Pertemuan di Alun-Alun Bu Nadia dan Duda Pak Arman

Setelah pertemuan di parkiran, Bu Nadia semakin penasaran dengan Pak Arman. Meskipun pria itu terus-menerus mencoba mendekatinya, ada sesuatu tentangnya yang membuat Bu Nadia ingin mengetahui lebih banyak. Tanpa banyak berpikir, Bu Nadia memutuskan untuk mengambil langkah selanjutnya.

Sore itu, saat suasana di sekolah mulai sepi, Bu Nadia mengirimkan pesan kepada Pak Arman, “Pak Arman, nanti sore aku tunggu di alun-alun ya.”

Tak butuh waktu lama, ponsel Bu Nadia bergetar. Pak Arman, yang menerima pesan itu, merasa sangat bahagia dan terkejut. “Wah, Bu Nadia! Serius nih? Saya akan ke sana! Jam berapa, Bu?”

Bu Nadia, yang selalu kalem, hanya membalas, “Jam 5 ya, jangan terlambat.”

Di rumah, Bu Nadia mulai bersiap. Ia memilih pakaian yang kasual tapi tetap anggun, mengenakan blouse warna pastel dan jeans yang nyaman. Di cermin, ia tersenyum kecil pada dirinya sendiri, merasa sedikit gugup. “Apa yang aku lakukan ini?” gumamnya sambil tertawa kecil.

Sementara itu, di sisi lain, Pak Arman sibuk mematut diri di depan cermin. Sebagai duda berusia 40 tahun, dia jarang mengalami momen seperti ini. “Apa aku harus pakai kemeja atau cukup kaos saja ya?” Pak Arman bingung. Akhirnya, dia memutuskan mengenakan kemeja agar terlihat rapi.

Sore harinya, Bu Nadia tiba di alun-alun lebih dulu. Tempat itu ramai dengan pedagang kaki lima dan keluarga yang berjalan-jalan. Angin sore yang sejuk membuat suasana semakin nyaman. Sambil menunggu, Bu Nadia sempat berpikir, "Apa aku terlalu cepat mengajaknya bertemu lagi?"

Tak lama kemudian, Pak Arman datang. Dia terlihat rapi dengan kemeja birunya, meskipun ada sedikit kecanggungan di wajahnya.

“Hai, Bu Nadia!” sapa Pak Arman dengan senyum lebar. “Senang bisa ketemu lagi. Saya kira kita cuma akan ngobrol di sekolah.”

Bu Nadia tertawa kecil, “Kita harus ngobrol lebih banyak di tempat yang lebih santai. Saya ingin tahu lebih lanjut tentang Anda.”

Mereka berjalan perlahan di sepanjang alun-alun, menikmati suasana sore. Setelah beberapa obrolan ringan, Bu Nadia akhirnya mengajukan pertanyaan yang membuat Pak Arman sedikit terkejut.

“Pak Arman, boleh saya tanya? Anda sudah lama sendiri ya? Soalnya Anda terlihat sering ke sekolah, dan saya belum pernah melihat Anda datang bersama istri.”

Pak Arman terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. “Sebenarnya, Bu Nadia, saya ini duda. Saya berusia 40 tahun dan sudah lama bercerai. Anak saya tinggal dengan saya, dan dialah satu-satunya keluarga yang saya miliki sekarang.”

Bu Nadia menoleh, sedikit terkejut tapi tetap tenang. “Oh, begitu. Maaf kalau pertanyaan saya terlalu pribadi.”

Pak Arman tersenyum canggung, “Tidak apa-apa, Bu Nadia. Saya memang jarang membicarakan hal ini. Tapi, sekarang saya merasa lebih nyaman untuk jujur pada Anda.”

Bu Nadia tersenyum lembut, merasa tersentuh oleh kejujuran Pak Arman. "Terima kasih sudah berbagi, Pak Arman. Saya menghargai kejujuran Anda."

Pak Arman mengangguk dengan senyum, merasa lega bisa terbuka. “Jadi, Bu Nadia, bagaimana dengan Anda? Saya tahu Anda masih single, tapi pasti banyak yang tertarik pada Anda, kan?”

Bu Nadia tertawa kecil dan sedikit salting. “Ah, saya sibuk mengajar dan belum ada waktu untuk itu. Tapi, siapa tahu, sekarang saya bisa mulai membuka hati.”

Pak Arman mengangkat alis, sedikit terkejut dan senang mendengar pernyataan itu. “Wah, kalau begitu, mungkin saya punya sedikit kesempatan?” candanya dengan tawa.

