Bab 20. Alan, please stop it

Tatapan Dewi mengikuti Alan ke urinoir, posisinya di samping kloset duduk tempat dia pipis tadi.

Meskipun dia sudah biasa melihat Arman buang air, tapi saat melihat Alan, kenapa ada perasaan berbeda?

Hatinya deg degan melebihi debarannya pada Arman.

Berdua dengan laki-laki di kamar maksiat yang sangat romantis seperti ini, baru pertama kali Dewi alami. Karena bersama Arman, mereka hanya melepas hasrat biologis. Jadi segala tempat oke, asalkan tidak ada orang yang dikenal dalam radius 10 meter keliling untuk mencegah timbulnya gosip.

Tapi untunglah Arman tidak tau ada tempat seperti ini, jelas-jelas aku yang akan rugi karena harus membayar harga semahal ini sendiri. Arman selalu lupa bawa dompet saat giliran membayar tagihan. Ketika ditegur, dia akan beralasan. "Bukankah nanti semua hartaku akan jatuh pada keturunan kita." Keturunan apa? Dewi mendengus.

Hampir 8 tahun mereka pacaran, sejak 6 tahun yang lalu mereka telah menikmati yang namanya hubungan badan. Tetap tidak hamil padahal tidak pernah pakai pengaman.

Lebih beruntung kencan sama Alan, banyak reward gratis. "Hahaha." Dewi tertawa.

Alan telah selesai buang air kecil, dia telah membasuh senjata rahasianya siap-siap. Mendengar tawanya, "Apanya yang begitu gembira? Kamu bukannya pertama kali mandi Jakuzzi." Pria itu telanjang dada. Masih mengenakan celana bahannya yang berwarna coklat muda dia masuk ke dalam air.

Bak mandi cukup luas 2 x 3,5 meter, Alan berdiri di sisi bak mandi bagian terpendek. Jika Dewi berbalik saat berenang bolak balik, maka bokongnya akan menungging ke wajah Alan. Alan dapat melihat jelas belahannya, pria mana yang tidak panas dingin.

Dewi berkulit putih sedikit kemerahan, lebih tepatnya berwarna pink seperti warna babi putih. Tinggi 165cm dengan berat 47 kg, memanglah agak kurus. Tapi tempat yang harus berdaging dia berisi. Kaki jenjang yang ramping, dua dada D size serta pinggang kecil menonjolkan bokongnya yang bulat.

"Yu huu! Ini menyenangkan!" Dewi teriak, meliuk-liuk di air seperti ikan lumba-lumba.

Air itu beraroma terapi padahal Dewi tidak memasukkan sabun ataupun essential oil. Seluruh ruangan ini seharum parfum mahal, bahkan disinfektan untuk melap meja berbau Gucci.

"Hahahah, Alan! Ayo berenang!" Dewi berkata sambil tertawa.

Berenang terus dan terus entah sudah keberapa kali dia bolak balik, Alan dapat mendengar suara nafasnya yang ngos-ngosan. "Hei, apa kamu mau mati!" Alan marah, meraih tubuh Dewi saat Dewi berada sangat dekat di posisinya.

Alan menahan pinggang Dewi, mereka berhadapan hampir seperti berpelukan. "Istirahat dulu! Paru-paru mu bisa pecah kalau kamu paksakan!" Alan sangat khawatir. Sepertinya perasaan Dewi tidak baik-baik saja meskipun dia terlihat gembira.

Dan memang benar, seketika Dewi lemas di tubuh Alan. Alan dapat merasakan gunung kembar itu untuk pertama kalinya. Apa dia tau berapa lama aku menunggu moment ini, desah Alan.

"Terimakasih, Alan. Kalau tidak ada kamu, mungkin aku akan membuat diriku terbunuh." Dewi berkata pelan semakin menyandarkan tubuhnya ke dada Alan. Berharap dengan begitu dia dapat mengobati luka hatinya.

Mendengar itu Alan terenyuh, serta merta memeluk Dewi. Direngkuhnya tubuh kecil nan rapuh itu, berharap waktu berhenti di momen ini selamanya. "Jangan takut!" katanya serak, berbisik di telinga Dewi.

Alan akan sedih jika Dewinya sedih. Alan akan resah jika Dewinya resah. Alan akan gembira jika Dewinya tertawa. "Selagi ada aku semua akan baik-baik saja. Bukankah aku telah berjanji pada ayahmu, untuk menjaga kalian kakak adik agar selalu aman damai dan sentosa."

Tapi jika ternyata kalian berdua yang saling menyakiti, aku bisa apa? Alan mendesah senang di dalam hatinya. Saat merasa dadanya yang tidak terendam dialiri air hangat, dia menunduk menatap ujung kepala Dewi.

Dewi memang tak mampu menahan air matanya. Dia sudah berusaha untuk mensugesti diri bahwa putus dengan Arman bukan apa-apa baginya, hanya seringan bulu yang jatuh ke tangan.

