludah. Udara terasa lebih dingin dari biasanya, seolah-olah ada sesuatu yang mengintai di luar sana.

Di Dojo, Abib melompat dengan gerakan cepat, kakinya menghantam sasaran dengan keras. Namun di tengah latihan, dia berhenti tiba-tiba, tertegun. Pandangannya terpaku pada sudut ruangan yang gelap. “Ada apa, Abib?” tanya gurunya, keningnya berkerut melihat muridnya mendadak tegang. Abib menggeleng pelan, menarik napas panjang, tapi pikirannya berputar. "Ada yang tidak beres. Aku bisa merasakannya."

Arka, yang biasanya sibuk dengan dunia virtualnya, tiba-tiba tersentak ketika layar komputernya berkedip. Jaringan internetnya mati begitu saja. "Sial..." gumamnya. Dia menekan beberapa tombol, mencoba memperbaiki masalah. Namun, di tengah kesunyian malam, ada rasa gelisah yang mulai merayap di dadanya. "Kenapa semuanya terasa aneh malam ini?" pikirnya, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Mata Arka menatap kosong ke layar yang gelap, tapi pikirannya jauh, seolah ada sesuatu yang mengusik dari sudut-sudut gelap kamarnya.

Seiring malam semakin larut, suasana berubah drastis. Jasmine terbangun dari tidurnya, merasa ada sesuatu yang memanggilnya. Suara bisikan halus, hampir tidak terdengar, datang dari luar jendela. Dia mengintip ke luar, matanya menyipit berusaha menembus kegelapan. Tidak ada apa-apa, tapi bulu kuduknya berdiri. "Aku pasti cuma bermimpi…" Namun, ketika dia hendak kembali tidur, suara itu terdengar lagi, kali ini lebih jelas. Jantungnya berdebar kencang. "Apa itu benar-benar cuma imajinasiku?"

Di rumah Abib, kegelapan menyelimuti seketika saat listrik tiba-tiba padam. Dia baru saja tiba di rumah dari Dojo ketika semuanya menjadi gelap gulita. Jalanan di sekitar rumahnya yang biasanya riuh kini terasa sunyi, hampir mencekam. “Kok bisa mati lampu?” gumamnya, memicingkan mata ke arah jendela. Tidak ada cahaya dari rumah-rumah tetangga, hanya kegelapan pekat. "Ada yang aneh..." Abib merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya.

Arka, masih di depan komputernya, menghela napas frustrasi. Jaringan internetnya tidak kunjung kembali. Dia memeriksa kabel-kabel dan router, semuanya baik-baik saja. "Ini nggak masuk akal," gerutunya, tapi saat dia mencoba memperbaiki, suara asing dari luar rumah menyentak perhatiannya. Suara samar, seperti langkah kaki di atas daun kering. Arka berhenti, napasnya tercekat. "Siapa di luar sana?"

Kota Jakarta, yang biasanya penuh hiruk-pikuk, perlahan tenggelam dalam keheningan yang aneh dan tidak nyaman. Tidak ada satu pun suara klakson atau teriakan orang. Hanya kesunyian yang meresap, semakin dalam, semakin pekat.

Terpopuler

Comments

Kardi Kardi

Kardi Kardi

NEVER GIVE UPPP

2024-10-23

1

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 episode 71
72 episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
episode 71
72
episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!