Cinta di Depan Gerbang - Bu Nadia dan Pak Arman

Pagi itu, Bu Nadia melangkah masuk ke halaman sekolah dengan langkah mantap, meskipun pikirannya masih berkutat pada percakapan telepon dengan Pak Arman tadi pagi. Ia memikirkan kata-kata lembut yang diucapkan Pak Arman, membuatnya merasa campur aduk antara rasa penasaran dan kekhawatiran.

Saat ia mendekati gerbang sekolah, ia melihat anak-anak dan orang tua mulai berdatangan. Suara riuh rendah anak-anak yang ceria dan orang tua yang sibuk berbincang-bincang mengisi udara pagi itu. Bu Nadia berusaha fokus pada pekerjaannya, tapi wajah Pak Arman terus-menerus terbayang di kepalanya.

Ketika Bu Nadia berada di dekat gerbang, ia melihat Pak Arman berdiri di samping mobilnya, sambil memegang tangan anaknya yang sedang memasuki gerbang sekolah. Pak Arman terlihat seperti biasanya, dengan senyum lebar yang khas, seakan siap menyambut hari dengan penuh semangat.

Bu Nadia merasa sedikit cemas. "Jangan-jangan dia akan mencoba berbicara lagi," pikirnya sambil mempercepat langkahnya. Namun, sayangnya, Pak Arman sudah melihatnya dan langsung melambai dengan antusias.

“Selamat pagi, Bu Nadia!” teriak Pak Arman sambil melambaikan tangan.

Bu Nadia tersenyum canggung dan mencoba mengabaikan sapaan tersebut dengan berpura-pura sibuk mengatur tasnya. "Selamat pagi, Pak Arman,” jawabnya, tapi langkahnya tidak menunjukkan niat untuk berhenti.

Pak Arman tidak menyerah. “Wah, Bu Nadia, senang sekali bisa ketemu pagi ini. Bagaimana kabar Anda setelah kemarin?”

Bu Nadia merasa sedikit tertekan. “Oh, baik-baik saja, Pak Arman. Hanya siap untuk memulai hari.”

Pak Arman melangkah mendekat. “Kalau begitu, bolehkah saya ngobrol sebentar? Atau mungkin kita bisa minum kopi bersama setelah jam sekolah?”

Bu Nadia merasa malu dengan beberapa rekan kerja yang sudah mulai memperhatikan. Dia merasa semua mata tertuju pada mereka, membuatnya semakin canggung. “Eh, Pak Arman, sebenarnya saya harus...”

Tiba-tiba, seorang rekan kerja Bu Nadia, Ibu Jeni, lewat dan menyapa mereka. “Selamat pagi, Bu Nadia! Selamat pagi, Pak Arman!”

Bu Nadia memanfaatkan momen ini untuk sedikit melarikan diri. “Oh, selamat pagi, Bu Jeni. Baiklah, Pak Arman, saya harus masuk kelas sekarang.”

Pak Arman terlihat sedikit kecewa tapi masih berusaha keras. “Oke, Bu Nadia. Kalau begitu, mungkin nanti kita bisa ngobrol lebih banyak di lain waktu.”

Bu Nadia memberi senyum canggung. “Ya, mungkin nanti. Terima kasih, Pak Arman.”

Setelah Bu Nadia melanjutkan langkahnya menuju ruangannya, dia merasa lega tapi juga sedikit menyesal. “Kenapa sih aku jadi malu gini?” pikirnya. Ia masuk ke ruang kelas dan mulai mempersiapkan segala sesuatunya sebelum anak-anak datang.

Namun, di tengah-tengah persiapannya, Bu Nadia tidak bisa menahan senyum. Pikirannya kembali pada Pak Arman, dengan segala usaha dan kerajinannya untuk mendekatinya. “Dia memang keras kepala, tapi juga perhatian,” gumamnya sambil tertawa kecil.

Sementara itu, Pak Arman merasa sedikit putus asa setelah upayanya pagi itu. Namun, semangatnya belum padam. “Nggak apa-apa, hari ini belum berhasil, tapi aku pasti akan coba lagi. Aku nggak bisa menyerah begitu saja,” ucapnya dengan semangat.

Dia kembali ke mobilnya sambil memikirkan strategi baru untuk mendekati Bu Nadia. “Kalau gitu, mungkin aku bisa bantu dengan acara sekolah atau apa gitu. Pokoknya harus bisa deketin dia lebih banyak lagi.”

