Lapar di Tengah Kegelapan

Sudah sehari penuh sejak meteor menghantam bumi, meninggalkan kehancuran dan kegelapan yang pekat. Di seluruh dunia, orang-orang yang beruntung masih hidup di dalam bunker mulai merasakan dampak dari isolasi total—kegelapan yang menyesakkan, ketidakpastian yang mencekam, dan, yang paling menyakitkan, rasa lapar serta haus yang semakin sulit untuk diabaikan.

4.1. Kegelapan yang Menyiksa

Di bunker New York, suasana semakin mencekam. Setelah hantaman meteor kemarin, mereka semua terjebak dalam kegelapan. Generator cadangan yang mereka harapkan ternyata hanya mampu bertahan beberapa jam sebelum akhirnya benar-benar mati. Tidak ada listrik, tidak ada suara mesin, hanya keheningan yang menyesakkan.

"Sarah, aku lapar... dan haus," Maria, salah satu anggota tim, merengek dengan suara serak. Sejak kemarin, mereka hanya mendapat sedikit air dan hampir tidak ada makanan.

"Kita semua begitu, Maria," jawab Sarah sambil memeluk lututnya di sudut ruangan. "Kita harus menunggu... setidaknya sampai kita tahu aman untuk keluar."

"Tunggu? Berapa lama lagi kita bisa menunggu? Kita bahkan tidak tahu apa yang terjadi di luar sana!" seru Michael dari sudut lain ruangan. Dia berjalan mondar-mandir dengan gelisah, gerakan tubuhnya tampak gelap di balik bayang-bayang bunker.

"Kita tidak bisa keluar, Michael," balas Sarah, suaranya tegas. "Di luar sana penuh debu dan radiasi dari meteor. Itu bukan pilihan."

"Tapi kita akan mati di sini jika terus begini!" Michael berteriak, tinjunya menghantam dinding. "Aku tidak mau mati kelaparan dalam gelap!"

"Kita semua takut, Michael," tambah Sarah dengan nada lebih lembut. "Tapi yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah bertahan sedikit lebih lama. Kita harus percaya bahwa bantuan akan datang."

Namun, dalam hati kecilnya, Sarah juga tidak yakin. Tidak ada yang tahu apakah dunia luar masih bertahan atau sudah berubah menjadi neraka yang tak bisa mereka bayangkan.

4.2. Perjuangan untuk Air dan Makanan

Di bunker Paris, persediaan makanan dan air sudah semakin menipis. Jean dan Marie berusaha keras mengatur jatah makanan untuk para penghuni bunker, tapi semakin hari, tugas itu menjadi semakin mustahil.

"Jean, kita hanya punya cukup air untuk satu hari lagi," bisik Marie dengan nada khawatir. "Kalau tidak ada bantuan, kita akan kehabisan semuanya."

"Kita harus menghemat, Marie," jawab Jean dengan tenang meski terlihat jelas kekhawatiran di wajahnya. "Mulai sekarang, hanya setengah gelas air per orang setiap hari."

Marie mengangguk, meski dalam hati ia merasa putus asa. Bagaimana mereka bisa bertahan hanya dengan setengah gelas air di tengah keadaan yang sudah mencekik seperti ini?

Di sudut bunker, beberapa penghuni mulai ribut. "Ini tidak bisa diterima!" salah satu pria paruh baya berteriak. "Kita tidak bisa hidup hanya dengan setengah gelas air. Aku sudah lelah, lapar, dan sekarang hanya air sedikit? Kita pasti akan mati di sini!"

"Kita semua dalam situasi yang sama," jawab Jean dengan suara tegas. "Kalau kita ingin bertahan, kita harus mengikuti aturan."

Pria itu menggerutu, tapi tidak ada yang bisa dilakukan. Tidak ada pilihan lain selain bertahan dan berharap.