Tapi ternyata itu bukan semata-mata hanya bulu, karena diujung bulu itu ada anak panah tajam yang diikat. Kemudian dilemparkan padanya dengan kekuatan penuh menancap di tubuhnya, tentu saja itu tetap menyakitkan.

Alan tak ingin Dewi terus bersedih, dia punya pepatah lama sebagai obat yang sangat ampuh. Luka karena cinta akan sembuh dengan kehadiran cinta baru. Sakit hati karena perempuan obat yang paling mujarab adalah melabuhkan hati pada wanita baru. Maka, Alan meraih dagu Dewi mencubitnya pelan. Dengan itu dia mengangkat wajah mungil Dewi, tatapan mereka bertemu.

Alan sakit hati melihat mata indah itu penuh dengan air mata. Seketika dia mengangkat tubuh ramping Dewi dengan lengan kanannya agar wajah mereka lebih dekat.

Dewi yang mendongak padanya dengan tangan menahan di pundak Alan, merasakan debaran yang lebih hebat dan belum pernah ada sebelumnya.

Alan menundukkan wajahnya agar bibir tipisnya bisa mendarat di bibir penuh Dewi. Dewi memejamkan matanya, Alan merasa ini pertanda lampu hijau jadi dia membuka mulutnya. Dewi menyambutnya, mereka pun saling menyesap beberapa saat. Suasana seperti sedang mengheningkan cipta.

Kemampuan Dewi berciuman tidak membuat Alan heran lagi, karena dirinya pasti bukan yang pertama. Ada Arman mantan kekasihnya.

Alan juga pernah melakukannya tapi itu sudah bertahun-tahun lamanya, sehingga dia hampir lupa bagaimana caranya.

Perasaan Dewi tertekan kehilangan kenikmatan yang baru dibangun. Dia merasa hubungan ini tidak bisa dilanjutkan karena menjadi pihak yang dominan hanya untuk urusan berciuman. Betapa lugunya Alan, pikir Dewi. Dia ingin berhenti tapi ngak enak hati.

Untungnya Alan hanya kaku sebentar, setelah beberapa metode liukan lidah dia menjadi lancar dan agresif. Dewi takut dia akan gila sehingga lupa diri dan berakhir di ranjang, maka dia menahan Alan saat ingin melanjutkan pada waktu pengambilan nafas.

Alan dan Dewi saling menatap dengan sisa-sisa nafas yang memburu. Sudah terlanjur merasakan nikmat, Alan tidak cukup hanya sebentar. Dia meraih lagi wajah Dewi.

Dewi tak kuasa menolak karena dia punya prinsip. Kalau memang gak mau lebih baik tidak usah dimulai. Namun perasaan tertekan muncul lagi, hatinya terombang ambing. Seumpama mereka sampai bersetubuh dan ketahuan ternyata dia sudah gak virgin, apakah Alan masih akan setuju menikahinya besok?

"Alan." Dewi menahan lagi saat pengambilan nafas berikutnya. Dia benar-benar takut gak akan mampu bertahan.

Alan sudah sangat bernafsu, dadanya naik turun, "Aku tau!" katanya serak. "Aku tidak akan memasuki mu kecuali kamu yang meminta."

Bagaimana aku bisa gak minta kalau diserang terus, pikir Dewi. Begini pun, dia sudah basah berlendir ingin cepat-cepat dijejalkan. "Kamu harus menahan diri jangan sampai kebablasan, ngerti!" Dia tidak ingin peristiwa dulu pertama kali bersama Arman, terulang kembali.

Hm, Alan mengangguk. "Aku ingin mencium mu dari ujung kepala sampai ujung kaki kecuali yang dibagian celana dalam." Tatapan Alan sangat memohon.

Dewi merasakan debaran dadanya semakin tak beraturan. "Oh, Alan." Dia mendesah.

Alan kembali merengkuh wajah Dewi, meraup bibirnya memperdalam ciuman lalu turun ke lehernya. Dengan berani Alan menyentuh bagian tubuh Dewi, meremas bokong hingga ke gundukan kenyal di dadanya.

Dewi menggelinjang mengangkat kakinya memeluk paha Alan. Kedua nafas anak manusia memburu. Kecapan, sesapan, decapan bergema saling bersautan.

"Alan, please stop it!" erang Dewi saat dadanya disesap lidah hangat Alan.

Alan tidak mungkin berhenti, karena dia berjanji hanya menghindari daerah terlarang. Daerah yang tidak terlarang harus dijelajah sampai puas. Sudah lama dia membayangkan momen ini, tidak menyangka hari ini jadi kenyataan. Elus remas elus remas, dengan geram Alan menggigit puncak gunung seukuran kacang tanah.

Masih segar dalam ingatan bahwa milik mantan kekasihnya berwarna agak coklat, tapi Dewi punya pink. Apakah dia reinkarnasi siluman babi?