Tampaknya Bu Nadia dan Pak Arman akan terus menghadapi situasi yang membuat mereka semakin dekat, meskipun dengan banyak tantangan dan momen-momen konyol yang pasti akan mereka alami di sepanjang perjalanan ini.

Hari itu di TK Pertiwi Masaran, Bu Nadia mengajar dengan penuh semangat, meskipun pikirannya terus-menerus melayang ke Pak Arman. Dia sudah memutuskan untuk mengirimkan pesan kepada Pak Arman setelah bel sekolah berbunyi, memutuskan untuk bertemu dan mengetahui lebih banyak tentang lelaki yang terus-menerus mengganggu pikirannya.

Saat jam pelajaran hampir berakhir, Bu Nadia merasa deg-degan. Dia mengirimkan pesan singkat ke Pak Arman yang berbunyi, “Pak Arman, nanti sepulang mengajar habis duhur saya tunggu di parkiran ya.”

Beberapa detik setelah pesan terkirim, ponsel Bu Nadia bergetar, dan Pak Arman membalas dengan cepat, “Oh, Bu Nadia! Terima kasih banyak! Saya akan ada di sana tepat waktu.”

Setelah bel sekolah berbunyi, Bu Nadia mengakhiri jam pelajaran dengan penuh semangat. Ia merasa sedikit gugup, namun rasa penasaran membuatnya ingin segera mengetahui lebih banyak tentang Pak Arman. Setelah memastikan semua anak-anak sudah pulang dan ruang kelas sudah rapi, Bu Nadia melangkah ke parkiran dengan langkah hati-hati.

Di parkiran, Pak Arman sudah menunggu dengan penuh semangat, tampak lebih bersemangat dari biasanya. Saat melihat Bu Nadia datang, senyum lebar langsung menghiasi wajahnya. “Bu Nadia, terima kasih sudah meluangkan waktu!”

Bu Nadia tersenyum tipis, mencoba menenangkan diri. “Pak Arman, saya ingin berbicara serius. Saya perlu tahu lebih banyak tentang Anda sebelum kita lanjutkan.”

Pak Arman tampak sedikit canggung tapi juga bersemangat. “Tentu, Bu Nadia. Silakan bertanya apa saja.”

Bu Nadia memutuskan untuk melakukan sedikit ujian. Dia mencoba menampilkan ekspresi serius dan melotot dengan mata, padahal sebenarnya dia merasa sangat lembut dan malu. “Pak Arman, saya ingin tahu apa niat Anda sebenarnya. Apakah Anda hanya ingin berkenalan dengan saya atau ada sesuatu yang lebih?”

Pak Arman terlihat sedikit terkejut dan agak kaget dengan nada Bu Nadia yang tiba-tiba berubah. Namun, dia berusaha keras untuk tetap tenang. “Bu Nadia, saya hanya ingin mengenal Anda lebih baik. Saya tidak punya niat buruk. Saya hanya merasa Anda adalah orang yang sangat menarik dan saya ingin mencoba lebih dekat.”

Bu Nadia masih menjaga ekspresi galak, meskipun sebenarnya hatinya bergetar. “Hmm, begitu ya? Lalu, apa yang membuat Anda tertarik pada saya?”

Pak Arman dengan penuh semangat mulai menjelaskan, “Sebenarnya, Bu Nadia, saya melihat betapa Anda begitu berdedikasi dan penuh perhatian pada pekerjaan Anda. Anda juga sangat baik kepada anak-anak, dan itu membuat saya terkesan. Saya ingin mengenal Anda lebih baik karena saya merasa kita bisa saling belajar dan berbagi.”

Bu Nadia merasa sedikit terharu dengan jawaban Pak Arman. “Oke, kalau begitu. Tapi jangan berharap terlalu banyak. Saya ingin memastikan semuanya jelas.”

Pak Arman tampak sangat senang dan lega. “Tentu, Bu Nadia. Saya menghargai kesempatan ini dan akan berusaha sebaik mungkin.”

Ketika Pak Arman mulai berbicara dengan lebih santai dan membuka diri, Bu Nadia merasa sedikit terhibur dan mulai merasa lebih nyaman. “Pak Arman, kalau Anda terus berbicara seperti ini, saya mungkin akan merasa semakin nyaman,” katanya sambil tersenyum.

Pak Arman dengan ceria menanggapi, “Baiklah, Bu Nadia. Jadi, bagaimana kalau kita merencanakan makan siang atau minum kopi di akhir pekan? Kita bisa ngobrol lebih banyak.”