4.3. Panik di Bunker Jakarta

Di bunker Jakarta, keadaan semakin memburuk. Oksigen mulai terasa menipis, dan tidak ada yang tahu berapa lama mereka bisa bertahan dalam keadaan ini. Ahmad mencoba menenangkan para penghuni yang mulai panik, tapi ketakutan menyelimuti semuanya.

"Air kita habis, Ahmad!" Rina, salah satu penghuni bunker, menangis tersedu-sedu. "Aku sudah minum sedikit kemarin, tapi sekarang tidak ada lagi. Bagaimana kita bisa hidup seperti ini?"

Ahmad menghela napas panjang, merasakan beban yang begitu besar di pundaknya. "Kita harus tetap tenang, Rina. Panik tidak akan membantu kita. Kita harus bertahan."

"Tapi sampai kapan? Kita semua akan mati di sini," suara Rina mulai naik, diikuti oleh teriakan beberapa penghuni lain yang mulai tidak tahan.

"Tenang! Aku tahu ini sulit, tapi kita harus bersatu," Ahmad berusaha menenangkan semua orang. "Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di luar sana. Kita harus tetap bersama dan menjaga kekuatan kita."

Namun, dalam hati Ahmad sendiri, ia juga merasa tidak yakin. Di dalam bunker yang gelap dan panas, tanpa makanan dan air yang cukup, mereka semua mulai kehabisan harapan.

4.4. Gelap Tanpa Harapan

Di bunker-bunker lain di seluruh dunia, situasinya tidak jauh berbeda. Di Tokyo, Hiroshi dan timnya telah kehabisan makanan sejak tadi pagi. Mereka hanya bisa mengandalkan air yang mereka kumpulkan dari kondensasi di dinding bunker, namun jumlahnya terlalu sedikit untuk dibagikan kepada semua penghuni.

"Kita harus keluar," salah satu rekannya, Kenji, berkata pelan. "Jika tidak, kita akan mati di sini tanpa pernah tahu apa yang ada di luar sana."

"Kau gila, Kenji?" Hiroshi balas dengan nada marah. "Di luar sana penuh radiasi dan debu panas. Kita bisa mati dalam hitungan menit jika keluar dari sini."

"Tapi kalau kita tidak keluar, kita juga akan mati!" Kenji bersikeras. "Aku tidak mau mati kelaparan!"

Mereka berdua saling pandang dalam keheningan yang menyesakkan. Tidak ada jalan keluar yang jelas, dan pilihan untuk tetap tinggal atau pergi tampak sama-sama berbahaya.

4.5. Ketakutan yang Menghancurkan

Kegelapan, rasa lapar, dan ketidakpastian mulai menghancurkan kondisi mental para penghuni bunker di seluruh dunia. Dalam bunker London, Jessica mulai merasakan efek dari ketakutan yang menghantui setiap detik.

"Aku tidak tahan lagi, Mark," katanya pelan sambil menangis di pelukan suaminya. "Aku lapar, haus... aku takut."

"Aku tahu, Jess," Mark menjawab dengan suara tenang, meski dalam hatinya juga tersimpan ketakutan yang sama. "Kita harus bertahan... sedikit lagi. Mungkin, hanya mungkin, ada harapan."

"Tapi apa yang bisa kita harapkan? Kita tidak bisa keluar, kita tidak bisa hidup di sini tanpa makanan dan air..." Suara Jessica semakin melemah, putus asa memenuhi setiap kata yang ia ucapkan.

Di sudut lain ruangan, beberapa penghuni mulai berdebat tentang bagaimana mereka bisa bertahan. Beberapa ingin keluar, meskipun itu berarti menghadapi debu beracun di luar. Yang lain memilih tetap tinggal, berharap ada keajaiban yang datang.

"Tidak ada jalan keluar," salah satu dari mereka, seorang pria tua, berkata dengan getir. "Kita sudah terjebak di sini. Ini adalah akhir."