Bu Nadia hanya tersenyum sambil melirik ke arah lain, “Mungkin saja, Pak Arman. Tapi, Anda harus membuktikan diri dulu.”

Mereka berdua tertawa, suasana semakin akrab dan nyaman. Obrolan mereka terus berlanjut hingga sore berganti malam, dengan banyak canda tawa dan momen lucu. Pak Arman, yang biasanya tampak gugup, semakin rileks, sementara Bu Nadia merasa nyaman karena bisa lebih mengenal sosok di balik sikap pantang menyerah Pak Arman.

Saat mereka berpisah, Pak Arman merasa hari itu adalah hari terbaik dalam hidupnya. “Bu Nadia, terima kasih untuk sore yang menyenangkan. Semoga kita bisa mengulanginya lagi.”

Bu Nadia mengangguk dengan senyum manis, “Kita lihat nanti, Pak Arman. Sampai jumpa besok di sekolah.”

Malam itu, mereka pulang ke rumah masing-masing, tapi senyuman tetap menghiasi wajah mereka. Bu Nadia mulai merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, Pak Arman bukan sekadar wali murid biasa. Dan bagi Pak Arman, Bu Nadia adalah wanita yang memberi harapan baru dalam hidupnya yang sepi.

Pertemuan mereka di alun-alun itu, ternyata hanyalah awal dari cerita yang lebih panjang dan penuh kejutan.

Setelah pertemuan di alun-alun, Bu Nadia dan Pak Arman pulang ke rumah masing-masing dengan senyum lebar di wajah mereka. Momen-momen di sore hari itu masih terngiang jelas di benak mereka. Bu Nadia merasa senang bisa berbicara lebih dalam dengan Pak Arman, sedangkan Pak Arman merasa bahwa pertemuan itu adalah langkah maju yang signifikan.

Malam itu, setelah makan malam dan bersantai di rumah, Bu Nadia duduk di ruang tamunya sambil memeriksa ponselnya. Dia melihat pesan-pesan dari Pak Arman yang sudah mulai masuk. Dengan rasa penasaran, dia membuka aplikasi WhatsApp.

Pesan pertama dari Pak Arman: “Selamat malam, Bu Nadia. Sore ini sangat menyenangkan. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk bertemu.”

Bu Nadia membalas dengan cepat, “Selamat malam, Pak Arman. Saya juga senang. Terima kasih sudah datang.”

Namun, Pak Arman tidak berhenti di situ. Beberapa saat kemudian, dia mengirimkan pesan lagi yang membuat Bu Nadia tersenyum. “Bu Nadia, boleh tanya sesuatu? Kenapa saat pertama kali saya mendekati Anda, Anda terlihat begitu cuek?”

Bu Nadia terdiam sejenak, berpikir bagaimana cara menjawab pertanyaan itu. Setelah beberapa saat, dia membalas dengan santai, “Sebenarnya, saya tidak berniat cuek. Hanya saja saya ingin memastikan bahwa Anda serius dan bukan hanya sekadar iseng.”

Pesan itu membuat Pak Arman sedikit kaget. “Oh, jadi itu alasan Anda? Saya kira saya mungkin membuat kesalahan.”

Bu Nadia tertawa kecil, “Tidak, Pak Arman. Saya hanya ingin tahu lebih banyak tentang Anda sebelum membuka diri.”

Pak Arman merasa lega mendengar penjelasan itu. “Ah, jadi begitulah. Saya mengerti sekarang. Terima kasih sudah menjelaskan. Jadi, apa rencana kita selanjutnya?”

Bu Nadia merasa nyaman dengan percakapan mereka. “Mungkin kita bisa mulai dengan berbicara lebih sering. Lagipula, kita baru saja mulai mengenal satu sama lain.”

Pak Arman merasa senang dengan balasan Bu Nadia. “Tentu, Bu Nadia. Saya akan berusaha lebih baik lagi. Dan jangan khawatir, saya tidak akan menyerah begitu saja.”

Bu Nadia merasa terhibur dengan semangat Pak Arman. “Baiklah, Pak Arman. Saya menantikan percakapan kita selanjutnya. Semoga bisa lebih menyenangkan.”

Di sisi lain, Pak Arman tidak bisa menahan senyum saat membaca pesan Bu Nadia. Dia merasa semangatnya semakin membara untuk melanjutkan pendekatan ini. “Bu Nadia, saya sangat menghargai kesempatan ini. Sampai jumpa besok di sekolah.”