Bu Nadia berpikir sejenak dan kemudian menjawab dengan senyum lembut, “Itu bisa jadi ide yang baik. Mari kita lihat bagaimana semuanya berjalan.”

Momen ini membuat Pak Arman semakin bersemangat dan Bu Nadia merasa lega karena bisa berbicara secara terbuka. Mereka akhirnya mengakhiri pertemuan dengan kesepakatan untuk bertemu lagi di akhir pekan. Bu Nadia merasa senang karena berhasil menguji Pak Arman dan juga merasa lebih nyaman untuk melanjutkan perkenalan mereka.

Saat Bu Nadia kembali ke rumah, dia tidak bisa menahan senyum. “Rupanya, dia lebih baik dari yang aku bayangkan,” pikirnya. Meskipun masih ada rasa penasaran dan kekhawatiran, pertemuan ini memberikan harapan baru dan kesempatan untuk sesuatu yang mungkin lebih baik di masa depan.

Episodes
1 "Hari Ceria di TK Pertiwi"
2 "Kapal Impian di TK Pertiwi"
3 "Penjelajah Alam di TK Pertiwi"
4 Hari Penuh Warna di TK Pertiwi
5 Pesona Bu Nadia yang Membuat Jatuh Hati
6 Bu Nadia dan Kehebohan Wali Murid di TK Pertiwi
7 Wali Murid Nekat, Bu Nadia Salting!
8 Bu Nadia, Pak Arman, dan Getaran yang Mengganggu
9 Pesona Bu Nadia dan Kejaran Pak Arman
10 Cinta di Depan Gerbang - Bu Nadia dan Pak Arman
11 Pertemuan di Alun-Alun Bu Nadia dan Duda Pak Arman
12 Kejutan Ulang Tahun - Pengakuan di Tengah Cinta
13 Malam Yang Indah, Calon Mama Baru
14 Keceplosan Aldo - Rahasia Bu Guru Terbongkar
15 Cinta di Taman Belajar - Kisah Nadia, Arman, dan Aldo
16 Cinta di Taman Belajar - Kisah Nadia, Arman, dan Aldo
17 Cinta di Pangkuan - Kisah Nadia dan Arman
18 Kejutan Manis di Malam Hari
19 Pagi Berkah Awal Baru untuk Nadia Dan Arman
20 Petualangan Seru Study Tour ke Jogja!
21 Ciuman di Roller Coaster dan Momen Hangat di Bus - Cinta Arman dan Nadia
22 Mengukir Cinta - Perjalanan Nadia dan Arman Menuju Keluarga Bahagia
23 Kejutan Malam - Dari Ketegangan ke Kebahagiaan
24 Petualangan Cinta di Balik Roller Coaster
25 Cinta yang Menguatkan
26 Melepas Rindu di Kali
27 Keceriaan dan Kesedihan
28 Aldo Berak Di Celana
29 Arman Bahagia Sekali Cengar Cengir Terus
30 Kejutan Spesial untuk Aldo
31 Serangan Tak Terduga
32 Aldo Kelas 1 SD
33 Godaan di Malam Hari
34 Petualangan Keluarga di Kebun Buah
35 Keseruan di Danau
36 Gatalnya Paha Nadia
37 Kembali ke Kehidupan Sehari-hari
38 Nabrak Pintu
39 Nadia yang Capek
40 Teror di Pantai
41 Muntah yang Tak Terduga
42 Gairah dan Tantangan
43 Tantangan di Pagi Hari
44 Malam yang Menegangkan
45 Mencari Tahu
46 Rencana Seru di Hari Libur
47 Permainan Lidah
48 Arman dan Pertarungan dengan Preman
49 Persahabatan yang Tak Terduga
50 Bab 50: Terjebak dalam Ketegangan
51 Bab 51: Kucing Hitam dan Kejutan
52 Bab 52: Kejutan di Pagi Hari
53 Bab 53: Mimpi dan Misteri di Balik Jam Antik
54 Bab 54: Bahaya di Balik Kulit Pisang
55 Bab 55: Kehadiran yang Tak Terlihat
56 Bab 56: Celana Sobek dan Kekacauan Tengah Malam
57 Bab 57: Gigitan Mengerikan dari Pocongan
58 Bab 58: Gigit Hidung Aldo
59 Bab 59: Sekarang Pocongan Gigit Nadia
60 Bab 60: Keintiman di Antara Kita
61 Bab 61: Insiden Dipatok Ayam Jago Galak
62 Bab 62: Ayam Jago Pembawa Masalah
63 Bab 63: Kandang Ayam Jago
64 Bab 64: Serangan Ayam yang Tak Terduga
65 Bab 65: Jago Baper Gila Melawan Musuh Baru
66 Bab 66: Malam Misterius di Kandang Ayam
67 Bab 67: Kejadian Aneh di Pagi Hari
68 Bab 68: Nadia, Sang Guru TK yang Cantik
69 Bab 69: Kejutan di Hari Guru
Episodes