4.6. Menunggu Kematian

Hari-hari berlalu dalam kegelapan yang tak berujung. Rasa lapar semakin kuat, tubuh-tubuh yang lemah semakin tak berdaya, dan harapan mulai hilang. Satu-satunya hal yang mereka miliki adalah waktu—waktu yang terus berjalan tanpa henti, menyeret mereka lebih dekat ke ambang kematian.

Di dalam bunker Paris, Jean dan Marie saling berpandangan dalam diam. Mereka tahu bahwa makanan dan air sudah habis, dan hanya waktu yang memisahkan mereka dari akhir yang tak terhindarkan.

"Kita sudah mencoba segala yang kita bisa," bisik Jean, suaranya penuh kesedihan. "Mungkin inilah akhirnya."

Marie hanya mengangguk, air mata mengalir di pipinya. Dalam hati, dia juga tahu bahwa harapan telah lama pergi, meninggalkan mereka dalam kegelapan yang tak berujung.

Begitulah, sehari setelah hantaman meteor, dunia yang dulu mereka kenal telah berubah selamanya—terperangkap dalam kegelapan, kelaparan, dan ketakutan yang mencekik. Tidak ada yang tahu kapan atau apakah mereka akan keluar dari kegelapan ini.

Episodes
1 Ketenangan Sebelum Badai
2 Awal Kegelapan
3 Hantaman Meteor
4 Lapar di Tengah Kegelapan
5 Kegelapan Dukhon
6 Hari Ketiga dalam Kegelapan Dukhon
7 Penderitaan yang Dimulai
8 Delapan Hari di Kegelapan
9 Nafas Bacin di Hari Kesembilan
10 Keajaiban Dzikir di Hari Ke-15
11 Dua Puluh Hari Dalam Kegelapan
12 Ujian di Seluruh Penjuru Dunia
13 Kehidupan di Ujung Harapan
14 Harapan di Ujung Kegelapan
15 Harapan di Tengah Kehancuran
16 Mencari Harapan di Tengah Kesulitan
17 Fase Tahun Pertama Kemarau
18 Kerinduan Akan Hujan
19 Panggilan untuk Bersatu dalam Kegelapan
20 Hujan Reda
21 Belut Listrik di Ladang
22 Harapan di Tengah Kemarau
23 Kehidupan di Bawah Terik Matahari
24 Ustadz Abdullah dan Tanda - Tanda Akhir Zaman
25 Pertanda yang Semakin Jelas
26 Turunnya Sang Pembebas
27 Perbincangan di Tengah Kegersangan
28 Perut Lapar dan Harapan di Tengah Kesulitan
29 Kekuatan dalam Kebersamaan
30 Hidup Semakin Sulit
31 Ujian Kembali
32 Kegembiraan di Tengah Ancaman
33 Harapan di Tengah Kegelapan
34 Ketegangan yang Kembali Muncul
35 Harapan di Tengah Pertempuran
36 Harapan di Ujung Jalan
37 Keberanian dalam Kegelapan
38 Perlawanan Terakhir
39 Tanda-Tanda Kedatangan
40 Menyambut Cahaya Harapan
41 Membangun Kekuatan Bersama
42 Terobosan Keberanian
43 Menatap Masa Depan yang Tidak Pasti
44 Desingan Kengerian yang Semakin Dekat
45 Malam yang Menentukan
46 Menjaga Harapan di Tengah Malapetaka
47 Bab 47: Cobaan di Tengah Kehausan
48 Bab 48: Kegelapan yang Semakin Dalam
49 Bab 49: Di Ujung Harapan
50 Bab 50: Terang di Tengah Kegelapan
51 Bab 51: Ujian Kesabaran yang Lebih Berat
52 Bab 52: Harapan yang Mulai Menyala
53 Bab 53: Gelombang Kekeringan yang Menggigit
54 Bab 54: Harapan yang Pudar di Tengah Kekeringan
55 Bab 55: Cahaya di Tengah Kepasrahan
56 Bab 56: Keajaiban di Kaki Gunung
57 Bab 57: Ujian yang Mengguncang
58 Bab 58: Ketenangan yang Mengundang Kegelapan
59 Bab 59: Ujian Kebersamaan Desa
60 Bab 60: Kehilangan yang Menguatkan
61 Bab 61: Cahaya Baru di Tengah Ujian
62 Bab 62: Perjuangan Meraih Cita-Cita
63 Bab 63: Jalan Baru Menuju Kesejahteraan
64 Bab 64: Keberanian Menembus Batas
65 Bab 65: Masa Depan dalam Genggaman
66 Bab 66: Semangat untuk Generasi Berikutnya
Episodes