Setelah saling berbalas pesan, mereka mengakhiri percakapan malam itu dengan penuh rasa nyaman. Bu Nadia menatap ponselnya dan tersenyum, merasa bahwa mungkin pertemuan di alun-alun bukanlah akhir, melainkan awal dari sesuatu yang lebih menarik.

Malam itu, saat Bu Nadia bersiap untuk tidur, dia merenung, “Pak Arman tampaknya benar-benar serius. Semoga semuanya berjalan dengan baik.”

Di rumah Pak Arman, dia juga merasa puas. “Bu Nadia cukup menantang, tapi itu justru membuatku semakin ingin mengenalnya. Semoga besok bisa lebih baik.”

Keduanya, meskipun berada di tempat yang berbeda, merasa bahwa malam itu adalah awal dari perjalanan yang penuh warna. Mereka siap untuk melanjutkan pendekatan dan mengetahui lebih banyak tentang satu sama lain, sementara harapan untuk masa depan mulai tumbuh di hati mereka.

"Senyuman Bu Nadia - Melodi Hati yang Tumbuh"

Hari-hari berlalu, dan hubungan antara Bu Nadia dan Pak Arman semakin dekat. Setiap pagi, Bu Nadia pergi ke sekolah dengan penuh semangat, dan hari-harinya diisi dengan tawa dan senyuman. Terutama setelah pertemuan mereka di alun-alun, ia merasa lebih ringan dan bahagia.

Di sekolah, saat mengajar anak-anak TK, Bu Nadia sering terlihat tersenyum-senyum sendiri. Senyumannya tampak lebih ceria dan alami. Para muridnya pun mulai memperhatikan perubahan ini.

“Bu Nadia, kenapa hari ini senyum terus?” tanya Bintang, salah satu muridnya, dengan polos.

Bu Nadia tertawa lembut, “Oh, Bintang, karena hari ini sangat menyenangkan. Ada banyak hal yang membuatku bahagia.”

Bintang mengerutkan dahi, “Seperti apa?”

Bu Nadia hanya tersenyum misterius, “Seperti… sebuah rahasia yang membuatku senang. Tapi, aku tidak bisa memberitahumu.”

Di sisi lain, Pak Arman semakin akrab dengan Bu Nadia. Mereka sering berkomunikasi lewat chat, dan perasaan mereka semakin mendalam. Setiap kali Pak Arman mengirimkan pesan atau menelepon, Bu Nadia merasa hatinya bergetar dengan cara yang menyenangkan.

Suatu hari, setelah kelas berakhir, Bu Nadia duduk di meja kerjanya sambil memeriksa ponsel. Pak Arman baru saja mengirim pesan singkat yang membuatnya tersenyum. “Bu Nadia, bagaimana hari Anda hari ini?”

Bu Nadia membalas dengan cepat, “Hari ini sangat bagus, Pak Arman. Anak-anak sangat ceria dan belajar banyak. Dan saya juga… bahagia.”

Pesan itu memicu balasan dari Pak Arman, “Itu luar biasa. Saya senang mendengar Anda bahagia. Ada yang spesial hari ini?”

Bu Nadia menatap pesan itu, sedikit terkejut. “Sebenarnya, saya rasa ada sesuatu yang spesial. Hanya saja saya belum tahu bagaimana menjelaskannya.”

Pak Arman membalas dengan semangat, “Mungkin kita bisa berbicara lebih banyak malam ini. Saya ingin tahu lebih banyak tentang apa yang membuat Anda bahagia.”

Bu Nadia merasa bersemangat mendengar ajakan itu. “Baiklah, Pak Arman. Saya akan menunggu chat Anda malam ini.”

Sore hari di sekolah, Bu Nadia terlihat lebih bersemangat dari biasanya. Dia menghabiskan waktu dengan anak-anak, membagikan cerita dan permainan, semuanya dengan senyum di wajahnya. Rekan-rekannya mulai memperhatikan perubahan positif dalam dirinya.

“Bu Nadia, sepertinya hari ini Anda sangat bahagia,” kata Ibu Rina, salah satu rekan guru. “Ada sesuatu yang terjadi?”

Bu Nadia hanya tersenyum dan menggelengkan kepala, “Ah, tidak ada apa-apa. Hanya saja, saya merasa sangat baik hari ini.”

Di rumah, malam hari, Bu Nadia dan Pak Arman melanjutkan percakapan mereka lewat chat. Pembicaraan mereka semakin dalam dan pribadi, membuat keduanya merasa lebih terhubung.

Pak Arman mengirimkan pesan, “Bu Nadia, saya ingin Anda tahu betapa spesialnya Anda bagi saya. Anda membuat hari-hari saya lebih berarti.”