Updated 69 Episodes

1
"Hari Ceria di TK Pertiwi"
2
"Kapal Impian di TK Pertiwi"
3
"Penjelajah Alam di TK Pertiwi"
4
Hari Penuh Warna di TK Pertiwi
5
Pesona Bu Nadia yang Membuat Jatuh Hati
6
Bu Nadia dan Kehebohan Wali Murid di TK Pertiwi
7
Wali Murid Nekat, Bu Nadia Salting!
8
Bu Nadia, Pak Arman, dan Getaran yang Mengganggu
9
Pesona Bu Nadia dan Kejaran Pak Arman
10
Cinta di Depan Gerbang - Bu Nadia dan Pak Arman
11
Pertemuan di Alun-Alun Bu Nadia dan Duda Pak Arman
12
Kejutan Ulang Tahun - Pengakuan di Tengah Cinta
13
Malam Yang Indah, Calon Mama Baru
14
Keceplosan Aldo - Rahasia Bu Guru Terbongkar
15
Cinta di Taman Belajar - Kisah Nadia, Arman, dan Aldo
16
Cinta di Taman Belajar - Kisah Nadia, Arman, dan Aldo
17
Cinta di Pangkuan - Kisah Nadia dan Arman
18
Kejutan Manis di Malam Hari
19
Pagi Berkah Awal Baru untuk Nadia Dan Arman
20
Petualangan Seru Study Tour ke Jogja!
21
Ciuman di Roller Coaster dan Momen Hangat di Bus - Cinta Arman dan Nadia
22
Mengukir Cinta - Perjalanan Nadia dan Arman Menuju Keluarga Bahagia
23
Kejutan Malam - Dari Ketegangan ke Kebahagiaan
24
Petualangan Cinta di Balik Roller Coaster
25
Cinta yang Menguatkan
26
Melepas Rindu di Kali
27
Keceriaan dan Kesedihan
28
Aldo Berak Di Celana
29
Arman Bahagia Sekali Cengar Cengir Terus
30
Kejutan Spesial untuk Aldo
31
Serangan Tak Terduga
32
Aldo Kelas 1 SD
33
Godaan di Malam Hari
34
Petualangan Keluarga di Kebun Buah
35
Keseruan di Danau
36
Gatalnya Paha Nadia
37
Kembali ke Kehidupan Sehari-hari
38
Nabrak Pintu
39
Nadia yang Capek
40
Teror di Pantai
41
Muntah yang Tak Terduga
42
Gairah dan Tantangan
43
Tantangan di Pagi Hari
44
Malam yang Menegangkan
45
Mencari Tahu
46
Rencana Seru di Hari Libur
47
Permainan Lidah
48
Arman dan Pertarungan dengan Preman
49
Persahabatan yang Tak Terduga
50
Bab 50: Terjebak dalam Ketegangan
51
Bab 51: Kucing Hitam dan Kejutan
52
Bab 52: Kejutan di Pagi Hari
53
Bab 53: Mimpi dan Misteri di Balik Jam Antik
54
Bab 54: Bahaya di Balik Kulit Pisang
55
Bab 55: Kehadiran yang Tak Terlihat
56
Bab 56: Celana Sobek dan Kekacauan Tengah Malam
57
Bab 57: Gigitan Mengerikan dari Pocongan
58
Bab 58: Gigit Hidung Aldo
59
Bab 59: Sekarang Pocongan Gigit Nadia
60
Bab 60: Keintiman di Antara Kita
61
Bab 61: Insiden Dipatok Ayam Jago Galak
62
Bab 62: Ayam Jago Pembawa Masalah
63
Bab 63: Kandang Ayam Jago
64
Bab 64: Serangan Ayam yang Tak Terduga
65
Bab 65: Jago Baper Gila Melawan Musuh Baru
66
Bab 66: Malam Misterius di Kandang Ayam
67
Bab 67: Kejadian Aneh di Pagi Hari
68
Bab 68: Nadia, Sang Guru TK yang Cantik
69
Bab 69: Kejutan di Hari Guru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!