_________

Episodes
1 Bab. 1 Si pencuri kekasih
2 Bab 2. Sebaiknya mengalah
3 Bab 3. Persetujuan terpaksa
4 Bab 4. Kamu menikahlah denganku
5 Bab 5. Hanya untuk menepati janji
6 Bab 6. Terganggu harga diri
7 Bab 7. Perawan untuk Perjaka.
8 Bab 8. nafkah bulanan
9 Bab 9. Bercocok tanam
10 Bab 10. Pasangan serasi
11 Bab 11 Pink star Diamond
12 Bab 12. Realistis dan egois
13 Bab 13. Masalah perempuan ngidam
14 Bab 14. Gadis penjual keliling
15 Bab 15. Seolah bertemu harapan
16 Bab 16. Reward pengunjung ke seratus
17 Bab 17. Black pink
18 Bab 18. Suara ikan asin digoreng
19 Bab 19. Mandi basah
20 Bab 20. Alan, please stop it
21 Bab 21. Jadi bahan fantasi
22 Bab 22. Aroma tikus mati
23 Bab 23. Mandi bersamaku
24 Bab 24. Rahasia Alan
25 Bab 25. Jangan berani menyentuh wanitaku
26 Bab 26. Sah
27 Bab 27. Antagonist
28 Bab 28. Rencana tes genetik
29 Bab 29. Bertemu Ketua Dewan
30 Bab 30. Ketua dewan pingsan
31 Bab 31. Jati diri
32 Bab 32. Identitas
33 Bab 33. Batas Utara selatan
34 Bab 34. Jangan salah paham
35 Bab 35. Korban patah kaki
36 Bab 36. Siapa pelakunya
37 Bab 37. Belum morning kiss
38 Bab 38. Beri aku waktu
39 Bab 39. Satpam miskin
40 Bab 40. Paternity test
41 Bab 41. Rahasia
42 Bab 42. Seluruh tubuhmu milikku
43 Bab 43. Jangan menempel pada istriku
44 Bab 44. Sayang ibu
45 Bab 45. Rayuan Tuan besar
46 Bab 46. Bertemu ibu mertua
47 Bab 47. Dua wanita penting
48 Bab 48. Sadis tanpa basa-basi
49 Bab 49. Bagaimana aku menghadapinya
50 Bab 50. Cinta tak mengenal usia
51 Bab 51. Yu Ting penuh drama
52 Bab 52. Dark Dragon Junior
53 Bab 53. Ini istriku
54 Bab 54. Paternitas positif
55 Bab 55. Asal mau membuka hati
Episodes

Updated 55 Episodes

1
Bab. 1 Si pencuri kekasih
2
Bab 2. Sebaiknya mengalah
3
Bab 3. Persetujuan terpaksa
4
Bab 4. Kamu menikahlah denganku
5
Bab 5. Hanya untuk menepati janji
6
Bab 6. Terganggu harga diri
7
Bab 7. Perawan untuk Perjaka.
8
Bab 8. nafkah bulanan
9
Bab 9. Bercocok tanam
10
Bab 10. Pasangan serasi
11
Bab 11 Pink star Diamond
12
Bab 12. Realistis dan egois
13
Bab 13. Masalah perempuan ngidam
14
Bab 14. Gadis penjual keliling
15
Bab 15. Seolah bertemu harapan
16
Bab 16. Reward pengunjung ke seratus
17
Bab 17. Black pink
18
Bab 18. Suara ikan asin digoreng
19
Bab 19. Mandi basah
20
Bab 20. Alan, please stop it
21
Bab 21. Jadi bahan fantasi
22
Bab 22. Aroma tikus mati
23
Bab 23. Mandi bersamaku
24
Bab 24. Rahasia Alan
25
Bab 25. Jangan berani menyentuh wanitaku
26
Bab 26. Sah
27
Bab 27. Antagonist
28
Bab 28. Rencana tes genetik
29
Bab 29. Bertemu Ketua Dewan
30
Bab 30. Ketua dewan pingsan
31
Bab 31. Jati diri
32
Bab 32. Identitas
33
Bab 33. Batas Utara selatan
34
Bab 34. Jangan salah paham
35
Bab 35. Korban patah kaki
36
Bab 36. Siapa pelakunya
37
Bab 37. Belum morning kiss
38
Bab 38. Beri aku waktu
39
Bab 39. Satpam miskin
40
Bab 40. Paternity test
41
Bab 41. Rahasia
42
Bab 42. Seluruh tubuhmu milikku
43
Bab 43. Jangan menempel pada istriku
44
Bab 44. Sayang ibu
45
Bab 45. Rayuan Tuan besar
46
Bab 46. Bertemu ibu mertua
47
Bab 47. Dua wanita penting
48
Bab 48. Sadis tanpa basa-basi
49
Bab 49. Bagaimana aku menghadapinya
50
Bab 50. Cinta tak mengenal usia
51
Bab 51. Yu Ting penuh drama
52
Bab 52. Dark Dragon Junior
53
Bab 53. Ini istriku
54
Bab 54. Paternitas positif
55
Bab 55. Asal mau membuka hati

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!