Bu Nadia merasa hangat di hati saat membaca pesan itu. “Terima kasih, Pak Arman. Anda juga membuat hari-hari saya lebih ceria.”

Mereka terus berbicara hingga larut malam, membahas segala hal mulai dari hobi hingga rencana masa depan. Keduanya merasa semakin nyaman satu sama lain, dan perasaan mereka semakin mendalam.

Hari demi hari, senyum Bu Nadia semakin sering terlihat di wajahnya. Dan setiap kali dia melihat pesan dari Pak Arman, senyum itu menjadi lebih lebar. Hubungan mereka yang semakin dekat membuat Bu Nadia merasa bahagia dan penuh harapan.

Sementara itu, Pak Arman merasa bahwa perasaan untuk Bu Nadia semakin kuat. Dia tidak sabar untuk melanjutkan perjalanan ini dan mengetahui lebih dalam tentang wanita yang telah membuatnya jatuh hati. Dan di hati Bu Nadia, ada sebuah melodi baru yang tumbuh, melodi yang penuh dengan harapan dan kebahagiaan.

Episodes
1 "Hari Ceria di TK Pertiwi"
2 "Kapal Impian di TK Pertiwi"
3 "Penjelajah Alam di TK Pertiwi"
4 Hari Penuh Warna di TK Pertiwi
5 Pesona Bu Nadia yang Membuat Jatuh Hati
6 Bu Nadia dan Kehebohan Wali Murid di TK Pertiwi
7 Wali Murid Nekat, Bu Nadia Salting!
8 Bu Nadia, Pak Arman, dan Getaran yang Mengganggu
9 Pesona Bu Nadia dan Kejaran Pak Arman
10 Cinta di Depan Gerbang - Bu Nadia dan Pak Arman
11 Pertemuan di Alun-Alun Bu Nadia dan Duda Pak Arman
12 Kejutan Ulang Tahun - Pengakuan di Tengah Cinta
13 Malam Yang Indah, Calon Mama Baru
14 Keceplosan Aldo - Rahasia Bu Guru Terbongkar
15 Cinta di Taman Belajar - Kisah Nadia, Arman, dan Aldo
16 Cinta di Taman Belajar - Kisah Nadia, Arman, dan Aldo
17 Cinta di Pangkuan - Kisah Nadia dan Arman
18 Kejutan Manis di Malam Hari
19 Pagi Berkah Awal Baru untuk Nadia Dan Arman
20 Petualangan Seru Study Tour ke Jogja!
21 Ciuman di Roller Coaster dan Momen Hangat di Bus - Cinta Arman dan Nadia
22 Mengukir Cinta - Perjalanan Nadia dan Arman Menuju Keluarga Bahagia
23 Kejutan Malam - Dari Ketegangan ke Kebahagiaan
24 Petualangan Cinta di Balik Roller Coaster
25 Cinta yang Menguatkan
26 Melepas Rindu di Kali
27 Keceriaan dan Kesedihan
28 Aldo Berak Di Celana
29 Arman Bahagia Sekali Cengar Cengir Terus
30 Kejutan Spesial untuk Aldo
31 Serangan Tak Terduga
32 Aldo Kelas 1 SD
33 Godaan di Malam Hari
34 Petualangan Keluarga di Kebun Buah
35 Keseruan di Danau
36 Gatalnya Paha Nadia
37 Kembali ke Kehidupan Sehari-hari
38 Nabrak Pintu
39 Nadia yang Capek
40 Teror di Pantai
41 Muntah yang Tak Terduga
42 Gairah dan Tantangan
43 Tantangan di Pagi Hari
44 Malam yang Menegangkan
45 Mencari Tahu
46 Rencana Seru di Hari Libur
47 Permainan Lidah
48 Arman dan Pertarungan dengan Preman
49 Persahabatan yang Tak Terduga
50 Bab 50: Terjebak dalam Ketegangan
51 Bab 51: Kucing Hitam dan Kejutan
52 Bab 52: Kejutan di Pagi Hari
53 Bab 53: Mimpi dan Misteri di Balik Jam Antik
54 Bab 54: Bahaya di Balik Kulit Pisang
55 Bab 55: Kehadiran yang Tak Terlihat
56 Bab 56: Celana Sobek dan Kekacauan Tengah Malam
57 Bab 57: Gigitan Mengerikan dari Pocongan
58 Bab 58: Gigit Hidung Aldo
59 Bab 59: Sekarang Pocongan Gigit Nadia
60 Bab 60: Keintiman di Antara Kita
61 Bab 61: Insiden Dipatok Ayam Jago Galak
62 Bab 62: Ayam Jago Pembawa Masalah
63 Bab 63: Kandang Ayam Jago
64 Bab 64: Serangan Ayam yang Tak Terduga
65 Bab 65: Jago Baper Gila Melawan Musuh Baru
66 Bab 66: Malam Misterius di Kandang Ayam
67 Bab 67: Kejadian Aneh di Pagi Hari
68 Bab 68: Nadia, Sang Guru TK yang Cantik
69 Bab 69: Kejutan di Hari Guru
Episodes