Updated 66 Episodes

1
Ketenangan Sebelum Badai
2
Awal Kegelapan
3
Hantaman Meteor
4
Lapar di Tengah Kegelapan
5
Kegelapan Dukhon
6
Hari Ketiga dalam Kegelapan Dukhon
7
Penderitaan yang Dimulai
8
Delapan Hari di Kegelapan
9
Nafas Bacin di Hari Kesembilan
10
Keajaiban Dzikir di Hari Ke-15
11
Dua Puluh Hari Dalam Kegelapan
12
Ujian di Seluruh Penjuru Dunia
13
Kehidupan di Ujung Harapan
14
Harapan di Ujung Kegelapan
15
Harapan di Tengah Kehancuran
16
Mencari Harapan di Tengah Kesulitan
17
Fase Tahun Pertama Kemarau
18
Kerinduan Akan Hujan
19
Panggilan untuk Bersatu dalam Kegelapan
20
Hujan Reda
21
Belut Listrik di Ladang
22
Harapan di Tengah Kemarau
23
Kehidupan di Bawah Terik Matahari
24
Ustadz Abdullah dan Tanda - Tanda Akhir Zaman
25
Pertanda yang Semakin Jelas
26
Turunnya Sang Pembebas
27
Perbincangan di Tengah Kegersangan
28
Perut Lapar dan Harapan di Tengah Kesulitan
29
Kekuatan dalam Kebersamaan
30
Hidup Semakin Sulit
31
Ujian Kembali
32
Kegembiraan di Tengah Ancaman
33
Harapan di Tengah Kegelapan
34
Ketegangan yang Kembali Muncul
35
Harapan di Tengah Pertempuran
36
Harapan di Ujung Jalan
37
Keberanian dalam Kegelapan
38
Perlawanan Terakhir
39
Tanda-Tanda Kedatangan
40
Menyambut Cahaya Harapan
41
Membangun Kekuatan Bersama
42
Terobosan Keberanian
43
Menatap Masa Depan yang Tidak Pasti
44
Desingan Kengerian yang Semakin Dekat
45
Malam yang Menentukan
46
Menjaga Harapan di Tengah Malapetaka
47
Bab 47: Cobaan di Tengah Kehausan
48
Bab 48: Kegelapan yang Semakin Dalam
49
Bab 49: Di Ujung Harapan
50
Bab 50: Terang di Tengah Kegelapan
51
Bab 51: Ujian Kesabaran yang Lebih Berat
52
Bab 52: Harapan yang Mulai Menyala
53
Bab 53: Gelombang Kekeringan yang Menggigit
54
Bab 54: Harapan yang Pudar di Tengah Kekeringan
55
Bab 55: Cahaya di Tengah Kepasrahan
56
Bab 56: Keajaiban di Kaki Gunung
57
Bab 57: Ujian yang Mengguncang
58
Bab 58: Ketenangan yang Mengundang Kegelapan
59
Bab 59: Ujian Kebersamaan Desa
60
Bab 60: Kehilangan yang Menguatkan
61
Bab 61: Cahaya Baru di Tengah Ujian
62
Bab 62: Perjuangan Meraih Cita-Cita
63
Bab 63: Jalan Baru Menuju Kesejahteraan
64
Bab 64: Keberanian Menembus Batas
65
Bab 65: Masa Depan dalam Genggaman
66
Bab 66: Semangat untuk Generasi Berikutnya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!