Updated 69 Episodes

1
"Hari Ceria di TK Pertiwi"
2
"Kapal Impian di TK Pertiwi"
3
"Penjelajah Alam di TK Pertiwi"
4
Hari Penuh Warna di TK Pertiwi
5
Pesona Bu Nadia yang Membuat Jatuh Hati
6
Bu Nadia dan Kehebohan Wali Murid di TK Pertiwi
7
Wali Murid Nekat, Bu Nadia Salting!
8
Bu Nadia, Pak Arman, dan Getaran yang Mengganggu
9
Pesona Bu Nadia dan Kejaran Pak Arman
10
Cinta di Depan Gerbang - Bu Nadia dan Pak Arman
11
Pertemuan di Alun-Alun Bu Nadia dan Duda Pak Arman
12
Kejutan Ulang Tahun - Pengakuan di Tengah Cinta
13
Malam Yang Indah, Calon Mama Baru
14
Keceplosan Aldo - Rahasia Bu Guru Terbongkar
15
Cinta di Taman Belajar - Kisah Nadia, Arman, dan Aldo
16
Cinta di Taman Belajar - Kisah Nadia, Arman, dan Aldo
17
Cinta di Pangkuan - Kisah Nadia dan Arman
18
Kejutan Manis di Malam Hari
19
Pagi Berkah Awal Baru untuk Nadia Dan Arman
20
Petualangan Seru Study Tour ke Jogja!
21
Ciuman di Roller Coaster dan Momen Hangat di Bus - Cinta Arman dan Nadia
22
Mengukir Cinta - Perjalanan Nadia dan Arman Menuju Keluarga Bahagia
23
Kejutan Malam - Dari Ketegangan ke Kebahagiaan
24
Petualangan Cinta di Balik Roller Coaster
25
Cinta yang Menguatkan
26
Melepas Rindu di Kali
27
Keceriaan dan Kesedihan
28
Aldo Berak Di Celana
29
Arman Bahagia Sekali Cengar Cengir Terus
30
Kejutan Spesial untuk Aldo
31
Serangan Tak Terduga
32
Aldo Kelas 1 SD
33
Godaan di Malam Hari
34
Petualangan Keluarga di Kebun Buah
35
Keseruan di Danau
36
Gatalnya Paha Nadia
37
Kembali ke Kehidupan Sehari-hari
38
Nabrak Pintu
39
Nadia yang Capek
40
Teror di Pantai
41
Muntah yang Tak Terduga
42
Gairah dan Tantangan
43
Tantangan di Pagi Hari
44
Malam yang Menegangkan
45
Mencari Tahu
46
Rencana Seru di Hari Libur
47
Permainan Lidah
48
Arman dan Pertarungan dengan Preman
49
Persahabatan yang Tak Terduga
50
Bab 50: Terjebak dalam Ketegangan
51
Bab 51: Kucing Hitam dan Kejutan
52
Bab 52: Kejutan di Pagi Hari
53
Bab 53: Mimpi dan Misteri di Balik Jam Antik
54
Bab 54: Bahaya di Balik Kulit Pisang
55
Bab 55: Kehadiran yang Tak Terlihat
56
Bab 56: Celana Sobek dan Kekacauan Tengah Malam
57
Bab 57: Gigitan Mengerikan dari Pocongan
58
Bab 58: Gigit Hidung Aldo
59
Bab 59: Sekarang Pocongan Gigit Nadia
60
Bab 60: Keintiman di Antara Kita
61
Bab 61: Insiden Dipatok Ayam Jago Galak
62
Bab 62: Ayam Jago Pembawa Masalah
63
Bab 63: Kandang Ayam Jago
64
Bab 64: Serangan Ayam yang Tak Terduga
65
Bab 65: Jago Baper Gila Melawan Musuh Baru
66
Bab 66: Malam Misterius di Kandang Ayam
67
Bab 67: Kejadian Aneh di Pagi Hari
68
Bab 68: Nadia, Sang Guru TK yang Cantik
69
Bab 69: Kejutan di Hari Guru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!